Kesehatan 1/1

Sebelumnya Selanjutnya
text

Terapi dengan Energi Bunga

Getaran energi bunga dimanfaatkan oleh praktisi fitobiofisik untuk mengobati beragam penyakit. Belum masuk kategori terapi kedokteran komplementer-alternatif.

i

DI Klinik Phytobiophysic Rumah Sakit Meilia Cibubur, Depok, ada satu ruangan tempat dokter Florentina R. Wahjuni berpraktek. Ruangan itu luasnya sekitar sepuluh meter persegi, dengan meja tempat Florentina meletakkan bunga anggrek plastik warna ungu. Bunga itu hanya hiasan, bukan salah satu alat dalam praktek fitobiofisik atau terapi bunga yang dilakukannya. Bunga yang dipakai dalam praktek ini sudah berbentuk ekstrak atau alat uji.

Phytobiophysic berasal dari bahasa Yunani. Phyto berarti tumbuhan, bio bermakna kehidupan, dan physic artinya fisik. Fitobiofisik bisa diartikan sebagai terapi dengan energi dari tumbuh-tumbuhan, termasuk bunga, yang bermanfaat untuk kehidupan manusia. Terapi dengan bunga memang masih jarang terdengar di Indonesia. Awal Mei lalu, topik ini dibahas Florentina dalam seminar di Compassion Festival Mall of Indonesia, Kelapa Gading.

Menurut Floren, panggilan akrab Florentina, alat deteksi yang kini dia gunakan dikembangkan oleh pendiri Institut Phytobiophysic, Profesor Dame Diana Mossop. Perempuan Inggris ini menyebarluaskan teknik penyembuhan dengan memanfaatkan vibrasi atau getaran dari bunga dan tumbuhan. Energi dari fotosintesis tumbuhan yang memiliki panjang gelombang tertentu akan diselaraskan dengan organ tubuh yang sakit. Hasilnya, organ yang bermasalah akan memulihkan dirinya sendiri dan bisa kembali normal.


"Fitobiofisik adalah ilmu yang ilmiah," kata dokter Asvial Rivai, praktisi terapi bunga asal Bogor, Jawa Barat. Prinsip kerjanya adalah memanfaatkan resonansi dan vibrasi frekuensi warna dan energi bunga. Merujuk pada temuan Diana Mossop, setiap warna bunga memancarkan energi yang berbeda. Energi berupa gelombang elektromagnetik tersebut diperoleh dari proses metabolisme bunga yang menghasilkan energi, yaitu fotosintesis.

162366139231

Bukti adanya energi, menurut Floren, yang merupakan anggota Perhimpunan Dokter Indonesia Pengembang Kesehatan Tradisional Timur, bisa dilakukan dengan percobaan sederhana. Caranya, bunga dipetik dengan separuh gagang, lalu diletakkan di dalam segelas air. Setelah dibiarkan tiga jam, maka akan muncul gelembung-gelembung kecil di bawah kelopak dekat gagang. Dengan pipet, gelembung itu diambil. Nah, pada obat dan alat pendeteksi terapi bunga, gelembung berenergi tersebut sudah dijerat dan dibuat dalam bentuk tablet. "Yang sudah ditabletkan, itu memiliki daya reaksi ke tubuh dengan perbesaran hingga lima-enam kalinya," ujar dokter alumnus Universitas Atma Jaya Jakarta yang telah mengantongi sertifikat terapi bunga dari Diana Mossop ini.

Secara ilmiah, warna memiliki panjang gelombang, khususnya warna-warna dasar. Misalnya ungu (498 nanometer), indigo (449 nanometer), hijau (512 nanometer), dan merah (680 nanometer). Dalam buku The Power of Plants Energy Harmonisers dari Institut Phytobiophysics, semakin pendek panjang gelombang suatu warna, semakin tinggi frekuensinya sehingga potensi penetrasinya ke tubuh semakin besar.

Asvial, yang juga pernah belajar langsung kepada Diana Mossop, menguraikan, bunga berwarna ungu dengan tingkat kepekatannya bekerja pada otak, termasuk saraf dan kelenjar-kelenjar di dalamnya; warna biru bekerja di leher; dan warna hijau bekerja di dada atau rongga dada, termasuk daerah belikat/punggung bagian atas sampai ke batas tengkuk. Sedangkan warna kuning bekerja pada rongga perut bagian atas serta warna oranye dan merah bekerja pada rongga perut bagian bawah, termasuk organ reproduksi, usus, tulang, sumsum, dan saraf.

Jika seseorang sedang sakit, menurut Asvial, yang mengenal fitobiofisik sejak 1997, artinya energi di organ itu mengalami gangguan sehingga aktivitas sel menjadi tidak normal. Di sinilah fitobiofisik mengambil peran, yakni menormalkan kembali energi yang sudah lumpuh. Dalam kacamata praktisi fitobiofisik, semua penyakit bisa di­obati, kecuali sistem pengolahan energi sudah ada kerusakan. Misalnya pembuluh darah pecah sehingga merusak kerja sistem darah yang membawa makanan dan oksigen.

Manfaat vibrasi bunga itu sudah dirasakan Wilson Hiborang. Pria 62 tahun asal Papua ini ke Jakarta untuk mengobati gangguan irama jantung atau aritmia yang dideritanya. Pensiunan pegawai negeri itu sudah menjalani operasi ablasi tiga bulan lalu di salah satu rumah sakit di Jakarta. Namun prosedur dengan memasukkan kateter mikro melalui pembuluh darah di pangkal paha menuju jantung tersebut tidak berhasil.

Semestinya pria yang menderita aritmia sejak 15 tahun itu harus menjalani ablasi yang kedua. Namun, tanpa sengaja, ia melihat terapi fitobiofisik ala dokter Floren dari koran lokal di Papua. Di tangan Floren, Wilson juga didiagnosis menderita gangguan lambung dan ginjal. Padahal awalnya hanya keluhan jantung yang diungkapkan. Wilson pun menjalani terapi standar, yakni memakai bunga teratai (berwarna putih), anggrek (indigo), rosemary (indigo), bluebell (biru), hawthorn (hijau), evening primrose (kuning), dan anemone (merah), dan hasilnya membaik. Walhasil, ablasi kedua tak perlu dilakukan.

"Tak ada pingsan tiba-tiba, seperti saat aritmia memburuk," kata Wilson. Agar lebih yakin tentang kondisi jantungnya, Wilson dianjurkan Budhi Setianto, dokter spesialis jantung RS Jantung Harapan Kita, memeriksakan diri dengan elektrokardiogram. Menurut dia, terapi apa pun untuk pasien aritmia bisa diterapkan asalkan fungsinya jelas, yaitu mengharmonisasi irama denyut jantung. Mungkin saja tablet yang dikonsumsi Wilson mengandung antiaritmia. "Itu yang perlu diteliti lagi," ucap Budi. Toh, untuk penyakit jantung secara umum, ia tetap menganjurkan pasien memilih layanan medis modern. Sebab, selama ia menjadi mahasiswa kedokteran, terapi bunga tak ada dalam bahan ajar.

Dihubungi terpisah, Ketua Perhimpunan Kedokteran Komplementer dan Alternatif Indonesia Profesor Yahya Kisyanto menyatakan dokter yang menjalankan praktek terapi fitobiofisik di Tanah Air belum terdaftar dalam perhimpunan yang dipimpinnya. Untuk masuk ke organisasi ini, sebuah terapi harus melalui sejumlah pengujian, dari bukti ilmiah (evidence based), literatur, sampai keputusan di rapat perhimpunan. "Praktisi fitobiofisik bukan anggota kami," kata guru besar emeritus di bidang kardiologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta, ini. "Kami harus memastikan dulu terapinya."

Retno Dianing Sari


Obati dengan Bunga

Sebelum mendapatkan terapi fitobiofisik atau terapi dengan bunga, pasien harus menjalani serangkaian tes lebih dulu. Tes itu pula yang dijalani Maria Nenny Halim, 42 tahun, pada awal Mei lalu di Rumah Sakit Meilia Cibubur. Perempuan asal Bandung itu mendatangi dokter Florentina R. Wahjuni dengan keluhan memiliki miom alias tumor jinak di rahim. Untuk mendiagnosis dengan sistem fitobiofisik, Florentina meminta Maria meletakkan tangan kirinya ke lima test tape secara bergantian.

Disebut tape karena memang bentuknya seperti pita. Lebih tepatnya seperti selotip hitam. Tangan kiri pasien harus memegang pita itu untuk dideteksi penyakitnya. Tes ini antara lain bisa mengetahui toksin alias racun di dalam tubuh, mengecek sistem endokrin (sekumpulan kelenjar dan organ yang memproduksi dan mengatur hormon dalam aliran darah untuk mengontrol sejumlah fungsi organ di tubuh), serta tes untuk mengecek darah, sel darah putih, hati, dan ginjal. "Ini tes respons otot (muscle respond test), tes awal yang harus dijalani pasien fitobiofisik," kata Floren, yang menggeluti fitobiofisik sejak 2004 di Malaysia.

Saat pengujian, ketika tangan kiri Maria menyentuh pita hitam itu, lengan kanannya diangkat lurus dan bahu ditekan berulang-ulang oleh Floren. Jika tangan kanan yang diangkat tiba-tiba menjuntai, itu artinya ia mengalami gangguan penyakit tertentu. Apa penyakitnya, itu tergantung dari selotip yang disentuhnya. Selotip hitam berukuran kira-kira 3 x 4 sentimeter ini bukan sembarangan karena isinya gelombang elektromagnetik yang menunjukkan jenis penyakit tertentu.

Lima selotip hitam itu sebenarnya tidak berhubungan langsung dengan terapi bunga. Setelah ada tanda-tanda pasien mengidap penyakit tertentu, baru mereka diminta memegang botol yang berisi ekstrak bunga tertentu. Jika reaksi lengan pasien sama dengan reaksi pada selotip hitam itu, dokter baru bisa meyakini penyakit apa yang dideritanya.

Dari serangkaian tes yang dijalani Maria, dokter Floren mendiagnosis bahwa kadar hemoglobin dan hormon di ginjalnya yang perlu diperbaiki ketimbang miomnya. "Miomnya tenang, tapi hormonalnya enggak bener, ia akan naik," katanya. Setelah diketahui penyakitnya, Maria harus menjalani terapi, antara lain, dengan diberi obat dari bunga anggrek (indigo), dandelion (kuning), evening primrose (kuning), dan daisy (oranye).

Sari


Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=162366139231



Kesehatan 1/1

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.