Hukum 2/3

Sebelumnya Selanjutnya
text

Rekomendasi Polisi di Rumah Judi

Markas Besar Kepolisian menggerebek rumah judi Mickey Mouse beromzet Rp 8 miliar per bulan di Semarang. Menyalahgunakan izin keramaian.

i

Puluhan orang memenuhi rumah di Jalan Wahidin, Semarang, Sabtu sore dua pekan lalu. Mereka khusyuk menatap layar dingdong masing-masing. Suara bising dari 150 perangkat permainan elektronik itu tak membuat mereka yang bermain dingdong curiga. Padahal ada seorang reserse yang tengah mengawasi mereka. Ia tengah menyamar menjadi salah seorang pemain. "Rumah itu diduga pusat judi," kata reserse yang tak mau identitasnya disebut itu kepada Tempo.

Hingga tengah malam, si reserse tak kunjung menang. Sudah Rp 2 juta uangnya habis di meja dingdong. Nasibnya apes malam itu. Ia butuh kemenangan demi mengumpulkan poin. Penyamaran itu ia jabani demi membuktikan poin dan koin tersebut bisa ditukar dengan uang. "Ini untuk membuktikan permainan itu judi," ujarnya. Di sudut ruangan, ada sepeda motor, televisi, dan peralatan lain yang dibungkus plastik. Di sana tertera jumlah koin tertentu agar dapat mengambil hadiah itu. Namun barang-barang itu diduga hanya kedok judi. "Perlengkapan itu berdebu semua, tak pernah ada yang menukar," katanya.

Lewat telepon seluler, ia melapor ke posko dadakan di sebuah hotel bintang tiga di Semarang. Di sana, tujuh personel Badan Reserse Kriminal Markas Besar Kepolisian RI berkumpul. Reserse yang menyamar itu diperintahkan balik karena tak berhasil membuktikan perjudian. Selain itu, semakin malam jumlah pengunjung ternyata semakin banyak, bisa seratusan. "Jumlah kami tak cukup bila saat itu menggerebek," ujar Kepala Sub-Direktorat III Bareskrim Komisaris Besar Cahyono Wibowo.


Esok paginya, Cahyono memerintahkan tujuh anak buahnya di Jakarta terbang ke Semarang. Siang hari, reserse tadi diperintahkan kembali bermain di rumah itu. Setelah satu jam bermain, nasibnya membaik. Ia menang meski tak banyak, cuma 3.000 poin atau setara dengan Rp 300 ribu. Poin itu ia tukar ke kasir untuk diuangkan. Ia disodorkan secarik kertas dan mengisi nama, nomor telepon, serta nomor rekening. "Uang kemenangan itu akan ditransfer ke rekening pemenang," kata Cahyono. Bukti perjudian sudah di tangan. Reserse tadi melapor ke atasannya.

162406593711

Minggu sore pekan lalu, 15 polisi menggerebek rumah itu. Sebanyak 150 mesin dingdong disita dan 52 penjudi yang sedang bermain ditangkap beserta 3 kasir. Termasuk penanggung jawab rumah judi itu, Soegiyanto Untung Bedjo. Mereka digelandang ke Markas Kepolisian Daerah Jawa Tengah dan ditahan di sana. Puluhan karyawan lain berstatus saksi karena hanya dianggap orang yang butuh pekerjaan, bukan penyelenggara. Pemilik rumah judi bernama Sony P. alias Aseng tak bisa ditangkap. "Ia buron," ucap Cahyono, yang memimpin langsung operasi itu.

Permainan dari semua perangkat dingdong itu sama: kartu bergambar buah dengan angka yang biasa tertera di kartu remi. Ada apel, anggur, stroberi, dan jeruk. Belimbing menjadi kartu yang paling dinanti karena menggantikan kartu joker—bisa digunakan untuk pasangan kartu apa pun. Cara mainnya mirip dengan permainan poker. Pemenang ditentukan dengan banyaknya pasangan dan susunan kartu. Bila menang, ia akan mendapat poin. Setelah dikumpulkan, poin akan ditukar dengan koin. Permainan ini biasa disebut ­Mickey Mouse karena dulu logonya bergambar tikus tokoh kartun Walt Disney, bukan buah.

Ada tiga lokasi yang diintai tim Cahyono pada Sabtu itu. Lokasi pertama di Jalan Benteng, lalu di Sri Ratu Mall, dan Jalan Wahidin. Setelah ketiganya diintai secara bersamaan, diketahui rumah judi di Jalan Wahidin ternyata paling ramai dan terbesar. Modusnya pun lebih unik: menukarkan poin dan koin kemenangan dengan uang yang akan ditransfer lewat rekening pemain. "Ini modus baru," kata Cahyono. Biasanya transaksi lebih terbuka. Koin kemenangan dari mesin judi ditukar langsung dengan uang tunai. Omzet rumah judi Jalan Wahidin pun gede, mencapai Rp 8 miliar per bulan. Seluruh pembukuan rumah judi ini juga disita polisi.

Sumber Tempo mengatakan penggerebekan awalnya sempat tak direstui Polda Jawa Tengah dan Kepolisian Resor Semarang. Polisi Semarang sempat meminta pulang para wartawan yang diajak tim Cahyono di lokasi penggerebekan. Saat penggerebekan, hanya personel dari Bareskrim yang diizinkan masuk ke rumah judi. Sedangkan anggota Polda Jawa Tengah berjaga-jaga di luar rumah. "Mereka tak diajak operasi, hanya mengamankan," ujar sumber itu. Cahyono membantah jika kegiatannya disebut tak direstui, tapi ia mengaku menghubungi Polda Jawa Tengah hanya beberapa jam sebelum penggerebekan. "Supaya tak bocor," katanya.

Seorang warga Jalan Wahidin yang tak mau disebut namanya mengatakan rumah judi yang berada di tengah permukiman itu pernah digerebek pada 2005. Sempat tutup setahun, rumah judi milik Aseng itu hidup lagi. Padahal ratusan mesin judi sempat disita polisi, tapi dikembalikan. "Polisi berseragam yang mengantar mesin-mesin itu," ucapnya. Sebulan lalu rumah itu juga digerebek, tapi gagal karena operasi bocor dan penjudi kabur lewat pintu samping.

Rumah judi itu berkedok gelanggang permainan ketangkasan elektronik. Aseng mengantongi izin keramaian atas nama PT Kreasi Arta Jaya dari Direktorat Intelijen dan Keamanan Polda Jawa Tengah. Di surat itu tercantum rekomendasi dari Kepolisian Sektor Gajahmungkur dan Polres Semarang. Kedua lembaga ini menyatakan tak keberatan memberikan izin kepada Aseng, yang sejak 1990-an dikenal sebagai bandar judi nomor buntut, untuk menggelar lapak permainan ketangkasan. Sudah berkali-kali surat izin tahunan itu diperpanjang.

Terbitnya surat izin ini, kata sumber Tempo, janggal. Seharusnya Polres Semarang tak mengeluarkan rekomendasi izin keramaian dan Intel tak perlu menerbitkan izin itu. Perjudian di rumah Jalan Wahidin itu, ujar dia, sangat transparan. Setiap hari ada puluhan mobil yang datang ke rumah judi yang buka mulai pukul 11.00 hingga 01.00 itu. Setiap orang bebas masuk dan bisa langsung bermain tanpa harus mendaftar. Pengawasan polisi selama ini disinyalir tak berjalan. "Ada beking dari aparat," katanya.

Cahyono mengatakan penyidiknya sejauh ini belum mendalami siapa beking rumah judi itu. Perkara dikeluarkannya izin keramaian dari Polda Jawa Tengah, ujar dia, bukan urusannya. "Itu urusan Pak Kapolda," katanya. Direktur Reserse Kriminal Polda Jawa Tengah Komisaris Besar Purwadi Ariyanto mengatakan izin keramaian yang dimiliki PT Kreasi telah disalahgunakan. "Rumah itu izinnya keramaian, ternyata di dalamnya ada perjudian," ucapnya.

Kepala Bidang Humas Polda Jawa Tengah Komisaris Besar Djiharatono mengatakan pihaknya pernah beberapa kali mencoba menggerebek rumah judi di Jalan Wahidin itu. Begitu pula lokasi perjudian di tempat lain. Namun usahanya gagal karena selalu bocor. Djiharatono pun membantah jika pihaknya disebut tak dilibatkan dalam operasi penggerebekan ini sejak awal karena masalah kepercayaan. Ia mengatakan reserse Jawa Tengah tetap diikutkan dan selama ini bekerja mengawasi rumah judi itu. "Penanganan kasus judi itu harus silent," katanya.

Mustafa Silalahi (Jakarta), Rofiuddin (Semarang)


Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=162406593711



Hukum 2/3

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.