Film 3/3

Sebelumnya Selanjutnya
text

Anjungan Sunyi di Cannes

Tahun ini Indonesia punya paviliun di Festival Film Cannes. Masih belum terurus.

i

Anjungan itu kira-kira sama besarnya dengan anjungan di pameran buku tahunan di Senayan. Luasnya cukup untuk menampung dua perangkat meja-kursi kecil serta sebuah bufet bertingkat berisi televisi dan pemutar video. Dindingnya penuh poster film Indonesia, termasuk film Soekarno, yang sedang digarap Hanung Bramantyo, dan Sang Kiai karya Rako Prijanto.

Yang jelas menunjukkan ini anjungan Indonesia adalah nama Indonesia yang terpampang di depannya dan sebuah etalase yang di atasnya dipasangi wayang golek Sunda. Di dekatnya ada sebuah rak berisi katalog film Indonesia, beberapa flyer film, serta cendera mata berupa wayang kulit mini, dodol, dan kacang asin.

Tahun ini Indonesia kembali membuka sebuah anjungan kecil di Palais des Festivals, tempat bursa khusus perfilman di Festival Film Cannes, yang berlangsung dua pekan lalu di Cannes, Prancis. Selain itu, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif membuka sebuah paviliun di Village International di tepi pantai Croisette. Paviliun berupa tenda putih itu khusus untuk menjajakan lokasi syuting film.


John Badalu, mantan Direktur Q! Film Festival, yang merintis dibukanya anjungan Indonesia di Cannes pada 2006, gembira dengan dibukanya paviliun itu. "Ini merupakan kemajuan besar. Ini memberi sinyal kepada publik film internasional mengenai kesungguhan kita," kata Badalu, yang dijuluki "raja festival film" karena perjalanan tiada hentinya dari festival ke festival di seluruh dunia.

1624063046100

Sayang, kehadiran anjungan Indonesia yang menelan anggaran Rp 2 miliar itu tampaknya tak terlalu diminati. Kedua anjungan tersebut sepi. Saban hari hanya satu-dua orang yang datang untuk bertanya tentang perfilman Indonesia. Mereka kadang dilayani wakil Persatuan Produser Film Indonesia, Kementerian Pariwisata, atau Konsul Jenderal Indonesia di Marseilles. Bahkan anjungan itu kadang dibiarkan melompong tanpa penjaga. Anjungan Indonesia memang terkesan pasif, hanya menunggu orang mampir. Bandingkan dengan anjungan negara lain yang selalu ramai dengan beragam kegiatan, dari diskusi hingga pemutaran film.

Anjungan itu juga kadang keliru memberi informasi. Papan pengumuman resmi di paviliun Indonesia, misalnya, mencantumkan bahwa Sang Penari karya Ifa Isfansyah masuk Official Senior Competition. Ini informasi yang menyesatkan, karena tak satu pun film Indonesia tahun ini masuk kompetisi festival dan tak ada pula yang namanya kompetisi senior.

Film Indonesia yang hadir di sana adalah Sang Penari dan Rectoverso, film omnibus karya Olga Lydia, Happy Salma, Marcella Zalianty, Cathy Sharon, dan Rachel Mar­yam. Tapi keduanya diputar di Cannes Cinephiles, festival yang paralel dengan Festival Cannes. Dua film itu masuk subprogram Cinema des Antipodes, yang biasanya menampilkan film Australia dan Selandia Baru. Sang Penari ditampilkan pertama kali dalam program Ecran Senior, yakni pemutaran khusus untuk warga sepuh Cannes.

Cokorda Istri Dewi, Staf Khusus Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Bidang Perencanaan dan Program, mengakui berbagai masalah itu. "Banyak sekali kelemahan kami memang, terutama soal sumber daya manusia," ujarnya. "Makanya kami akan terus melakukan pertemuan dengan banyak pihak dan mengevaluasi kerja kami agar nantinya kehadiran kami di Cannes ini tidak dingin-dingin saja."

Ging Ginanjar (Cannes), Kurniawan


Kisah Sampang dari Malaysia

SATU-satunya film Indonesia yang tercatat secara resmi diputar di Festival Film Cannes pekan lalu bukanlah produksi Indonesia, bukan pula karya orang Indonesia, melainkan sebuah film pendek HOMmE karya sutradara Malaysia yang bermukim di Inggris, Nusrat Howard-Moore.Film itu tercatat sebagai film Indonesia-Malaysia di katalog seksi film pendek nonkompetisi Cannes Court Metrage.

Di program ini sebetulnya masih ada satu film pendek lagi karya sutradara Indonesia, Roland Wiryawan. Judulnya Would Be. Tapi film itu secara resmi digolongkan sebagai film Amerika Serikat karena dibuat di Amerika dan para awak produksinya semua tinggal di sana. Roland adalah mahasiswa jurusan film di Los Angeles.

HOMmE disebut film Indonesia-Malaysia karena ceritanya tentang perkawinan dini pasangan muda santri Sampang, Madura. Bagaimana calon mempelai perempuan itu membayangkan sosok pengantin lelakinya dan prosesi perkawinannya. Dengan perpindahan gambar yang lincah dan kaya, film fiksi sepanjang tiga menit ini menjadi sebuah refleksi antropologis yang bersahaja.

Nusrat membuat film ini tak sengaja. Tatkala ingin meneliti masalah kekerasan yang dialami minoritas Syiah di Sampang, dia seperahu dengan sebuah rombongan santri yang dipimpin seorang kiai. Ternyata itu rombongan calon mempelai perempuan. "Dalam percakapan sepanjang jalan, Pak Kiai menunjukkan kebenciannya yang begitu dalam terhadap kaum Syiah. Begitu menakutkan," kata Nusrat.

Akhirnya Nusrat mengikuti rombongan itu dan menyaksikan perkawinannya. Lalu ia mengambil gambar-gambar tambahan dan memberi bingkai plot. "Tapi, intinya, saya ingin menyampaikan solidaritas terhadap mereka yang jadi korban," ujar perempuan sutradara itu. "Saya mendaftarkan film ini sebagai film Indonesia-Malaysia, ya, karena lokasinya, para tokohnya, semua Indonesia. Juga persoalannya."

Adapun Would Be karya Roland yang berdurasi tiga menit itu membahas isu rasisme: hubungan indah seorang bocah lelaki kulit hitam dengan seorang bocah cewek kulit putih. Persahabatan itu bangkit secara alamiah, murni, tanpa praduga, dan tanpa pretensi, sebelum muncul manusia dewasa.

Would Be adalah film yang mengalir asyik. Dari segi penutur­an, film ini sangat linear. Kekuatan utamanya terletak pada visualnya: gambar-gambar yang cantik, warna-warna yang kaya perlambangan, serta komposisi dan sudut pengambilan gambar yang indah.

Roland tertarik pada isu rasisme karena dia keturunan Cina di Indonesia. "Rasisme itu pengalaman sehari-hari saya di Indonesia. Dan, rasanya, begitu banyak pendidikan untuk menghapus rasisme justru malah terus memperkuatnya," ucapnya.

Karya Roland sebelumnya, Lee, juga berbicara tentang minoritas lain: kaum transgender. Isinya tentang seorang pendekar di sebuah perguruan silat di Cina yang hidup di dunia nyata. Di luar dia harus tampak gagah sebagai pendekar, tapi di dalam jiwanya adalah seorang perempuan lembut yang terpenjara dalam tubuh lelaki.

Ging


Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=1624063046100



Film 3/3

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.