Internasional 2/4

Sebelumnya Selanjutnya
text

Ambisi Guizhou Menjadi Modern dan Hijau

Mengatasi ketertinggalan Cina bagian timur, pembangunan provinsi-provinsi miskin di barat digenjot. Berusaha menerapkan prinsip lestari.

i

MEMBUKA gorden jendela kamar di lantai lima Guizhou Park Hotel di Guiyang, saya takjub berada di ibu kota salah satu provinsi miskin di Cina, Guizhou. Sebab, yang saya saksikan, gedung-gedung tinggi seolah-olah berlomba menggapai awan.

Bayangan daerah miskin dan tertinggal kian sirna begitu perjalanan ke luar Guiyang dimulai. Pagi itu kami menyaksikan beberapa titik pembangunan konstruksi di dalam kota. Bahkan, ketika mulai meninggalkan ibu kota Guizhou ini untuk menuju Daerah Otonomi Miao dan Dong Qiangdongnan, selama sekitar dua setengah jam perjalanan kami terus menyaksikan berbagai pembangunan. Jalan-jalan baru dibangun di atas bukit-bukit yang dipapras. Kota-kota kecil baru pun punya bangunan pencakar langit. Selama perjalanan di Guizhou, susah sekali menemukan bangunan berlantai satu.

"Itu pemekaran Kaili," kata David Tang, wartawan dari Guiyang yang menjadi penerjemah kami, rombongan wartawan dari beberapa negara Asia Tenggara. Pemerintah Cina memang sengaja mengundang kami untuk menjadi saksi mata transformasi Provinsi Guizhou, pada pekan ketiga Mei lalu.


"Kami terus mempercepat industrialisasi baru, mempromosikan transformasi hijau, juga berfokus pada industri strategis," ujar Yang Zhi Wei, Direktur Hubungan Masyarakat Komisi Reformasi dan Pembangunan Ekonomi Nasional Guizhou, di kantornya di Guiyan.

162365940947

Menurut Gubernur Guizhou Zhao Ke­zhi tahun lalu, seperti dikutip China Daily, pemerintah menargetkan 90 persen rakyat provinsi yang 90 persen kawasannya gunung dan bukit ini sudah terentaskan dari kemiskinan pada 2020. Produk domestik bruto kotor per kapita pada tahun yang sama juga menjadi US$ 5.000 (sekitar Rp 49 juta).

Target yang tak mudah. Tahun lalu PDB per kapita Guizhou masih US$ 2.000 (sekitar Rp 19,6 juta). Angka tersebut seperenam dari PDB Kota Shanghai. Sedangkan jumlah penduduk miskin—penghasilan di bawah 2.300 yuan (sekitar Rp 3,68 juta)—hingga awal tahun lalu sebanyak 15 juta dari total 35 juta penduduk Guizhou. Tujuh juta warganya menjadi pekerja migran di luar Guizhou. "Kami tertinggal delapan tahun dari level pembangunan rata-rata nasional," kata Zhao, awal tahun lalu.

Setelah reformasi ekonomi dilakukan Deng Xiaoping pada 1978, daerah-daerah bagian timur Cina melaju pesat, meninggalkan kawasan barat. Kondisi timpang ini membahayakan keutuhan Cina. Sebab, di belahan barat terhampar provinsi-provinsi dan kawasan otonomi khusus dari Mongolia Dalam ke Xinjiang dan Tibet. Cina bagian barat mencakup 70 persen dari seluruh dataran Cina, yang dihuni 27 persen dari populasi. Sepanjang garis perbatasannya bertetangga dengan 14 negara. Kawasan mahaluas itu kaya sumber energi dan mineral serta memiliki lanskap yang indah.

Beijing tak diam. Pada 2000, Pemerintah Rakyat Pusat atau Gouwuyuan membentuk tim khusus pembangunan Cina barat (Leadership Group for Western China Development) untuk memacu kemajuan kawasan itu, termasuk Guizhou. Tidak langsung melesat memang, tapi pembangunan beberapa tahun terakhir berjalan pesat. Terutama setelah penerapan rencana pembangunan lima tahunan memasuki periode ke-12 pada 2011. "Kami baru pesat dalam dua tahun terakhir ini," ucap Yang Zheng Shi, Wakil Pemimpin Kawasan Pengembangan Ekonomi dan Teknologi Dalong.

Sejak itu, Beijing menyetujui rencana pembangunan 178 proyek konstruksi besar. Prioritas lain mengatasi ketertinggalan adalah urbanisasi. Menurut Zhao Kezhi, yang juga menjabat Sekretaris Partai Komunis Cina Guizhou, urbanisasi berhubungan erat dengan modernisasi industri­alisasi dan pertanian. Demi menyedot penduduk ke kota, pemerintah merencanakan pembangunan sekitar 100 kota satelit.

Pemerintah juga membangun permukiman-permukiman baru bagi warga miskin di kawasan urban. Tahun lalu, 180 permukiman baru mulai dibangun. "Tidak seperti kota, tapi lengkap fasilitasnya, seperti medis, pendidikan, dan pekerjaan," kata Yang Zhi Wei, Direktur Hubungan Masyarakat Komisi Reformasi dan Pembangunan Ekonomi Nasional Guizhou.

Pembangunan pesat itu benar adanya,­ seperti diakui Timothy Oakes, profesor geografi Universitas Colorado, Amerika Serikat, yang bekerja sebagai konsultan untuk Guizhou selama 20 tahun. "Pembangunan infrastruktur mencengangkan dan telah mengubah drastis cara hidup di banyak tempat," ujarnya seperti dikutip­ ­Wa­sh­ington Post, 29 Juni 2010. Alhasil, tahun lalu, kenaikan PDB Guizhou sebesar 13,6 persen—berada di urutan kedua di Cina.

Masih menurut juru bicara Yang Zhi Wei, beberapa tahun ini, pemerintah menggenjot pembangunan ramah lingkungan. "Aspek pertama, pengembangan ekonomi daur ulang," katanya. Misalnya, di Dalong, satu industri menggunakan limbah dari industri lain. Selain itu, pemerintah menggalakkan program konservasi energi dan pengurangan emisi, misalnya dengan meremajakan industri-industri yang sudah tua. Pemaprasan bukit-bukit tidak dilakukan pada daerah yang banyak pohonnya. Semua ini sesuai dengan Rencana Pembangunan Lima Tahun Ke-12 (2011-2015). Pemerintah Cina mengalokasikan US$ 1,28 triliun untuk proyek-proyek pembangunan berprinsip kelestarian lingkungan.

Inilah hikmah dari ketertinggalan ­Guizhou: provinsi ini membangun di masa pemerintah pusat telah sadar atas efek industrialisasi yang berlangsung lebih awal di timur Cina. Salah satu akibatnya, tingkat polusi udara di Cina ada di jajaran terburuk di dunia. Menurut data Bank Dunia, hanya satu persen dari 560 juta penduduk perkotaan Cina bisa mendapat udara bersih sesuai dengan standar Uni Eropa.

"Konsep pembangunan ekonomi kami adalah dengan menghargai alam, mengikuti alam, dan melindungi alam," ucap Yang Zhi Wei menutup promosinya.

Purwani Diyah Prabandari (Guizhou, Cina)


Bantal dan Seprai pun Disubsidi

JARUM jam telah menunjukkan pukul 11.30, tapi Desa Zhaisha di Jiangkou, Tongren, belum juga tersentuh sinar matahari. Kabut tebal menyelimuti desa di kaki Gunung Fanjing, yang puncaknya merupakan puncak tertinggi di Guizhou, itu.

Beberapa pelancong lokal memasuki gerbang desa wisata etnis Dong, Zhaisha, di daerah Jiangkou, Tongren, Guizhou. Pemerintah Guizhou memang gencar mempromosikan pariwisata, sebagai langkah menyejahterakan warganya. "Selain berfokus pada pengembangan desa, kota, dan taman-taman industri, kami berfokus pada pariwisata," kata Yang Zhi Wei, Direktur Hubungan Masyarakat Komisi Reformasi dan Pembangunan Ekonomi Nasional Guizhou, di kantornya di Guiyan.

Guizhou, yang sekitar 90 persen kawasannya terdiri atas gunung dan bukit, kaya situs-situs wisata alam. Misalnya Desa Xijiang, yang dihuni 6.000-an warga etnis Miao. Atau desa yang menawarkan ketenangan dan hawa dingin seperti di Fengxian, daerah Zunyi.

Pemerintah pun tak pelit bantuan. Warga yang berinisiatif terlibat dalam pengembangan pariwisata diberi subsidi. Menurut Luo Shi Yue, anggota staf pers dan publisitas daerah Jiangkou, selain membuat infrastruktur jalan yang mulus menembus pelosok daerah, pemerintah memberi pinjaman tanpa bunga.

Pemilik sebuah restoran di Fengxian, Huang Lin, mendukung informasi Luo Shi Yue. Jadi, "Setelah membeli tanah dengan uang sendiri, pemerintah mengembalikan uang untuk konstruksi," ucapnya saat berbincang di restoran di sekitar Desa Tuba. Ia bahkan mendapat bantuan pelatihan bagi pegawainya, yang berjumlah 28 orang.

Selain itu, menurut petinggi Kota Fengxian, Zhang Zheng Wei, para pemilik penginapan, selain mendapat subsidi untuk renovasi, memperoleh bantuan bantal dan seprai. "Semakin banyak tempat tidur yang ditawarkan, semakin besar subsidinya," katanya. Satu tempat tidur subsidinya sekitar 400 yuan.

Tentu ada syarat untuk memperoleh semua fasilitas itu, seperti tak sembarangan membangun penginapan ataupun restoran. "Ada aturan desainnya," ujar Zhang Zheng Wei. Tak mengherankan, sejauh mata memandang, hampir semua bangunan mirip.

Purwani Diyah Prabandari (Guizhou, Cina)


Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=162365940947



Internasional 2/4

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.