Nasional 6/7

Sebelumnya Selanjutnya
text

Jawa adalah Kunci Partai Banteng

Megawati Soekarnoputri menyampaikan pidato yang berapi-api di atas podium. Di depan ribuan kader partainya yang datang ke Stadion Manahan, Solo, Jawa Tengah, pertengahan April lalu, Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan itu menyatakan, "Saya ingatkan: ini pertaruhan awal, ini pertaruhan besar."

Putri mantan presiden Sukarno ini mengutip pesan ayahnya tentang posisi Jawa Tengah dalam peta politik nasional. Wilayah ini merupakan basis pendukung Partai Nasionalis, yang didirikan Sukarno. "Jawa Tengah itu pakune tanah Jawa," kata Mega. "Sekali PDIP kalah, nasionalisme Bung Karno tak akan dapat dilaksanakan."

i

Megawati Soekarnoputri menyampaikan pidato yang berapi-api di atas podium. Di depan ribuan kader partainya yang datang ke Stadion Manahan, Solo, Jawa Tengah, pertengahan April lalu, Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan itu menyatakan, "Saya ingatkan: ini pertaruhan awal, ini pertaruhan besar."

Putri mantan presiden Sukarno ini mengutip pesan ayahnya tentang posisi Jawa Tengah dalam peta politik nasional. Wilayah ini merupakan basis pendukung Partai Nasionalis, yang didirikan Sukarno. "Jawa Tengah itu pakune tanah Jawa," kata Mega. "Sekali PDIP kalah, nasionalisme Bung Karno tak akan dapat dilaksanakan."

Sepuluh tahun di luar pemerintahan, PDIP berupaya memenangi pemilihan umum tahun depan. Mereka mematok target minimal 20 persen suara pada pemilihan legislatif. "Supaya kami bisa mandiri memutuskan calon terbaik," ujar Ribka Tjiptaning, ketua dewan pimpinan pusat partai ini.


Angka itu masih jauh di bawah perolehan mereka pada pemilihan 1999, yaitu 33,74 persen. Setelah Mega menjadi presiden selama tiga tahun sejak 2001, suara partai ini malah turun ke 18,53 persen pada 2004. Perolehan semakin anjlok pada 2009 menjadi 14,03 persen. Perolehan suara terbesar disumbangkan pemilih di Jawa, terutama Jawa Tengah, dan Bali. Pada 2009, PDIP menang di Jawa Tengah dan menguasai 23 dari 77 kursi Dewan Perwakilan Rakyat yang diperebutkan.

162366023425

Menurut Ribka, mesin politik partainya sudah berputar sejak pemilihan kepala daerah di sejumlah wilayah. Gerakan ini digunakan buat pemanasan kader agar turun dan bersiap untuk 2014. "Pemilihan kepala daerah hanya sasaran antara. Pertempuran sesungguhnya Pemilu 2014," katanya.

Partai ini mengajukan calon dalam pemilihan gubernur di Sumatera Utara, Jawa Barat, Jawa Tengah, DKI Jakarta, dan Bali. Hanya dua kemenangan diraih, yaitu di Jawa Tengah dan DKI Jakarta. Tapi perolehan suara calon PDIP di Jawa Barat, yang mengajukan Rieke Diah Pitaloka-Teten Masduki, jauh melampaui perkiraan. Adapun calon di Bali, Anak Agung Ngurah Puspayoga-Dewa Nyoman Sukrawan, hanya kalah tipis dari pasangan inkumben.

Menurut politikus PDIP, Trimedya Panjaitan, Mega kecewa terhadap hasil di Bali. Mega sebelumnya yakin menang karena tujuh dari sembilan wilayah di Bali dipimpin kader PDIP dan merupakan kantong suara partai itu. "Ibu Mega tak menyangka kadernya tak bisa berbuat apa-apa," ujar anggota Dewan ini.

Megawati memperlakukan khusus pemilihan gubernur Bali dan Jawa Tengah. Ia bahkan menugasi dua anaknya, Prananda Prabowo dan Puan Maharani. Prananda dikirim ke Bali dan Puan ke Jawa Tengah. Dua bulan penuh Mega juga banyak meninggalkan Jakarta, wira-wiri ke Jawa Tengah dan Bali.

Semuanya demi menjaga lumbung suara hingga "pertempuran besar" 2014. Setelah Bali dan Jawa Tengah, Jawa Timur akan memilih gubernur pada Agustus. Untuk membakar kadernya, ketika berpidato pada kampanye terakhir di Jawa Tengah, Mega memekikkan "Jawa adalah kunci". Kata dia, "Jika Jawa Tengah menang dan daerah lain menang, tahun 2014 presidennya bisa dari PDIP."

Widiarsi Agustina, Indra Wijaya, Wayan Agus (Jakarta), Ahmad Rafiq (Solo)


Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=162366023425



Nasional 6/7

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.