Internasional 3/4

Sebelumnya Selanjutnya
text

Teh dan Biskuit Setelah Tragedi Woolwich

Pembunuhan serdadu oleh pemuda Islam kembali membangkitkan sentimen agama. Kebijakan imigrasi dituding sebagai penyumbang munculnya kelompok radikal.

i

SUASANA di sektor Tower of Hamlet, daerah timur London yang dikenal berpenduduk pemeluk Islam terbanyak di ibu kota Inggris itu, terlihat tenang Rabu pekan lalu. Tak tampak aparat keamanan berjaga-jaga di kawasan yang dihuni sekitar 71 ribu muslim pascapembunuhan brutal terhadap tentara Inggris, Lee Rigby, oleh Michael Adebolajo, yang beragama Islam, di dekat barak Royal Artillery Woolwich, Rabu dua pekan lalu.

Kondisi yang sama tampak di London Central Mosque, masjid paling terkenal di Inggris di salah satu daerah prestisius, dekat pintu gerbang Hanover's Gate di Regent's Park. Menurut pengamatan Tempo, masjid yang dibangun pemerintah Inggris di masa Perdana Menteri Winston Churchill pada 1940 ini juga tak dijaga polisi. Meski begitu, beberapa hari sebelumnya warga yang marah melemparkan bom molotov ke masjid di Bletchley dan Grimsby serta menghancurkan jendela-jendela masjid di Dorset, Gillingham, dan Maidenhead.

Pembunuhan serdadu yang pernah bertugas di Afganistan itu memang memanaskan sentimen agama. Apalagi adegan pembunuhan terekam dan ditayangkan dalam video yang dilansir berbagai media. Tampak Adebolajo, 28 tahun, menggenggam pisau seraya meneriakkan takbir. Raut mukanya tak menunjukkan penyesalan.


Maka ribuan orang turun ke jalan di berbagai kota, mengutuk pembunuhan Rigby, mengkritik kebijakan imigran dan Islam, serta mendesak pengawasan kelompok Islam radikal. Sekitar 600 orang dari English Defense League, kelompok radikal sayap kanan, misalnya, menggelar aksi di Aylesbury, utara Inggris, hingga bentrok dengan polisi. Mereka menentang perkembangan Islam radikal dan pembangunan masjid-masjid di Inggris. Kelompok Faith Matters mencatat jumlah serangan antimuslim meningkat 10 kali lipat sejak tragedi Woolwich—50 serangan menyasar tempat berkumpul muslim Inggris.

162405950457

Pemerintah Inggris pun akan mengawasi ulama radikal karena ceramah-ceramahnya dinilai mendorong tindak kekerasan. Untuk itu, dibentuk satuan khusus beranggotakan menteri senior, polisi, dan intelijen. Satuan ini akan menyisir potensi ekstremis serta menekan para pemimpin agama yang menyerukan pesan ekstrem di penjara, sekolah, dan masjid. "Mengetatkan pengawasan konten Internet dan selebaran beracun," kata Perdana Menteri David Cameron.

n n n

KOMUNITAS Islam berkembang pesat di Inggris. Februari lalu, Lembaga Statistik Nasional Inggris merilis populasi muslim Inggris dalam tujuh tahun terakhir meningkat 37 persen menjadi 2,6 juta jiwa, atau sekitar 4,6 persen dari total penduduk. Menurut survei UK Labour Force pada 2011, kenaikan populasi muslim disumbang besarnya migrasi warga muslim ke Eropa, termasuk Inggris, dan kelahiran baru.

Berbagai fasilitas pendukung pun dibangun. Di sepanjang White Chapel Road di kawasan Tower of Hamlet, misalnya, terdapat Altab Ali Park; East London Mosque, yang berdiri pada 1910; beberapa bank syariah, sepertiIslamic Bank of Britain;dan rumah makanan halal, sepertiPrudin Briyani Grill. Terdapat juga London Moslem Center, pusat studi Islam yang diresmikan Pangeran Charles dan Pangeran Kerajaan Arab Saudi Mohammed al-Faisal pada 2001.

Tren ini seturut dengan masuknya Islam pertama ke Inggris awal abad ke-19 melalui para pekerja East India Company, terutama dari Yaman dan Gujarat. Setelah dibukanya Terusan Suez dan meluasnya kolonialisme Inggris, para pendatang muslim membanjir hingga dua abad kemudian.

Masalahnya, radikalisasi ajaran agama turut mewarnai perkembangan Islam di Inggris sejak bertahun-tahun lalu. Hal itu belakangan meledak dan menghasilkan sosok semacam Michael Adebolajo, yang memeluk Islam 10 tahun lalu.

Adebolajo tercatat ikut kelompok radikal Al-Mouhajirun, yang dibubarkan pemerintah. Salah satu video yang diunggah situs BBC menunjukkan Adebolajo ikut demonstrasi warga muslim Inggris pada 2007. Dia juga terlihat membagikan selebaran kepada pejalan kaki dan berkhotbah di jalanan Woolwich.

Warga Inggris keturunan Nigeria itu pernah diadili di Kenya pada November 2010 atas tuduhan terorisme. Dengan nama ­Michael Olemindis Ndemolajo, dia bergabung dalam kelompok militan Al-Shabaab, yang terkait dengan jaringan Al-Qaidah. "Kami sudah memberitahukan tentang pria ini ke Inggris," ujar Komandan Polisi Antiteror Mombasa, Elijah Rob.

Kelompok Al-Mouhajirun sendiri lekat dengan nama Omar Bakri Muhammad, ulama radikal yang kini tinggal di Libanon. Lahir di Suriah, Omar mendapatkan suaka di Inggris pada 1986 dan mendirikan Hizbut Tahrir di Inggris. Setelah keluar dari Hizbut Tahrir, ia mendirikan Al-Mouhajirun. Beberapa anggotanya diyakini menjadi pelaku peledakan bom bunuh diri, termasuk bom London pada 2005. "Ayatullah dari Tottenham" ini meninggalkan Inggris dan dilarang kembali.

Saat di London, Omar pernah memiliki toko, yang kerap dikunjungi Adebolajo. Mereka berdua berdiskusi tentang "arti kehidupan". "Menurut Islam, perbuatannya bisa dibenarkan. Dia tidak mengincar warga sipil, tapi menyerang serdadu dalam sebuah operasi," Omar mengomentari aksi Adebolajo.

Fenomena Adebolajo yang kian radikal sekembali dari praktek "jihad" di luar Inggris sebenarnya sudah terendus pihak intelijen. Dua bulan sebelum penangkapan Adebolajo di Kenya, direktur jenderal dinas intelijen Inggris, MI5, Andrew Parker, menyatakan adanya kegiatan sejumlah warga Inggris di Somalia. "Cepat atau lambat, aksi terorisme akan terjadi di jalanan Inggris, terinspirasi pengalaman bersama Al-Shaabab," katanya.

Inggris juga tercatat sebagai salah satu penyumbang terbesar dari ratusan relawan Eropa yang bergabung dengan pasukan pemberontak di Suriah melawan rezim Bashar al-Assad. "Tidak semua dari mereka radikal ketika pergi, tapi kemungkinan besar banyak dari mereka menjadi radikal," ucap Kepala Antiteror Uni Eropa ­Gilles de Kerchove.

Warga yang sudah magang ini menambah benih radikalisme di Inggris. Pada 2009, lembaga pemikir Civitas mengungkapkan temuan beberapa sekolah yayasan Islam di Inggris memuat link edukasi benih radikalisme dalam situs web. Kontennya tidak frontal menganjurkan "jihad", tapi dinilai berpotensi menjurus ke radikalisasi agama, seperti larangan bermain catur dan monopoli serta menonton film Harry Potter. "Ini bersumber dari fundamentalisme agama," kata Direktur Civitas David Green seperti dikutip Telegraph.

Ed Husain, mantan anggota Hizbut Tahrir di Inggris, mengemukakan sekolah dan kampus menjadi salah satu tempat potensial menyemai ideologi radikal. Husain, yang menuangkan pengakuan dan pengalamannya selama berkecimpung di organisasi militan dalam bukunya, The Islamist, dicekal beberapa kampus.

Pada 2008, lembaga pemikir Centre for Social Cohesion menyiarkan hasil survei The Yougov. Hasilnya, sepertiga responden pelajar muslim di Inggris mendukung penerapan syariat Islam dan membenarkan pembunuhan atas nama agama. "Ini alarm berbahaya," ujar penulis laporan Hannah Stuart seperti dikutip Guardian. "Pelajar adalah calon-calon pemimpin di komunitasnya."

Islam yang marah memang terus berkembang di Inggris, tapi wajah yang damai tetap bertahan. Kejadian di sebuah masjid di York, Inggris utara, contohnya. Ahad dua pekan lalu, anggota kelompok sayap kanan batal melakukan aksi kekerasan setelah diajak jemaah bersama-sama minum teh, ngemil biskuit, dan bermain bola.

Sebelumnya, para pendemo sudah berhati panas di luar masjid setelah disatukan seruan via Facebook pascatragedi Woolwich. "Jemaah menyambut dengan teh dan biskuit. Mereka mengobrol selama 30-40 menit," kata pengurus masjid, Imam Abid Salik.

Uskup Agung York, John Sentanu, memuji aksi pengurus masjid tersebut. "Teh, biskuit, dan sepak bola adalah kombinasi khas ala Yorkshire. Ini cara ampuh menghadapi pandangan keras dan ekstrem," ucap Sentanu. "Saya kira dunia bisa belajar dari apa yang terjadi di masjid ini."

Harun Mahbub (AFP, BBC, Dailymail, Reuters, Guardian, Telegraph, Time), Vishnu Juwono (London)


Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=162405950457



Internasional 3/4

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.