Laporan Khusus 1/24

Sebelumnya Selanjutnya
text

10 Wejangan Pak Yap

1 "Sejarah dari negara-negara berkonstitusi adalah sejarah dari perjuangan rakyat melawan tirani, despotisme dan absolutisme. Perjuangan dari hak-hak dan kebebasan-kebebasan hak asasi manusia melawan kekuasaan mutlak. Konstitusi adalah manifestasi dari kemenangan keadilan atas kesewenang-wenangan, kemenangan 'recht' atas 'macht'."

  • Pidato di muka Konstituante, 12 Mei 1959
  • i

    1 "Sejarah dari negara-negara berkonstitusi adalah sejarah dari perjuangan rakyat melawan tirani, despotisme dan absolutisme. Perjuangan dari hak-hak dan kebebasan-kebebasan hak asasi manusia melawan kekuasaan mutlak. Konstitusi adalah manifestasi dari kemenangan keadilan atas kesewenang-wenangan, kemenangan 'recht' atas 'macht'."

  • Pidato di muka Konstituante, 12 Mei 1959

    2“Apa gunanya pengorbanan-pengorbanan rakyat Indonesia sampai tercapainya kemerdekaan bilamana di masyarakat dan negara Indonesia terdapat pembagian warga-warga dalam beberapa kelas dan diskriminasi rasial, seperti di zaman kolonial."

  • Pidato di muka Konstituante, 12 Mei 1959

    3 "Jadi bukan jumlah, melainkan perlakuan yang menentukan status minoritas. Suatu jumlah besar bisa mempunyai status minoritas seperti halnya rakyat Indonesia di zaman kolonial, di mana sejumlah kecil orang Belanda mempunyai kedudukan 'dominan' grup."

  • Kolom di Star Weekly, 21 Mei 1960

    4 "Suatu perhimpunan advokat yang bebas berdaulat bersama dengan suatu kekuasaan kehakiman yang bebas berdaulat adalah dua syarat mutlak bagi suatu negara hukum."

  • Pleidoi kedua Dr Soebandrio, 17 Oktober 1966

    5 "Tugas utama pengadilan ialah mencari dan menemui kebenaran."

  • Pleidoi Yap saat dirinya didakwa melakukan pencemaran nama baik dua pejabat negara, 16 September 1968

    6 "Jujur berarti menyatakan yang putih sebagai putih, yang hitam sebagai hitam, yang benar sebagai benar, yang salah sebagai salah."

  • Kolom di harian Kompas, 17 Maret 1971

    7 "Bilamana kekuasaan merajalela hampir tanpa batas, pada galibnya kepastian hukum akan lenyap dan rasa ketakutan mulai tertanam. Pada puncaknya nanti, perasaan perlahan-lahan berubah menjadi kebencian kepada penguasa."

  • Artikel di majalah Prisma, Desember 1973

    8 "Suatu Undang-Undang Hukum Acara Pidana haruslah pada hakikatnya dilihat sebagai suatu 'constitutie in miniatuur' atau 'undang-undang dasar mini'."

  • Tanggapan atas penetapan Ketua Pengadilan Negeri Jakarta Utara, 1 Desember 1979

    9 "Kasus tapol G-30-S adalah pelanggaran HAM yang paling keji yang pernah dilakukan oleh Indonesia terhadap bangsanya sendiri, mungkin di sepanjang sejarah bangsa Indonesia."

  • Makalah "Penilaian Singkat tentang Penghargaan dan Praktek Hak Asasi Manusia dalam Orde Baru", Desember 1979

    10 "Tidak ada suatu perbuatan yang bisa dihukum tanpa peraturannya terlebih dahulu."

  • Pendapat atas tuduhan contempt of court Buyung Nasution di Majalah Tempo, Mei 1989

    Yap Thiam Hien Kutaraja, 25 Mei 1913-Brussel, 25 April 1989

    1913
    Lahir di Peunayong, Kota Kutaraja, kini Banda Aceh.

    1922
    Ibunya wafat, Yap dan kedua adiknya diasuh Sato Nakashima, nenek asuhnya.

    1930
    Masuk Algemene Middelbare School di Bandung dan Yogyakarta. Mengenal Protestan dari Hermann Jopp.


    1933
    Masuk Hollandsche-Chineesche Kweekschool di Meester Cornelis.

    162366271495

    1934
    Mengajar di Chinese Zendingschool, Cirebon, lalu di Tionghwa Hwee Kwan Holl di Rembang.

    1938
    Dibaptis di Gereja Patekoan, Batavia. Kuliah di Rechtshogeschool hingga sekolah itu ditutup Jepang.

    1946
    Ke Belanda dengan kapal pemulangan orang-orang Belanda. Kuliah hukum di Universitas Leiden.

    1947
    Meraih meester in de rechten. Bergabung dengan Perhimpoenan Kristen Indonesia. Ikut World Conference of Christian Youth di Norwegia.

    1949
    Menikahi Tan Gien Khing Nio pada 15 Februari 1949. Terdaftar sebagai advokat pada 11 Juli 1949. Bekerja di Kantor Advokat Mr Lei Hwee Yoe.

    1954
    Mendirikan Badan Permusjawaratan Kewarganegaraan Indonesia, menjadi wakil ketua.

    1956
    Mewakili Cina untuk Partai Kristen Indonesia di Konstituante.

    1959
    Di sidang Konstituante pada 12 Mei, Yap menolak anjuran Presiden untuk kembali ke UUD 1945.

    1964
    Ikut mendirikan Persatuan Advokat Indonesia (Peradin).

    1966
    Pada 13 April mendirikan Lembaga Pembela HAM. Pada 1 Oktober mulai membela Soebandrio di sidang mahkamah militer luar biasa.

    1967
    Diperkarakan karena mencemarkan nama baik Jaksa Tinggi Simandjuntak dan Inspektur Jenderal Polisi Mardjaman. Perkara ini dikenal sebagai “Yap Affair".

    1968
    Pada 1 Januari ditahan polisi, dituduh terlibat PKI. Menjadi anggota Komite Dewan Gereja Sedunia dan Komite Eksekutif International Commission of Jurist.

    1970
    Ikut mendirikan Lembaga Bantuan Hukum.

    1974
    Setelah Peristiwa Malari, Yap ditahan tanpa proses peradilan selama hampir satu tahun.

    1975-1978
    Membela Asep Suryaman, Oei Tjoe Tat, Suwito, dan Letnan Kolonel Latief.

    1980
    Pada 11 Januari mendapat gelar doctor honoris causa bidang ilmu hukum dari Vrije Universiteit, Belanda.

    1984
    Membela Sanusi, anggota Petisi 50, dan Basuki Rahmat dalam kasus peledakan BCA.

    1987
    Pada 28 Januari menerima The William J. Brennan Human Rights Award yang pertama dari Rutgers School of Law-Camden, Amerika Serikat.

    1989
    Pada 25 April, wafat di Rumah Sakit St Agustinus, Brussel, Belgia, saat menghadiri pertemuan INGI. Lima hari kemudian, jasadnya dimakamkan di Pemakaman Umum Tanah Kusir, Jakarta.

    1992
    Namanya diabadikan dalam penghargaan bagi tokoh pejuang hak asasi manusia: Yap Thiam Hien Award.

    Oei Tjoe Tat, Menteri Negara Kabinet Dwikora:
    Kalau sudah yakin akan satu kebenar­an, ia memperjuangkannya main tabrak tidak kenal siasat.

  • —Pikiran Rakyat, 25 April 1989

    T.B. Simatupang, Ketua Majelis Pertimbangan Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia:
    Yap ini orang dunia ini, tapi bukan dari dunia ini.

  • —Pidato saat pemakaman, 30 April 1989

    Arief Budiman, budayawan:
    Ia selalu memberikan arah pada saat kita lupa. Pak Yap saya anggap sebuah mercu suar.

  • —OBITUARI MAJALAH TEMPO, 6 MEI 1989

    Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=162366271495



  • Laporan Khusus 1/24

    Sebelumnya Selanjutnya

    Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

    4 artikel gratis setelah Register.