Jawa Timur 2/3

Sebelumnya Selanjutnya
text

Kebangkitan Kembali Tanggulangin

Mulai berjaya setelah terpuruk akibat lumpur Lapindo. Mulai mendapat pesanan dari luar negeri.

i

DUA lelaki memindahkan beberapa dus besar dari gudang ke mobil bak terbuka. Karyawan Toko Haji Choiri di Tanggulangin, Sidoarjo, ini sedang menyiapkan pengiriman tas koper pesanan sebuah agen perjalanan di Kalimantan. "Paket itu akan dikirim ke Samarinda untuk dibawa umrah," kata Roni Yudianto, pengelola toko itu, Selasa pekan lalu.

Tanggulangin sebagai sentra penghasil tas dan sepatu begitu moncer sampai 2006. Setiap hari, ribuan orang mendatangi ratusan gerai yang ada di desa ini. Namun nama besar mereka berangsur tenggelam bersama melubernya lumpur Lapindo di Porong, Sidoarjo, tujuh tahun silam.

Syihabuddin, Ketua Umum Koperasi Industri Tas dan Koper (Intako) Tanggul­angin, mengatakan 300 ruang pamer terpaksa tutup pada 2007 dan 150 ruang masih bisa bertahan. Omzet penjualan anggota juga turun hingga 70 persen, dari rata-rata Rp 1,3 miliar menjadi Rp 400 juta per bulan. Saat itu, ada sekitar 2.000 pegawai dipecat. "Saya bersama ribuan perajin hanya bisa pasrah dan berharap bantuan pemerintah," ujarnya mengenang.


Kawasan Tanggulangin sebenarnya tidak terkena semburan lumpur dari Sumur Banjar Panji milik PT Lapindo Brantas Inc di Kecamatan Porong, Sidoarjo. Namun ber­edarnya berita bahwa Perumahan Tanggulangin Anggun Sejahtera ikut tenggelam bersama 14 desa lain membuat calon pembeli mengira industri tas dan kulit juga ikut terbenam lumpur. Padahal perumahan itu berada di Kecamatan Porong, bukan di Tanggulangin. "Sejak itu, jumlah pengunjung kami anjlok," kata Roni.

162366449035

Kondisi ini diperparah dengan sering terendamnya jalan Porong-Sidoarjo oleh lumpur. Terganggunya akses utama antara Surabaya dan Sidoarjo ini membuat jalan-jalan kampung menjadi pilihan, termasuk di Tanggulangin. Akibatnya, lalu lintas di kawasan itu jadi sering macet dan membuat pelangggan malas datang. "Padahal mereka tumpuan kami," ucap Roni.

Perbandingan penjualan grosir dan retail sebanding. Maka anjloknya penjualan eceran mengakibatkan usaha ini limbung. Omzet penjualannya pun menukik dari Rp 1 miliar per bulan menjadi Rp 200 juta per bulan. Roni terpaksa merumahkan 160 pegawainya dan menyisakan 40 orang.

Pemerintah Sidoarjo dan Provinsi Jawa Timur mencoba menghidupkan kembali kejayaan kerajinan Tanggulangin dengan promosi keliling Pulau Jawa. Sayangnya, tidak semua mendapat uluran tangan. Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah Jawa Timur Fattah Jasin menuturkan harus menyeleksi para pelaku usaha yang masih berpotensi berkembang dan produknya diterima pasar. "Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah sangat terbatas," katanya.

Pemerintah Jawa Timur juga menyediakan dana bergulir dengan kredit lunak bagi 600 pelaku usaha melalui PT Bank Pembangunan Jawa Timur. Pinjaman bervariasi mulai Rp 2,5 juta hingga Rp 100 juta. Jangka waktu pinjam selama tiga tahun dan bunga kredit dua-tiga persen per tahun. "Tiga bulan pertama debitor tidak membayar. Mulai membayar bulan keempat," ucap Fattah.

Muhamad Kafi, perajin tas di Tanggul­angin yang menerima pinjaman, mengaku terbantu oleh suntikan dana untuk tambah­an modal. Usahanya ambruk akibat macetnya pembayaran dari sejumlah toko di Tanggulangin yang kehilangan pengunjung. "Dana itu digunakan untuk menggerakkan usaha yang sudah terseok-seok," ujarnya.

Kafi menerapkan strategi memproduksi barang dengan sistem borongan. Ia mematok ongkos borongan minimal Rp 12 ribu per barang. Dengan cara itu, ia menangguk untung Rp 5.000 per item. Roni menerapkan ongkos borongan mulai Rp 20 ribu sampai Rp 500 ribu untuk setiap produk serta menyesuaikan bentuk, kualitas, dan bahan baku. Tas stik golf, misalnya, ongkosnya bisa mencapai Rp 500 ribu. "Harga jualnya juga mahal, bisa sampai Rp 15 juta," kata Roni.

Para perajin juga menyiasati dengan memberikan kebebasan kepada pemesan memberi merek. Hal ini untuk menarik minat pemesan yang ingin menjual kembali produk buatan Tanggulangin. Ruang pamer mulai bertambah menjadi 170 buah. Omzet juga mulai beranjak naik menjadi Rp 750 juta per bulan. Mereka dipercaya mengerjakan tas laptop Toshiba bagi pasar Jerman dan saat ini masih menjalin kerja sama dengan Yamaha Music, memasok tas pembungkus gitar.

Kepala Dinas Koperasi, Energi dan Sumber Daya Mineral, dan UMKM Kabupaten Sidoarjo Fenni Apridawati mengatakan akan mengandeng biro perjalanan wisata untuk memprioritaskan kunjungan ke Tanggul­angin. Dinas, ujar dia, juga akan memfasilitasi kegiatan promosi pelaku usaha kerajinan dengan skala prioritas.

Delegasi Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia asal Kabupaten Batubara, Sumatera Utara, Ahmadan, yang berkunjung ke Koperasi Intako, mengatakan siap mempromosikan produk kulit ini ke daerahnya. Kerajinan kulit di Sumatera Utara belum terlalu banyak, apalagi perajinnya. Kabupaten Batubara terkenal dengan kerajinan tenun. "Kami menyakini kerajinan ini bisa bangkit kembali," katanya.

Para perajin berharap pemilik PT Lapindo tidak menutup mata atas kerugian yang mereka derita. Mereka tidak meminta uang. Menurut Roni, yang dibutuhkan publikasi tentang kerajinan mereka untuk mengembalikan kepercayaan rakyat. "Harapan kami, mereka ikut bertanggung jawab meski bukan dalam bentuk duit," ucapnya.

Eko Ari Wibowo, Diananta P. Sumedi


Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=162366449035



Jawa Timur 2/3

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.