Edisi 02 Juni 2013

  • Absen merokok di hari tanpa tembakau, 31 mei?
    Pokok dan Tokoh

    Absen merokok di hari tanpa tembakau, 31 mei?

    "Berusaha sekuat mungkin untuk tidak merokok. Aku pernah lo enggak merokok sampai enam bulan."

    —Robby Caesar Titian Surya Purba, aktor, pembawa acara, perokok

  • Demi KLanese
    Pokok dan Tokoh

    Demi KLanese

    Penyanyi Katon Bagaskara terpuruk di Hall D Senayan, Jakarta, pertengahan Mei lalu. Dalam konser bertajuk Reuni Persahabatan 8 Bintang itu, penyanyi KLa Project ini jatuh dari panggung. Delapan tulang rusuk dan tulang selangka Katon retak.

  • Ratu Gadget
    Pokok dan Tokoh

    Ratu Gadget

    Membawa satu atau dua gawai (gadget) saat bekerja itu jamak terjadi. Tapi, kalau sampai membawa sepuluh buah, mungkin baru aktris dan bintang iklan Sandra Dewi yang melakoninya. Dengan tas khusus, gadis kelahiran Pangkal Pinang, Provinsi Bangka Belitung, ini menyimpan aneka rupa gawainya. Di antaranya tiga telepon seluler, iPad, iPod, pemutar DVD, dan notebook. Asisten yang bertugas membawa semua perabot itu tak boleh melupakan sebiji pun.

  • Janji Terbayar
    Pokok dan Tokoh

    Janji Terbayar

    Happy Salma benar-benar happy saat menghadiri Festival Film Cannes 2013 di Prancis, pertengahan Mei lalu. Pada kedatangannya yang kedua ke hajatan internasional ini, ia tak lagi bengong. Happy membawa film Rectoverso, yang dia sutradarai bersama Marcella Zalianty, Rachel Maryam, Cathy Saron, dan Olga Lydia.

  • Muselmann
    Catatan Pinggir

    Muselmann

    Muselmann dalam bahasa Jerman berarti "muslim". Tak selamanya disebut dengan citra yang baik. Di masa lalu di sana ada sebuah nyanyian anak-anak:

    K-a-f-f-e-e
    K-a-f-f-e-e,
    trink nicht so viel kaffee!
    Nicht für Kinder ist der türkentrank
    schwächt die Nerven, macht dich blaß lassen und krank.
    Sei doch kein Muselmann,
    der ihn nicht lassen kann!

    (Kopi
    Kopi
    Jangan minum banyak kopi!
    Bukan untuk anak-anak, ini minuman Turki
    bikin syaraf lemah, bikin sakit dan pucat pasi.
    Jangan jadi Muslim,
    kamu nanti tak sanggup apa-apa!)

    Nyanyian dari tahun 1930-an ini saya dapat dari wawancara Gil Anidjar, penulis The Jew, the Arab: A History of the Enemy dengan Nermeen Shaikh.

    Anidjar menyebutnya sebagai contoh bagaimana orang Eropa memandang Islam. Sebagaimana Yudaisme, ia diposisikan sebagai "musuh". Ketika Eropa sedang merumuskan dirinya sendiri, "musuh" diperlukan. Untuk membedakanya ke luar, mempersatukannya ke dalam.

  • Intoleransi Beragama Tanggung Jawab Presiden
    Wawancara

    Intoleransi Beragama Tanggung Jawab Presiden

    Dari kantornya yang senyap dan teduh di lantai dua kampus Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Franz Magnis-Suseno melepaskan surat elektronik yang menggegerkan jagat maya. Rabu tiga pekan lalu, profesor filsafat dan padri Yesuit itu menulis kepada The Appeal of Conscience Foundation (ACF). Berbasis di New York, ACF mempromosikan perdamaian, demokrasi, toleransi, serta dialog antarkepercayaan. Yayasan ini menganugerahkan World Statesman Award kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono—yang diterima Presiden pada 30 Mei lalu di New York.

    Dalam surat elektronik tersebut, Magnis bertanya kepada ACF, apa motivasi mereka memberikan penghargaan itu: "Bagaimana bisa Anda memutuskan ini tanpa bertanya kepada rakyat Indonesia?" Ahli filsafat etika yang giat mengikuti problem hak asasi manusia serta dialog antarkepercayaan ini mengaku amat prihatin pada meningkatnya tindak kekerasan terhadap warga Ahmadiyah dan Syiah. Kasus Gereja Yasmin yang tak kunjung usai juga dicontohkan Magnis sebagai bukti bahwa tekanan pada kaum minoritas tak pernah selesai. Presiden, sebagai pemimpin rakyat Indonesia, menurut Magnis, tak meresponsnya dengan tanggung jawab sepadan. Maka, "Melalui keputusan pribadi, saya menulis surat itu," ujarnya kepada Tempo.

  • Meninjau Ulang Tata Niaga Impor
    Kolom

    Meninjau Ulang Tata Niaga Impor

    Manggi Habir*

    Putar baliknya kebijakan tata niaga impor daging sapi dan hortikultura beberapa pekan lalu memperlihatkan keterbatasan kebijakan pembatasan impor. Kebijakan ini tadinya didorong untuk memproteksi petani sekaligus menjaga kestabilan harga pangan.

  • Dua Sejawat Pasca-'Laboratorium Barat'
    Seni

    Dua Sejawat Pasca-'Laboratorium Barat'

    Dua pegrafis senior ITB, Haryadi Suadi dan Tarcius Sutanto, menggelar pameran bersama. Menunjukkan pembaruan seni rupa Bandung yang lebih kaya.

  • Terapi dengan Energi Bunga
    Kesehatan

    Terapi dengan Energi Bunga

    Getaran energi bunga dimanfaatkan oleh praktisi fitobiofisik untuk mengobati beragam penyakit. Belum masuk kategori terapi kedokteran komplementer-alternatif.

  • Bahasa Belanda dan Soewardi Soerjaningrat
    Bahasa

    Bahasa Belanda dan Soewardi Soerjaningrat

    Bandung Mawardi*

    Soewardi Soerjaningrat (1913) menghajar penjajah dengan pamflet berbahasa Belanda, "Als ik eens Nederlander was…" (yang artinya "Seandainya saja aku orang Belanda…"). Kaum pribumi terpelajar telah menemukan pesona dalam bahasa Belanda, menggunakannya untuk menimbulkan petaka di Hindia Belanda. Risalah itu menampar kolonial, menimbulkan kecemasan ideologis dan bahasa. Pemerintah kolonial marah, terhinakan oleh kefasihan intelektual pribumi memamerkan pesona bahasa Belanda tapi mengandung petaka politik di negeri jajahan. Tjipto Mangoenkoesoemo (1913) turut mengejek penguasa atas sebaran risalah subversif. Bahasa Belanda justru jadi alat perlawanan, menguak aib kolonialisme. Tjipto Mangoenkoesoemo menjuluki risalah Soewardi Soerjaningrat sebagai "tulisan meracau" dari "jiwa paria" untuk menghina "tuan-tuan kulit putih".

  • Di Ganda Kita (Mulai) Berjaya
    Olahraga

    Di Ganda Kita (Mulai) Berjaya

    Indonesia berlimpah stok pemain bulu tangkis berbakat di sektor dobel. Sedangkan tunggal masih terseok.

  • Gen Purba Orang Nias
    Ilmu dan Teknologi

    Gen Purba Orang Nias

    Suku Nias mewarisi gen yang berkerabat dekat dengan penduduk Taiwan. Rumpun ketiga yang baru ditemukan.

  • Kewalahan Membenahi Kereta
    Opini

    Kewalahan Membenahi Kereta

    Persoalan perkeretaapian di Jakarta tak bisa diselesaikan sendiri oleh PT Kereta Api. Pemerintah pusat tak boleh berpangku tangan.

  • Hutan untuk Bersama
    Opini

    Hutan untuk Bersama

    Mahkamah Konstitusi menyetip isi Undang-Undang Kehutanan yang merugikan masyarakat adat. Perlu peraturan pelaksanaannya.

  • Belajar dari Dua Pemilihan
    Opini

    Belajar dari Dua Pemilihan

    Pemilihan kepala daerah Jawa Tengah dan Bali meninggalkan pengalaman berharga. Pelajaran penting menyongsong 2014.

  • Becermin pada Yap Thiam Hien
    Opini

    Becermin pada Yap Thiam Hien

    Yap Thiam Hien hidup bagai pelakon kisah Alegori Gua karya Plato, 25 abad silam. John, panggilan akrab pegiat hak asasi manusia ini, adalah sang protagonis yang berhasil melepaskan diri dari ikatan yang membelenggu di dalam gua sejak lahir. Lalu ia pergi keluar, terpesona melihat kenyataan alam bebas, dan merasakan arti sebenarnya sebagai manusia merdeka, untuk pertama kali.

    Ia kemudian dikisahkan kembali masuk untuk menceritakan pengalamannya kepada yang lain, yang masih terikat di dalam gua, dan mengajak mereka ke alam bebas. Ajakan ini ternyata terasa menakutkan karena mereka telah terbiasa terikat di dalam gua sejak lahir. Mereka bahkan menganggap si pengajak orang gila. Mereka balik merayu agar sang protagonis kembali hidup "normal" dengan mengikatkan diri lagi ke dalam gua, kembali ke zona nyaman.

  • Bumi Sriwijaya Mencari Pemimpin
    Indikator

    Bumi Sriwijaya Mencari Pemimpin

    Pemilihan Gubernur Sumatera Selatan memasuki babak krusial. Pekan ini, pemimpin di Bumi Sriwijaya untuk periode lima tahun ke depan bakal ditentukan.

    Ada empat calon yang berlaga. Inkumben Alex Noerdin kembali diusung Partai Golkar dan Partai Demokrat. Penantangnya adalah Eddy Santana dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan; Herman Deru, yang diusung Gerindra; serta mantan Kepala Kepolisian Daerah Sumatera Selatan Inspektur Jenderal Purnawirawan Iskandar Hasan, yang disokong Partai Keadilan Sejahtera dan Partai Amanat Nasional.

  • Gaduh Serumah tanpa Nikah
    Kartun

    Gaduh Serumah tanpa Nikah

    AKHIR-akhir ini wajah media kita disesaki cerita tentang para lelaki dengan banyak perempuan, seperti Djoko Susilo, Eyang Subur, Ahmad Fathanah, dan Luthfi Hasan Ishaaq. Sebagian dari mereka dikabarkan ada yang kawin siri, menikah resmi dengan lebih dari empat perempuan, atau hanya 'teman dekat'. Karena hubungan tadi, mereka kerap menjalani kehidupan bersama.

    Hidup bareng tanpa menikah lelaki dan perempuan pernah menghebohkan Yogyakarta. Gara-garanya adalah data yang dirilis Dasakung, kelompok studi mahasiswa di kota pelajar itu. Meneliti sembilan kampung di Yogya, para mahasiswa ini menyimpulkan telah terjadi banyak praktek samenleven—hidup bersama tanpa ikatan pernikahan sah—di antara mahasiswa Yogya yang tinggal di pemondokan. Majalah Tempo melaporkan hal ini dalam rubrik Nasional edisi 16 Juni 1984.

  • Hemat Listrik dengan Euis
    Inovasi

    Hemat Listrik dengan Euis

    RIZKY Ario gelisah, ongkos listrik di rumahnya terus naik. Biang keroknya adalah penggunaan berbagai perangkat elektronik yang tidak terkendali. Berkehendak mengontrol penggunaan listrik di rumahnya dari jarak jauh, mahasiswa S-2 Teknologi Informasi Institut Teknologi Bandung ini lantas mengajak sepuluh rekan sekampusnya merancang alat khusus.

    Hampir satu tahun bekerja keras, perangkat yang mereka cita-citakan pun jadi. Mereka menyebutnya Electricity Usage Intelligent System alias EUIS. Ini merupakan aplikasi untuk telepon seluler cerdas yang terhubung pada dua perangkat keras bernama Smarter Meter dan Eco Plug di rumah yang hendak dikendalikan penggunaan listriknya.

  • Pernak-Pernik Buat Trekkie
    Etalase

    Pernak-Pernik Buat Trekkie

    FILM terbaru sutradara Jeffrey Jacob Abrams, Star Trek: Into Darkness, menyihir penonton bioskop, terutama para trekkie. Baru 11 hari dirilis, film yang dibuat dengan biaya Rp 392 miliar ini sudah menangguk pendapatan dari tiket bioskop sekitar Rp 2,5 triliun dari seluruh dunia. Berbagai perlengkapan canggih yang ditampilkan dalam kisah menegangkan awak USS Enterprise ini mengundang decak kagum penonton. Jika Anda seorang trekkie, pencinta Star Trek, pernak-pernik Star Trek berikut ini barangkali menarik untuk dikoleksi.

    SENJATA PHASER
    Replika phaser ala Star Trek: Into Darkness ini sedang dalam proses produksi oleh Quantum Mechanix, dan akan dipasarkan melalui situs Amazon.com pada sekitar 2014. Tapi desainnya sudah dipamerkan di situs Quantum Mechanix. Ukuran phaser 26,7 x 17,8 sentimeter. Berat senjata ini sekitar 0,5 kilogram. Replika senjata pamungkas yang bisa menyetrum hingga membuat lawan tak berkutik dalam film ini belum diketahui harganya.

  • Anggaran Naik Kualitas Mandek
    Angka

    Anggaran Naik Kualitas Mandek

    Penyelenggaraan Ujian Nasional 2013 yang amburadul boleh jadi merupakan cermin dari kondisi pendidikan di Indonesia saat ini. Meski tingkat partisipasi belajar terus meningkat dan persentase buta huruf tinggal satu digit, kualitas pendidikan ternyata tidak juga beranjak naik. Menurut survei terakhir oleh dua lembaga ternama dunia, kualitas sistem pendidikan Indonesia berada di urutan terakhir. Padahal anggaran pendidikan sudah mencapai level yang dianggap ideal.

    Anggaran Pendidikan (Rupiah)

  • Agung Bambang Setio Utomo
    Album

    Agung Bambang Setio Utomo

    IA ditabalkan sebagai guru besar ilmu fisika pada Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Gadjah Mada. Pengukuhan berlangsung di hadapan rapat terbuka majelis guru besar di Balai Senat Universitas, Selasa pekan lalu. Agung menyampaikan pidato pengukuhan "Light Amplification by Stimulated Emission of Radiation", tentang perkembangan mutakhir sistem spektroskopi laser. Menurut lelaki kelahiran Ungaran, 2 Mei 1958, ini, teknologi laser tidak hanya untuk keperluan militer, tapi juga buat berbagai bidang, seperti pendidikan dan kesehatan. Peraih doktor dari Swansea University, Inggris, ini memperkirakan kelak sistem spektroskopi laser beserta perangkat pendukungnya akan cukup mungil sehingga mudah dibawa ke mana-mana. Saat ini spektroskopi laser hanya bisa digunakan di laboratorium. l

    PENGHARGAAN
    Tantowi Ahmad

  • Surat
    Surat

    Surat

    Ralat Berita RUU Tembakau

    Kami ingin meluruskan isi majalah Tempo edisi 27 Mei-2 Juni 2013 khususnya pada infografis berjudul "Perang Kretek".

  • Momen
    Jawa Timur

    Momen

    SURABAYA
    Melarung Ogoh-ogoh dalam Lumpur

    MEMPERINGATI tujuh tahun tragedi semburan lumpur Lapindo, Rabu pekan lalu, ratusan warga korban menggelar unjuk rasa. Mereka membawa ogoh-ogoh setinggi dua meter. Diiringi musik patrol, ogoh-ogoh berjas kuning dan berkacamata itu diusung beramai-ramai, lantas dilarung ke kolam lumpur di titik 21. Mereka juga membawa poster-poster bertulisan "Aku Si Raja Bohong", "Desaku Hancur Mergo Lumpur", dan "Awas Jangan Pilih Aku".

  • Kebangkitan Kembali Tanggulangin
    Jawa Timur

    Kebangkitan Kembali Tanggulangin

    Mulai berjaya setelah terpuruk akibat lumpur Lapindo. Mulai mendapat pesanan dari luar negeri.

  • Berebut Suara Partai Gurem
    Jawa Timur

    Berebut Suara Partai Gurem

    Khofifah Indar Parawansa dan Soekarwo berebut dukungan partai-partai kecil. Ada partai yang mengaku "bersepakat" dengan calon inkumben.

  • 10 Wejangan Pak Yap
    Laporan Khusus

    10 Wejangan Pak Yap

    1 "Sejarah dari negara-negara berkonstitusi adalah sejarah dari perjuangan rakyat melawan tirani, despotisme dan absolutisme. Perjuangan dari hak-hak dan kebebasan-kebebasan hak asasi manusia melawan kekuasaan mutlak. Konstitusi adalah manifestasi dari kemenangan keadilan atas kesewenang-wenangan, kemenangan 'recht' atas 'macht'."

  • Pidato di muka Konstituante, 12 Mei 1959

  • 'Hidup-Mati'-nya Yap Thiam Hien
    Laporan Khusus

    'Hidup-Mati'-nya Yap Thiam Hien

    Zainal Arifin Mochtar, Pengajar Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada dan Ketua Pusat Kajian Anti Korupsi UGM, Yogyakarta

    DALAM sebuah training kandidat pengacara, ruangan hampir penuh oleh calon pengacara muda. Ada 33 wajah serius yang menjadi makin serius ketika ditanya soal nama Yap Thiam Hien. Semua terdiam, meski sesekali berbisik di antara mereka, tidak ada satu pun yang mampu menjawab dengan detail. Beberapa di antaranya menyebutkan soal nama penghargaan yang dianugerahkan setiap tahun, Yap Thiam Hien Award. Titik, tak banyak lagi yang bisa didengar dari para kandidat advokat ini soal Yap Thiam Hien selain gumaman yang tak terdengar jelas.

  • Bagai Kakak dengan Adik
    Laporan Khusus

    Bagai Kakak dengan Adik

    Kesan pertama Daniel Lev terhadap Yap Thiam Hien adalah orang yang sederhana, pandai, dan penuh rasa kemanusiaan. Arlene O. Lev menuturkan kembali kenangan persahabatan suaminya dengan Yap.

  • Hitam-Putih Luar-Dalam
    Laporan Khusus

    Hitam-Putih Luar-Dalam

    Tegas, penuh disiplin, dan pekerja keras. Itulah sosok Yap Thiam Hien di mata keluarga. Soal hukum dan hak asasi, di rumah pun tak ada kompromi.

  • Kesetiaan 'Menteri Dalam Negeri'
    Laporan Khusus

    Kesetiaan 'Menteri Dalam Negeri'

    Empat dasawarsa mendampingi Yap, Tan Gien Khing terbiasa hidup dirundung kecemasan. Tak pantang melobi pejabat demi suaminya keluar dari penjara.

  • Terabadikan Lewat Penghargaan
    Laporan Khusus

    Terabadikan Lewat Penghargaan

    Yap Thiam Hien Award Diberikan kepada mereka yang dinilai berjasa dalam bidang hak asasi manusia. Cara untuk mewariskan dan menjaga semangat Yap.

  • Semangat yang Terus Dijaga
    Laporan Khusus

    Semangat yang Terus Dijaga

    Seperti pejuang yang gugur di medan laga, Yap "pergi" saat mengikuti konferensi internasional lembaga swadaya masyarakat—lembaga nonpemerintah yang diyakininya memiliki kekuatan menegakkan hak asasi manusia—di Belgia. Semangatnya membela mereka yang tertindas dijaga, antara lain, dengan penganugerahan Yap Thiam Hien Award untuk mereka yang berjasa di bidang HAM.

  • Triple Minority yang Patriotik
    Laporan Khusus

    Triple Minority yang Patriotik

    Harry Tjan Silalahi, Peneliti senior CSIS

    LAHIR di Aceh dan termasuk Golongan Timur Asing Tionghoa, sebelum Republik Indonesia di'proklamasikan, Pak Yap Thiam Hien adalah kawula Belanda (Nederlands onderdaan). Ketika Proklamasi dicetuskan pada 17 Agustus 1945, dia lantas melahirkan diri kembali menjadi orang/bangsa Indonesia dengan segala pergolakan dan prosesnya. Dalam menempuh jalan hidupnya, Pak Yap memantapkan diri sebagai pejuang hak asasi manusia yang gigih, penghayat yang tangguh, dan yakin akan asas negara hukum.

  • Universitas untuk Semua Golongan
    Laporan Khusus

    Universitas untuk Semua Golongan

    Tak hanya pada hukum, Yap Thiam Hien juga sangat peduli pada pendidikan. Menginginkan peran kampus menjangkau semua golongan.

  • Bermula dari Kapal Kambuna
    Laporan Khusus

    Bermula dari Kapal Kambuna

    Kecewa pada praktek pengadilan yang kotor. Yap tereliminasi dari dunia litigasi.

  • Teguh Membela Terdakwa Anti-Cina
    Laporan Khusus

    Teguh Membela Terdakwa Anti-Cina

    Yap pernah membela terdakwa peledakan bom BCA. Tetap profesional meski kliennya seorang yang dikenal anti-Cina.

  • Dibuat Heboh Urusan Yap
    Laporan Khusus

    Dibuat Heboh Urusan Yap

    Yap pernah terbelit perkara yang menggegerkan. Kelahiran tonggak sejarah yurisprudensi imunitas advokat.

  • Kisah Pembela 'Durno'
    Laporan Khusus

    Kisah Pembela 'Durno'

    Yap membela tokoh yang dituduh terlibat Gerakan 30 September. Menunjukkan kelemahan Mahkamah Militer Luar Biasa.

  • 'Guru' Naif yang Dirindu
    Laporan Khusus

    'Guru' Naif yang Dirindu

    Tokoh sentral yang memprakarsai berdirinya lembaga pembela hak asasi dan lembaga bantuan hukum.

  • Penjaga Marwah Advokat
    Laporan Khusus

    Penjaga Marwah Advokat

    Bersama 13 pengacara kawakan Yap mendirikan Persatuan Advokat Indonesia menerapkan politik jalan terus

  • Auman Singa Pengadilan
    Laporan Khusus

    Auman Singa Pengadilan

    Bicaranya yang lantang, tegas, tanpa tedeng aling-aling, dan meledak-ledak sering menggetarkan ruang persidangan.

  • Mencari Kebenaran, Bukan Kemenangan
    Laporan Khusus

    Mencari Kebenaran, Bukan Kemenangan

    Dunia advokat adalah dunia Yap. Dia mendirikan Lembaga Pembela HAM, Persatuan Advokat Indonesia, juga Lembaga Bantuan Hukum Indonesia. Ia membela siapa pun yang hak-haknya dicabik-cabik. Dari rakyat kecil yang rumahnya tergusur sampai tokoh Partai Komunis Indonesia, Seperti Soebandrio. Dia menyerukan pembebasan tahanan PKI. Pembelaannya adalah memburu kebenaran, bukan sekadar kemenangan.

  • Guru Para Tahanan Politik
    Laporan Khusus

    Guru Para Tahanan Politik

    Dituduh makar, Yap dijebloskan ke rumah tahanan militer selama setahun. Memberi kursus hukum buat tahanan politik.

  • Namaku, Identitasku
    Laporan Khusus

    Namaku, Identitasku

    Kebijakan asimilasi dan ganti nama dianggap melanggar hak pribadi. Tidak menyelesaikan masalah diskriminasi rasial.

  • 'Lone Ranger' Penentang UUD 1945
    Laporan Khusus

    'Lone Ranger' Penentang UUD 1945

    Di Konstituante, Yap Thiam Hien menyerang mati-matian ide kembali ke Undang-Undang Dasar 1945.

  • Bukan Sang Pencari Jalan Tengah
    Laporan Khusus

    Bukan Sang Pencari Jalan Tengah

    INGATANNYA tak pernah terkapar meski usia telah menggerogoti tubuhnya. Go Gien Tjwan masih tajam mengingat masa lalu. Dia mengingat semua momen saat berjuang bersama Yap Thiam Hien di organisasi yang dicap 'kiri' oleh pemerintah, Badan Permusjawaratan Kewarganegaraan Indonesia (Baperki). Organisasi ini dibentuk pada Maret 1954. Dosen senior sejarah Asia modern di Universiteit van Amsterdam ini pernah menjabat Sekretaris Yayasan Baperki. Dalam organisasi yang menentang diskriminasi ras itu, berkumpul para tokoh dari berbagai latar sosial dan politik.

    Perbedaan ini menjadi benih perpecahan. Beberapa pendiri Baperki, seperti Auwjong Peng Koen (P.K. Ojong), Khoe Woen Sioe, dan Kwee Hwat Djien, keluar. Mereka tidak setuju terhadap sikap politik pimpinan pusat, antara lain Go Gien dan Ketua Baperki Siauw Giok Tjhan, yang membawa organisasi ini ke garis kiri. Yap Thiam Hien, wakil ketua, pun tak sehaluan. Bahkan perlawanan Yap dibawa hingga sidang Konstituante.

  • Politik Minus Kompromi
    Laporan Khusus

    Politik Minus Kompromi

    Yap Thiam Hien sempat terseret juga ke arena politik praktis. Tapi motivasinya bukan hasrat untuk berkuasa. Bagi Yap, berpolitik sama dengan ikhtiar mencari keadilan, menentang diskriminasi, dan menegakkan hak asasi. Menempuh politik jalan lurus tanpa kompromi sering membuat dia berbeda dengan arus politik utama. Di zaman Orde Lama, Yap tersingkir. Di era Orde Baru, dia pun dipenjara.

  • Terhipnotis Buruh Pelabuhan
    Laporan Khusus

    Terhipnotis Buruh Pelabuhan

    Yap semakin tersedot ke dunia politik karena dia tinggal di rumah misionaris.

  • Kuliah Hukum dan Kerja untuk Gereja
    Laporan Khusus

    Kuliah Hukum dan Kerja untuk Gereja

    Di Zendingshuis, untuk pertama kalinya Yap merasa hidup di lingkungan intelektual. Studi hukum rampung, belajar kerja untuk gereja.

  • Sebuah Kesadaran dari Sekolah Liar
    Laporan Utama

    Sebuah Kesadaran dari Sekolah Liar

    Yap Thiam Hien mengajar demi mengumpulkan uang kuliah dan membiayai sekolah adiknya. Periode yang kemudian melahirkan pandangan kritis Yap terhadap hak asasi manusia.

  • Penatua yang Gemar Berkhotbah
    Laporan Utama

    Penatua yang Gemar Berkhotbah

    Selama dua tahun, Yap ke gereja bersama pemilik indekos.

    Masuk Kristen pada usia 25 tahun.

  • Berkah Penguasaan Bahasa
    Laporan Utama

    Berkah Penguasaan Bahasa

    ORANG pintar dan kutu buku. Kesan tentang Yap Thiam Hien kecil itu membekas dalam kenangan Bun Chin Min, seperti ia tuturkan kepada anaknya, Bun Hwat Kwong, 67 tahun. Bun Hwat Kwong alias Budi Bunyamin masih terbilang keponakan Yap karena ibunya, Yap Kim Yung, sepupu Yap. Menurut Budi, ayahnya dan Yap dekat karena sama-sama mengecap sekolah Belanda. "Saat saya berkunjung ke rumahnya di Batavia, dia selalu sibuk membaca buku," kata Budi menirukan cerita ayahnya, yang 10 tahun lebih tua usianya daripada Yap.

    Kepintaran Yap telah tampak saat dia duduk di Europeesche Lagere School (ELS) Kutaraja—kini Banda Aceh. Di sekolah rendah yang menggunakan bahasa Belanda sebagai bahasa pengantar itu, Yap tidak mengalami kesulitan. Penguasaan bahasa Belandanya cukup baik dan ia cepat menangkap pelajaran.

  • Kepada Yap Kita Becermin
    Laporan Utama

    Kepada Yap Kita Becermin

    Ia minoritas dalam tiga lapisan: Cina, Kristen, jujur. Ia buktikan bahwa keadilan bisa diraih meski harus menunggu setengah abad.

  • Karena Terdidik Dia Berbeda
    Laporan Utama

    Karena Terdidik Dia Berbeda

    Lahir dari keluarga kaya yang bangkrut, Yap Thiam Hien tumbuh dalam guyuran kasih sayang nenek asuhnya, seorang perempuan Jepang. Pendidikan dan kemampuan bahasanya membuat ia mendapat kesempatan langka, belajar di Negeri Belanda. Keteguhan sikapnya tak lepas dari nilai-nilai kristiani yang diperolehnya di masa muda.

  • Yang Berdiri Tegak di Tebuireng
    Film

    Yang Berdiri Tegak di Tebuireng

    Sebuah film tentang orang penting, pada masa Indonesia yang penuh gejolak.

  • Rakyat Perlu Ingatan yang Sehat
    Film

    Rakyat Perlu Ingatan yang Sehat

    Film semiotobiografi karya sutradara Kamboja, Rithy Panh, mendapat penghargaan Un Certain Regard. Upaya merawat ingatan.

  • Anjungan Sunyi di Cannes
    Film

    Anjungan Sunyi di Cannes

    Tahun ini Indonesia punya paviliun di Festival Film Cannes. Masih belum terurus.

  • Momen
    Internasional

    Momen

    INDIA
    Manekin Jadi Kambing Hitam

    KETUA Brihanmumbai Municipal Corporation (BMC) atau Dewan Kota Mumbai, India, didesak menyetujui rancangan peraturan yang melarang toko memajang manekin pakaian dalam. Rancangan aturan itu diajukan anggota BMC, Ritu Tawade, dan disetujui 227 anggotanya.

  • Momen
    Nasional

    Momen

    Peluang Jokowi Terbuka

    Beberapa petinggi Partai Demokrat menyatakan Gubernur Jakarta Joko Widodo akan diundang mengikuti konvensi penjaringan calon presiden, mulai bulan ini. Pada saat yang sama, Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Megawati Soekarnoputri disebutkan akan memberi kesempatan kepada tokoh muda pada pemilihan tahun depanmembuka peluang bagi Jokowi.

  • Aborsi Interpelasi untuk Jokowi
    Nasional

    Aborsi Interpelasi untuk Jokowi

    Sejumlah anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Jakarta menggalang hak bertanya kepada Gubernur. Problem yang diusung tak jelas.

  • Suksesi di Kantor Polisi
    Nasional

    Suksesi di Kantor Polisi

    Sebelas nama mencuat sebagai kandidat Kepala Polri. Ada yang membentuk tim sukses.

  • Gerbong Bisnis Wakil Menteri
    Nasional

    Gerbong Bisnis Wakil Menteri

    Promosi budaya di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan memakai jasa perusahaan yang terafiliasi ke yayasan milik Wiendu Nuryanti. Mempengaruhi proses tender.

  • Jawa Tengah Itu Kandang Banteng
    Nasional

    Jawa Tengah Itu Kandang Banteng

    PADA November tahun lalu, Ganjar Pranowo tidak terlalu terkenal di Jawa Tengah. Popularitas anggota Dewan Perwakilan Rakyat dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan ini hanya sekitar tujuh persen, jauh di bawah Gubernur Bibit Waluyo dan Wakil Gubernur Rustriningsih. Karena itu, ketika teman-teman sefraksinya meminta dia menjadi calon gubernur provinsi tersebut, reaksi pertamanya, "Waduh."

    Tapi Ganjar dan timnya cepat mengatasi ketertinggalan. Walhasil, bersama calon wakil gubernur Heru Sudjatmiko, ia memenangi pemilihan suara Ahad dua pekan lalu. Mereka unggul jauh atas pasangan Bibit Waluyo-Sudijono Sastroatmodjo dan Hadi Prabowo-Don Murdono. Kurang dari sepekan setelah kemenangan itu, Ganjar berkunjung ke kantor Tempo, Kamis pekan lalu. Banyak bercanda menggunakan bahasa Jawa, ia menceritakan jalan kemenangannya.

  • Jawa adalah Kunci Partai Banteng
    Nasional

    Jawa adalah Kunci Partai Banteng

    Megawati Soekarnoputri menyampaikan pidato yang berapi-api di atas podium. Di depan ribuan kader partainya yang datang ke Stadion Manahan, Solo, Jawa Tengah, pertengahan April lalu, Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan itu menyatakan, "Saya ingatkan: ini pertaruhan awal, ini pertaruhan besar."

    Putri mantan presiden Sukarno ini mengutip pesan ayahnya tentang posisi Jawa Tengah dalam peta politik nasional. Wilayah ini merupakan basis pendukung Partai Nasionalis, yang didirikan Sukarno. "Jawa Tengah itu pakune tanah Jawa," kata Mega. "Sekali PDIP kalah, nasionalisme Bung Karno tak akan dapat dilaksanakan."

  • Ancaman Sembelih Pengantar Ganjar
    Nasional

    Ancaman Sembelih Pengantar Ganjar

    PDI Perjuangan sukses mengantar Ganjar Pranowo sebagai Gubernur Jawa Tengah. Semua sumber daya dikerahkan, termasuk 17 kepala daerah di wilayah itu.

  • Ambisi Guizhou Menjadi Modern dan Hijau
    Internasional

    Ambisi Guizhou Menjadi Modern dan Hijau

    Mengatasi ketertinggalan Cina bagian timur, pembangunan provinsi-provinsi miskin di barat digenjot. Berusaha menerapkan prinsip lestari.

  • Teh dan Biskuit Setelah Tragedi Woolwich
    Internasional

    Teh dan Biskuit Setelah Tragedi Woolwich

    Pembunuhan serdadu oleh pemuda Islam kembali membangkitkan sentimen agama. Kebijakan imigrasi dituding sebagai penyumbang munculnya kelompok radikal.

  • Geliat Para Pembangkang Belia
    Internasional

    Geliat Para Pembangkang Belia

    Kaum muda usia 20-an tahun mulai sadar politik. Kekuatan dan aspirasi mereka perlu diperhitungkan, baik oleh penguasa maupun oposisi.

    "Maaf tak bisa mengantarmu ke bandara, hari itu kami baru saja selesai protes di Suruhanjaya Pilihan Raya, Bung."

  • Tak Sama di Kaki Tiga
    Hukum

    Tak Sama di Kaki Tiga

    Petinggi kepolisian terbelah dalam penanganan sengketa merek larutan penyegar Cap Kaki Tiga. Temuan penyimpangan penyidikan terkesan diabaikan Kepala Divisi Profesi dan Pengamanan.

  • Rekomendasi Polisi di Rumah Judi
    Hukum

    Rekomendasi Polisi di Rumah Judi

    Markas Besar Kepolisian menggerebek rumah judi Mickey Mouse beromzet Rp 8 miliar per bulan di Semarang. Menyalahgunakan izin keramaian.

  • Membobol Data, Mencipta Kartu Palsu
    Hukum

    Membobol Data, Mencipta Kartu Palsu

    Jaringan pencuri data kartu kredit konsumen The Body Shop terbongkar. Diduga memiliki kaitan dengan jaringan pembobol "uang plastik" internasional.

  • Momen
    Ekonomi dan Bisnis

    Momen

    PEMBEBASAN LAHAN TOL
    Proyek Jalan Tol Cijago Terhenti

    Kepala Badan Pengatur Jalan Tol Kementerian Pekerjaan Umum Ahmad Gani Ghazali mengatakan proyek pembangunan jalan tol Cinere-Jagorawi (Cijago) tahap II terhenti karena kendala pembebasan lahan. 'Belum tercapai kesepakatan harga dengan pemilik lahan,' katanya Senin pekan lalu.

  • Forum Inisiasi Menteri Baru
    Ekonomi dan Bisnis

    Forum Inisiasi Menteri Baru

    Dewan Perwakilan Rakyat memanfaatkan rapat-rapat pembahasan APBN Perubahan sebagai arena perpeloncoan bagi Chatib Basri. Baru dua asumsi disepakati.

  • Lebih Terang, Lebih Hemat
    Ekonomi dan Bisnis

    Lebih Terang, Lebih Hemat

    Produsen ramai-ramai masuk ke bisnis lampu LED kelas rumah tangga. Irit setrum, tagihan listrik turun.

  • Kereta Ber-AC Harus Disubsidi
    Ekonomi dan Bisnis

    Kereta Ber-AC Harus Disubsidi

    Beragam rintangan menghadang rencana manajemen PT Kereta Api Indonesia membereskan angkutan publik ini. Penerapan tarif progresif kereta commuter line pada awal Juni harus diundurkan hingga akhir bulan ini.

    Sulitnya mengandangkan kereta rel listrik (KRL) ekonomi yang kerap ngadat dan mengacaukan lalu lintas komuter juga menggambarkan adanya pihak yang kurang sreg dengan kebijakan Ignasius Jonan, Direktur Utama PT KAI, yang diangkat empat tahun lalu itu. Belum lagi perlawanan keras sebagian pedagang yang ogah angkat kaki dari kawasan stasiun.

  • Keuntungan dari Luar Rel
    Ekonomi dan Bisnis

    Keuntungan dari Luar Rel

    Hampir semua sistem transportasi massal di duniamenggunakan gerbang elektronik dan tarif progresif. Laba pengoperasian datang dari bisnis properti.

  • Tak Akan Ada Lagi Tarif Pukul Rata
    Ekonomi dan Bisnis

    Tak Akan Ada Lagi Tarif Pukul Rata

    Memangkas tarif jarak pendek KRL diyakini bakal menaikkan laba. Gagal mendapatkan PSO.

  • Catatan Pinggir

    Muselmann dalam bahasa Jerman berarti "muslim". Tak selamanya disebut dengan citra yang baik. Di masa lalu di sana ada sebuah nyanyian anak-anak:

    K-a-f-f-e-e
    K-a-f-f-e-e,
    trink nicht so viel kaffee!
    Nicht für Kinder ist der türkentrank
    schwächt die Nerven, macht dich blaß lassen und krank.
    Sei doch kein Muselmann,
    der ihn nicht lassen kann!

    (Kopi
    Kopi
    Jangan minum banyak kopi!
    Bukan untuk anak-anak, ini minuman Turki
    bikin syaraf lemah, bikin sakit dan pucat pasi.
    Jangan jadi Muslim,
    kamu nanti tak sanggup apa-apa!)

    Nyanyian dari tahun 1930-an ini saya dapat dari wawancara Gil Anidjar, penulis The Jew, the Arab: A History of the Enemy dengan Nermeen Shaikh.

    Anidjar menyebutnya sebagai contoh bagaimana orang Eropa memandang Islam. Sebagaimana Yudaisme, ia diposisikan sebagai "musuh". Ketika Eropa sedang merumuskan dirinya sendiri, "musuh" diperlukan. Untuk membedakanya ke luar, mempersatukannya ke dalam.

    Enak Dibaca dan Perlu

    Berlangganan

    Dapatkan diskon 45% di setiap pembelian paket berlangganan TEMPO.

    Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

    4 artikel gratis setelah Register.