Laporan Khusus 14/24

Sebelumnya Selanjutnya
text

'Guru' Naif yang Dirindu

Tokoh sentral yang memprakarsai berdirinya lembaga pembela hak asasi dan lembaga bantuan hukum.

i

SEBUAH sedan Peugeot biru perlahan memasuki halaman kantor Lembaga Bantuan Hukumkini Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesiadi kawasan Menteng, Jakarta Pusat. Setelah mobil itu terparkir sempurna, pengendaranya keluar. Tampilannya necis, berkemeja putih, lengkap dengan dasi, dipadu celana berwarna gelap. Dialah Yap Thiam Hien.

Sambil melangkah memasuki kantor, Yap menyapa beberapa orang yang ditemuinya. 'Hai, apa kabar?' ujarnya. Ya, itu saja yang diucapkannya. Begitulah Luhut Marihot Parulian Pangaribuan menggambarkan betapa 'lurus' seniornya itu. Tak banyak bicara, Yap langsung masuk dan duduk di ruang rapat. 'Dia memang tak punya ruangan,' kata pengacara kawakan ini pada pertengahan Mei lalu.

Pada 1980-an itu, Luhut masih menjadi 'kacung' lantaran baru saja menyandang gelar sarjana hukum dari Universitas Indonesia. Tugasnya: mencatat isi rapat dan membawa dokumen. Sedangkan Yap ketika itu anggota Dewan Penyantun LBH.


Bersama P.K. Ojong, Loekman Wiriadinata, Hasjim Mahdan, Ali Moertopo, dan Dharsono, Yap mendirikan LBH pada 28 Oktober 1970. Gagasan ini lahir dalam 'kongres Persatuan Advokat Indonesia pada 1969. LBH bertujuan memberikan bantuan hukum bagi orang tak mampu untuk memperjuangkan hak-haknya.

162406429652

Setiap kali datang ke kantor LBH, kata Luhut, Yap tak pernah berleha-leha. 'Dia selalu merinci apa agendanya, dengan siapa dan jam berapa pertemuan dilakukan,' ujarnya. 'Dan dia tidak pernah terlambat.' Pembicaraan dengan Yap pun tak pernah melenceng dari isu hukum, hak asasi manusia, dan kasus-kasus yang ditanganinya.

Abdul Hakim Garuda Nusantara juga ingat betul betapa Yap cukup merepotkan. Di awal 1984, Abdul Hakim, yang baru setahun meraih gelar sarjana hukum dari Universitas Indonesia, sedang magang di YLBHI. 'Dia sering menelepon saya berkali-kali untuk memastikan beberapa urusan,' kata Abdul Hakim. Meski begitu, Abdul Hakim memahami karakter Yap sebagai orang yang mendetail, kritis, dan tegas.

Menurut Albert Hasibuan, saking mendetailnya, Yap pernah mengkritik toga yang dipakai para pengacara Tanah Air di persidangan. 'Toga yang dipakai orang-orang di sini salah,' ujar Yap seperti ditirukan Albert. 'Kamu (Albert) harus punya toga yang benar, belinya di Utrecht (Belanda) sana.'

Anggota Dewan Pertimbangan Presiden bidang hukum dan hak asasi manusia ini mafhum kenapa Yap berujar seperti itu. Yap lulusan Universitas Leiden, Belanda. Dari sana, Yap meraih gelar meester in de rechten atawa magister ilmu hukum.

Dalam sebuah diskusi di YLBHI, pernah Yap memarahi korban gusuran proyek pembangunan pemerintah. Ia menilai korban gusuran itu mau berkompromi dengan penguasa asalkan diberi ganti rugi yang sesuai. Padahal, menurut Yap, mereka pemilik lahan yang sah karena punya sertifikat tanah dan wajib mempertahankan hak-haknya. "Anda harus berani menentang pemerintah kalau pemerintah salah. Tidak berdosa menentang pemerintah," teriak Yap dengan wajah merah. Mendengar itu, mereka terdiam.

Empat tahun sebelum LBH lahir, Yap juga memprakarsai lembaga swadaya masyarakat pertama yang bergerak di bidang hak asasi manusia. Namanya Lembaga Pembela Hak Asasi Manusia (LPHAM). Yap bersama Haji Jan Cornelis Princen atau biasa disapa Poncke, Aisyah Aminy, Dr Halim, Wiratmo Sukito, dan Dr Tambunan membentuknya pada 29 April 1966 di Jalan Menteng Raya 58, Jakarta Pusat.

Organisasi itu didirikan guna melawan kesewenang-wenangan pemerintah dan ketidakpastian hukum di masa pergantian rezim Orde Lama ke Orde Baru. Pemerintah saat itu dengan sewenang-wenang "mencomot" para tokoh yang dianggap beraliran "kiri".

Aisyah Aminy, yang juga politikus Partai Persatuan Pembangunan, mengatakan bahwa satu alasan yang membuatnya tergerak membidani LPHAM adalah penangkapan terhadap advokat Mohammad Roem tanpa proses persidangan.

Aisyah, yang kala itu menjadi Koordinator Kesatuan Aksi Wanita Indonesia, pernah magang di firma hukum Roem. "Pak Roem itu tidak salah, tapi kenapa tiba-tiba ditangkap?" tanya Aisyah. Ihwal kedekatannya dengan Yap, dia mengatakan, "Kami hanya saling tahu sebagai sesama advokat."

Kendati aktif di Lembaga Pembela Hak Asasi Manusia, Yap tak kehilangan koneksi dengan aparat pemerintah. Adnan Buyung Nasution, yang mengenal Yap ketika menjadi jaksa, mengatakan Yap juga menjadi inisiator terbentuknya Lembaga Pengabdi Hukum, bersama Hakim Agung Sri Widoyati, Kolonel (pangkat terakhir Mayor Jenderal) Abdul Kadir Besar, dan advokat Harjono Tjitrosoebeno.

Lembaga Pengabdi Hukum bertugas menangani pengaduan masyarakat mengenai pelanggaran hukum dan hak asasi manusia. Ikut terlibat di dalamnya organisasi profesi seperti Ikatan Hakim Indonesia, Persatuan Jaksa, Persatuan Advokat Indonesia, Ikatan Sarjana Kepolisian, Persatuan Sarjana Hukum Indonesia, dan LPHAM.

Sayangnya, kiprah Lembaga Pengabdi Hukum tak berlangsung lama. Gara-garanya, di muka persidangan, Yap menuduh Jaksa Tinggi B.R.M. Simandjuntak dan Deputi Khusus Panglima Kepolisian Inspektur Jenderal Mardjaman memeras kliennya. Akibatnya, Yap diseret ke meja hijau dan divonis hukuman satu tahun. Yap naik banding. Meski Mahkamah Agung akhirnya membebaskan Yap karena tindakannya dinilai masih dalam batas selaku pembela, Lembaga Pengabdi Hukum tidak bangkit kembali.

Sebagai anggota Dewan Penyantun YLBHI, Yap punya tugas tambahan, yakni memberikan mentoring kepada advokat-advokat muda selepas jam kantor di firma hukumnya. Albert Hasibuan, misalnya, mendapat panduan memulai karier sebagai advokat. Salah satu teknik awal yang mesti dikuasai adalah bagaimana menyusun surat, memulai pembelaan, dan menyiapkan bukti-bukti di persidangan.

Dalam setiap mentoring di YLBHI, Todung mengenang, Yap menekankan dasar-dasar kuliah hukum. "Dia mengulang-ulang perkataan 'kamu punya hak untuk didampingi, kamu harus tanya diperiksa sebagai apa, dituduh melanggar pasal berapa'," ujar Todung. Yap juga mengajarkan tata cara bersikap di muka persidangan: bagaimana supaya tegas tapi tetap sopan dan tidak bertele-tele.

Terkadang ilmu yang diajarkan Yap disambut tawa para advokat muda. "Yap percaya hukum adalah segala-galanya. Padahal prakteknya terkadang tidak seperti itu," kata Todung. "Dia advokat tulen, tapi juga naif."

Hingga akhir hayatnya pada 1989, Yap masih berstatus mentor. Kini tiada lagi jadwal bergilir bagi pengacara besar untuk menularkan ilmunya kepada advokat muda di YLBHI. Bagi Todung, tebersit kerinduan kepada sifat Yap sebagai advokat yang bersahaja dan jauh dari kesan glamor.


Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=162406429652



Laporan Khusus 14/24

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.