Laporan Khusus 10/24

Sebelumnya Selanjutnya
text

Bermula dari Kapal Kambuna

Kecewa pada praktek pengadilan yang kotor. Yap tereliminasi dari dunia litigasi.

i

DUA belas aktivis hak asasi manusia berkumpul di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, pada suatu siang akhir Desember 1984. Ada Yap Thiam Hien, Abdurrahman Wahid, Adnan Buyung Nasution, Todung Mulya Lubis, Abdul Hakim Garuda Nusantara, dan Aswab Mahasin. Selain mereka, beberapa perwakilan lembaga swadaya masyarakat prodemokrasi dari Belanda dan Inggris turut serta.

Bersama ratusan penumpang lain, mereka antre masuk kapal penupang KM Kambuna. "Kami membuat seminar kecil di atas kapal untuk menghindari intel," kata Abdul Hakim, 58 tahun, saat ditemui Tempo, Mei lalu.

Di dalam kapal yang melayani rute Jakarta-Bitung itu, Yap cs menyewa satu ruang untuk rapat dan enam kamar kelas dua. Begitu kapal berlayar, mereka ngerumpi di sebuah ruang seukuran 4 x 8 meter. Gus Dur—panggilan Abdurrahman Wahid—dan Yap menjadi pembicara utama.


Gus Dur menyampaikan tema tentang hak asasi manusia dan Islam. Ia menjadi pembicara pertama karena tidak dapat ikut hingga kapal berlabuh di Bitung. "Gus Dur dan Buyung turun saat kapal singgah di Surabaya," ujar Abdul Hakim.

162405881148

Sedangkan Yap, yang ikut acara hingga selesai, menyampaikan topik tentang korelasi pembangunan, hak asasi manusia, dan dampaknya pada masyarakat miskin. Pria kelahiran Aceh, 25 Mei 1913, itu menjelaskan bahwa kemiskinan di Indonesia adalah bagian dari dampak pembangunan yang tidak memperhatikan aspek keadilan dan hak asasi manusia.

Perjalanan laut selama tiga hari dan sudah tiba di Bitung, peserta diskusi bersepakat membawa permasalahan hak asasi manusia pembangunan Indonesia jadi perhatian internasional. Dari pertemuan itu pula gagasan membentuk Inter-NGO Conference o­n IGGI Matters (INGI), yang kini menjadi International NGO Forum on Indonesian Development (INFID), tercetus.

Menurut Direktur Eksekutif INFID Sugeng Bahagijo, INGI adalah semacam forum jaringan lembaga swadaya masyarakat yang berorientasi mengembangkan partisipasi rakyat. Salah satu tujuannya adalah menyadarkan negara-negara maju akan tanggung jawab mereka terhadap ketimpangan sosial antara negara miskin dan kaya.

Pada 1985, kongres pertama INGI digelar di Belanda. Yap banyak berperan dalam persiapan, tapi tidak sempat hadir dalam kongres itu. INGI beranggotakan hampir sebagian besar aktivis prodemokrasi di Indonesia. Waktu itu menjadi salah satu titik penting pergeseran strategi Yap dalam membela hak asasi manusia.

Yap mulai meluaskan medan perjuangannya dari ruang pengadilan ke ranah yang lebih luas: advokasi persoalan rakyat lewat lembaga swadaya sekaligus menyuarakannya di forum internasional. Dia cukup memiliki akses untuk gerakannya itu. Sejak 1968, Yap sudah menjadi anggota World Council of Churches (WCC). Pada tahun yang sama, ia terpilih menjadi anggota International Commission of Jurists (ICJ).

Di WCC, Yap terkenal sebagai anggota yang kritis. Daniel S. Lev dalam No Concessions: The Life of Yap Thiam Hien, Indonesian Human Rights Lawyer, menulis, dalam pertemuan di Jenewa pada sekitar 1974, Yap pernah mengkritik pendanaan yang timpang pada gereja-gereja di dunia ketiga. Menurut Yap, tidak semestiya gaji personel gereja lebih besar dibanding dana programnya.

Ia juga tidak segan turun langsung ke daerah konflik dan perang. Yap pernah berkisah kepada Abdul Hakim tentang bagaimana menjalankan misi WCC di Vietnam yang sedang berkecamuk perang pada 1974. "Pak Yap menyaksikan bom-bom meledak beberapa meter dari hotelnya, tapi ia tetap bertahan menjalankan misinya."

Di ICJ, nama Yap juga bergaung di pelbagai negara. Pernah suatu ketika, pada 1986, Abdul Hakim mendampingi Yap dalam sebuah acara di Thailand selama tiga hari. Setiap pulang ke hotel sekitar pukul 6 sore, belasan aktivis hak asasi sudah menunggu di depan kamar Yap. "Pak Yap sangat tenar. Bahkan para aktivis HAM Thailand tahu ia gemar durian. Setiap datang, mereka menyiapkan durian dan berdiskusi hingga larut malam," katanya.

Di setiap forum internasional ICJ, Yap terkenal konsisten menyuarakan penegakan hak asasi manusia. "Yap dikagumi sebagai orang yang berani dan brilian," ujar Adnan Buyung Nasution, yang juga pernah menjadi anggota ICJ setelah Yap. Berbekal segudang pengalaman internasional itu, Yap memoles INGI hingga menjadi lembaga yang disegani.

Menurut Todung Mulya Lubis, 64 tahun, pilihan Yap aktif di lembaga swadaya masyarakat didasari kekecewaannya pada institusi pengadilan yang kian kotor dan korup. Sebagai pengacara, Yap sebenarnya orang yang percaya pada proses hukum di keadilan. Karena itu, ia tidak pernah culas dalam melakukan pembelaan. "Ia tidak bersedia mengakui bahwa di sekeliling pengadilan, kejaksaan, ataupun kepolisian banyak tikus," kata Todung. Karena sikap itu pula Yap sering kalah di meja hijau.

Perlahan Yap tereliminasi dari dunia litigasi. Kantornya makin jarang didatangi klien. Meski begitu, Yap berkukuh tidak ingin ikut menodai lembaga peradilan dengan cara main kotor dan suap. "Dia merasa sistem peradilan sudah mulai hancur. Ia tidak tahan. Waktunya dihabiskan di LSM," ucap Todung.

Yap memang sering berada di kantor Lembaga Bantuan Hukum Indonesia. Tidak jarang dia terjun langsung melakukan advokasi berupa pendidikan hukum di berbagai daerah. Salah satunya adalah warga yang menjadi korban pembebasan lahan pembangunan waduk Kedung Ombo di tiga kabupaten di Jawa Tengah, yaitu Sragen, Boyolali, dan Grobogan.

Dalam proyek untuk pembangkit listrik seluas 6.576 hektare itu, pemerintah menerapkan ganti rugi lahan terlalu murah. Ribuan warga dirugikan karena kehilangan lahan. Mereka yang menolak pindah, selain mengalami kekerasan, dicap sebagai komunis.

Josef P. Widyatmadja, penyunting buku Yap Thiam Hien: Pejuang Lintas Batas, mengatakan Yap setiap tahun datang ke Salatiga untuk memberi penyuluhan hukum kepada aktivis lembaga swadaya masyarakat, mahasiswa, dan korban penggusuran proyek waduk. "Ia datang memberi kami keterampilan advokasi, sehingga perlawanan kami di sisi hukum bisa mendapat tempat," ujar Josef, yang kala itu ikut dalam advokasi warga korban Kedung Ombo.


Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=162405881148



Laporan Khusus 10/24

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.