Laporan Khusus 2/24

Sebelumnya Selanjutnya
text

'Hidup-Mati'-nya Yap Thiam Hien

Zainal Arifin Mochtar, Pengajar Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada dan Ketua Pusat Kajian Anti Korupsi UGM, Yogyakarta

DALAM sebuah training kandidat pengacara, ruangan hampir penuh oleh calon pengacara muda. Ada 33 wajah serius yang menjadi makin serius ketika ditanya soal nama Yap Thiam Hien. Semua terdiam, meski sesekali berbisik di antara mereka, tidak ada satu pun yang mampu menjawab dengan detail. Beberapa di antaranya menyebutkan soal nama penghargaan yang dianugerahkan setiap tahun, Yap Thiam Hien Award. Titik, tak banyak lagi yang bisa didengar dari para kandidat advokat ini soal Yap Thiam Hien selain gumaman yang tak terdengar jelas.

i

Zainal Arifin Mochtar, Pengajar Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada dan Ketua Pusat Kajian Anti Korupsi UGM, Yogyakarta

DALAM sebuah training kandidat pengacara, ruangan hampir penuh oleh calon pengacara muda. Ada 33 wajah serius yang menjadi makin serius ketika ditanya soal nama Yap Thiam Hien. Semua terdiam, meski sesekali berbisik di antara mereka, tidak ada satu pun yang mampu menjawab dengan detail. Beberapa di antaranya menyebutkan soal nama penghargaan yang dianugerahkan setiap tahun, Yap Thiam Hien Award. Titik, tak banyak lagi yang bisa didengar dari para kandidat advokat ini soal Yap Thiam Hien selain gumaman yang tak terdengar jelas.

Kelihatannya itulah yang anakronistik atas Yap Thiam Hien. Nama Yap sesungguhnya sangat harum, tapi ternyata mungkin pada segmen tertentu. Di kalangan aktivis prodemokrasi, khususnya hak asasi manusia, ia menjadi ikon. Posisi, cara pandang, dan kiprahnya adalah jaminan yang dikenang. Sayangnya, Yap jarang dijadikan panutan bagi generasi baru para advokat. Mungkin inilah penyebab dasar namanya lebih dijadikan sebagai penghargaan HAM dibanding penghargaan perihal kepengacaraan.


Mengapa? Tak jelas. Bisa jadi karena perannya sebagai oposisi sejati—posisi yang hampir selalu disandang sepanjang hayatnya. Intinya, hal yang lahir dan punya korelasi dari warisan cara pandang rezim tuna-sejarah tidak hanya secara ideologis, tapi juga dituangkan dalam potret corak kehidupan pembelajaran yang minim nilai. Jika dibaca detail, tidak banyak porsi yang diberikan kepada sosok dan keberpihakan orang semacam Yap Thiam Hien. Sepertinya, bagi para pengacara, ia menjadi catatan kaki yang sangat menentukan, tapi tidak mencolok.

162406561138

Hal itu bisa jadi juga disebabkan oleh polah pengacara yang "menutup hidung" untuk semerbak namanya. Secara bersama-sama para pekerja hukum inilah yang mengantarnya ke kematian kedua. Kita semua paham, tubuh Yap Thiam Hien menjadi ringkih dalam tekanan kerja yang dicintainya sebagai pengacara. Ia mati dalam kerja dan keyakinan yang dalam selaku advokat yang memperjuangkan kebenaran. Dengan kematiannya, tentu saja sudah menjadi tubuh yang menyatu dengan tanah. Namun, tanpa sadar, generasi ini kembali membunuhnya. Paling tidak, para pengacara sekarang terlihat berlomba-lomba membunuh nilai yang ia perjuangkan.

Lihat saja pendidikan advokat yang saat ini jauh lebih memperhatikan skill dibanding nilai. Silakan membaca detail kurikulum pendidikan advokat. Silabus yang penat dengan pengukuran skill terpampang panjang dan lebar, tapi sangat alpa pada nilai, contoh, dan cara pandang. Kurikulum yang seakan-akan menempatkan advokat hanyalah kerjaan teknis pola hubungan antara pengacara dan klien. Permintaan klien adalah sabda yang harus dipenuhi. Pengacaralah yang mencari alat teknis dan dalilnya. Semudah itu. Pragmatisme mendorong pengacara yang kemudian menghalalkan segala cara untuk memuaskan keinginan klien.

Tentang ini, mudah untuk melihat betapa pengacara sering kali menjadi penyumbang besar proses koruptif. Ia menjadi penyedia jalan bagi kemungkinan berbagai proses miring dalam penegakan hukum. Suap dan mengatur perkara adalah jalan yang paling cepat menyelesaikan keinginan klien, meski tidak tepat dan taat pada aturan hukum. Catatan yang tersedia memperlihatkan unsur penting penegakan hukum ini bersalin rupa menjadi mafia penghancur proses hukum. Sangat banyak kasus yang bisa dipakai untuk menjelaskan peran pengacara sebagai mafia, nyata dan tanpa keraguan. Advokat sering kali jadi bagian dari masalah ketimbang solusi.

Harus diingat, Yap hidup di saat belum ada kewajiban bagi para advokat untuk melakukan pendampingan pro bono. Tapi hampir semua kasus yang ia tangani adalah kasus besar dengan model yang nyaris pro bono. Di situlah ia hidup dengan segala keterbatasan membangun sebuah kantor kecil yang kemudian menjadi ternama. Uang adalah tujuan yang tak dikedepankan dan karenanya tak kunjung datang. Tapi pendirian membuatnya bertahan. Dasar yang menjadi semangat dalam membela para pedagang di Pasar Senen yang tempat usahanya tergusur oleh pemilik gedung. Belum terhitung lagi kasus Malari dan Tanjung Priok dalam biografi kepengacaraannya.

Pada saat yang sama, coba bandingkan dengan gaya pengacara sekarang yang penuh tren gaya hedonis. Dan hal itu dipertunjukkan dengan gagah, seakan-akan itulah makna hidup panutan yang harus dituju sebagai pengacara. Uang menjadi incaran yang dibungkus dengan kata-kata ingin menegakkan hukum. Hal yang tentunya agak mustahil ketika dilakukan secara pro bono. Tentu saja masih ada yang pro bono ketika hal itu bagian dari kewajiban profesi dalam peraturan dan tidak lagi dari keinginan memihak publik.

Makanya, dalam jamak pengacara yang mengakui, meski ada di undang-undang, bahkan dituangkan dalam bentuk peraturan pemerintah dan aturan internal organisasi advokat, tetap saja tidak tersedia atensi yang tinggi dari para advokat untuk mewakafkan waktunya dalam bentuk kerja pro bono.

Jangan lupakan, Yap juga bekerja dengan serangkaian alasan ideologis. Ia tak memilih dalam pembelaannya, meski berseberangan diametral dengan cara pandang orang yang dibelanya. Namun lagi-lagi pilihan dasarnya adalah kasus cara pandang dan bukan karena dana. Yap, yang dikenal sebagai pengkritik komunisme, memilih membela para tersangka kasus politik, seperti Abdul Latief, Asep Suryawan, dan Oei Tjoe Tat. Saat itu, bahkan melalui Lembaga Pembela Hak-hak Asasi Manusia dan sebagai wakil Amnesty International di Indonesia, Ia meminta supaya para tahanan politik Partai Komunis Indonesia dibebaskan. Daniel Lev menuliskan soal keyakinan yang dipegang teguh oleh Yap bahwa "nilai penyelamatan jauh lebih penting daripada dendam".

Terkadang para pengacara kini juga melakukan hal yang "kelihatannya" sama, tapi patut dicurigai karena dijalankan dengan tujuan sangat berbeda. Mereka berani membela kasus korupsi bukan karena mereka adalah pribadi antikorupsi. Indikasi yang mudah tercium dari jumlah bayaran yang mereka minta dari para tertuduh koruptor. Bahkan mereka rela bertarung secara tidak sehat di antara para pengacara lain demi memenangi kasus korupsi yang selalu bertabur uang. Koruptor juga menjadi ajang pencarian uang.

Satu hal lagi, Yap berjibaku dengan semangat nasionalisme yang kuat. Baginya, nasionalisme menjadi semacam komunitas terbayang (imagined community) dalam penjelasan Ben Anderson. Tanpa perlu embel dan simbol yang macam-macam, ia mencintai republik ini. Republik yang juga mencatatkan pola diskriminasi atas etnis seperti Yap. Ia terus bekerja untuk tegaknya hukum, meski pada saat yang sama ia menolak mengubah nama Tionghoanya. Yap sangat percaya bahwa negara tentu saja tidak dibangun dalam semalam. Dan ia bekerja dan mengambil bagian di dalam pembangunannya yang ia sadari menawarkan diskriminasi baginya. Ia bekerja penuh di dalamnya, meski ia terpenjara olehnya.

Yap tetap punya peluang dan ruang yang cukup untuk kembali hidup. Kumpulan anak muda yang kemudian mendirikan ikrar yang sama untuk kembali menghidupkan sikap, cara pandang, dan paradigma sesungguhnya dari seorang pengacara, termasuk Yap, lalu menginjeksikannya ke tubuh para pengacara. Dalam pandangan mereka, sebaiknya, pengacara bekerja keras untuk problem publik dan tidak menjadi bagian dari perusak hukum yang sangat menentukan kehidupan publik.

Mereka meyakini, seperti keyakinan Yap, bahwa kualitas kehidupan bernegara sangat bergantung pada kualitas keadilan yang ditegakkan. Seperti yang tertulis dalam coretan Lev, bahwa Yap meya­kini perihal "mengabaikan ketidakadilan dalam bentuk apa pun sesungguhnya adalah perbuatan melanggar dan penuh dosa". Dan semua ini tergantung cara kita membaca Yap: apakah legasinya hidup terus atau berakhir sampai di sini.


Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=162406561138



Laporan Khusus 2/24

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.