Wawancara 1/1

Sebelumnya Selanjutnya
text

Intoleransi Beragama Tanggung Jawab Presiden

Dari kantornya yang senyap dan teduh di lantai dua kampus Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Franz Magnis-Suseno melepaskan surat elektronik yang menggegerkan jagat maya. Rabu tiga pekan lalu, profesor filsafat dan padri Yesuit itu menulis kepada The Appeal of Conscience Foundation (ACF). Berbasis di New York, ACF mempromosikan perdamaian, demokrasi, toleransi, serta dialog antarkepercayaan. Yayasan ini menganugerahkan World Statesman Award kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono—yang diterima Presiden pada 30 Mei lalu di New York.

Dalam surat elektronik tersebut, Magnis bertanya kepada ACF, apa motivasi mereka memberikan penghargaan itu: "Bagaimana bisa Anda memutuskan ini tanpa bertanya kepada rakyat Indonesia?" Ahli filsafat etika yang giat mengikuti problem hak asasi manusia serta dialog antarkepercayaan ini mengaku amat prihatin pada meningkatnya tindak kekerasan terhadap warga Ahmadiyah dan Syiah. Kasus Gereja Yasmin yang tak kunjung usai juga dicontohkan Magnis sebagai bukti bahwa tekanan pada kaum minoritas tak pernah selesai. Presiden, sebagai pemimpin rakyat Indonesia, menurut Magnis, tak meresponsnya dengan tanggung jawab sepadan. Maka, "Melalui keputusan pribadi, saya menulis surat itu," ujarnya kepada Tempo.

i

Dari kantornya yang senyap dan teduh di lantai dua kampus Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Franz Magnis-Suseno melepaskan surat elektronik yang menggegerkan jagat maya. Rabu tiga pekan lalu, profesor filsafat dan padri Yesuit itu menulis kepada The Appeal of Conscience Foundation (ACF). Berbasis di New York, ACF mempromosikan perdamaian, demokrasi, toleransi, serta dialog antarkepercayaan. Yayasan ini menganugerahkan World Statesman Award kepa

...

Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=163244368749



Wawancara 1/1

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.