Laporan Khusus 9/24

Sebelumnya Selanjutnya
text

Universitas untuk Semua Golongan

Tak hanya pada hukum, Yap Thiam Hien juga sangat peduli pada pendidikan. Menginginkan peran kampus menjangkau semua golongan.

i

SUATU sore pada 1975. Yap Thiam Hien melangkah ke aula kampus Universitas Kristen Indonesia di Salemba, Jakarta Pusat. Di dalam aula, puluhan mahasiswa berteriak mencemooh Yayasan Universitas Kristen Indonesia, yang dianggap tak becus mengurus kampus. Ini melengkapi protes yang lebih dulu ada: corat-coret di dinding aula.

Mahasiswa menuntut Yayasan membangun UKI layaknya universitas swasta lain yang memiliki gedung megah. Jangankan gedung tinggi, ruang kuliah saja terbatas jumlahnya. Fasilitas ruangan yang sedikit sering menjadi rebutan untuk kegiatan kampus. Mewakili Yayasan, Yap Thiam Hien menemui pengunjuk rasa.

Yap berbicara, 'Kalian mau kampus megah? Bisa, besok jadi kenyataan. Tapi nanti kau yang anak petani dari Tarutung, anak nelayan dari Ambon, anak miskin dari NTT tidak akan ada lagi. Nanti UKI isinya anak orang kaya semua.' Mahasiswa seperti dihipnotis. Terdiam, lalu membubarkan diri satu-satu.


Maruli Gultom, Rektor UKI periode 2008-2012, ada di aula ketika Yap meredam gejolak mahasiswa. Sebagai Ketua Dewan Mahasiswa UKI, Maruli memimpin aksi itu. Penjelasan Yap, kata dia, menyadarkan mahasiswa bahwa universitas harus menjangkau semua golongan. 'UKI tidak boleh jadi universitas mahal,' ujar Maruli mengisahkan pada pertengahan Mei lalu.

162405938630

Yayasan UKI didirikan pada 18 Juli 1953. Sejak saat itu, Yap sudah menjadi pengurus. Pembentukannya atas dorongan Dewan Gereja Indonesia, yang menginginkan masyarakat Kristen berpartipasi dalam pendidikan. Tokoh-tokoh yang mengambil bagian antara lain Todung Sutan Gunung Mulia dan Benjamin Thomas Philip Sigar.

Demikianlah, Yap tak cuma peduli pada penegakan hukum, tapi juga pendidikan. Sewaktu aktif di Badan Permusjawaratan Kewarganegaraan Indonesia atau Baperki, Yap ditunjuk sebagai panitia pembangunan universitas untuk menampung warga keturunan. Ia antusias. Sebab, pemerintah saat itu membatasi jumlah mahasiswa Tionghoa di universitas negeri.

Pada kongres Baperki di Surabaya, Desember 1956, Siauw Giok Tjhan, ketua perkumpulan, mengusulkan nama perguruan tinggi itu Universitas Bhinneka Tunggal Ika. Menurut Daniel Saul Lev dalam bukunya, No Concessions, sebagai panitia pembangunan, Yap ditugasi mencari lahan untuk lokasi kampus.

Panitia menemukan sepetak lahan di Grogol, Jakarta. Namun lahan itu tak bisa langsung dibeli karena Baperki bukan yayasan. Tanpa melibatkan Yap, pada 8 Januari 1958, sejumlah anggota organisasi itu diantaranya Buyung Saleh dan Go Gien Tjwan mendirikan Yayasan Pendidikan Baperki. Tujuannya mengambil alih tugas panitia.

Dua hari kemudian, petinggi Baperki meriung. Dalam rapat itu, Yap baru tahu telah disingkirkan. Dia memprotes pendirian yayasan. Universitas dan lembaga pendidikan, menurut Yap, tak boleh atas nama Baperki, tapi yayasan lain yang tak terkait.

Menurut Lev, dalam rapat itu Yap diserang dari berbagai penjuru. Tak lama berselang, para petinggi Baperki memberi sedikit angin. Mereka mau berkompromi untuk sebagian hal demi merangkul Yap kembali. Yap malah menantang mereka untuk melakukan pemungutan suara: ikut pendapat dia atau sebaliknya. Tentu saja ia kalah suara. Yap mengancam keluar dari Baperki, tapi itu tak pernah ia lakukan.

Yap, yang antikomunis, cemas Baperki dituduh "kiri". Pada 1960, Universitas Baperki akhirnya berdiri. Universitas berkembang pesat meski tanpa Yap. Pada 1962, namanya berganti menjadi Universitas Res Publica—dipetik dari pidato Presiden Sukarno yang artinya "untuk kepentingan publik".

Tiga tahun kemudian, kecemasan Yap terbukti. Setelah huru-hara 1965, Universitas Res Publica diserang dan dibakar oelh kelompok etnis Cina lainnya karena dituduh terkait dengan Partai Komunis Indonesia. Aset-asetnya dirampas pemerintah. Rezim kemudian membukanya lagi dengan nama baru: Universitas Trisakti.

Sedangkan upaya Yap membangun universitas secara independen berlanjut. Dengan bantuan Gereja Kristen Indonesia Jawa Barat dan Sin Ming Huei, berdirilah Universitas Tarumanagara di seberang Universitas Trisakti.


Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=162405938630



Laporan Khusus 9/24

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.