Nasional 7/7

Sebelumnya Selanjutnya
text

Ancaman Sembelih Pengantar Ganjar

PDI Perjuangan sukses mengantar Ganjar Pranowo sebagai Gubernur Jawa Tengah. Semua sumber daya dikerahkan, termasuk 17 kepala daerah di wilayah itu.

i

MEGAWATI Soekarnoputri menebar ancaman dalam rapat pemenangan calon Gubernur Jawa Tengah, awal bulan lalu. "Puan ini anak perempuan saya satu-satunya, bungsu, dan tentu sangat saya sayang," kata Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan itu, menunjuk Puan Maharani, yang juga hadir dalam pertemuan di Hotel Gumaya, Semarang, tersebut. "Tapi, jika tidak menang, akan saya sembelih dia."

Puan, Ketua Fraksi PDIP Dewan Perwakilan Rakyat, adalah ketua tim pemenangan Ganjar Pranowo-Heru Sudjatmoko, yang diajukan partai itu. Ganjar sempat kaget walau, menurut dia, beberapa hari sebelumnya ditanya Gubernur Jakarta Joko Widodo: "Ibu Mega sudah ngomong sembelih belum, Mas?"

"Sembelih" telah beberapa kali diucapkan Megawati. Pada 2008, ia menyampaikannya kepada Tjahjo Kumolo, sekretaris jenderal, yang ketika itu memimpin tim sukses Bibit Waluyo-Rustriningsih. Perkataan yang kurang-lebih sama dilontarkan Mega ketika menekankan perlunya kemenangan Joko Widodo di Jakarta.


Puan baru pertama kali memimpin tim pemenangan pada pemilihan gubernur. Timnya harus bekerja keras karena popularitas Ganjar pada November tahun lalu hanya tujuh persen, jauh di bawah Bibit Waluyo, yang kini dicalonkan Partai Demokrat. Puan meminta ibunya berkampanye di 11 dari 35 kabupaten atau kota di Jawa Tengah. Ia pun meminta Joko Widodo, yang popularitasnya makin melesat, agar mempromosikan Ganjar.

162405848945

Hasilnya, Ganjar menang hampir di seluruh pelosok Jawa Tengah. Berpasangan dengan Heru Sudjatmoko, ia unggul dalam pemungutan suara Ahad dua pekan lalu. Hitung cepat oleh Komisi Pemilihan Umum Daerah Jawa Tengah menyebutkan mereka memperoleh 48,25 persen suara, disusul Bibit Waluyo-Sudijono Sastroatmodjo dengan 30,59 persen dan Hadi Prabowo-Don Murdono 21,16 persen.

n n n

Masuk PDI Perjuangan pada 2003, Ganjar sudah dua periode menjadi anggota Dewan dari daerah pemilihan Jawa Tengah VII—terdiri atas Kebumen, Purbalingga, dan Banjarnegara. Menduduki jabatan Wakil Ketua Komisi Pemerintahan DPR, politikus 44 tahun ini tak begitu dikenal di Jawa Tengah.

Butuh kerja ekstrakeras memperkenalkan Ganjar-Heru. Mayoritas warga Jawa Tengah tinggal di pedesaan, tak mengenal mereka. Tiga bulan sebelum pemilihan, anggota tim pemenangan, Idham Sa­mawi, masuk kampung-kampung di kawasan Kedu. Kepada penduduk yang ia temui, Idham bertanya apakah mengenal Ganjar Pranowo, yang banyak dijawab dengan gelengan kepala. Kondisi ini tak berubah banyak hingga dua bulan menjelang pemilihan.

Kampanye pun berfokus pada upaya memperkenalkan Ganjar. Beruntungnya, kata Idham, Ganjar-Heru tak perlu banyak dipermak. Kesan bahwa mereka pasangan cerdas, santun, muda, dan ganteng, kata mantan Bupati Bantul, Yogyakarta, ini, sudah terlihat sejak awal.

Mesin partai pun cepat-cepat digerakkan dengan komando Puan Maharani. Ia membagi tim dalam enam wilayah eks karesidenan di Jawa Tengah. Di antaranya Kedu, Surakarta, Pati, Banyumas, dan Pekalongan. Setiap wilayah dipimpin "wakil komandan tempur", yakni anggota Dewan atau pengurus pusat partai itu.

"Beruntung kami punya modal cukup, 17 dari 35 kepala daerah di Jawa Tengah berasal dari PDIP," kata Idham. Mereka secara tak langsung cukup menggerakkan aktivitas di tiap karesidenan. Di situ pula ditempatkan dua anggota DPR dan tokoh lokal partai. "Tak ada kader yang ongkang-ongkang kaki," ujarnya.

Seluruh pekerjaan dievaluasi tiap hari. Tiap Selasa, seluruh perkembangan dilaporkan ke forum yang dipimpin Puan. Ia kerap mengingatkan ancaman ibunya. "Gimana nih kalau Jawa Tengah kalah? Saya bisa disembelih sama mama saya, lho," katanya. Kali lain, Puan menegur anggota tim sukses yang namanya masuk daftar calon legislator. "Mau nyaleg, ya? Tolong yang rajin. Kalau Pak Ganjar kalah, saya coret, lho."

Tim menargetkan, sebelum pencoblosan, peta dukungan Ganjar-Heru sudah bisa didapatkan, lengkap sampai lokasi yang berpotensi angka golput tinggi. Gerakan tim pesaing juga dilihat. Tim ini mendeteksi, wilayah yang lemah adalah pantai utara bagian barat, Kabupaten Wonosobo, Temanggung, dan Purworejo. Adapun basis terkuat pendukung Ganjar adalah Surakarta. Di daerah yang dinilai lemah, Mega atau Jokowi didatangkan pada saat kampanye.

Ada sepuluh kawasan yang dianggap lemah. Di kawasan ini, Mega dan Jokowi bergantian datang, dari Jepara, Kudus, Rembang, Blora, Sukoharjo, Semarang, Temanggung, Banyumas, Magelang, hingga Cilacap. Karakteristik daerah dan masyarakat juga dipetakan.

Di Solo, kampanye seperti itu tak dilakukan. Di daerah basis konstituen PDIP ini, digelar operasi senyap atau kampanye dari rumah ke rumah. Menurut Ketua PDIP Solo F.X. Hadi Rudyatmo, gerakan ini dilakukan agar citra PDIP lebih bersih dan memperkuat kesan terhadap pasangan. "Citra Ganjar-Heru itu santun. Kampanye terbuka suka berlanjut dengan konvoi, jadi banyak keluhan," ujarnya.

Bagaimana Ganjar dan Heru? Keduanya diminta blusukan ke kampung dan beragam komunitas untuk memperkenalkan diri. Ganjar bersama relawan menyambangi beragam tokoh masyarakat.

Polanya mirip dengan Jakarta. Kendali pucuk pimpinan tim dipegang orang PDIP, meski levelnya dewan pimpinan daerah. Di luar itu, ada gerakan komunitas dan para relawan. Hanya, wilayah Jawa Tengah lebih luas ketimbang Jakarta. Masyarakatnya pun lebih agraris. Ganjar juga tidak seterkenal Jokowi.

Karena itu, meski tim sebulan turun ke lapangan, dan survei internal menyatakan dukungan naik, hasilnya belum signifikan—masih jauh dari popularitas inkumben. Meski begitu, tim Ganjar tak kurang akal. Memakai paramotor, tim sukses Ganjar membagikan brosur via udara, yang dilakukan pada pagi hari sejak awal Mei hingga hari akhir kampanye. Brosur itu sukses dibagikan di 12 kota dan kabupaten, terutama di kawasan seperti Rembang, Grobogan, Jepara, Batang, Pekalongan, Pemalang, Brebes, dan daerah yang sulit terjangkau. Untuk memastikan sampai-tidaknya pesan melalui brosur, ada tim yang melakukan survei langsung.

Hasilnya cukup signifikan. Apalagi, berbarengan dengan itu, Ganjar-Heru mengikuti debat dengan kandidat lain di televisi. Beberapa hari kemudian, ketika Ganjar datang ke desa di pucuk bukit Temanggung, banyak penduduk mengenalinya: "Ini Pak Ganjar yang jadi cagub, ya? Saya nonton di TV. Jawabnya top," kata Ganjar menirukan ucapan penduduk.

n n n

Sadar bahwa popularitasnya kurang, Ganjar menyasar pemilih pemula. Ia memasang fotonya yang bergaya rock di media sosial. Ternyata usaha ini tidak disambut baik. Ganjar pun beralih ke radio. Ia menyewa satu segmen di radio lokal, lalu membuat siaran langsung musik rock. Dengan acara ini, ia berharap bisa lebih dikenal pemilih muda.

Ganjar juga datang ke kampus-kampus. Sejumlah kampus, diskusi mahasiswa, diskusi kegiatan ekstrakurikuler mahasiswa, dan aktivitas mahasiswa Cipayung dia kunjungi. Terakhir, tim Ganjar mengundang tokoh muda seperti Anies Baswedan dan penyanyi Ahmad Dhani dalam kampanye terbuka di Semarang. Mereka manggung dan membacakan testimoni tentang Ganjar.

Ganjar berduet dengan Dhani menyanyikan Munajat Cinta. Di panggung itu pula Mega bertepuk dan mengayunkan simbol metal ke para pendukung Ganjar. Banyak pengunjung merupakan anak sekolah menengah atas yang hendak memilih pertama kali. Dua hari sebelum pencoblosan, Ganjar sengaja menghampiri anak-anak SMA yang merayakan kelulusan di Simpang Lima, Semarang. Ketika ia membuka jendela mobil, mereka berteriak menge­nalinya. "Sejak itu, saya yakin akan menang," kata Ganjar.

Tak hanya menyasar pemilih pemula, tim Ganjar juga mengincar suara swing ­voter, yang jumlahnya sekitar 40 persen. Kepada mereka, Ganjar menawarkan sebelas program unggulan menuju "Jawa Tengah Sejahtera Berdikari" dan tagline "Mboten Korupsi, Mboten Ngapusi".

Agar propaganda Ganjar ini efektif, tim relawan menerbitkan buletin Info Pondok. Isinya aktivitas Ganjar dengan para kiai besar di Jawa Tengah, seperti A. Mustofa Bisri (Gus Mus), Ali Mufiz, dan Habib Syech. "Kami mendukung Ganjar karena dia muda dan seperti Jokowi," kata Fatah Muria, koordinator relawan.

Faktor Jokowi dan sentimen negatif terhadap Bibit Waluyo ternyata juga menyumbang kemenangan Ganjar. Bibit antara lain menyebut Jokowi "wali kota bodoh" ketika keduanya bersilang kata dalam proyek pembangunan mal di area bekas pabrik es Saripetojo, Solo.

Bibit hanya punya satu evaluasi: mesin partai pengusungnya tak jalan. Partai Demokrat, Golkar, dan Partai Amanat Nasional dinilainya tidak bergerak maksimal. Sebaliknya, partai pengusung justru menyalahkan Bibit. "Dia tak berkomunikasi dengan baik. Tak ada komunikasi. Partai jadi malas bekerja," ujar Ketua Golkar Jawa Tengah Wisnu Suhardono.

Ganjar menilai kemenangannya sebagai hasil kerja keras dan soliditas partai. Menurut dia, kemenangan sudah diperkirakan sepekan sebelum pemungutan suara. "Ketika itu, saya sudah mencium aroma kemenangan," katanya.

Widiarsi Agustina, Indra Wijaya (Jakarta), Rofiuddin (Semarang), Sohirin (Demak), Ahmad Rafiq (Solo)


Hasil Hitung Cepat Pemilihan Kepala Daerah Jawa Tengah 2013

Lembaga: Indonesia Research Centre

  • Hadi Prabowo-Don Murdono: 20,97%
  • Bibit Waluyo-Sudijono: 31,34%
  • Ganjar Pranowo-Heru Sudjatmoko: 47,69%

    Lembaga: Saiful Mujani Research and Consulting

  • Hadi Prabowo-Don Murdono: 19,92%
  • Bibit Waluyo-Sudijono: 30,15%
  • Ganjar Pranowo-Heru Sudjatmoko: 49,93%

    Lembaga: Lingkaran Survei Indonesia

  • Hadi Prabowo-Don Murdono: 20,56%
  • Bibit Waluyo-Sudijono: 30,11%
  • Ganjar Pranowo-Heru Sudjatmoko: 49,33%

    Lembaga: Indo Barometer

  • Hadi Prabowo-Don Murdono: 21,34%
  • Bibit Waluyo-Sudijono: 31,77%
  • Ganjar Pranowo-Heru Sudjatmoko: 46,88%

    Evan/PDAT Sumber (diolah): KPU, KPUD Jawa Tengah, Tempo


    Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=162405848945



  • Nasional 7/7

    Sebelumnya Selanjutnya

    Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

    4 artikel gratis setelah Register.