Nasional 5/7

Sebelumnya Selanjutnya
text

Jawa Tengah Itu Kandang Banteng

PADA November tahun lalu, Ganjar Pranowo tidak terlalu terkenal di Jawa Tengah. Popularitas anggota Dewan Perwakilan Rakyat dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan ini hanya sekitar tujuh persen, jauh di bawah Gubernur Bibit Waluyo dan Wakil Gubernur Rustriningsih. Karena itu, ketika teman-teman sefraksinya meminta dia menjadi calon gubernur provinsi tersebut, reaksi pertamanya, "Waduh."

Tapi Ganjar dan timnya cepat mengatasi ketertinggalan. Walhasil, bersama calon wakil gubernur Heru Sudjatmiko, ia memenangi pemilihan suara Ahad dua pekan lalu. Mereka unggul jauh atas pasangan Bibit Waluyo-Sudijono Sastroatmodjo dan Hadi Prabowo-Don Murdono. Kurang dari sepekan setelah kemenangan itu, Ganjar berkunjung ke kantor Tempo, Kamis pekan lalu. Banyak bercanda menggunakan bahasa Jawa, ia menceritakan jalan kemenangannya.

i

PADA November tahun lalu, Ganjar Pranowo tidak terlalu terkenal di Jawa Tengah. Popularitas anggota Dewan Perwakilan Rakyat dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan ini hanya sekitar tujuh persen, jauh di bawah Gubernur Bibit Waluyo dan Wakil Gubernur Rustriningsih. Karena itu, ketika teman-teman sefraksinya meminta dia menjadi calon gubernur provinsi tersebut, reaksi pertamanya, "Waduh."

Tapi Ganjar dan timnya cepat mengatasi ketertinggalan. Walhasil, bersama calon wakil gubernur Heru Sudjatmiko, ia memenangi pemilihan suara Ahad dua pekan lalu. Mereka unggul jauh atas pasangan Bibit Waluyo-Sudijono Sastroatmodjo dan Hadi Prabowo-Don Murdono. Kurang dari sepekan setelah kemenangan itu, Ganjar berkunjung ke kantor Tempo, Kamis pekan lalu. Banyak bercanda menggunakan bahasa Jawa, ia menceritakan jalan kemenangannya.

Apa yang Anda lakukan untuk memenangi pemilihan?

Sesudah mengembalikan formulir, saya minta teman-teman serius membicarakan strategi. Saya tanya siapa yang bakal jadi ketua tim pemenangan. Cornelis Lay (orang dekat Megawati Soekarnoputri) meminta saya memilih orang yang cocok. Saya pilih satu orang, tapi tidak disetujui karena karakternya keras. Pilih satu lagi juga tidak disetujui karena dianggap tidak dekat dengan media. Setelah berdiskusi, kami simpulkan di Jawa Tengah harus ada komando, tidak bisa demokratis. Akhirnya kami pilih Mbak Puan Maharani. Dewan pimpinan pusat setuju.

Puan berhasil memimpin?


Saya agak kaget dengan strategi Mbak Puan yang di luar dugaan. Dia langsung tanya berapa jumlah bupati dan wali kota dari PDIP. Ada 17 di Jawa Tengah. Dia bilang berarti ada 17 kabupaten dan kota yang harus kita menangi. Dirapatkan bentuk pendekatannya, dan ditetapkan basisnya adalah eks karesidenan. Ada enam di Jawa Tengah, dan pemimpinnya kami beri pangkat wakil komandan tempur. Mbak Puan sebagai komandannya.
162366397041

Kami pilih pemimpin-pemimpin eks karesidenan itu dari anggota DPR dan pengurus pusat. Tujuh belas bupati dan wali kota bekerja di bawah wakil komandan tempur. Mereka aktif dalam rapat mingguan.

Bagaimana membuat mereka bekerja?

Mbak Puan itu punya kelebihan, yakni darah Bung Karno. Di Jawa Tengah, napas PNI sangat kuat, dan mereka tahu siapa dia. Mbak Puan juga ketua dewan pimpinan pusat dan fraksi yang punya kekuatan penuh. Dia bertanya kepada tim, "Mau nyaleg, ya? Ya, sudah pada kerja yang rajin untuk Pak Ganjar. Kalau Pak Ganjar kalah, ya, saya coret."

Wah, mengancam?

Bukan, ini menguji loyalitas. Ini kan juga kesempatan bagi para caleg untuk turun ke daerah. Kalau tidak ada pemilihan gubernur, kader kami tidak akan turun dan kesempatan itu akan diambil partai lain. Maka langsung ditetapkan, di setiap poster, selain gambar saya dan Pak Heru, ada gambar caleg di bawah.

Apa tugas Anda?

Jalan-jalan ke komunitas. Kami punya tim untuk memetakan komunitas di 35 kota dan kabupaten. Target saya semua daerah itu saya kunjungi. Saya juga ketemu para kiai.

Dan popularitas Anda cepat naik?

Survei saya naik pelan-pelan, dan begitu masuk masa kampanye naik tajam. Beda dengan lawan, yang awalnya naik perlahan tapi di masa kampanye turun. Kami penasaran apa penyebab kenaikan popularitas saya. Ternyata faktor sosialisasi kader dan relawan sudah berjalan. Menarik, relawan yang dulu saya bentuk untuk memenangkan Jokowi di DKI Jakarta tiba-tiba datang ke Jawa Tengah, bikin posko dan jalan sendiri, lalu tinggal koordinasi.

Benar awalnya Anda pesimistis bisa melampaui inkumben?

Tidak. Bahkan, seminggu sebelum hari-H, atmosfer kemenangan sudah kami cium. Debat kandidat di televisi mendongkrak popularitas saya. Saya dapat bocoran dari tim lawan empat hari sebelum pemilu. Mereka bilang saya akan menang tiga persen. Saya senyum-senyum saja, karena survei kami menunjukkan kemenangan kami akan lebih dari itu.

Faktor dua kandidat lain yang tidak terlalu positif membantu kemenangan Anda?

Saya tidak tahu. Tapi saya rasakan masyarakat Jawa Tengah suka perubahan. Sepekan sebelum pemilihan, saya makin yakin menang karena banyak sekali yang memberi dukungan.

Memang ada sentimen dan problem komunikasi awal inkumben, dan saya juga gunakan kelemahan lawan itu. Semua orang saya ajak ngomong sederhana, dan mereka senang. Itu jadi nilai jual politik saya.

Tapi saya merasakan Jawa Tengah juga kandang banteng, dan itu bukan mitos. Terbukti pemilihan di tiga daerah di Jawa Tengah juga kami sikat habis. Mungkin karena momentumnya pas, di saat partai-partai lain diterpa masalah. Kalau tidak salah, survei kami saling salip dengan Golkar. Survei kami di Jawa Tengah naik pesat.

Siapa yang membiayai ongkos saksi?

Jika diperlukan dua saksi di setiap tempat pemungutan suara, butuh dana Rp 12-14 miliar. Kalau saya harus membayar, pakai duit siapa? Duit palsu juga tak bisa nyetak, he-he-he…. Akhirnya para wakil komandan tempur yang selesaikan. Mereka bilang ke kader-kader di bawah. Para caleg pun gotong-royong, masing-masing Rp 5-10 juta.

Ada pengusaha yang mendekati Anda?

Ada, dari awal. Tapi cuma basa-basi. Saya tanya bisa dukung berapa, mereka jawab tak bisa kalau duit. Lalu saya tanya lagi bisanya apa. Ya sudah, saya bilang cetak saja stiker dan sebarkan di komunitas masing-masing.

Di Jawa Tengah kan ada pengusaha kakap, seperti produsen rokok dan jamu....

Tidak satu pun mendekati saya.

Sebenarnya bagaimana hubungan Anda dengan Rustriningsih?

Setelah pemilihan, saya datangi Mas Hadi Prabowo, kemudian Pak Bibit, yang mengajak Bu Rustriningsih. Saya tanya, "Mbak Rustri sehat?" Beliau menjawab, "Alhamdulillah sehat, Mas." Sudah itu saja komunikasinya. Saya sebenarnya sudah berkali-kali SMS beliau. Ini saya tidak hapus SMS tanggal 6 Maret pukul 12.53, "Mbak, kapan saya bisa sowan?" SMS ini tidak pernah dibalas. Saya juga sudah minta empat senior bertemu dengan beliau, tapi tidak ada jawaban. Malah, ada berita di koran, Mbak Rustri bilang, "Saya tidak kenal Ganjar." Sampai sekarang saya tidak pernah ketemu empat mata dengan beliau.

Kenapa Heru Sudjatmiko ditunjuk jadi calon wakil Anda?

Saya awalnya tidak tahu. Ketika diumumkan saya calon gubernur dan Pak Heru calon wakilnya, saya kaget. Pak Heru itu tetangga saya di Purbalingga, jadi ini duo Purbalingga.

Kenapa Pak Heru? Sampai saat ini saya tidak tahu misteri ini. Saya coba cari informasi, katanya Mbak Megawati cuma bilang, "Saya pingin cari orang yang bersih."

Selain Pak Heru, siapa lagi nama yang sempat muncul?

Ada Ikmal Jaya Wali Kota Tegal. Dia ikut fit and proper dan berbagai tes bareng saya.

Memangnya apa yang ditanyakan sewaktu fit and proper test?

Yang ngetes Pak Idham Samawi dan Pak Nusyirwan. Tapi yang banyak tanya Nusyirwan. Saya bawa laptop dan siap dengan presentasi. Ternyata pertanyaannya, "Mas Ganjar siap?" Saya jawab, "Kalau partai sudah perintahkan, ya, saya siap."

Pak Idham tanya, "Apa komitmen Anda pada Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika, dan bagaimana kalau ada perda agama?" Saya jawab, "Yang mana perda soal agama itu? Ketika kita punya kesempatan untuk menginisiasi atau melakukan revisi, semestinya kita lakukan itu. Dalam tataran undang-undang kan sudah jelas." Lalu beliau jawab, "Oke, clear."

Lalu ditanya lagi, "Kalau Anda jadi wakil, siap tidak?" Saya bilang ambil formulirnya untuk calon gubernur dan menjawab, "Apakah ada pilihan jawaban? Kalau ada, saya pilih tidak mau. Tapi, kalau tidak ada, apa pun perintah partai saya siap. Bahkan, kalau saya tidak direkomendasikan, saya siap jadi juru kampanye." Mendengar jawaban saya, mereka tepuk tangan. Sudah, selesai.

Anda dipanggil Megawati?

Iya, enam kali. Saya cuma ditanya, "Kamu mau maju?" Saya jawab, "Iya, Bu. Kalau itu perintah ke saya, akan saya coba sebaik-baiknya." Lalu Bu Mega berkata, "Tapi jangan geer, ya. Saya mau kamu tunggu keputusan sampai ada tanda tangan saya." Saya jawab, "Siap, Bu." Lagi-lagi dia bilang, "Kamu bisa lho tidak saya rekomendasikan." Saya jawab lagi, "Siap." Terus dia bilang, "Ya sudah, kalau begitu kan enteng." Kami pakai bahasa Jawa.

Apa beda kemenangan PDIP di Jakarta dan Jawa Tengah?

Di Jakarta, personal branding Jokowi dominan. Dia jadi lokomotif penyedot masyarakat. Di Jakarta, posisi PDIP kan nomor empat. Di Jawa Tengah, soliditas partai sangat tinggi.

Jokowi membantu kemenangan Anda?

Jokowi jelas berkontribusi. Dia dirindukan. Mbak Mega mensolidkan partai dengan luar biasa. Kemudian Mbak Puan memimpin dengan tangan dingin.

Berapa uang yang Anda keluarkan?

Tidak banyak, paling 500 juta. Partai sudah bilang ke saya untuk tidak pikir atribut karena banyak yang sumbang. "Kamu pikir saja untuk keliling-keliling. Karena kamu sudah ikut iuran, artinya yang penting kamu bisa cukupi butuhmu sendiri saat kampanye." Partai sudah bilang tidak bisa beri bantuan ke saya langsung. Alhamdulillah, saya agak ringan.

Biaya iklan di televisi?

Itu partailah.

Menyumbang para kiai?

Cukup bawa gula-teh, kan saya cucu kiai, he-he-he....

Apa yang akan Anda lakukan setelah dilantik?

Juni-Juli ini saya siapkan blueprint untuk menyusun program. Tim ekonomi dan politik mulai minggu depan saya ajak rapat lagi. Untuk saat ini biar mereka istirahat dulu, ketemu anak-istri. Beberapa akademikus teman saya siap bantu. Makanya Juni ini saya minta selesaikan konsepnya, dan Juli saya minta diturunkan sampai sektor dan subsektor sehingga bisa digunakan untuk politik anggaran 2014. Saya sih pingin segera jalan-jalan untuk melihat permasalahan daerah.

Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=162366397041



Nasional 5/7

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.