Laporan Khusus 7/24

Sebelumnya Selanjutnya
text

Semangat yang Terus Dijaga

Seperti pejuang yang gugur di medan laga, Yap "pergi" saat mengikuti konferensi internasional lembaga swadaya masyarakat—lembaga nonpemerintah yang diyakininya memiliki kekuatan menegakkan hak asasi manusia—di Belgia. Semangatnya membela mereka yang tertindas dijaga, antara lain, dengan penganugerahan Yap Thiam Hien Award untuk mereka yang berjasa di bidang HAM.

i

Makan Siang Terakhir di Ysermonde
Selama masa hidupnya, Yap Thiam Hien tak pernah mengeluh sakit dan selalu antusias. Tutup usia di antara para sahabat seperjuangan.

Menjelang keberangkatan ke Brussel, Belgia, dari Bandar Udara Soekarno-Hatta, Thiam Hien tampak antusias dan bersemangat. Saat itu Sabtu sore. Yap, yang sudah biasa pelesir ke luar negeri, menenteng dua koper yang dibawanya sendiri. "Kita duduk di bagian belakang saja," katanya kepada teman-teman serombongannya, seperti dituturkan Abdul Hakim Garuda Nusantara kepada Tempo, pertengahan Mei lalu. Mereka memilih bagian belakang pesawat agar bisa merokok.

Pesawat Lufthansa dan penerbangan internasional lainnya, 24 tahun lalu itu, masih membolehkan penumpang merokok. Beberapa baris bangku dekat buntut pesawat dijadikan tempat duduk khusus perokok. Abdul Hakim, yang saat itu berusia 35 tahun, menghabiskan sebungkus rokok kretek selama 11 jam perjalanan. "Saya tak ingat persis berapa yang dihabiskan Pak Yap, tapi biasanya jumlahnya tak jauh berbeda dari saya," ujarnya.

Abdul Hakim, yang menjabat Direktur Lembaga Bantuan Hukum, ketika itu menjadi ketua rombongan perjalanan ke Konferensi International Forum for NGOs of Indonesia (INGI) di Ysermonde, Belgia. Acara berlangsung dari 23 hingga 25 April 1989. Dari Indonesia, berangkat 23 aktivis.


Pesawat yang mereka tumpangi transit di Frankfurt, Jerman, dan perjalanan berlanjut dengan mengganti pesawat menuju Brussel. Di terminal bandara Frankfurt, sekonyong-konyong Yap menyatakan sesuatu di luar kebiasaannya. "Kalau ada apa-apa," katanya kepada Abdul Hakim, "kamu tolong saya, ya." Abdul Hakim tak menaruh curiga. "Dia tampak sehat saja," ujarnya. Abdul Hakim menawarkan diri membawa koper Yap, tapi ditolak.

162366310027

Selain kepada Abdul Hakim, Yap sempat menyampaikan pesan yang hampir sama kepada sekretarisnya, Utama Wijaya. Menurut Utama, sehari sebelum berangkat, Yap sempat berpesan kepadanya, "Kalau butuh apa-apa nanti, bilang ke Ibu saja."

Yap tak pernah menitip pesan semacam itu sebelumnya. "Pesannya membuat perasaan saya tak enak," kata Utama. Padahal, menurut Utama, tak ada sesuatu apa pun yang mengkhawatirkan: Yap masih tampak bugar, tak terlihat sakit. Hingga usia 76 tahun kala itu, Yap memang jarang sekali mengeluh sakit.

Menjelang keberangkatan ke Brussel, Yap sempat mengalami kendala visa. Sejak Sabtu siang visanya belum juga datang. Dia sempat ikhlas merelakan bila perjalanan batal. "Mungkin saya tak jadi berangkat," katanya kepada Utama. Namun Sabtu sore akhirnya visa diantarkan ke rumah Yap, dan dia pun segera menuju Bandara Soekarno-Hatta.

tempat konferensi di Ysermonde, sekitar dua jam perjalanan dari Brussel merupakan kota kecil di tepi pantai. Saat rombongan tiba di lokasi konferensi, kamar motel belum siap. Rombongan menunggu kamar sembari makan siang. Yap bersantap siang semeja dengan Adnan Buyung Nasution, kini 78 tahun. Di antara kawan perjuangannya, Yap paling dekat dengan Buyung. 'Dia duduk di depan saya,' ujar Buyung. Berbeda dengan rombongan dari Indonesia, Buyung berangkat ke Brussel dari Belanda. Saat itu, dia sedang menempuh pendidikan di Belanda.

Menurut Buyung, Yap tampak tak seperti biasanya. Wajahnya terlihat pucat pasi dan beberapa kali mengusap punggung sembari merintih kesakitan. Duduknya tak tenang. 'Saya tanyakan apa yang terjadi, Yap bilang sedikit sakit di punggung,' katanya.

Rasa khawatir akan kesehatan Yap muncul di benak Buyung. Dia menyarankan Yap beristirahat setelah makan. 'Makan siangnya tak habis.'

Kekhawatiran Buyung sedikit sirna saat melihat Yap berdiri dan memberikan lelucon. Yap membuat orang sekitarnya tertawa terbahak-bahak. 'Semua orang tertawa dan tepuk tangan. Dia kadang bisa membuat joke," ujarnya.

Yap lalu pamit untuk beristirahat. Sebelum meninggalkan ruangan, dia menuju tempat gantungan mantel dan topi. Yap tampak kebingungan karena tak berhasil menemukan topinya. Buyung menghampiri dan membantu mencarinya. "Tapi topi itu tidak berhasil ditemukan," kata Buyung.

Yap kelihatan lemah sehingga Buyung menawarkan bantuan menggandengnya berjalan. Buyung juga menawarkan bantuan membawa koper. Namun Yap menolak. "Enggak, saya bisa, kok," ujar Yap, seperti diulang Buyung. Yap meninggalkan ruangan dengan mengangkat sendiri dua kopernya. "Itulah terakhir saya melihat dia dalam keadaan hidup," tutur Buyung.

Kurang dari satu jam kemudian, Fauzi Abdullah, kini almarhum, tergopoh-gopoh menghampiri kamar Buyung dan istri. Dia mengatakan Yap pingsan. "Saya pijat-pijat kakinya, tiba-tiba pingsan," kata Fauzi kepada Buyung. Karena tak enak badan, Yap meminta Fauzi memijatnya.

Kemudian Buyung dan istrinya menghampiri kamar Yap, lalu membawanya ke rumah sakit dengan mengendarai mobil yang dibawa dari Belanda. Sesampai di Rumah Sakit St Agustinus, Yap langsung masuk ke ruangan gawat darurat. Dokter meminta izin segera melakukan operasi. Menurut dokter, Yap mengalami perdarahan aorta.

Setelah Buyung meminta izin keluarga, operasi pun dilaksanakan. Tapi, beberapa menit kemudian, dokter keluar dari kamar operasi. Dia mengatakan Yap tak bisa ditolong karena sudah kehabisan banyak darah. Menurut dokter, Yap sempat menyebut nama Buyung berkali-kali. "Dia memanggil, tapi saya saat itu menunggu di luar. Itu ternyata pesan terakhirnya," Buyung mengenang.

Buyung mengabarkan berita kematian kepada keluarga Yap dan pengurus LBH. "Pak Buyung menelepon sembari menangis. Dia bilang kita relakan Pak Yap pergi," kata Luhut Pangaribuan. Sakramen jenazah Yap diadakan di Belgia, dipimpin seorang pendeta dan aktivis dari Salatiga. Setelah itu, jenazahnya dibawa ke Indonesia dengan pesawat Garuda Indonesia.

Luhut mengurus penerimaan jenazah hingga pemakaman Yap. Dia yang pertama kali membuka peti dan memeriksa wajah almarhum. "Saya diminta memastikan oleh Pak Buyung," ujarnya.

Jenazah almarhum dibawa petugas bandara ke bagian gudang dan diadakan upacara serah-terima dari pihak Belanda. "Teman-teman LBH yang masih muda mengusung jenazah dari pesawat sampai gudang dengan mengenakan toga," kata Luhut.

Rencananya jenazah hendak dibawa ke kampus Universitas Trisakti sebelum diantar ke rumah. Ide ini diusulkan para aktivis untuk menjadikan Yap sebagai simbol perlawanan terhadap Orde Baru. Namun rencana batal karena keberatan dari pihak keluarga.

Jenazah lalu dibawa dari bandara ke rumah duka di Permata Hijau, Jakarta Selatan. Saat liang lahad di Tempat Pemakam­an Umum Tanah Kusir disiapkan, istri Yap, Tan Gien Khing Nio, berpesan agar liangnya dibuat lebih dalam sehingga bisa memuat dua orang. Ketika penguburan berlangsung, ribuan orang mengantarkan kepulangan Yap, tak hanya kalangan aktivis hak asasi manusia dan masyarakat biasa, tapi juga duta besar dari berbagai negara.

Delapan tahun lalu, Khing Nio menyusul suami tercintanya. Sesuai dengan pesan sebelum kematian, dia dimakamkan dalam satu pusara.


Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=162366310027



Laporan Khusus 7/24

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.