Film 1/3

Sebelumnya Selanjutnya
text

Yang Berdiri Tegak di Tebuireng

Sebuah film tentang orang penting, pada masa Indonesia yang penuh gejolak.

i

Sang Kiai
Sutradara: Rako Prijanto
Skenario: Anggoro Saronto
Pemain: Ikranagara, Christine Hakim, Adipati Dolken, Agus Kuncoro
Produksi: Rapi Film

Sang Kiai. Dia teduh, lembut, tegak berprinsip. Sebuah film yang mengingatkan kita pada sosok langka. Di tengah riuh kabar buruk yang dibawa pemuka agamakorupsi, penindasan, juga kebencianfilm ini adalah angin segar. Bahwa pemuka agama bisa, dan seharusnya, menjadi negarawan yang tak ragu mengambil langkah tak populer.

Adalah Hasyim Asy'ari, dari Pondok Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, tokoh utama film. Kiai Hasyim Asy'ari adalah kakek mantan presiden Abdurrahman Wahid, pendiri Nahdlatul Ulama, organisasi kemasyarakatan terbesar di Indonesia. Sutradara Rako Prijanto memilih rentang 1942-1949 sebagai fokus dalam hidup Sang Kiai. Kendati hanya tiga tahun, pendudukan Jepang adalah masa yang brutal. Pajak hasil bumi membubung, para gadis Indonesia dijadikan budak seks, dan ulama, termasuk KH Hasyim Asy'ari, dipenjarakan. Tiga bulan Sang Kiai disiksa di penjara di Mojo'kerto, Jombang, dan Bubutan, Surabaya.

Film berlatar belakang sejarah yang melibatkan 200 kru dan figuran ini menarik didiskusikan. Meja, kursi, ranjang, gerobak, tembok bambu, lampu teplok, dan mobil Fiat dihadirkan demi menghidupkan aura 1940-an. Mata para pemain pun jadi perhatian serius. 'Sorot mata orang di tahun itu terasa lebih kuat. Lebih punya harga diri,' kata Rako, juga sutradara Merah itu Cinta (2007), D'Bijis (2007), dan Malaikat tanpa Sayap (2012).


Film yang menyajikan biopik tentang seorang tokoh serius bukan berarti tak ada humor. Umpamanya, seorang santri yang membolos salat berjemaah diberi hukuman unik: mencium bokong sapi. Teriakan dan celetukan khas Jawa Timur turut membangun suasana. Harun (Adipati Dolken), misalnya, berteriak kegirangan di tengah medan perang, "Bojoku mbobot, Cak!"—"Istriku hamil, Cak!"

162366294470

Film berdurasi 135 menit ini bertabur aktor terkemuka meski Rako tidak memilih bintang dengan alasan popularitas semata. Ikranagara, aktor kawakan yang juga bermain dalam Sang Pencerah, adalah Sang Kiai. Seni peran Ikra dipuji Salahuddin Wahid, cucu KH Hasyim Asy'ari. "Saya masih lima tahun ketika itu, tapi saya ingat kakek saya, ya, seperti itu," ujar Gus Sholah.

Christine Hakim, pemeran Nyai Kapo, istri Kiai Asy'ari, meski porsinya tak terlalu banyak, justru paling bersinar. Dia sanggup menghadirkan sosok perempuan yang kisahnya tak ada dalam buku sejarah formal ini. "Nyai Kapo perempuan kuat," kata Christine. Dan hati siapa tak bergetar menyaksikan ekspresi Nyai Kapo saat bertanya kepada suaminya, "Apakah cuma para syuhada yang berperang yang ada dalam doamu? Adakah aku di sana?"

Elemen kuat lain adalah Agus Kuncoro. Sebagai KH Wahid Hasyim, putra Sang Kiai, Agus tampil santai dan percaya diri, khas intelektual sarungan. Bersama ayahnya dan barisan ulama NU, Wahid Hasyim terlibat aktif dalam pergerakan Islam di negeri ini.

Skenario yang ditulis Anggoro Saronto mencoba berdisiplin menjaga aliran cerita. Film ini terdiri atas begitu banyak tokoh dengan karakter yang khas. Ada tokoh yang tak sabaran, ada yang penakut, sementara tokoh lain pemberani tapi konyol. Setiap lapis diupayakan tampil konsisten sesuai dengan karakternya.

Sedikit catatan, yang agak mengganjal adalah adegan perang. Surabaya, 10 November 1945, memang medan perang luar biasa. Tapi, entah kenapa, film ini menyajikannya dengan bumbu Hollywood yang rada berlebihan. Akting para tokoh asing anggota pasukan Jenderal Mallaby pun terasa canggung.

Film ini tidak mengguyur penonton dengan puja-puji heroisme sang tokoh. Sang Kiai Hasyim Asy'ari tampil bersahaja, dengan kelemahan berkomunikasi. Lompatan pemikiran dan strategi Hasyim Asy'ari tak selalu bisa dijelaskan kepada para santri. Keputusan yang tak populer tak jarang memicu kegelisahan penduduk dan santri. Konflik yang menggelegak di dada Harun, yang merasa Sang Kiai memihak Jepang, misalnya, dibiarkan meruncing. Lalu, seiring dengan plot cerita, konflik terurai perlahan. Dalam dosis yang pas.

Mardiyah Chamim


Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=162366294470



Film 1/3

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.