Opini 4/4

Sebelumnya Selanjutnya
text

Becermin pada Yap Thiam Hien

Yap Thiam Hien hidup bagai pelakon kisah Alegori Gua karya Plato, 25 abad silam. John, panggilan akrab pegiat hak asasi manusia ini, adalah sang protagonis yang berhasil melepaskan diri dari ikatan yang membelenggu di dalam gua sejak lahir. Lalu ia pergi keluar, terpesona melihat kenyataan alam bebas, dan merasakan arti sebenarnya sebagai manusia merdeka, untuk pertama kali.

Ia kemudian dikisahkan kembali masuk untuk menceritakan pengalamannya kepada yang lain, yang masih terikat di dalam gua, dan mengajak mereka ke alam bebas. Ajakan ini ternyata terasa menakutkan karena mereka telah terbiasa terikat di dalam gua sejak lahir. Mereka bahkan menganggap si pengajak orang gila. Mereka balik merayu agar sang protagonis kembali hidup "normal" dengan mengikatkan diri lagi ke dalam gua, kembali ke zona nyaman.

i

Yap Thiam Hien hidup bagai pelakon kisah Alegori Gua karya Plato, 25 abad silam. John, panggilan akrab pegiat hak asasi manusia ini, adalah sang protagonis yang berhasil melepaskan diri dari ikatan yang membelenggu di dalam gua sejak lahir. Lalu ia pergi keluar, terpesona melihat kenyataan alam bebas, dan merasakan arti sebenarnya sebagai manusia merdeka, untuk pertama kali.

Ia kemudian dikisahkan kembali masuk untuk menceritakan pengalamannya kepada yang lain, yang masih terikat di dalam gua, dan mengajak mereka ke alam bebas. Ajakan ini ternyata terasa menakutkan karena mereka telah terbiasa terikat di dalam gua sejak lahir. Mereka bahkan menganggap si pengajak orang gila. Mereka balik merayu agar sang protagonis kembali hidup "normal" dengan mengikatkan diri lagi ke dalam gua, kembali ke zona nyaman.

Hanya sampai di sini kisah John mirip dengan alegori tersebut. Bukan kembali ke zona nyaman, ia malah menahbiskan diri untuk berjuang terus melepaskan semua yang terikat di dalam "gua" menjadi orang merdeka. Ia memilih bersikap serupa dengan tokoh-tokoh yang ditulis John Fitzgerald Kennedy dalam bukunya, Profiles of Courage. Mereka sekumpulan orang yang berani melawan arus utama di lingkungan sendiri, semata-mata karena merasa yakin arus itu mengalir ke tempat yang salah.


Selain sealiran dengan Kennedy, Yap memiliki pandangan yang serupa dengan Paulo Freire, pemikir kelahiran Brasil yang terkenal lewat karya Pedagogy of the Oppressed. Mungkin itu karena Yap dan Freire hidup di era yang sama, pasca-penjajahan, dan hanya berbeda usia delapan tahun. Dalam paradigma Freire, Yap adalah contoh nyata sosok langka yang berhasil keluar dari paradigma penindasan dan merebut kemerdekaan karena konsisten dalam praksis, selalu bertindak dengan kesadaran penuh.

162405975433

Itulah kesadaran bahwa semua manusia setara dan memiliki hak asasi yang harus dihormati oleh semua pihak. Bahwa Indonesia merdeka tidak hanya dalam bentuk formal hukum tata negara, tapi juga sebagai deklarasi bahwa seluruh rakyatnya berhak dibebaskan dari gua kelam penindasan, tak peduli apa pun suku bangsa, agama, atau ideologinya. Yap memperjuangkan deklarasi itu sepanjang hidup.

Maka kisah hidup Yap pun sampai sekarang terlihat amat ­heroik. Padahal, semasa ia hidup, mayoritas kenalannya menganggap Yap aneh, menjengkelkan, bahkan membahayakan. Di mata penguasa, pembela kaum tertindas dan minoritas ini dikategorikan sebagai pembangkang yang merepotkan. Itu lantaran ia berani berjuang membela hak-hak mereka yang dianggap musuh negara, termasuk kalangan yang secara politik berseberangan dengannya.

Sesungguhnya John mempunyai pilihan yang lebih gampang dan menyenangkan. Sebagai pengacara lulusan Universitas Leiden, ia punya prospek cerah untuk menjadi kaya raya dan hidup tenang. Namun ia lebih terpanggil untuk memperjuangkan hak hukum kaum papa dengan mendirikan Lembaga Bantuan Hukum. Konsistensinya dalam melawan penindasan bahkan membuat ia beberapa kali ditahan karena melakukan aksi antikorupsi dan membela para mahasiswa yang terlibat kasus Malari.

Seandainya masih hidup, Yap genap satu abad pekan lalu. Lelaki kelahiran 25 Mei 1913 ini mungkin akan merayakannya dengan aksi membela kaum minoritas, yang sampai sekarang masih juga mengalami penindasan. Memang pelaku utama bukan lagi pemerintah seperti saat ia masih hidup, melainkan kalangan masyarakat sendiri, yang merasa punya hak memonopoli kebenaran dan memaksakannya pada pihak lain. Kendati demikian, pemerintah tetap akan didampratnya karena mengabaikan tugas konstitusional menjaga hak asasi setiap warga negara.

Yap wafat seperempat abad silam. Namun kita beruntung karena cita-citanya menghilangkan penindasan di republik ini tidak ikut terkubur. Lembaga Bantuan Hukum kini telah menjamur di seluruh pelosok Nusantara. Kesadaran untuk menghormati hak asasi manusia telah meluas. Bahkan setiap tahun ada penganugerahan Yap Thiam Hien Award kepada mereka yang dianggap melanjutkan perjuangannya. Itu suatu bukti bahwa banyak pegiat hak asasi manusia yang berkiprah sekarang terinspirasi oleh sepak terjang Yap.

Yap memang jauh lebih hebat daripada sang protagonis dalam kisah Alegori Gua. Ia berhasil membebaskan mereka yang terbelenggu paradigma penindasan. Tak hanya ketika masih hidup, tapi sampai kini, 25 tahun setelah ia wafat.

Mungkin Yap Thiam Hien bukan sekadar pelaku dalam Alegori Gua, melainkan seorang pencipta alegori pembebasan di negeri ini.

tulisan terkait di halaman 60


Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=162405975433



Opini 4/4

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.