Laporan Khusus 11/24

Sebelumnya Selanjutnya
text

Teguh Membela Terdakwa Anti-Cina

Yap pernah membela terdakwa peledakan bom BCA. Tetap profesional meski kliennya seorang yang dikenal anti-Cina.

i

KETEGANGAN di salah satu ruang sidang Pengadilan Negeri Jakarta Barat, Kamis, 9 Mei 1985, seketika memudar ketika hakim ketua A. Halim Massali meng'akhiri pembacaan putusan. Duduk di kursi terdakwa, Rachmat Basoeki, yang sejak persidangan dimulai tampak berulang kali mengoleskan minyak angin ke hidung, tengkuk, dan dahinya, langsung sumringah. Hakim hanya menghukumnya 17 tahun penjara, lebih ringan daripada tuntutan mati yang diajukan jaksa.

Tak hanya Basoeki yang merasa lega dan seketika mengucap syukur. Wajah tim pembela, antara lain Yap Thiam Hien, H.M. Dault, Mas Achmad Santosa, dan Erman Umar, juga berseri-seri. Yap sebagai ketua tim bahkan mengacungkan jempol tangan kanannya sambil menutupinya dengan telapak tangan kiri ke arah majelis hakim. Dia tak mengira kliennya bakal selamat. 'Saya kira tadinya hukuman mati,' kata Yap seperti ditulis Tempo empat hari setelah pembacaan putusan.

Yap pantas khawatir. Kasus Basoeki tergolong berat. Dia didakwa terlibat dalam kasus peledakan kantor cabang BCA di Jalan Gajah Mada dan Pecenongan serta pusat pertokoan Jembatan Metro Glodok, Jakarta Barat, pada 4 Oktober 1984. Dua korban tewas dan sedikitnya empat lainnya terluka akibat rentetan pengeboman yang terjadi hanya dalam waktu kurang dari satu jam tersebut.


Basoeki terbukti melakukan tindakan subversif bermotif politis karena ikut merencanakan dan menyediakan dana Rp 500 ribu untuk membeli bahan peledak. Dia memang tak sendirian dalam kasus ini. Ada sepuluh terdakwa lain yang disidangkan secara terpisah. Mereka adalah M. Sanusi, M. Tashrif Tuasikal, Eddy Ramli, Hasnul Arifin, Amir Wijaya, M. Zayadi, Meltha Halim, M. Umar Alkatiri, Robby Permana Pantow, dan Khaerul Syah. Belakangan Sanusi, Menteri Perindustrian pada 1960-an, dinyatakan tak bersalah dan namanya direhabilitasi pada Agustus 1998.

162366214040

Sebulan sebelumnya, suhu politik di Jakarta memanas setelah terjadi bentrokan antara tentara dan massa di Jalan Laksamana Yos Sudarso, Tanjung Priok, Jakarta Utara. Massa pimpinan Ustad Amir Biki turun ke jalan menuntut pembebasan empat rekan mereka yang beberapa hari sebelumnya ditahan dalam insiden pembakaran sepeda motor Sersan Satu Hermanu, Bintara Pembina Desa Kelurahan Koja Selatan, Jakarta Utara. Kemarahan warga tersebut dipicu oleh aksi Hermanu mencopot dan melumuri poster-poster yang diduga bermuatan SARA di tembok Musala Assa'adah dengan air got.

Bentrokan di Jalan Laksamana Yos Sudarso berakhir dengan puluhan korban jiwa—bahkan banyak yang meyakini ratusan orang tewas dalam kasus yang sampai saat ini belum jelas terungkap itu—akibat tembakan aparat. Amir Biki termasuk yang tewas. Peristiwa yang kini dikenal dengan sebutan Tragedi Tanjung Priok inilah yang kemudian memicu aksi balas dendam Tashrif dan kawan-kawan.

Semula Tashrif mengajak Basoeki untuk "menindaklanjuti" kasus Priok dengan meledakkan Depot Pertamina di Plumpang, Perumtel, dan Proyek Air Minum Jakarta. Namun Basoeki menolak rencana tersebut dan menyarankan Tashrif cs meledakkan kantor-kantor BCA yang dianggapnya sebagai simbol kekuasaan bangsa Cina terhadap perekonomian Indonesia. Bank yang ketika itu mendominasi bank swasta nasional dengan aset lebih dari Rp 413 miliar tersebut didirikan konglomerat Liem Sioe Liong.

Pada waktu itu Basoeki memang dikenal anti-Cina. Empat tahun sebelum peristiwa Priok, dia menyerukan pernyataan "pribumi menjadi tuan di negeri ini" ketika diadili dalam kasus peristiwa 20 Maret 1978—unjuk rasa yang diwarnai pembakaran dan peledakan bom molotov untuk mengganggu Sidang Umum Majelis Permusyawaratan Rakyat.

Di sinilah persidangan Basoeki menjadi sangat menarik. Yap, pembela Basoeki, keturunan Tionghoa. Pengacara senior Adnan Buyung Nasution menceritakan, sebelum dia dan tim pembela dari Lembaga Bantuan Hukum dibentuk untuk membela para terdakwa kasus pasca-tragedi Priok, telah dibentuk tim pengacara yang berisi para mubalig. Adnan kemudian merombak tim tersebut dan mencantumkan Yap di dalam tim baru bentukan LBH.

Dalam buku No Concessions: The Life of Yap Thiam Hien, Daniel S. Lev menyebutkan kehadiran Yap yang non-muslim semula memang ditolak para terdakwa kasus peledakan BCA. Mereka berharap dibela oleh para ustad. Namun belakangan mereka menerima Yap setelah diyakinkan LBH, yang memang mengurus pembelaan kasus ini.

Yap mengaku sempat ditanya beberapa koleganya soal mengapa ia bersedia membela terdakwa yang telah mengakui terlibat dalam kasus pengeboman BCA. Bagi Yap, ada kepentingan luas di balik kasus tersebut. "Kami ingin memastikan bahwa orang yang telah mengakui perbuatannya diberikan hak penuh di pengadilan," ucapnya. "Hal umum inilah yang kami, para pengacara, perjuangkan untuk kepentingan yang lebih luas."

Dalam perbincangannya dengan Lev, Yap juga mengatakan tak pernah merasa dipandang sebagai pengacara keturunan Tionghoa oleh klien-kliennya. "Mereka hanya melihat performa saya sebagai seorang advokat. Bagaimana bisa seperti itu? Saya sendiri tidak tahu," ujarnya. "Saya tak pernah merasa minder hanya karena mereka warga pribumi. Mungkin karena saya seorang demokratik atau egalitarian."

Profesionalitas Yap diakui Ida Basoeki, istri Rachmat Basoeki, yang selama sebulan persidangan suaminya selalu duduk di barisan terdepan bangku pengunjung. Meski suaminya dikenal anti-Cina, kata Ida, Yap sama sekali tak mengendurkan semangat dalam pembelaannya. "Dia sama sekali tak menunjukkan rasa benci kepada Bapak (Basoeki). Pak Yap tetap berkomitmen membelanya," ujar Ida saat ditemui Tempo di rumahnya di Jalan Praja Dalam, Jakarta Selatan, Selasa tiga pekan lalu.

Bahkan Basoeki, yang pada akhir April lalu meninggal akibat stroke, pernah menulis dalam sebuah surat elektronik bertajuk "Memahami Hoakiau", mengatakan tak semua keturunan Tionghoa merugikan. Salah satunya, kata dia, "Yap Thiam Hien, yang berani menegakkan keadilan hukum di Indonesia."


Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=162366214040



Laporan Khusus 11/24

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.