Laporan Khusus 17/24

Sebelumnya Selanjutnya
text

Mencari Kebenaran, Bukan Kemenangan

Dunia advokat adalah dunia Yap. Dia mendirikan Lembaga Pembela HAM, Persatuan Advokat Indonesia, juga Lembaga Bantuan Hukum Indonesia. Ia membela siapa pun yang hak-haknya dicabik-cabik. Dari rakyat kecil yang rumahnya tergusur sampai tokoh Partai Komunis Indonesia, Seperti Soebandrio. Dia menyerukan pembebasan tahanan PKI. Pembelaannya adalah memburu kebenaran, bukan sekadar kemenangan.

i

Pembela Segala 'Umat'
Selain gigih membela hak asasi manusia, Yap bagian dari sedikit pengacara keturunan Cina yang tertarik menangani perkara pidana. Kliennya dari pemuja wangsit sampai bandit.

BERDIRI persis di samping kiri gedung Pengadilan Negeri Jakarta Pusat di Jalan Gajah Mada, bangunan dua lantai yang semula bernama Gedung Speed itu kini telah bersalin rupa menjadi kantor Bank CIMB Niaga. Empat puluh tiga tahun silam, Yap Thiam Hien merintis kantor pengacara di lantai 2 gedung itu. "Penghuninya saya, Om Yap, dan seorang pesuruh," kata Utama Wijaya, bekas asisten Yap, Kamis dua pekan lalu.

Utama menjadi asisten Yap sejak 1982 sampai Yap meninggal pada 25 April 1989. Sebelum ada Utama, Yap—kerap disapa John—bekerja sendiri di kantor itu. Salah satu tugas Utama adalah menyiapkan berkas pembelaan. Setelah itu, baru Yap mengoreksinya. "Ada 50 perkara yang ditangani selama saya bekerja dengan Om Yap," ujarnya.

Karena domain Yap hukum pidana, sebagian besar klien Yap adalah orang yang tersandung masalah pidana. Sisanya klien yang terbelit perkara perdata, dari perceraian hingga sengketa warisan. "Kasus perceraian banyak yang pro bono (gratis) karena kliennya banyak perempuan yang dianiaya," kata Utama.


Tak jarang, Yap juga menggratiskan biaya kliennya yang terbelit kasus pidana. Mereka antara lain orang miskin kota yang diduga menjadi korban rekayasa aparat hukum. Yap membela mereka, ujar Utama, karena kecintaannya membela hak asasi manusia.

162366248631

Utama masih mengingat kata-kata yang kerap disampaikan Yap kepada calon kliennya: "Jika Saudara hendak menang perkara, jangan pilih saya sebagai pengacara Anda, karena kita pasti akan kalah. Tapi, jika Saudara merasa cukup dan puas mengemukakan kebenaran Saudara, saya mau menjadi pembela Saudara."

Kalaupun Yap mengenakan fee atas jasa pengacaranya, Utama mengenang, tarif yang disodorkan jauh lebih murah ketimbang tarif kantor pengacara lain. Ia mencontohkan, ketika kantor pengacara lain mengenakan tarif Rp 40 juta per klien, biaya yang dikutip Yap hanya Rp 5-10 juta. "Klien yang datang ke Om Yap biasanya orang yang sudah mentok biayanya," kata Utama.

Selama Utama menjadi asisten Yap, bos­nya itu tak pernah menggandeng pengacara lain untuk menangani perkara. Tapi Utama juga mengatakan Yap pernah bercerita kepadanya bahwa sebelum dia masuk, Yap beberapa kali bermitra dengan pengacara lain. Ini terutama dilakukan jika Yap harus pergi lama ke luar negeri.

Albert Hasibuan, kini anggota Dewan Pertimbangan Presiden, mengaku menjadi salah satu pengacara yang pernah berkongsi dengan Yap. Tapi kerja sama itu hanya berlangsung setahun. "Yap itu pengacara unik. Masak, klien dimarah-marahi," ujar Albert.

Kisah lain diungkapkan Indonesianis asal Amerika Serikat, Daniel Lev. Dalam bukunya, No Concessions: The Life of Yap Thiam Hien, Lev menyebutkan ada sejumlah kasus penting yang ditangani Yap ketika berkantor di Gajah Mada. Salah satunya membela pegawai Departemen Pertanian, Sawito Kartowibowo, pada 1976.

Sawito dituduh hendak menggoyang Presiden Soeharto karena surat pernyataannya—yang diteken sejumlah tokoh nasional kala itu—menyebutkan agar Soeharto menyerahkan kekuasaan kepada bekas wakil presiden Mohammad Hatta. Pernyataan itu dibuat Sawito karena ia mengaku mendapat wangsit setelah bermeditasi di Gunung Muria, Jawa Tengah. Pengadilan menghukumnya delapan tahun penjara.

Yap memulai kariernya sebagai pengacara pada akhir 1949. Sertifikat pengacara dari Kementerian Hukum baru dikantongi Yap pada 11 Juli 1949, tak lama setelah ia menyelesaikan studi hukum di Universitas Leiden, Belanda.

Awal mula terjun sebagai pengacara, Yap menggandeng Oie Kian Hong atau John Karuin membuka kantor advokat pada awal 1950-an. Keduanya sama-sama kuliah di Belanda. Mereka membuka kantor di Glodok, Jakarta Barat. Kantor itu hanya cukup menampung dua meja. Karena Yap menganggap Karuin tidak berdisiplin dan tidak pernah memberikan kesempatan kepadanya untuk mencari klien, setahun berselang, Yap memilih hengkang.

Pada 1950, saat bergabung dengan Komisi Hukum Sin Ming Hui, Yap pernah membela seorang tukang kecap keliling di Pasar Baru, Jakarta Pusat. Tanpa alasan yang jelas, si tukang kecap ditangkap dan dipukuli sejumlah polisi. Yap mengadukan perlakuan itu kepada atasan para polisi. Pada saat bersamaan, mobil tahanan yang membawa tukang kecap datang. Kepala Polisi melihat tukang kecap yang kepalanya dibalut perban. Seketika itu juga polisi membebaskan tukang kecap tersebut.

Setelah itu, Yap hijrah ke kantor pengacara Lie Hwee Yoe. Di kantor ini juga bergabung pengacara terkemuka pada era itu, yakni Lie Kian Kim, Tan Po Goan, dan Oei Tjoe Tat. Posisi Yap saat itu junior lawyer. Di kantor pengacara ini, Yap mulai belajar menggaet klien. "Dari para pengacara terkemuka itu, Yap juga belajar berpolitik," tulis Lev.

Dalam bukunya, Lev mengisahkan, di kantor Lie, Yap juga mulai mengasah minatnya menangani perkara pidana. Padahal saat itu ia justru diberi tugas menangani perkara perdata. Di zaman itu, Yap menjadi bagian dari sedikit pengacara keturunan Cina yang mau menangani perkara pidana.

Pengacara senior Adnan Buyung Nasution juga mengenal Yap ketika masih bergabung di kantor Lie Hwee Yoe. Ketika itu, usia Yap 40 tahun, sedangkan Buyung masih 20 tahun. Pada akhir 1957 itu, Buyung masih menjadi jaksa di Pengadilan Negeri Istimewa Jakarta. "Yap itu advokat pejuang yang ngeyel dan kepala batu," ujar pengacara senior ini.

Nama Yap, kata Buyung, melambung setelah menangani kasus politik pertamanya, yakni membela bekas wakil perdana menteri Soebandrio, yang dituduh terlibat Gerakan 30 September 1965. Kendati antikomunis, Yap mau membela Soebandrio karena yakin dia tak bersalah. Tapi Mahkamah Militer Luar Biasa memutuskan lain. Soebandrio dihukum mati dalam sidang Mahkamah pada Desember 1966. Namun Yap tak kapok membela orang yang dituduh terlibat Gerakan 30 September.

Di mata Buyung, Yap juga advokat yang getol menyuarakan gerakan antikorupsi. Dua tahun setelah menangani kasus Soebandrio, Yap membela pengusaha bengkel yang mengaku diperas Kepala Kejaksaan Tinggi Jakarta dan Kepolisian Daerah Jakarta. Di persidangan, Yap dengan lantang meminta hakim menahan dua pejabat itu. "Yap lalu ditahan karena dianggap menyinggung polisi dan jaksa," katanya.

Ketika itu, Yap ditahan di rumah tahanan Kepolisian Pesing, Grogol, Jakarta Barat. Selama ditahan di sana, ia bertemu dengan sekelompok bandit dari Ujung Pandang, Sulawesi Selatan. Karena ketuanya bernama Taufik, mereka disebut Kelompok Taufik. Di dalam tahanan, mereka kerap melucu dengan berperan sebagai badut. Ini alasan Yap akhirnya dekat dengan mereka. Setelah tahu Yap advokat, Taufik meminta Yap membela mereka. Yap sempat tertawa mendengar permintaan itu karena dia juga sedang ditahan. "Saya mau kalau saya sudah lepas duluan,' ujar Yap seperti ditulis Lev.

Ternyata Yap cuma sepekan dibui. Enam bulan berselang, Yap kembali ke rumah tahanan itu. Ia memenuhi janjinya, kendati Kelompok Taufik akhirnya tetap divonis bersalah. Tak lama setelah itu, Yap membuka kantor pengacara sendiri di Jalan Gajah Mada.


Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=162366248631



Laporan Khusus 17/24

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.