Ekonomi dan Bisnis 3/6

Sebelumnya Selanjutnya
text

Lebih Terang, Lebih Hemat

Produsen ramai-ramai masuk ke bisnis lampu LED kelas rumah tangga. Irit setrum, tagihan listrik turun.

i

SEKILAS tidak ada yang berbeda dengan pencahayaan toilet di lobi Sheraton Mustika Yogyakarta Resort & Spa. Sorot putih lampu yang terpasang di plafon terasa terang-benderang ketika Tempo berkunjung ke hotel bintang lima itu, Rabu siang pekan lalu. Tapi juru bicara hotel, Khairul Anwar, memastikan lampu terang yang digunakan di ruangan tersebut memiliki daya rendah, cuma 5 watt. "Kami sudah pakai LED," katanya. Sebelumnya, manajemen hotel memasang lampu halogen berdaya besar.

Lampu light emitting diode (LED) kini memang sedang naik daun. Pada mulanya LED dipakai sebagai lampu indikator peralatan elektronik, seperti televisi, telepon seluler, dan komputer. Nyala dioda itu menginspirasi produsen untuk memproduksi lampu LED yang dipakai buat papan reklame atau nama perusahaan. Belakangan pabrikan elektronik memperluas penggunaan teknologi LED untuk layar televisi atau komputer dan lampu penerangan, termasuk lampu mobil.

Philips, produsen alat elektronik dan lampu asal Belanda, memperkenalkan lampu LED untuk rumah tangga di Indonesia pada akhir 2012. Sedangkan Panasonic, perusahaan elektronik dan lampu asal Jepang, meluncurkan produk serupa pertengahan Mei lalu. Merek lain juga memeriahkan pasar lampu LED Indonesia, seperti Osram (pabrikan asal Jerman), Krisbow, Zehn, dan Megaman.


Khairul menjelaskan, manajemen Hotel Sheraton berencana mengganti semua lampu pendar (neon) dan pijar (halogen) dengan LED. Perombakan ini dilakukan bertahap, sejak Desember 2012. Hingga saat ini, pengerjaan baru mencapai 16 persen. Dari 246 kamar yang ada, 40 unit di antaranya telah menggunakan lampu LED. Begitu pula pesawat televisi, diganti dari teknologi liquid crystal display (LCD) dengan LED 32 inci. Tujuannya menghemat setrum.

162406190698

Kamar yang telah hemat energi—berada di lantai dua—menjadi proyek percontohan di hotel grup Starwood Hotels and Resort Worldwide itu. Sejumlah hotel, perkantoran, pusat belanja, dan pabrik melakukan hal serupa. Kebetulan PT Philips Indonesia menawarkan program Turnkey Project and Services. Dalam program ini, Philips mengajak pengelola gedung bekerja sama mengaudit konsumsi energi dan menyusun strategi agar gedung menggunakan teknologi LED.

Ryan Tirta Yudhistira, Senior Marketing Manager Philips Lighting Commercial, menjelaskan, salah satu pasar yang diincar adalah segmen bisnis, seperti pusat belanja dan pabrik. Kelompok konsumen ini menyalakan lampu hingga 24 jam, sehingga kebutuhan lampu hemat listrik sangat tinggi. Masalahnya, manajemen kerap tidak bersedia mengeluarkan duit banyak untuk mengganti semua alat penerangan konvensional dengan teknologi LED.

Lampu LED memang jauh lebih mahal ketimbang lampu hemat energi konvensional, apalagi lampu pijar. Untuk tipe terkecil 5 watt, Philips membanderol Rp 59.900 per buah. Tapi di retail besar, pekan lalu, lampu tipe itu dijual Rp 64.900. Bandingkan dengan lampu hemat energi konvensional yang harganya hanya Rp 20-40 ribu. Sedangkan lampu pijar seharga Rp 5.000-10.000 per unit.

Untuk mengatasi kendala mahalnya harga, Philips Indonesia menawarkan pola kerja sama: biaya investasi lampu LED bisa dikompensasi dengan penghematan pascapenggantian. Misalnya pabrik saat ini memakai lampu biasa dengan tagihan listrik Rp 50 juta per bulan. Setelah bermigrasi ke LED, tagihan akan turun, katakanlah menjadi Rp 25 juta. Selisih pembayaran setrum itulah yang harus dibayarkan pengelola pabrik ke Philips sampai biaya penggantian lampu lunas. "Keuntungannya, pembayaran nyicil plus servis," kata Ryan.

Menurut dia, ratusan perusahaan telah bekerja sama dengan Philips dengan pola itu selama dua setengah tahun terakhir. Di Jakarta, proyek ini telah dijalankan antara lain di Hotel Mandarin Oriental di Jalan M.H. Thamrin, Hotel Pullman di Central Park, di bawah jalan layang di sepanjang Jalan Antasari, dan Monumen Nasional. Mal Margocity Depok juga bagian dari proyek LED Philips. Proyek lain: Jembatan Suramadu dan Jembatan Ampera di Palembang.

Kini Philips mulai menggenjot penjualan ke segmen rumah tangga. Promosi gencar dilakukan di berbagai media. Mereka juga menggarap toko-toko retail modern. Ryan menjelaskan, harga lampu LED kini turun drastis. Pada 2011, sebuah lampu LED dijual Rp 200 ribu. Tahun berikutnya turun menjadi Rp 90 ribu. Dan, tahun ini, harganya bisa dipotong lagi tinggal Rp 50 ribu. Makin tinggi volume penjualan, ujar Ryan, membuat biaya produksi makin ekonomis, sehingga harga bisa ditekan.

Panasonic tak ciut nyali. Wakil Direktur Utama PT Panasonic Gobel Indonesia Rinaldi Sjarif mengatakan, di pasar rumah tangga, semua produsen saat ini berada pada taraf introduction alias perkenalan. Sejauh ini belum ada perusahaan yang bisa mengklaim sebagai pemilik atau pencipta teknologi LED. "Di pasar Indonesia, tetangga memang lebih dulu. Tapi kami melihat ini sebagai tantangan di area ini."

Rinaldi juga optimistis ceruk bisnis lampu LED kelas rumah tangga masih menganga lebar. Meski tingkat kesadaran masyarakat beralih ke lampu hemat setrum ini masih rendah, potensi pasar sangat besar. Ia mengacu pada hasil survei beberapa lembaga bahwa proporsi kelompok usia produktif Indonesia sangat tinggi dan banyak orang naik kelas. Data pengeluaran pengguna kartu kredit menunjukkan bahwa mereka memanfaatkan 80 persen plafon pinjaman. "Daya beli meningkat dan inilah pasar kita," katanya.

Menurut Rinaldi, kini saat yang pas untuk mengedukasi publik. "Pemahaman orang tentang lampu LED saat ini: umur panjang, terang banget, harga mahal." Paradigma itulah, ujar Rinaldi, yang harus digeser perlahan. Konsumen harus diyakinkan bahwa mereka akan memetik keuntungan atas investasi mahal itu. Tagihan listrik akan lebih murah dan umur lampu lebih panjang.

Panasonic Indonesia menargetkan penjualan lampu LED sebanyak 200 ribu buah pada tahun ini. Tahun depan angka penjualan diharapkan naik dua kali lipat, seiring dengan meningkatnya pemahaman publik terhadap produk ini. Rinaldi merasa lebih pede karena Panasonic telah memproduksi lampu LED di dalam negeri. Perusahaan sudah membangun pabrik lampu di Pasuruan, Jawa Timur, pada 1996, tapi produknya diekspor. Baru pada 2010, Panasonic masuk ke pasar lampu hemat energi Tanah Air. Mereka tahun ini memasarkan jenis lampu LED di negeri sendiri.

Philips, kata Rinaldi, tidak ingin sikut-sikutan dengan produsen lain. "Yang perlu dilakukan adalah membangun pasar LED, bukan memangsa pasar produsen lain." Sekitar 20 tahun lalu, hal serupa dilakukan pemimpin pasar lampu di Indonesia ini ketika mengganti lampu pijar menjadi lampu hemat energi. Artinya, semua perusahaan harus bekerja ekstrakeras untuk memberi pemahaman kepada masyarakat akan pentingnya penghematan melalui lampu LED.

Penghematan pula yang hendak dicapai manajemen Hotel Sheraton. Menurut Assistant Chief Engineer Sumarsono, Hotel Sheraton memerlukan sekitar 6.000 buah lampu untuk menerangi seluruh ruangan. Dengan lampu konvensional, konsumsi listrik rata-rata 535.376 kilowatt-jam (kWh). Tagihan listriknya: Rp 553 juta per bulan. Migrasi itu diharapkan bisa menurunkan tagihan menjadi Rp 500 juta per bulan. "Listrik lebih hemat, ruangan tetap terang."

Retno Sulistyowati, Anang Zakaria (Yogyakarta)


Lampu LED Berbagai Merek

Philips

Tipe (watt)Setara (watt)Harga (Rp)Umur (jam)
54059.90015.000
76079.90015.000
86079.90015.000
107599.90015.000
1390129.90015.000
Panasonic
54059.90025.000
86079.90025.000
107599.90015.000
Krisbow
32599.000*50.000
760129.000*40.000
117099.90040.000
Osram
84063.00015
9,55091.00025

*) beli satu dapat dua unit
LED Tenaga Air

Lampu LED bertenaga air akan segera dipasarkan di Indonesia akhir Juni ini. PT Maritim Sentra Investama akan mendatangkannya dari Enterprise MSC Sdn Bhd. Perusahaan asal Kuala Lumpur, Malaysia, itu mulai memproduksi lampu ramah lingkungan tahun ini. Direktur Utama Maritim Anton Nursalim mengatakan lampu LED yang akan dilempar ke pasar Indonesia berdaya minimal 5 watt. Produk yang didesain berjangka waktu 40 ribu jam ini dibanderol Rp 350 ribu per unit.

Cara penggunaannya sederhana. Masukkan 200 mililiter air, lampu LED berdaya 5 watt bisa menyala selama 7 hari. Setelah itu, isi ulang menggunakan air mineral, sumur, hujan, sungai, danau, atau air laut. Garam atau cuka bisa ditambahkan supaya lampu lebih terang. Lampu sederhana ini cocok digunakan untuk perumahan yang belum terjangkau listrik PLN, nelayan, atau daerah perkebunan. Terutama di tempat darurat atau bencana yang infrastruktur listriknya rusak total.

Di Jepang, alat ini telah dirancang sejak tahun lalu oleh Green House Co Ltd. Bedanya, lampu bikinan Green House harus diisi dengan air dan garam. Siapkan 350 mililiter air, campur dengan 16 gram garam, dan aduk. Bisa juga menggunakan air laut. Kemudian masukkan larutan ke wadah pada lampu. Larutan akan berfungsi sebagai elektrolit, di dalam wadah, bersama batang magnesium sebagai elektroda negatif dan batang karbon sebagai elektroda positif.

RSc


Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=162406190698



Ekonomi dan Bisnis 3/6

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.