Seni 1/1

Sebelumnya Selanjutnya
text

Dua Sejawat Pasca-'Laboratorium Barat'

Dua pegrafis senior ITB, Haryadi Suadi dan Tarcius Sutanto, menggelar pameran bersama. Menunjukkan pembaruan seni rupa Bandung yang lebih kaya.

i

Keduanya sama-sama belajar di Studio Desain Interior Institut Teknologi Bandung, lalu jadi mahasiswa pertama Studio Seni Grafis dan lulus pada 1969. Tarcius Sutanto, 72 tahun, dan Haryadi Suadi, 74 tahun, adalah dua sejawat yang tak cuma mengabdikan diri sebagai pengajar seni dan desain grafis di lingkungan ITB hingga 2000-an, tapi juga mempengaruhi perkembangan seni rupa Indonesia.

Hasil penjelajahan keduanya di ranah seni rupa, terutama pada serigrafi, ilustrasi, gambar, dan karikatur, kini dipajang dalam pameran "Haryadi Suadi dan T. Sutanto: Grafis, Lukisan, Gambar, dan Arsip" di Galeri Soemardja, ITB, Bandung, sampai akhir bulan ini. Kurator pameran dan Direktur Galeri Soemardja, Aminudin T.H. Siregar, menilai mereka berhasil memperlihatkan sintesis antara bahasa rupa modern dan tradisional. Sintesis itu, kata Aminudin, memperkaya khazanah baru budaya visual Indonesia, sekaligus memancing kita mengkaji kembali secara kritis asumsi yang mengatakan budaya tradisional hanyalah entitas yang kaku.

Haryadi sejak 1950-an dikenal lewat karya ilustrasi dan karikatur. Adapun Sutanto sejak 1970-an jadi karikaturis kawakan untuk beberapa koran, seperti Pikiran Rakyat Bandung dan Jakarta Post. Pada pertengahan 1960-an, keduanya bersama seniman ITB, antara lain Sanento Yuliman, giat menerbitkan karikatur politik di surat kabar Mahasiswa Indonesia, Mimbar Demokrasi, dan Kami.


Namun, di luar karikatur politik, karya grafis mereka sebenarnya lebih berkelanjutan dalam menggambarkan mitos atau dongeng, kepekaan pada ragam dan sifat gambar, serta imba atau citra tiruan alam. Pokok yang secara terang-terangan atau perlambang yang kerap tampil pada karya mereka adalah suasana taman atau kebun. Sutanto, misalnya, menggubah Taman Hari Kemarin, yang dibikin pada 2012. Lukisan ini menampilkan "koleksi" lamanya dari puspa rupa raut alam (daun, kembang, kupu-kupu, burung, bulan, matahari, bintang, dan orang).

162366198575

Cara melukis Sutanto membangun suasana yang akrab dan keseharian. Tapi dedaunan, bunga, dan kupu-kupu yang dia lukis lebih besar daripada matahari dan orang itu, misalnya, menyingkap khayal, bahkan menyiratkan sejenis suasana mistis tertentu. Suasana itulah yang kita jumpai pada karya grafisnya, Pemburu (1990). Cetakan yang bersih dan teliti dengan citra­ sosok pemburu di tengah bentang alam yang liris itu menggugah imajinasi kita.

Kita dapat membayangkan sepetak taman, sempadan tanaman menjalar, dan bermacam citra benda, aksara, serta paras orang di sekitarnya pada karya serigrafi Pemandangan (1995). Bentuk-bentuk sulur yang bertumpang-tindih dengan raut persegi itu seakan-akan ingin menampilkan sebuah corak gambar yang kaya.

Ada khayal mengenai keserasian, bahkan sinkretisme yang halus, terutama pada serigrafi dan lukisan Sutanto. Ini sesuatu yang tak kita jumpai pada karikaturnya, yang lebih lugas. Karikatur mengenai kampanye partai "kumis" dan partai "pencukur" adalah contohnya. Logo partai bergambar "kumis" dengan blabar yang pekat-tebal seketika raib ketika berpapasan dengan pendukung partai yang mengusung gambar "pencukur". Yang mencolok pada karikatur Sutanto adalah penampilan rakyat jelata yang diberkati akal sehat nan tajam.

Pada 1973, di Bandung berdiri bengkel kerja Studio Decenta. Sebagian besar pendirinya adalah alumnus Jurusan Seni Rupa ITB (Adrian Palar, A.D. Pirous, G. Sidharta, Priyanto, Sunaryo, dan T. Sutanto). Kehadiran Decenta mendorong perkembangan berbagai cabang seni di Bandung, termasuk seni grafis. Mereka menggelar Pameran Seni Grafis Bandung (1974) dan Pameran Gambar-Cetak Saring (1975), berkeliling ke Jakarta, Bandung, Yogyakarta, dan Surabaya, yang mendapat apresiasi luas dan dorongan penciptaan karya grafis, terutama cetak saring.

Haryadi dan Sutanto ada di dalam suasana dan barisan itu. Decenta, kata Aminudin, adalah generasi pertama pasca-"laboratorium Barat". Istilah "laboratorium Barat" digunakan oleh Trisno Sumardjo pada pertengahan 1950-an terhadap karya sejumlah mahasiswa dan guru seni rupa Bandung yang kunstmatig atau dibuat-buat karena pengaruh (modernisme) Barat.

"Mazhab" Decenta ini agaknya sering luput dibicarakan dalam kaitan dengan perkembangan seni rupa Indonesia pada 1970-an. Sejumlah karya seniman Decenta punya perhatian kepada citra dan khazanah lokal serta identifikasi visual keindonesiaan, yang antara lain melalui rujukan dan pengolahan kembali ragam hias dan citra seni tradisi. Perhatian itu membawa juga kekhasan penggunaan warna, misalnya warna-warna lembayung pada karya serigrafi, seperti tampak kuat pada serangkaian karya G. Sidharta.

Dengan kata lain, pembaruan seni rupa di Bandung pada 1970-an sejatinya lebih kaya ketimbang satu-satunya arus pemberontakan atau gerakan yang sering diuar-uarkan, yang biasanya merujuk pada Gerakan Seni Rupa Baru. Pencarian bahasa estetik yang lain melalui asas-asas formal pun berlangsung di masa itu. Karya serigrafi Bandung agaknya persis menjadi ujung tombak perkembangan itu.

Haryadi menampakkan kekhasan di sekitar medium ini, khususnya cukilan kayu. Sudah lama ia tertarik pada langgam visual naratif budaya-budaya lokal di sekitarnya. Ia terkesan oleh gambar dan aksara yang menyertai mitos, ramalan, legenda, khazanah astrologi, serta pawukon. Maka dia menampilkan potret dirinya dengan ­citra semacam itu, misalnya pada Potret Diri (1986). Begitu pula sosok pada karya Wanita (1986) dan lebih rumit dan sangat artistik pada Penunggang Kuda (1981). Blok-blok cetakan warna hitam di sana tampak tajam, keras, magis, dan mistis.

Haryadi bahkan berpaling sepenuhnya ke tradisi lukisan kaca yang berkembang di daerah Cirebon dan tampaknya memperoleh keasyikan estetis melalui permainan warna, kerumitan bentuk, dan lapisan-lapisan gambar (natar). Ia menikmati ketelatenan, kerincian dan "keperajinan", meninggalkan sepenuhnya esensi dan fungsi "keekspresifan" sebagai diktum lukisan modern yang dijelajahinya sejak 1970-an. Contoh untuk ini adalah dua lukisan kaca dengan lapisan pewarnaan yang sangat rumit berisi citra semesta taman, yakni Keseimbangan Alam (1985) dan Surga dan Neraka (1992).

Apakah perhatian ini sebuah eksotisme baru Bandung pasca-"laboratorium Barat"? Sebuah "efek Trisno Sumardjo" atau pendulum pencarian kepada yang memang asali? Apakah kritik Trisno lebih dari setengah abad lalu itu berhasil? Ataukah sebenarnya pandangannya keliru bahwa modernisme Bandung sejatinya tak seseragam yang dia bayangkan? Bagaimanapun, serigrafi, cukilan kayu, lukisan kaca, ilustrasi, dan karikatur di pameran ini menunjukkan bahwa semua itu cukup berjarak dengan paradigma lukisan modern, yang justru jadi titik tolak kritik Trisno.

Hendro Wiyanto, pengamat seni rupa


Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=162366198575



Seni 1/1

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.