Laporan Khusus 21/24

Sebelumnya Selanjutnya
text

Bukan Sang Pencari Jalan Tengah

INGATANNYA tak pernah terkapar meski usia telah menggerogoti tubuhnya. Go Gien Tjwan masih tajam mengingat masa lalu. Dia mengingat semua momen saat berjuang bersama Yap Thiam Hien di organisasi yang dicap 'kiri' oleh pemerintah, Badan Permusjawaratan Kewarganegaraan Indonesia (Baperki). Organisasi ini dibentuk pada Maret 1954. Dosen senior sejarah Asia modern di Universiteit van Amsterdam ini pernah menjabat Sekretaris Yayasan Baperki. Dalam organisasi yang menentang diskriminasi ras itu, berkumpul para tokoh dari berbagai latar sosial dan politik.

Perbedaan ini menjadi benih perpecahan. Beberapa pendiri Baperki, seperti Auwjong Peng Koen (P.K. Ojong), Khoe Woen Sioe, dan Kwee Hwat Djien, keluar. Mereka tidak setuju terhadap sikap politik pimpinan pusat, antara lain Go Gien dan Ketua Baperki Siauw Giok Tjhan, yang membawa organisasi ini ke garis kiri. Yap Thiam Hien, wakil ketua, pun tak sehaluan. Bahkan perlawanan Yap dibawa hingga sidang Konstituante.

i

INGATANNYA tak pernah terkapar meski usia telah menggerogoti tubuhnya. Go Gien Tjwan masih tajam mengingat masa lalu. Dia mengingat semua momen saat berjuang bersama Yap Thiam Hien di organisasi yang dicap 'kiri' oleh pemerintah, Badan Permusjawaratan Kewarganegaraan Indonesia (Baperki). Organisasi ini dibentuk pada Maret 1954. Dosen senior sejarah Asia modern di Universiteit van Amsterdam ini pernah menjabat Sekretaris Yayasan Baperki. Dalam organisasi yang menentang diskriminasi ras itu, berkumpul para tokoh dari berbagai latar sosial dan politik.

Perbedaan ini menjadi benih perpecahan. Beberapa pendiri Baperki, seperti Auwjong Peng Koen (P.K. Ojong), Khoe Woen Sioe, dan Kwee Hwat Djien, keluar. Mereka tidak setuju terhadap sikap politik pimpinan pusat, antara lain Go Gien dan Ketua Baperki Siauw Giok Tjhan, yang membawa organisasi ini ke garis kiri. Yap Thiam Hien, wakil ketua, pun tak sehaluan. Bahkan perlawanan Yap dibawa hingga sidang Konstituante.

Walau kerap berdebat sengit, Go Gien menyatakan hubungan pribadinya dengan Yap terjalin baik. Dua bulan sebelum Yap wafat pada 1989, seniornya itu datang ke rumahnya di kawasan Max Havelaarlaan, Amstelveen, Belanda. Sebatang rokok menemani pembicaraan mereka. "Saya katakan, jangan buang puntung sembarangan. Dia malah tertawa dan bilang biar itu jadi pupuk tanaman," ujar Go Gien. Dibantu alat bantu dengar, lelaki kelahiran Malang, Maret 1920, ini menjawab pertanyaan Tempo dengan tangkas dalam wawancara di kediamannya, pertengahan bulan lalu.


Bagaimana awal pertemuan Anda dengan Yap?

162366019014

Pertemuan dengan John, begitu saya memanggil Yap, pada akhir 1930-an di Jakarta. Kami sama-sama aktif di Ta Hsioh, perhimpunan mahasiswa yang didirikan pada 1930-an. Kami sering berdiskusi tentang segala macam, paling sering masalah sosial dan politik.

Ketika di Baperki, Anda sering berseberangan dengan Yap. Apa yang jadi permasalahan?

Sering muncul kesan ada permusuhan pribadi antara saya dan Siauw Giok Tjhan versus Yap Thiam Hien. Itu tidak benar. Dalam setiap kampanye, kami selalu bersama-sama. Kami menunjukkan bahwa Baperki adalah badan yang demokratis dan menghargai pluralisme. Orang juga sering mengatakan Baperki seratus persen pengikut Sukarno, tidak betul. Saat Sukarno mengumumkan Demokrasi Terpimpin, Yap dengan tegas menolak.

Ada perdebatan pula tentang Undang-Undang RIS dan UUD 1945. Misalnya tentang Pasal 6 Bab III UUD 1945 bahwa presiden harus orang Indonesia asli. Tapi kita harus melihat konteks waktu itu. UUD 1945 disusun pada zaman Jepang. Kami takut, kalau tidak disebut eksplisit, nanti bakal ditaruh orang Jepang.

Jadi, memang muncul banyak faksi di Baperki?

Terdapat banyak faksi, Yap dari Protestan, Oei Tjoe Tat dari Partindo. Dari hasil pemilihan, terpilih pada urutan pertama Siauw Giok Tjhan, kedua saya, Oei Tjoe Tat, kemudian Yap. Dua hari sebelum hari kampanye berakhir, tiba-tiba Auwjong Peng Koen datang ke Siauw dan menyatakan ketidaksetujuan atas kedudukan saya sebagai calon nomor dua. Alasannya, karena saya komunis. Peng Koen ini dari faksi Katolik. Siauw dengan tegas mengatakan Baperki tidak diskriminatif dalam bentuk apa pun. Dua hari kemudian Peng Koen mengundurkan diri.

Mengapa kala itu Baperki membangun Universitas Res ­Publica atau Ureca?

Pada 1950-an banyak peraturan yang sangat diskriminatif. Tidak hanya di sektor ekonomi, tapi juga pendidikan dan kebudayaan. Ada jatah sekian persen untuk warga pribumi dan sekian persen untuk nonpribumi. Orang Tionghoa dilarang meneruskan sekolah di universitas pribumi, dan sebaliknya. Berangkat dari keprihatinan tersebut, berdirilah Ureca.

Benarkah Yap tidak setuju Baperki dikaitkan dengan Ureca?

Tidak betul. Waktu itu Yap berjuang di Baperki pusat, sementara saya di yayasan. Bahwa kerap ada perbedaan pendapat, itu wajar.

Ureca kemudian dibakar pada 1965….

Itulah kenapa dibakar. Tujuan utamanya bukan menghantam komunis, melainkan sentimen anti-Tionghoa. Saya, Siauw, dan Thio Thiam Tjong ditahan. Meringkuk di Kompi Penyelidik Khusus, Lapangan Banteng, hampir empat bulan. Kala itu, saya mendengar Yap menghadap Menteri Dalam Negeri Amir Machmud, mempertanyakan kenapa dia tidak ditangkap. Ya, karena Yap seorang Protestan.

Bagaimana Anda menilai sosok Yap?

Yap seorang yang teguh, tidak mau berkompromi dengan aliran lain. Seorang demokrat legalis yang kuat memegang prinsip. Saya dan Siauw juga demokratis legalis, tapi pada saat-saat tertentu ada kalanya harus mencari jalan tengah, groot gemengde deal, jalan tengah kebijaksanaan politik. Itu nilai-nilai kebudayaan Tionghoa.

Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=162366019014



Laporan Khusus 21/24

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.