Laporan Khusus 24/24

Sebelumnya Selanjutnya
text

Kuliah Hukum dan Kerja untuk Gereja

Di Zendingshuis, untuk pertama kalinya Yap merasa hidup di lingkungan intelektual. Studi hukum rampung, belajar kerja untuk gereja.

i

Joemahat 18-1-46.

Sasoedanja beberapa kali dikirim poelang dengan permintaan boeat dateng poela besok hari djam sembilan setengah, achirnja hari ini djam 3 sore kita sadjoemlah 35 orang brangkat djoega.

Kalimat pembuka tulisan berjudul "Beladjar ka Europa sebagi Student Pakerdja" itu diterbitkan koran Tionghoa berbahasa Melayu, Sin Po, Selasa, 5 Februari 1946. Artikel itu merupakan seri pertama dari enam seri tulisan tentang pengalaman Yap Thiam Hien menuju Belanda. Dia menggunakan nama pena: Yeh Tien Hsing.

Hari itu, Yap akan mulai bekerja sambil mengarungi lautan selama kurang-lebih sebulan. Pertama kali melihat kapal SS Noordam tempat kerjanya itu bersandar di dermaga Pelabuhan Tanjung Priok, Yap kecewa. Dalam tulisannya, ia menyebut kapal itu kecil. "Bagaimana nanti di Lautan Atlantik, kita orang semuanya bakal menjadi mabuk laut!" tulis Yap.

Perjalanan panjang Yap dimulai dengan menumpang kapal pemulangan orang Belanda itu. Kesempatan ini terbuka setelah temannya memberitahukan lowongan menjadi corvéer—pembantu—di kapal itu. Tugasnya antara lain mencuci piring dan membersihkan kakus. Imbalannya tiket gratis, pakaian musim dingin, dan sedikit uang. "Juga ada baiknya mengerjakan pekerjaan yang kita benci. Ini kan satu training buat zelfbeheersching (pengendalian diri)," tulis Yap di artikel itu.


Berbekal uang tabungan, beberapa helai pakaian, sepeda, dan mesin ketik—komisi dari Sin Po untuk artikel yang dikirim—Yap meninggalkan Jakarta. Kota yang dituju dalam 30 hari melaut itu adalah Leiden. Di sanalah berdiri Universitas Leiden, yang mempunyai sekolah hukum terpandang impian banyak pelajar Indonesia.

162366106353

Sebelum diterima di Leiden, Yap bersekolah di Rechtshogeschool selama dua tahun sejak akhir 1938 dan lulus ujian kandidat (candidaatsexamen). Namun sekolah yang berada di gedung Museum van het Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen—kini Museum Nasional—di Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta, itu ditutup Jepang pada 1942.

Antara Rechtshogeschool dan Fakultas Hukum Universitas Leiden ada perjanjian kesetaraan. Maka di Leiden, Yap, yang mendapat beasiswa berupa pinjaman pendidikan pemerintah sebesar seribu gulden per tahun, hanya perlu kuliah satu setengah tahun agar bisa ikut ujian doktoral (doctoraal examen). Namun prestasinya biasa saja. Yap meraih meester in de rechten pada 26 September 1947, dengan nilai 6 dalam skala 10.

Mendapat akomodasi gratis selama di Belanda adalah keberuntungan lain. Yap tinggal di Zendingshuis di Kota Oegst­geest, 3,1 kilometer dari Leiden. Keberadaan Rumah Misionaris Protestan milik Nederlandse Hervormde Kerk itu dia ketahui dari teman kuliahnya. Dalam biografi Yap karangan Daniel S. Lev, No Concessions, diceritakan bahwa Yap disarankan menemui Estefanus Looho, mahasiswa farmasi asal Manado yang datang ke Leiden pada 1939.

Estefanus telah berhubungan lama dengan Zendingshuis. Ketika Jerman menginvasi Belanda dan menyisir Oegstgeest untuk mencari pemuda sebagai pekerja paksa di Ruhr, dia dan dua doktor Belanda berhasil selamat. Mereka bersembunyi di gudang bawah tanah Zendingshuis. Setelah Jerman menyerah, Estefanus mengusulkan kamar-kamar kosong di sana diisi pelajar dari mancanegara, termasuk Indonesia. Direktur Zendingshuis pun setuju.

Oegstgeest kini dikenal sebagai permukiman elite kalangan ilmuwan dan budayawan. Berjalan kaki selama 30 menit dari Leiden ke Oegstgeest, pengunjung disuguhi pemandangan rumah-rumah apik dengan taman bunga terpelihara. "Rumah Zending? Tentu saya tahu," ujar lelaki setengah baya yang ditemui di halaman gereja, awal Mei lalu. "Tinggal berjalan lurus, di depan lapangan rumput ada bangunan besar. Sekarang jadi rumah biasa, tapi masih indah," katanya dengan sorot mata bangga.

Beralamat di Leidsestraatweg Nomor 11, berdiri bangunan empat lantai, dengan material utama batu merah. Di atas gerbang utama terdapat balkon yang di atas pintunya tertulis "Anno MCMXVII". Di sisi lain ada papan bertulisan "Hendrik Kraemer"—tokoh pergerakan Protestan di Belanda. Kraemer (1886–1965) adalah pencetus gerakan melawan kaum nasional sosialis pada Perang Dunia II di Belanda

Kini Zendingshuis telah beralih fungsi menjadi apartemen yang dikelola yayasan perumahan Woningstichting Buitenlust. Pada dinding pintu masuk ditempelkan foto-foto tua Zendingshuis. Di bagian belakang bangunan berdiri apartemen bertingkat berarsitektur modern. Kedua bangunan ini dipisahkan Taman Hendrik Kraemer, yang penuh pepohonan tinggi.

Sejak 1971, Nederlandsche Zendingshogeschool dan seminari Zending menyatukan diri menjadi Hendrik Kraemer Instituut. Pada tahun itu juga berdiri Gereja Protestan dan organisasi pelayanannya. Institut ini lalu pindah ke Utrecht dan bernaung dalam Interkerkelijke Organisatie voor Ontwikkelingssamenwerking.

Yap menemukan habitatnya di Zendingshuis. Perpustakaan menjadi tempat favoritnya. Dia melahap buku-buku literatur berbahasa Belanda dan Jerman. Yap mengeksplorasi isu Marxisme dan kapitalisme, filosofi, politik, organisasi sosial, serta rekonstruksi. Dia juga membaca sejarah alkitab. Karya Karl Barth dan teolog Jerman yang berpengaruh lainnya menjadi pilihan Yap dalam studinya.

Olga Nelly Sigar-Looho, istri mendiang Estefanus Looho yang kini berusia 92 tahun, mengenang Yap sebagai teman satu perkumpulan. Mereka sama-sama anggota Perhimpoenan Kristen Indonesia (Perki). Organisasi pelajar ini awalnya didirikan dengan nama De Indonesische Christen Jongeren (ICJ) pada 1930. ICJ lalu berubah nama menjadi Perki pada 1938. Setiap tahun, Perki selalu menyelenggarakan konferensi. Dalam salah satu pertemuan Perki itulah Olga pertama kali berjumpa dengan Yap.

"Yap itu teman kakak saya, Tom Sigar," ujar Olga di kediamannya di kawasan Permata Hijau, Jakarta Selatan, pertengahan Mei lalu. "Yap sering datang ke rumah Tom di Voorburg. Tiap kali saya ke sana, Yap selalu ada. Tapi, apa yang mereka bicarakan, saya tidak tahu," kata kakak Dora Sigar, istri Sumitro Djojohadikusumo, ini.

Olga tahu Yap tinggal di Zendingshuis walau tak pernah datang mengunjunginya. "Cewek-cewek dilarang, toh. Tidak sopan," kata Olga, yang ikut orang tuanya ke Belanda pada usia sembilan tahun. Olga dan Yap sekitar 40 tahun kemudian menjadi besan. Anak sulung Olga, Stefan Looho, menikah dengan putri Yap, Yap Hong Ay.

Setamat kuliah, Yap tidak langsung meninggalkan Belanda karena ada tawaran pelatihan kerja dari gereja. Setelah dilatih, Yap diharapkan menjadi pemimpin pemuda gereja di Jawa Barat. Jika ia setuju, gereja akan memberi dana tambahan untuk mengikuti pelatihan di Eropa. Yap menerimanya.

Pada tahap pertama, Yap menuju Swiss. Ia menghabiskan tiga bulan di Savigny, dekat Jenewa. Kembali ke Belanda, ia langsung menuju Amsterdam Maatschappij voor de Jongeren, mempelajari organisasi dan tata kelola, selama satu bulan. Destinasi berikutnya adalah Inggris, untuk bergabung pada Selly Oak Colleges di Birming­ham, sejak April hingga Juni 1948. Di tempat inilah Yap menemukan program memadukan dua ketertarikannya: gereja dan pendidikan. Tur Eropa ini diakhiri dengan tinggal di Paris, Prancis, selama tiga pekan untuk belajar plus jalan-jalan. Setelah itu, Yap kembali ke Belanda untuk bersiap pulang.


Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=162366106353



Laporan Khusus 24/24

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.