Ilmu dan Teknologi 1/1

Sebelumnya Selanjutnya
text

Gen Purba Orang Nias

Suku Nias mewarisi gen yang berkerabat dekat dengan penduduk Taiwan. Rumpun ketiga yang baru ditemukan.

i

Tulisan H.J.T. Bijlmer di jurnal Genetica terbitan 1943 membuat Mannis van Oven tak henti memikirkan Nias. Peneliti biologi molekuler asal Belanda itu terperenyak mengetahui sebagian besar penduduk Nias bergolongan darah O. Orang Nias seolah-olah berbeda sendiri dibanding etnis lain yang menempati Asia Tenggara.

Pikiran Van Oven bergerak liar. Pria 30 tahun itu curiga orang Nias memiliki sejarah yang melenceng ketimbang orang Indonesia pada umumnya. Kecurigaan menggiringnya membuat penelusuran darah Ono Niha—sebutan setempat untuk orang Nias.

"Kandungan genetik mereka bikin saya penasaran," ujar Van Oven dalam paparan ilmiahnya di Auditorium Lembaga Eijkman, Jakarta, pertengahan April lalu.


Sepuluh tahun adalah waktu yang ia butuhkan untuk sebuah penelitian menyeluruh. Sebanyak 407 sampel darah dikumpulkan dari Nias bagian selatan dan utara. Darah orang Nias dikirimkan ke Jerman untuk dilakukan ekstraksi asam deoksiribonukleat (DNA), lalu dibawa ke Rotterdam untuk dianalisis.

162366358649

Van Oven berfokus pada analisis DNA di dalam kromosom Y yang melacak garis keturunan ayah dan mitokondria untuk melacak garis keturunan ibu. Pelacakan bermuara pada haplogroup, pengelompokan manusia ke dalam klan atau marga purba berdasarkan marka genetik dengan pola unik yang disebut single-nucleotide polymorphism (SNP).

SNP merupakan perubahan kecil dalam DNA yang terjadi secara alami dari waktu ke waktu. Munculnya SNP pada satu generasi akan menjadi penanda garis keturunan unik yang diwariskan ke generasi selanjutnya. Inilah yang ditangkap oleh Van Oven untuk memetakan asal-usul suku Nias. "Manusia dari klan purba yang sama akan berbagi pola SNP yang sama," katanya.

Hasilnya sangat mengejutkan. Van Oven menemukan DNA Ono Niha miskin variasi. Hanya dua marka genetik kromosom Y yang ditemukan, yaitu O-M119 dan O-M110. Kedua penanda ini hanya ditemukan pada suku bangsa asli Taiwan yang memulai penyebaran ras Austronesia yang kini mengisi wilayah yang sangat luas dari Madagaskar, Asia Tenggara, Papua, hingga Easter Island.

"Genetik orang Nias mirip dengan rumpun Austronesia yang menghuni Taiwan 4.000-5.000 tahun lalu," ujarnya. Meski terpisah jarak 3.500 kilometer, menurut dia, Taiwan dan Nias diikat oleh pertalian darah.

Van Oven mengintip darah Karo dan Batak serta menemukan marka DNA yang lebih variatif. Bahkan kedua etnis yang terletak lebih dekat ke Nias ini tak memiliki dua marka genetik Nias. Perbandingan menggunakan 1.500 sampel dari 38 populasi dari Asia Timur, Asia Tenggara, Melanesia, Polinesia, dan Australia mengkonfirmasi keseragaman DNA Ono Niha.

"Suku Nias dipastikan membentuk populasi tersendiri, beda dengan daerah sekitarnya," kata Van Oven.

Simpulan ini didukung Profesor Herawaty Sudoyo. Lewat proyek penelitian Pan-Asian SNP Initiative, Deputi Lembaga Biologi Molekuler Eijkman ini memetakan DNA suku bangsa di Indonesia dan menemukan Indonesia tak hanya terdiri atas dua rumpun besar—Melayu di barat dan Papua di timur—tapi juga terdapat rumpun ketiga.

"Nias membentuk satu cluster dengan orang Mentawai dan Taiwan," ucap Herawaty kepada Tempo, dua pekan lalu. Herawaty berspekulasi orang Simeulue dan Enggano, termasuk penduduk deretan pulau paling barat, juga tergolong cluster ini.

Isolasi geografis menyebabkan keseragaman materi genetik orang Nias. Kultur perkawinan yang "eksklusif" turut memperparah kondisi ini. "Mereka kawin dengan sesama orang Nias sehingga materi genetik tidak menyebar," ujarnya. Suku bangsa di daerah lain di Indonesia menunjukkan tren materi genetik yang lebih beragam. Kondisi ini menandakan terjadinya efek penyempitan genetik (bottleneck event) dalam sejarah orang Nias.

Keunikan DNA suku Nias tak dapat dilepaskan dari aliran gen ke Nusantara. Van Oven mengatakan suku Nias mewarisi gen mereka dari orang Taiwan yang bermigrasi ke Indonesia lewat Filipina menuju Kalimantan dan Sulawesi—teori penyebaran Formosa (diambil dari nama Formosa, pulau di Selat Taiwan). Gelombang migrasi manusia modern ini sebenarnya dimulai dari Afrika. Gelombang ini sampai di Taiwan 6.000 tahun lalu. Proses aliran gen hingga mencapai Nias 1.000-2.000 tahun kemudian. Rute ini didukung bukti kemiripan DNA suku Nias dengan penduduk Filipina.

Bukti linguistik juga menguatkan hal ini. Li Niha, bahasa asli suku Nias, termasuk rumpun bahasa Austronesia. Pohon kekerabatan menunjukkan Li Niha sangat dekat dengan akar bahasa Austronesia dan tidak berkerabat dekat dengan bahasa etnis lain, misalnya Celebic, Flores-Lembata, dan Bima-Sumba. "Kalau bahasanya dekat, genetiknya juga selalu dekat," kata Herawaty. Sama halnya seperti kesamaan yang dijumpai pada bahasa dan budaya orang Madagaskar dengan suku Dayak di Kalimantan Tengah.

Arkeolog Badan Arkeologi Medan, Ketut Wiradyana, bisa menarik sejarah Nias hingga 12 ribu tahun lalu. Ketika itu, Nias didatangi manusia ras Austromelanesoid dari kebudayaan Hoabinh, yang biasanya bermukim di gua-gua Vietnam utara. Manusia awal yang menempati Nias ini memiliki tubuh besar, berkulit gelap, dan mempunyai tengkorak lonjong. Mereka menyusuri jalur barat melewati Thailand, Semenanjung Malaysia, dan menyeberang ke pantai timur Pulau Sumatera.

Manusia Austromelanesoid ini datang bergelombang dan hidup nomaden menyusur pantai timur ke arah utara, lalu berbelok ke selatan melewati pantai barat sampai akhirnya menyeberang ke Pulau Nias. Selama perjalanan, mereka memanen hasil laut dan menumpuknya di Banda Aceh, Aceh utara, Aceh timur, Langkat, sampai Bintan.

"Jejaknya berupa bukit kerang sisa makanan dan alat batu bernama sumatralith," ujar Ketut kepada Tempo, 22 Mei lalu. Artefak yang sama ditemukan di Gua Togi Ndrawa di Desa Lelewonu Niko'otano, Gunungsitoli, Nias.

Penduduk awal Nias kemudian terdesak oleh kedatangan manusia Austronesia yang datang dari Taiwan. Majunya peradaban manusia Austronesia menggeser eksistensi Austromelanesoid di Nias. "Budayanya lebih maju, sudah mengenal padi dan logam," kata Ketut.

Jalur kedatangan ditempuh melalui Filipina, Sulawesi, Kalimantan, lalu menyusuri pantai Sumatera. Peninggalan artefak manusia Austronesia tertua di Indonesia ditemukan di Minangas Sippako di Sulawesi Barat, yang umurnya diperkirakan 3.500 tahun lalu. Menurut Ketut, kedatangan orang Taiwan di Nias terjadi 600 tahun lalu—3,5 milenium lebih lambat ketimbang teori Van Oven. Bukti kedatangan ini ditemukan pada jejak peradaban megalitikum di Nias sekitar abad ke-15 dan menjadi nenek moyang bagi Ono Niha.

"Orang Nias sekarang menyebut leluhur mereka turun dari langit di Boronadu Gomo," ucap Ketut. Boronadu Gomo adalah daerah di Nias tengah. Manusia dari generasi yang lebih modern ini menempati kawasan di pantai Nias bagian selatan.

Pemuka masyarakat Nias, Waspada Wau, membenarkan anggapan bahwa kepercayaan leluhur dari langit. Leluhur Ono Niha turun pertama kali di daerah Gomo, yang terletak di tengah pulau. Di daerah ketinggian ini, mereka menetap dan mendirikan peradaban yang masih bisa dilihat sisanya hingga sekarang.

"Di Gomo banyak ditemukan menhir bikinan mereka," ujar Waspada kepada Tempo, dua pekan lalu.

Menurut dia, leluhur dari Gomo inilah yang kemudian turun ke berbagai daerah di Nias, termasuk kampung kelahirannya, Baweumataluo di Nias bagian selatan—yang terkenal dengan tradisi lompat batu. Orang Gomo sendiri tidak memiliki tradisi lompat batu.

Pertanyaan besar kini menggelayut di benak Herawaty. Penelitian yang ia lakukan pada dekade lalu menunjukkan penyebaran DNA orang Asia berasal dari peradaban yang terletak di Paparan Sunda, yang kini tenggelam. Karena itu, bisa saja Ono Niha merupakan leluhur orang Taiwan. "Bagaimana mereka bermigrasi, ini belum terjawab," katanya. Untuk menjawab ini, Herawaty turun ke Sulawesi dan Kalimantan untuk melacak jejak migrasi Austronesia.

Mahardika Satria Hadi, Anton William


Peta migrasi manusia modern
  • Eropa 50.000 tahun lalu
  • Asia Tengah 20.000-30.000 tahun lalu
  • Semenanjung Arab 72.000 tahun lalu
  • India
  • Madagaskar 1.000 tahun lalu
  • ~8.000 tahun lalu
  • Kepulauan Andaman
  • Nias 4.000-5.000 tahun lalu
  • 1.000 tahun lalu
  • Mentawai
  • Amerika 15.000 tahun lalu
  • Taiwan 6.000 tahun lalu
  • Austronesia Cikal-bakal manusia di Asia Tenggara, Papua Nugini, Madagaskar, dan Kepulauan Pasifik
  • Polinesia
  • Australia 50.000 tahun lalu

    Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=162366358649



  • Ilmu dan Teknologi 1/1

    Sebelumnya Selanjutnya

    Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

    4 artikel gratis setelah Register.