Laporan Khusus 5/24

Sebelumnya Selanjutnya
text

Kesetiaan 'Menteri Dalam Negeri'

Empat dasawarsa mendampingi Yap, Tan Gien Khing terbiasa hidup dirundung kecemasan. Tak pantang melobi pejabat demi suaminya keluar dari penjara.

i

"Behind every great man there's a ­woman."
— Meryll Frost, The Port Arthur News,
Texas, Februari 1946.

Meryll Frost, bintang football klub Dartmouth, Amerika Serikat, yang diganjar sebutan Most Courageous Athlete of 1945, jelas tak main-main dengan ungkap­annya. Ia percaya prestasi yang diraihnya tak lepas dari peran wanita di belakangnya. Hal seperti itu pula yang tampaknya berlaku dalam kehidupan pengacara Yap Thiam Hien (1913-1989), yang menikahi Tan Gien Khing pada 15 Februari 1949. Pria kelahiran Kutaraja, Aceh, itu bisa tenang menangani kasus-kasus hukum kontroversial karena Khing selalu mendukungnya.

Kesungguhan mendampingi Yap ditunjukkan Khing dengan keluar dari tempatnya bekerja di Departemen Pendidikan Dasar dan Kebudayaan. Ia memilih berkonsentrasi mengasuh kedua anaknya, Yap Hong Gie (lahir pada 1953) dan Yap Hong Ay (1957). Sempat pindah di beberapa tempat di Jakarta, Khing—yang disebut Yap sebagai "Menteri Dalam Negeri"—setia menemani dan tidak banyak mengeluh meski hidup bersahaja.

"Mami bilang, 'Mami tidak bisa mengeluh banyak karena Mami mengerti risiko dari pekerjaan Papi,'" kata Tetty Kintarty, istri Hong Gie, menirukan perkataan ibu mertuanya kepada Tempo, pertengahan Mei lalu. Selama 16 tahun, ia hidup bersama Khing di kawasan Permata Hijau, Jakarta Selatan. Khing, diakui Tetty, kerap bertanya kenapa Yap memilih menangani perkara pidana dan politik daripada perdata. "Mami terbiasa hidup dalam kecemasan," ujar Tetty.


Ada sejumlah kejadian yang membuhulkan kecemasan di hati Khing. Pada awal Oktober 1980, misalnya. Pagi-pagi Yap menerima panggilan telepon, dan suara si penelepon terdengar kasar dan mengancam. Isinya, seperti ditulis Tempo edisi 22 November 1980, "Kalau Lu mau aman, jalankan pekerjaanmu dengan baik." Besoknya, sekitar pukul tiga dinihari, rumahnya menjadi sasaran penembakan orang tak dikenal. Satu peluru menembus kaca jendela. Pada akhir Oktober 1980, anjing herder yang biasa menjaga rumah Yap didapati mati diracun orang.

162365883747

Teror dan kecemasan yang lebih dalam dirasakan Khing saat suaminya dibui, yakni pada 1968 dan 1974. Pada 1 Januari 1968 pagi, Yap ditangkap dan ditahan di Markas Polisi Sektor Pesing, Jakarta Barat, dengan tuduhan sebagai anggota Badan Permusjawaratan Kewarganegaraan Indonesia (Baperki), lembaga yang dicap kiri. Namun, menurut Hong Gie, Yap ditangkap bukan atas tuduhan keterlibatan dengan Baperki, melainkan buntut pembelaan terhadap kliennya, pemilik PT Quick, yang menyeret beberapa pejabat tinggi. Setelah enam hari ditahan, akibat desakan berbagai pihak, termasuk mahasiswa, Yap akhirnya dilepaskan.

Enam tahun kemudian, teror yang berbuntut penahanan kembali terjadi. Malam itu, 21 Januari 1974, saat Yap dan Khing sedang menikmati makan malam, tentara datang ke kediaman Yap di Jalan Dr Semeru, Grogol, Jakarta Barat. Yap kemudian ditahan di Rumah Tahanan Militer di Jalan Budi Utomo, Jakarta, tanpa tahu alasan penangkapannya. Namun, kabar yang beredar, ia ditangkap dengan tuduhan sebagai provokator demonstrasi Malari 1974.

Penahanan tak membuatnya lemah. Yakin tak melakukan kesalahan, ia meminta Khing tak mencari bantuan dari penguasa, apalagi mengemis, untuk membebaskannya. Sebab, Yap tak ingin berutang budi.

Kenyataannya, Khing melanggar larangan itu. Tanggung jawabnya sebagai "Menteri Dalam Negeri" memaksanya berbuat sesuatu agar Yap segera bebas. Harap maklum, ketidakhadiran Yap membuat kondisi keluarga kian sulit, termasuk masalah pemenuhan kebutuhan sehari-hari. Agar dapur ngebul, Khing sempat menyewakan mobilnya.

Saat mengurus penahanan Yap inilah Khing bertemu dengan Jenderal E.Y. Kanter, pejabat di Komando Operasi Pemu­lihan Keamanan dan Ketertiban (Kopkamtib), yang menahan Yap. Bagi Khing, nama Kanter tidaklah asing: ia ayah Chris Kanter, teman sekolah Hong Gie. Seperti ditulis Daniel S. Lev dalam buku No Concessions: The Life of Yap Thiam Hien, sejatinya Khing tak suka memanfaatkan koneksi.

Dalam pertemuan itu, Kanter memberikan jaminan pribadi: Yap tak akan dianiaya dan akan diperlakukan dengan baik. Kanter dan istrinya, Betty Kanter, dengan senang hati membuka pintu rumahnya di Jalan Tanah Abang, Jakarta, jika Khing datang. Menurut Chris Kanter, setelah penahanan Yap, Tante Khing—begitu ia memanggil ibunya Hong Gie—sering datang ke rumah mencurahkan isi hati kepada ibunya.

"Penahanan Pak Yap membuat hubungan kedua keluarga makin dekat, bahkan hingga kini," ucap Chris. Hubungan baik terjalin karena Kanter memandang Yap adalah pembela hukum yang lurus, bukan pencari sensasi. Sedangkan Yap, menurut Chris, menilai Kanter sebagai pejabat yang lurus. Meski berlawanan posisi, kata Chris, "Keduanya saling menghargai."

Dari Kanter pula jalan untuk menemui Laksamana Soedomo, Kepala Staf Kopkamtib ketika itu, terbuka. Pukul tujuh pagi, 28 Oktober 1974, Khing pergi ke kantor Soedomo di Kementerian Pertahanan. Ia mengisi buku tamu tanpa mengisi kolom keperluan. Khing menunggu sampai pukul 09.15 ketika ajudan Soedomo bilang atasannya akan ke Istana Negara dan Khing diminta kembali keesokan harinya. Khing menolak dan berkeras bertemu dengan Soedomo hari itu juga. "Kita semua bingung, Mami sangat berani," ujar Hong Gie mengenang. "Saat itu, orang kan takut masuk ke kantor militer."

Kegigihan Khing menuai hasil. Soedomo mau menemui dan menyebut Yap akan dibebaskan sebelum Natal. Menunggu sekitar dua bulan dan Natal kian dekat, tapi tak kunjung ada kepastian kapan Yap dilepas, Khing marah. Ia menelepon Kanter, menagih janji Soedomo. Saat ditemui Khing pada 24 Desember, Soedomo menegaskan bahwa Yap akan dibebaskan hari itu juga. Selepas bertemu dengan Soedomo, pada malam Natal itu, Khing makan malam di Hotel Borobudur. Nah, saat dia pulang, Yap sudah di rumah.

Sekitar satu jam berada di rumah, bukannya sukacita yang tercipta, justru Yap dan Khing berdebat keras. Pemicunya, Yap ingin membela Sjahrir, pemimpin gerakan mahasiswa, yang akan menggugat pemerintah atas penahanannya. Khing pun mengancam pergi jika Yap tetap menangani kasus itu. Hati Yap mengkerut. Ia mengalah.

Saat bersama Yap, peristiwa yang benar-benar membuat darah mengucur dari leher Khing terjadi pada 1985. Kala itu, menurut Hong Gie, seorang pencuri masuk ke rumah Yap di Grogol dan bersembunyi di bawah ranjang Khing. Saat Khing diduga sudah tidur, pencuri keluar dari persembunyian. Karena Khing masih terjaga, sebilah pisau ditusukkan ke leher perempuan itu. Khing harus dioperasi akibat tusukan ini. "Pelakunya kabur," kata Hong Gie. "Ini kriminal murni."

Setelah mendampingi selama empat dasawarsa, Khing berpisah dengan Yap yang meninggal di Belgia pada 25 April 1989. Enam belas tahun kemudian, pada 23 Maret 2005, ia menyusul Yap. "Mami dimakamkan di TPU Tanah Kusir, Jakarta, dijadikan satu dengan Papi," ujar Tetty.


Lamaran Lewat Surat

Mulanya biasa saja, lama-lama hatinya kecantol juga. Itulah gambaran suasana hati Tan Gien Khing mengenai Yap Thiam Hien. Bertemu pertama kali dalam sebuah pesta pernikahan pada 1943, lalu disusul dengan sejumlah pertemuan setelah itu, Khing tidak menaruh hati kepadanya. "Kesan saya kok niets aan, enggak ah," kata Khing, seperti dikutip majalah Intisari edisi Desember 2000.

Toh, Yap tak berkecil hati. Dari Belanda, tempat Yap belajar ilmu hukum sejak awal 1946, ia terus berkirim surat kepada Khing. Perjuangan tak kenal menyerah Yap membuahkan hasil. Hati Khing lumer dan mengiyakan saat sepucuk surat Yap menyatakan, "Saya ingin melamarmu secara resmi."

Lampu hijau menyala, Yap pun mengirim surat lamaran kepada orang tua Khing, pasangan Tan Siu Lim-Thee Hsia Ling, di Semarang. Singkat cerita, setelah kedua keluarga setuju, mereka menikah pada 15 Februari 1949.


Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=162365883747



Laporan Khusus 5/24

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.