Laporan Khusus 4/24

Sebelumnya Selanjutnya
text

Hitam-Putih Luar-Dalam

Tegas, penuh disiplin, dan pekerja keras. Itulah sosok Yap Thiam Hien di mata keluarga. Soal hukum dan hak asasi, di rumah pun tak ada kompromi.

i

SEPERTI kebanyakan remaja seusianya, Yap Hong Gie mencoba memakai mobil ayahnya, Yap Thiam Hien, tanpa izin. Usianya pada 1960-an itu belum genap 17 tahun, dan tentu saja dia belum memiliki surat izin mengemudi.

Di kawasan Grogol, Jakarta Barat, Hong Gie menabrak seorang anak yang lari ke tengah jalan ketika terlepas dari pegangan bapaknya. Si bocah terluka lumayan parah. Itu memancing kemarahan orang-orang di sekitar kejadian. Mereka memukuli mobil yang dikendarai Hong Gie, lalu mendorongnya masuk kali di pinggir jalan. Hong Gie lolos dari amuk karena diamankan ke pos polisi terdekat.

Mendapat kabar soal kecelakaan itu, Yap segera meluncur menjemput Hong Gie. Tapi ia tak membawa anaknya pulang ke rumah. Yap malah membawa Hong Gie ke Kepolisian Sektor Palmerah Jakarta Barat. Di jalan, ia menceramahi anak sulungnya itu. "Kamu harus mengaku bersalah," ujarnya. "Bila mau dihukum ringan, coba minta ke hakim di persidangan."


Tak hanya di ruang sidang, Yap juga menggaungkan pentingnya penegakan hukum kepada keluarganya. "Papa tak pernah mengompromikan prinsip," kata Hong Gie.

162365951489

Tegas, bekerja keras, ketat menjaga disiplin, dan cenderung kaku. Itulah antara lain kepribadian Yap Thiam Hien yang diingat anak dan menantunya. "Kami dididik seperti anak kolong (militer)," ujar Hong Gie. "Kepada pembantu pun Papa mengajarkan disiplin yang sama," ucap Tetty Kintarty, menantu Yap Thiam Hien.

Berbohong merupakan hal yang paling dibenci Yap. Dia tak segan menghukum keras Hong Gie dan adiknya, Yap Hong Ay, bila ketahuan berdusta. "Sekali bohong, tak ada ampun," kata Hong Gie. Tapi Yap tak suka mengobral hukuman bila anaknya hanya melakukan kesalahan kecil atau kenakalan khas anak-anak.

Di usia produktifnya, waktu Yap lebih banyak tersita untuk pekerjaan dan kegiatan amal ketimbang mengurusi rumah dan memanjakan anaknya. Urusan domestik dia serahkan kepada Tan Gien Khing, sang istri yang oleh Yap digelari "Menteri Dalam Negeri". Bagi Hong Gie dan Hong Ay, kesempatan bersenda gurau atau ngobrol ngalor-ngidul dengan sang ayah merupakan kemewahan. Hong Gie, misalnya, baru merasakan "kemewahan" itu semasa sekolah di Belanda, ketika ayahnya berkali-kali menjenguknya. "Sejak itu, kami baru merasa lebih dekat," ujar Hong Gie.

Ketika beranjak dewasa, Hong Gie kadang berbeda pendapat dengan sang ayah. Misalnya ia pernah berdebat soal operasi penembakan misterius (petrus) pada 1980-an. Waktu itu, Hong Gie berpendapat operasi petrus bisa dibenarkan bila targetnya terbatas pada penjahat kambuhan. Apalagi, berdasarkan laporan polisi saat itu, tingkat kejahatan di Indonesia sudah merisaukan banyak orang.

Sebaliknya, Yap menolak cara pemerintahan Soeharto dalam membasmi preman. Kata dia, operasi rahasia itu melanggar hak asasi. Alasannya, setiap orang, termasuk preman, tak boleh dihukum tanpa diadili. Kalau ayahnya sudah membawa-bawa hak asasi, Hong Gie biasanya memilih diam.

Tak lama setelah perdebatan itu, petaka menimpa istri Yap. Tan Gien Khing terluka parah karena ditusuk maling yang menyusup ke rumahnya di Grogol. Maling kalap karena kepergok ketika hendak kabur. Setelah kejadian itu, hampir saban hari Yap mendatangi kantor polisi. Dia mendesak polisi segera menangkap si maling.

Hong Gie pun mempertanyakan tindakan ayahnya. Jawaban Yap waktu itu, "Polisi harus serius bekerja. Penjahat harus dihukum." Hong Gie membalas, "Buat apa? Bagaimana kalau setelah dipenjara maling itu mencari kita untuk balas dendam?" Kali ini Yap terdiam. "Kalau mau, preman kambuhan seperti itu dipetrus saja," ujar Hong Gie mengungkit perdebatan lama. Terpojok, Yap masuk kamar sambil membanting pintu. Setelah itu, ia memang tak menongkrongi kantor polisi lagi. Namun sikap Yap soal penegakan hukum dan hak asasi tak pernah berubah.


Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=162365951489



Laporan Khusus 4/24

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.