Olahraga 1/1

Sebelumnya Selanjutnya
text

Di Ganda Kita (Mulai) Berjaya

Indonesia berlimpah stok pemain bulu tangkis berbakat di sektor dobel. Sedangkan tunggal masih terseok.

i

Dua pemain muda itu masih berjibaku dengan kok meski pemain lain sudah beristirahat. Lampu-lampu di hall, tempat para pemain bulu tangkis nasional berlatih sejak pagi, satu demi satu dimatikan. Tapi Angga Pratama dan Rian Agung Saputro, dua pemain muda itu, tak peduli. Mereka masih saja asyik berlatih didampingi pelatih ganda putra Herry Iman Pierngadi.

"Kalau bola nanggung seperti itu, kamu yang ambil, ya," ujar Herry kepada Angga. Sedangkan Rian terlihat giat mematangkan pukulan smesnya. Kaus AC Milan—klub sepak bola Italia—yang ia kenakan sudah bersimbah keringat. Keduanya baru berhenti ketika jarum jam menunjuk angka 12.15. "Seharusnya latihan hanya sampai pukul 11.00," kata Herry kepada Tempo, Selasa pekan lalu. "Hari ini lebih lama karena saya mengevaluasi hasil pertandingan di Sudirman Cup kemarin."

Kejuaraan Piala Sudirman digelar di Malaysia dua pekan lalu. Saat itu, langkah Indonesia terhenti di perempat final, setelah ditaklukkan Cina dengan skor 3-2. Meski kalah, tim Indonesia menuai pujian karena mampu merepotkan Cina—raksasa bulu tangkis dunia.


Pasangan Angga/Rian menyumbangkan satu poin setelah secara mengejutkan menumbangkan Fu Haifeng/Cai Yun. Torehan ini terhitung istimewa karena, selain duo Cina itu jauh lebih senior, kondisi Rian sedang tak fit. "Sehari sebelum berangkat ke Malaysia, Rian mimisan. Dia sakit dan sempat sehari bed rest," ujar Herry. Jadi, penampilan pasangan Indonesia itu belum 100 persen, tapi sudah bisa mengalahkan peringkat sembilan dunia. "Itu luar biasa."

162406421145

Hasil di Kuala Lumpur itu menjadikan Angga/Rian satu-satunya ganda putra Indonesia yang menembus sepuluh besar dunia. Dan di antara sepuluh jagoan itu, Angga/Rian merupakan pasangan termuda. Rian saat ini berusia 23 tahun dan Angga 22 tahun. "Seingat saya, mereka yang pertama menembus sepuluh besar dunia dengan usia semuda itu di Indonesia. Biasanya pemain mencapai level itu ketika usianya sudah 24 atau 25 tahun," kata Herry. "Mereka berpotensi besar bersaing di tingkat dunia."

Muda dan berbahaya. Julukan itu tepat disematkan ke pasangan Angga/Rian. Tengok saja torehan prestasi mereka dua bulan terakhir: juara Australia Terbuka dan Selandia Baru Terbuka. Sebelumnya, mereka juga mencicipi semifinal India Terbuka.

Rian mengatakan awalnya mereka ber­ambisi naik peringkat dengan cepat, tapi ternyata susah. Akhirnya, keduanya sepakat berfokus ke pertandingan saja. "Ternyata kami bisa (naik peringkat)," ujarnya.

Duet Angga/Rian ini bisa dibilang mewakili kinclongnya prestasi sektor ganda, baik putra, putri, maupun campuran, dalam beberapa bulan terakhir. Mereka, misalnya, merajai turnamen Grand Prix Gold Australia 2013 di Sydney, 7 April lalu. Tak tanggung-tanggung, tiga gelar digondol sekaligus.

Gelar pertama disumbangkan ganda putri Vita Marissa/Variella Aprilsasi. Gelar kedua dipersembahkan ganda campuran Irfan Fadhilah/Weni Anggraini. Gelar ketiga diraih duet Angga/Rian setelah menumbangkan senior mereka, Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan.

Sepekan berikutnya, ganda campuran dan ganda putra kembali berkibar di Selandia Baru Terbuka. Kali ini lewat duet Pra­veen Jordan/Vita Marissa dan, lagi-lagi, Angga/Rian.

Sektor dobel makin kinclong ketika duet senior Liliyana Natsir/Tantowi Ahmad mencetak hat trick di India Terbuka, dua pekan kemudian. Pasangan peringkat dua dunia ini sebelumnya menyabet gelar All England 2013.

Prestasi sektor dobel ini mengkilap, menurut Herry, antara lain karena berlimpahnya pemain berbakat dengan spesialisasi bermain ganda. Regenerasi pun mulus bergulir. Dia mengakui, pelatih tinggal menggosok bakat-bakat tersebut dan mencarikan pasangan yang tepat.

Herry memberi ancar-ancar. Pemain yang berbakat bermain ganda biasanya memiliki pukulan keras tapi kuda-kudanya lemah. Mereka membutuhkan pukulan dahsyat karena harus bermain cepat dan terus menyerang. "Karakter pemain tunggal kebalikannya. Kuda-kudanya lebih kuat daripada pukulannya," katanya.

Saat ini, Indonesia lebih banyak memiliki pemain tipikal ganda ketimbang tunggal. Akibatnya, regenerasi di sektor tunggal pun mandek. Dan itu membikin macet prestasi mereka pula. "Situasi ini pernah dialami ganda putra beberapa puluh tahun lalu."

Paceklik prestasi sektor tunggal memang tak terhindarkan. Sejak Januari lalu, hanya satu gelar yang dipersembahkan, yakni Grand Prix Yonex Sunrise Malaysia Open 2013. Di negeri jiran itu, Alamsyah Yunus sukses menjadi juara.

Kepala pelatih tunggal putra, Joko Supriyanto, mengatakan redupnya aksi pemain tunggal itu disebabkan oleh lemahnya performa fisik mereka. "Saat saya mulai melatih Januari lalu, kondisi fisik anak-anak agak di bawah," ujarnya.

Ini, kata Joko, merupakan dampak metode yang diterapkan pelatih sebelumnya, Li Mao, yang berasal dari Cina. Li Mao lebih mengutamakan teknik ketimbang fisik. "Dia menganggap pemain bulu tangkis tak perlu berlatih fisik secara khusus."

Padahal justru kekuatan fisik itulah penopang utama pemain di sektor tunggal. Selain harus mengamankan lapangan sendirian, mereka membutuhkan tenaga ekstra agar bisa mengirim smes-smes bertenaga. "Itu semua butuh fisik yang prima," ujar Joko.

Karena itu, saat ini Joko berfokus terus menggenjot kinerja fisik pemain. Dia memberi porsi latihan fisik lebih banyak ketimbang teknik. Perbandingannya 70-30 persen. "Saya ingin menerapkan standar fisik yang tinggi karena akar persoalannya di situ."

Faktor lain penyebab anjloknya sektor tunggal, terutama putra, adalah cederanya Simon Santoso dan Sony Dwi Kuncoro. Simon cedera sejak tujuh bulan silam dan Sony cedera saat tampil di All England 2013, Maret lalu.

Sony adalah tunggal putra terbaik Indonesia. Saat ini ia menempati peringkat empat dunia. Sedangkan Simon nangkring di peringkat ke-17. Cederanya dua pemain itu menjadi pukulan telak bagi sektor tunggal putra. "Simon dan Sony masih perlu pemulihan," kata Joko.

Joko memprediksi tunggal putra setidaknya membutuhkan waktu tiga tahun untuk bangkit. Itu pun dengan asumsi pemain-pemain muda yang tengah digojlok di pemusatan latihan nasional tumbuh sesuai dengan harapan.

Saat ini ada delapan pemain muda di tunggal putra yang ditempa di kawah candradimuka. Asisten pelatih tunggal putra, Marleve Mainaky, menilai kedelapan pemain muda itu cukup potensial. Anak-anak muda inilah yang digenjot untuk mengembalikan kehormatan sektor tunggal. "Kalau terlalu mengandalkan yang senior terus, bisa sulit," ujar Marleve.

Jalan panjang—dan mungkin berliku— tampaknya mesti dilalui pasukan Joko-Marleve. Itu sebuah tugas berat, karena sudah terlalu lama sektor ini tidak lagi melahirkan pemain sekaliber Taufik Hidayat (tunggal putra) dan Susi Susanti (tunggal putri).

Di salah satu dinding hall pelatnas, terpacak poster besar berisi daftar 20 pemain ganda putra terbaik dunia. Nama Angga dan Rian ada di urutan kesepuluh. Di bawahnya, tercetak tulisan menantang: "Tidakkah Kamu Ingin Menjadi Nomor Satu?". Kedua anak muda yang berjalan beriringan meninggalkan arena seusai latihan siang itu pasti bertekad menjadi kampiun dunia. Seperti halnya semangat Joko-Marleve dalam mengasah para pemainnya: agar sektor tunggal Indonesia kembali disegani dunia.

Dwi Riyanto Agustiar


Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=162406421145



Olahraga 1/1

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.