Kartun 1/1

Sebelumnya Selanjutnya
text

Gaduh Serumah tanpa Nikah

AKHIR-akhir ini wajah media kita disesaki cerita tentang para lelaki dengan banyak perempuan, seperti Djoko Susilo, Eyang Subur, Ahmad Fathanah, dan Luthfi Hasan Ishaaq. Sebagian dari mereka dikabarkan ada yang kawin siri, menikah resmi dengan lebih dari empat perempuan, atau hanya 'teman dekat'. Karena hubungan tadi, mereka kerap menjalani kehidupan bersama.

Hidup bareng tanpa menikah lelaki dan perempuan pernah menghebohkan Yogyakarta. Gara-garanya adalah data yang dirilis Dasakung, kelompok studi mahasiswa di kota pelajar itu. Meneliti sembilan kampung di Yogya, para mahasiswa ini menyimpulkan telah terjadi banyak praktek samenleven—hidup bersama tanpa ikatan pernikahan sah—di antara mahasiswa Yogya yang tinggal di pemondokan. Majalah Tempo melaporkan hal ini dalam rubrik Nasional edisi 16 Juni 1984.

i

AKHIR-akhir ini wajah media kita disesaki cerita tentang para lelaki dengan banyak perempuan, seperti Djoko Susilo, Eyang Subur, Ahmad Fathanah, dan Luthfi Hasan Ishaaq. Sebagian dari mereka dikabarkan ada yang kawin siri, menikah resmi dengan lebih dari empat perempuan, atau hanya 'teman dekat'. Karena hubungan tadi, mereka kerap menjalani kehidupan bersama.

Hidup bareng tanpa menikah lelaki dan perempuan pernah menghebohkan Yogyakarta. Gara-garanya adalah data yang dirilis Dasakung, kelompok studi mahasiswa di kota pelajar itu. Meneliti sembilan kampung di Yogya, para mahasiswa ini menyimpulkan telah terjadi banyak praktek samenleven—hidup bersama tanpa ikatan pernikahan sah—di antara mahasiswa Yogya yang tinggal di pemondokan. Majalah Tempo melaporkan hal ini dalam rubrik Nasional edisi 16 Juni 1984.

Selama 40 hari, sepuluh mahasiswa anggota Dasakung menemukan 29 pasangan hidup bersama. "Kalau penelitian mencakup seluruh kota dan dilaksanakan lebih cermat, kasus tadi pasti bertambah," begitu tulis kesimpulan penelitian itu. "Tanpa upaya pencegahan, dikhawatirkan citra Yogyakarta sebagai kota pelajar akan luntur."


Ketua kelompok diskusi Dasakung, Bambang Sigap Sumantri, mengatakan samenleven yang dipakai dalam penelitian mereka merujuk pada pasangan pacar yang melakukan kegiatan bersama: makan, mencuci, rekreasi, dan tidur bersama. "Kami tidak meneliti apakah mereka melakukan hubungan seks," kata Bambang, lulusan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Ga­djah Mada, Yogyakarta.

162405875015

Penelitian itu menggunakan metode wawancara dan pengamatan. Tidak semua pelaku diwawancarai, hanya separuhnya. Wawancara pun secara informal, misalnya sambil pura-pura meminjam bolpoin. Informasi lain diperoleh dengan menginterviu kawan si pelaku hidup bersama, sekurang-kurangnya dua orang yang bersebelahan kamar. "Sebagai kontrol, kami juga mengamati pelaku samenleven itu," ujar Bambang.

Hasilnya, lebih dari separuh pelaku selalu makan bersama, 10,35 persen sering, dan 34,48 persen kadang-kadang. Penelitian juga menunjukkan 16 pasangan selalu mencuci bersama dan 12 pasangan kadang-kadang. Dalam seminggu, ada 3 pasangan yang selama 1-2 hari tidur bersama, 8 pasangan tidur bersama 3-4 hari, dan 18 pasangan tidur bersama selama 5-7 hari.

Dari mana tahu bahwa mereka tidur bersama? "Di kamar itu hanya ada satu tempat tidur," kata Yohanes Sumadya Widada, salah seorang peneliti. "Dari pengamatan, mereka pulang malam, bahkan ada yang sampai pagi," ujarnya. Meski banyak pasangan yang tidur bersama dengan frekuensi tinggi, 16 pasangan tinggal lain rumah. Hanya 7 pasangan yang berdiam dalam satu kamar dan 6 pasangan tinggal dalam satu rumah tapi lain kamar. Penelitian ini pun menyebutkan ada 10 pasangan hidup bersama kurang dari setengah tahun, 11 pasang setengah sampai dua tahun, dan 7 pasangan lebih dari dua tahun.

Dasakung juga menyebar 120 kuesioner di antara penduduk tempat pelaku hidup bersama tinggal. Ada 17 pertanyaan yang diajukan. Jawaban yang masuk antara lain: 95,24 persen sama sekali tidak setuju dengan hidup bersama tanpa menikah dan 72,38 persen menganggap bersanggama sebelum menikah sangat tidak wajar.

Namun kebenaran hasil penelitian Dasakung diragukan. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nugroho Notosusanto, misalnya, sangsi terhadap nilai ilmiah penelitian itu dan menganggapnya dibesar-besarkan. "Masalah itu sejak dulu sudah ada. Tapi apa yang dijadikan ukuran kalau disimpulkan kian meningkat?" ucapnya.

Profesor Soedjito Sosrodihardjo, Kepala Lembaga Pengabdian Masyarakat UGM, menganggap masalah "kumpul kebo" sangat peka sehingga menelitinya harus hati-hati. Menurut dia, sulit menilai valid atau tidaknya hasil penelitian itu. "Saya belum melihat daftar pertanyaannya dan apa saja yang ditanyakan," katanya.

Beberapa mahasiswa Yogya yang ditanya melihat ­samenleven memang cenderung tumbuh. Tapi banyak juga yang kaget. Doddy, mahasiswa Universitas Islam Indonesia yang indekos di Kampung Kuningan, satu dari sembilan kampung yang diteliti, bersama 20 rekannya, putra-putri, terkejut dan ragu terhadap hasil penelitian itu. "Kami memang bergaul dengan bebas, tapi itu bukan berarti kami bebas ber-samenleven seperti diberitakan penelitian itu," ujarnya.


Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=162405875015



Kartun 1/1

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.