Laporan Khusus 8/24

Sebelumnya Selanjutnya
text

Triple Minority yang Patriotik

Harry Tjan Silalahi, Peneliti senior CSIS

LAHIR di Aceh dan termasuk Golongan Timur Asing Tionghoa, sebelum Republik Indonesia di'proklamasikan, Pak Yap Thiam Hien adalah kawula Belanda (Nederlands onderdaan). Ketika Proklamasi dicetuskan pada 17 Agustus 1945, dia lantas melahirkan diri kembali menjadi orang/bangsa Indonesia dengan segala pergolakan dan prosesnya. Dalam menempuh jalan hidupnya, Pak Yap memantapkan diri sebagai pejuang hak asasi manusia yang gigih, penghayat yang tangguh, dan yakin akan asas negara hukum.

i

Harry Tjan Silalahi, Peneliti senior CSIS

LAHIR di Aceh dan termasuk Golongan Timur Asing Tionghoa, sebelum Republik Indonesia di'proklamasikan, Pak Yap Thiam Hien adalah kawula Belanda (Nederlands onderdaan). Ketika Proklamasi dicetuskan pada 17 Agustus 1945, dia lantas melahirkan diri kembali menjadi orang/bangsa Indonesia dengan segala pergolakan dan prosesnya. Dalam menempuh jalan hidupnya, Pak Yap memantapkan diri sebagai pejuang hak asasi manusia yang gigih, penghayat yang tangguh, dan yakin akan asas negara hukum.

Dengan menegakkan asas seperti ini, negara yang kita bangun ini akan mendapat peran dan kedudukan terhormat di dunia internasional, dan merupakan sarana utama untuk menciptakan masyarakat adil-makmur yang dicita-citakan para pendiri bangsa. Ketegasan dan kesetiaan Pak Yap terhadap pandangan hidupnya, menurut Profesor Daniel Lev (almarhum), penulis biografi beliau, karena iman kristiani dan asuhan dari neneknya, perempuan Jepang. Sebenarnya Pak Yap bukan "orang politik" seperti Siauw Giok Tjhan. Tapi, sebagai pemuka golongan Tionghoa pada 1950-an, Pak Yap terpanggil untuk turut menyelesaikan masalah keturunan Tionghoa dan kelompok minoritas pada umumnya agar cepat menyatu dalam tubuh bangsa Indonesia.

Pada 1950-an, nation building Indonesia yang masih belia itu menghadapi tantangan dan proses yang cukup rumit. Untuk minoritas—keturunan Tionghoa khususnya—agar mereka segera dapat menyatu dalam tubuh bangsa Indonesia.


Untuk itu, setidaknya ada tiga buah terapi. Terapi Badan Permusyawaratan Kewarganegaraan Indonesia (Baperki) dipimpin Siauw Giok Tjhan adalah jalan integrasi secara radikal dalam masyarakat Indonesia untuk menjadi masyarakat tanpa kelas ala negara komunis. Pak Yap tidak setuju karena paham komunisme tidak ia percayai. Ada teori asimilasi, pembauran di masyarakat antara mayoritas dan minoritas yang dipelopori Lembaga Pembinaan Kesatuan Bangsa (Kelompok 20). Usaha ini berlangsung secara sukarela dan berjalan dua arah.

162366286675

Pada saat itu, Pak Yap merasa terapi ini belum dapat secara tuntas dilaksanakan karena setidaknya elite mayoritas belum bisa menerima minoritas (Tionghoa). Karena itu, ia berpendapat yang terbaik adalah terapi penegakan hukum yang konsekuen dan penciptaan hukum/undang-undang yang anti terhadap diskriminasi rasial dan pelaksanaan HAM. Sebenarnya ini pun memerlukan waktu. Maka tidak mengherankan (atau justru sangat mengagetkan), meskipun Pak Yap anggota Fraksi Baperki di Konstituante, yang seharusnya pro kembali ke Undang-Undang Dasar 1945, ia dengan lantang menentang kembali ke UUD 1945. Alasannya: pencantuman HAM di UUD 1945 sumir/singkat/pendek, sedangkan UUD Sementara 1950 memuat HAM lebih lengkap.

Barangkali ini merupakan titik awal dari perbedaannya dengan tokoh-tokoh/pimpinan Baperki yang lain. Sampai Baperki dibubarkan pada 1966, dia tetap di dalam badan ini, kendati banyak tokoh pemula keluar dari Baperki karena tidak sependapat dengan ideologi politiknya yang sejalan dengan Partai Komunis Indonesia. Pak Yap tetap bertahan karena percaya bahwa dia bisa mengimbanginya dari dalam.

Perkembangan selanjutnya, masyarakat Indonesia makin matang dalam menghayati proses menjadi bangsa Indonesia—nation and character building Indonesia. Di sinilah dia mendapat tempat pengakuan. Nation and character building Indonesia mengejawantah di dalam diri Yap Thiam Hien.

Beberapa kejadian dapat saya catat menggambarkan keteguhan dan, kadang kala, puritanisme dalam perilaku politiknya. Pernah dia membela perkara di pengadilan dengan semangat menyala-nyala. Saksi lawan beperkara kliennya, seorang perwira polisi, dia serang secara tajam dan saksi itu merasa ini merupakan fitnah dan penghinaan. Selama diproses, Pak Yap disangka dan diisukan bagian dari Baperki yang PKI. Syukur, banyak kawan yang mengenalnya dan memberi kesaksian sebaliknya, seperti Abdul Kadir Besar, Wiratmo Sukito, Widyowati, dan Harjono Tjitrosoebeno, juga para pemuka mahasiswa, misalnya Albert Hasibuan, Soe Hok Djien, dan Soe Hok Gie.

Pada saat inilah timbul predikat tiga minoritas bagi Pak Yap: keturunan Tionghoa, Kristen, serta orang yang jujur dan berani (susah membela dia apabila beperkara). Tapi Mahkamah Agung masih terjangkau panji-panji kebenaran hukum dan keadilan yang hakiki: Yap Thiam Hien divonis bebas!

Ada contoh lain yang sederhana tapi menunjukkan keteguhan dan puritannya. Pada 1969, ada se­orang warga di Jakarta Selatan yang rumahnya diduduki oknum. Karena kebingungan dan ketakutan serta butuh tempat tinggal, dia melapor ke Komando Distrik Militer Jakarta Selatan. Laporannya dicatat dan diberi surat keterangan lapor. Melihat perkaranya tak kunjung selesai, dia meminta bantuan advokat yang tangguh: Yap Thiam Hien. Pak Yap sanggup membela, tapi meminta surat-surat dari Kodim itu dikembalikan karena Kodim bukan instansi yang mengurus soal perumahan. Tentu saja calon klien dari Jatinegara ini tambah bingung. Tidak diketahui apakah ia mengikuti nasihat Yap atau mencari advokat lain.

Dalam menegakkan hukum, terutama di pengadilan, Yap pantang mendekati kekuasaan, apalagi berkompromi. Satu peristiwa kliennya, seorang senior, beperkara perdata dan ditahan penguasa. Karena kejadian ini di luar Jakarta, dengan sangat terpaksa dia berkompromi meminta komandan dari yang menahan agar klien senior ini bisa dilepaskan dan proses hukumnya dapat berjalan. Tampaknya, setelah diketahui duduk soalnya, juga karena nama Yap, klien itu segera dikeluarkan dari tahanan.

Penampilan Pak Yap Thiam Hien di arena penegakan hukum tampak sewaktu membela Soebandrio di Mahkamah Militer Luar Biasa. Di arena Mahkamah, tampil Ali Said sebagai hakim, Durmawel sebagai jaksa, dan Yap sebagai pembela. Mereka adalah orang-orang yang tangkas dan cerdas. Soebandrio, terdakwa, pandai "menahan diri". Kalau jaksa dan hakim mencecar pertanyaan kepadanya, jawaban Pak Bandrio selalu menekankan bahwa ini semua melaksanakan perintah Pemimpin Besar Revolusi Presiden Sukarno. Lalu penanya menghardik, mengapa sebagai wakil perdana menteri dan sarjana Soebandrio selalu bersembunyi di belakang Presiden dan tidak punya pendapat sendiri atau memberi nasihat yang lain? Tentu pertanyaan ini tak bisa dijawab. Tapi, pada sidang berikutnya, pembela membawa setumpuk harian Sinar Harapan dan kliping surat kabar, dibacakan betapa hampir semua penjabat tinggi, menteri, sipil dan militer, serta yang bergelar sarjana menyatakan siap menjalankan perintah Pemimpin Besar Revolusi. Bagaimana ini? Hakim menghentikan pembacaan kliping-kliping surat kabar itu dan minta diserahkan saja kepada majelis hakim.

Pak Yap telah menunjukkan tindakan tegasnya in optima forma, pantas menjadi tauladan pelaku hukum di masa kini. Maka sungguh terpuji dan tepat sekali bahwa generasi penerus Pak Yap, seperti Dr Todung Mulya Lubis, mendirikan Yayasan Yap Thiam Hien, yang memberikan penghargaan bagi mereka yang berjuang demi keadilan, hak asasi manusia, dan kemanusiaan. Dalam upacara kebaktian melepas jenazah Pak Yap, T.B. Simatupang menyampaikan sambutan penghormatannya dengan mengutip Injil Yohanes 17:16 dan menarik padanannya: "Mereka bukan dari dunia, sama seperti Aku bukan dari dunia." Yap memang di dunia ini, tapi bukan dari dunia ini. Maka Pak Yap, yang berpredikat Triple Minority, ternyata seorang patriot Indonesia berdiri di atas dasar Pancasila.


Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=162366286675



Laporan Khusus 8/24

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.