Opini 3/4

Sebelumnya Selanjutnya
text

Belajar dari Dua Pemilihan

Pemilihan kepala daerah Jawa Tengah dan Bali meninggalkan pengalaman berharga. Pelajaran penting menyongsong 2014.

i

BANYAK pelajaran bisa dipetik dari dua pemilihan kepala daerah yang berlangsung hampir bersamaan, Jawa Tengah dan Bali. Di Jawa Tengah, perolehan suara para kontestan melenceng dari berbagai perkiraan kasarbahkan survei yang agak 'ilmiah'. Sebelum hari pencoblosan, tak banyak yang mengandalkan pasangan Ganjar Pranowo-Heru Su"djatmoko. Beberapa lembaga survei menempatkan pasangan ini jauh di bawah pasangan Bibit Waluyo-Sudijono Sastroatmodjo, yang diperkirakan memperoleh lebih dari 50 persen suara.

Perkiraan dan survei itu meleset karena, antara lain, bertolak dari pola 'tradisional' keterpilihan kandidat: dari kemampuan dana, dukungan partai politik, hingga status inkumben calon. Ganjar-Heru, yang hanya didukung Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, mampu melibas pasangan yang didukung tiga partai (Partai Demokrat, Partai Golkar, dan Partai Amanat Nasional), bahkan enam partai (Partai Keadilan Sejahtera, Partai Gerindra, Partai Persatuan Pembangunan, Partai Hanura, Partai Kebangkitan Bangsa, dan Partai Kebangkitan Nasional Ulama).

Kenyataan ini membawa pesan khusus: partai-partai yang sedang berlomba memperebutkan pengaruh hendaklah lebih mematut diri sebelum terjun ke gelanggang tarung. Pesan ini, sebetulnya, sudah bisa dibaca dari hasil pemilihan kepala daerah Ibu Kota Jakarta, tahun lalu, ketika pasangan Joko Widodo-Basuki Tjahaja Purnama mengungguli Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli dengan selisih lebih dari tujuh persen. Di Jawa Tengah, pasangan Ganjar-Heru mengungguli Bibit-Sudijono dengan selisih perolehan lebih dari 15 persen.


Tak kurang menarik adalah kenyataan yang menunjukkan bahwa kemenangan Ganjar-Heru terjadi ketika tingkat partisipasi rakyat yang menggunakan hak pilih justru menurun. Pada pemilihan kepala daerah Jawa Tengah 2008, tingkat partisipasi pemilih masih sekitar 58,5 persen. Pada pemilihan kemarin, tingkat partisipasi itu anjlok ke angka sekitar 50 persen. Artinya, setelah lima tahun, makin banyak pemilik suara yang memilih tidak mencoblos. Fenomena ini menarik disimak.

162406581771

Dalam logika empiris bisa dikatakan pemilih Ganjar-Heru adalah pemilih sadar yang digerakkan oleh mesin partai—entah karena faktor "ideologis", entah sekadar merindukan pembaruan. Semboyan sederhana yang diusung pasangan ini, "Mboten Korupsi, Mboten Ngapusi", berhasil menggerakkan para pemilih yang memang sudah bosan dikadali dan bosan dicuri duitnya oleh para koruptor. Tak mustahil mereka mengerti, sepanjang 2004-2013, paling tidak 291 kepala daerah terlibat korupsi—sembilan di antaranya gubernur.

Di Bali, kandidat inkumben yang berpindah partai pendukung justru mengulangi kemenangannya. Pasangan Made Mangku Pastika-I Ketut Sudikerta, yang kali ini didukung Partai Demokrat, menang tipis atas pasangan Anak Agung Gede Ngurah Puspayoga-Dewa Nyoman Sukrawan, yang didukung PDI Perjuangan, dengan selisih tipis 0,04 persen. Beralihnya dukungan PDI Perjuangan dari Pastika ke Puspayoga memang berbeda dengan pindahnya dukungan partai itu dari Bibit Waluyo ke Ganjar Pranowo. Di kalangan partai banteng moncong putih, Ganjar bukan anak kemarin. Masih ada faktor lain: ketidakserasian Bibit dan Jokowi, yang tadinya sama-sama didukung PDI Perjuangan, hanya berakibat buruk bagi Bibit belaka.

Menghadapi pemilihan umum nasional 2014, pengalaman Jawa Tengah dan Bali bisa dijadikan cermin. Mesin partai tetap merupakan alat perjuangan yang ampuh, apalagi jika dibersihkan dari daki korupsi, kolusi, dan nepotisme. Penampilan tokoh juga masih tetap penting, selama tokoh yang ditampilkan kalis dari aib sejarah dan perilaku: patut menjadi teladan dan tak pernah melukai hati rakyat.

berita terkait di halaman 36


Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=162406581771



Opini 3/4

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.