Internasional 4/4

Sebelumnya Selanjutnya
text

Geliat Para Pembangkang Belia

Kaum muda usia 20-an tahun mulai sadar politik. Kekuatan dan aspirasi mereka perlu diperhitungkan, baik oleh penguasa maupun oposisi.

"Maaf tak bisa mengantarmu ke bandara, hari itu kami baru saja selesai protes di Suruhanjaya Pilihan Raya, Bung."

i

PADA Jumat malam tiga pekan lalu, pesan pendek itu nyangkut di kotak pesan BlackBerry Tempo. Pengirimnya Adam Adli, kawan aktivis mahasiswa proreformasi Malaysia yang banyak membantu peliputan pilihan raya Malaysia ke-13, awal Mei lalu. Selepas itu, perbincangan berlangsung ngalor ngidul, saling balas amaran via kotak pesan.

"Kamu harus lihat tanda #Black505 dalam microblogging Twitter. Itu menjadi topik terkenal urutan keempat dunia," tulis lelaki 24 tahun itu. #Black505 adalah simbol kesedihan untuk hari pemilihan umum bagi para pembangkang. Sebab, walau oposisi merebut suara lebih banyak, Barisan Nasional tetap berkuasa.

Keesokan harinya, sebuah kabar mengagetkan mampir melalui surat elektronik. "Adam Adli ditangkap polisi. Sekarang ia ke kantor polisi," tulis Din, juga aktivis Malaysia.


Sabtu sore tiga pekan lalu, mahasiswa Jurusan Sastra Inggris Universitas Pendidikan Sultan Idris itu dijemput paksa polisi dari tempat kerjanya di kawasan Bangsar, Kuala Lumpur. Adam ditahan di kantor polisi Jinjang, Malaysia, dengan ancaman hukuman 20 tahun penjara. "Tuduhannya pasal penghasutan, saat Adam berorasi politik dalam sebuah acara Solidariti Anak Muda Malaysia," kata Din.

162406479448

Soal perlawanan, bagi mahasiswa yang sedang menjalani hukuman skorsing selama tiga semester dari kampusnya akibat menurunkan bendera bergambar wajah Perdana Menteri Najib Razak di kantor Organisasi Nasional Melayu Bersatu (UMNO) itu, memang terdepan. Penjara baginya bukan lagi tempat menakutkan. Ini kedua kalinya Adam dibui setelah disel lantaran menggelar protes kepada pemerintah di dalam kampusnya pada tahun baru 2012.

Geliat kaum muda seperti Adam belakangan makin menjadi. Kekalahan oposisi dalam pemilihan jadi lantaran. Protes di kantor Suruhanjaya Pilihan Raya—Komisi Pemilihan Umum Malaysia—hampir berlaku setiap hari selepas pengumuman hasil pemilihan. Forum-forum diskusi bagi anak muda muncul silih berganti. Dunia maya dibakar topik-topik tentang kecurangan kubu penguasa Malaysia.

"Semua kesibukan disiapkan oleh anak-anak muda. Mereka yang terlihat paling bersemangat dalam pemilihan kali ini, karena ini memang era mereka," ujar salah seorang aktivis kawakan Malaysia yang juga panitia gerakan BERSIH 2.0, Hishamuddin Rais, kepada Tempo. Terakhir, pertemuan akbar yang digelar di Stadion Kelana Jaya, Petaling Jaya, Malaysia, berhasil menyedot 300-500 ribu orang—lebih dari separuhnya muda-mudi.

Hishamuddin bisa jadi benar. Ini memang eranya anak muda dalam gerakan politik Malaysia. Berdasarkan data yang diperoleh Tempo dari KPU Malaysia disebutkan golongan muda Malaysia sangat menentukan hasil pemilihan kali ini: hampir 20 persen tercatat sebagai pemilih—setara dengan 2,6 juta suara.

Kebangkitan kaum muda Malaysia sebenarnya dimulai pada 2008, saat pertama kalinya dalam sejarah Malaysia, koalisi Barisan Nasional di bawah UMNO gagal meraih dua pertiga kursi parlemen. Saat itu, kata Hisham, oposisi menguat dengan isu-isu perlawanan. Sedangkan gerakan moral semacam BERSIH 2.0, yang memperjuangkan pemilihan jujur dan adil bagi rakyat Malaysia, berhasil menyadarkan hak politik rakyat Malaysia. "Anak muda lantas dengan kreatif mengembangkan sendiri ide perlawanan, dengan cara unik mereka," ujarnya.

Tempo pernah berada di tengah sebuah proses kreatif perlawanan tersebut. Saat itu tiga hari menjelang pemilihan. Sebuah kantor radio disulap menjadi studio tempat syuting tayangan parodi lakon pelesetan para tokoh penguasa Malaysia. Beberapa jam setelah itu, tayangannya bisa ditonton di YouTube. "Media perlawanan hanya bisa didapat lewat dunia maya, tapi itu dampaknya besar mengubah persepsi banyak anak muda soal politik dan perubahan," katanya.

Salah satu bukti disaksikan Shu Shi, aktivis lembaga swadaya masyarakat bidang pemberdayaan perempuan Malaysia. Menurut perempuan yang lahir di Sibu, Sarawak—daerah yang menurut dia termarginalkan lantaran terpisah dari semenanjung—itu, perubahan tak hanya terasa di kota besar. "Anak muda di daerah kami pun mulai menggeliat pada pemilu kali ini. Diskusi sering digelar. Ceramah politik juga seolah-olah menggelitik antusiasme anak muda," ucapnya.

Contohnya Emily, adik perempuan Shu Shi, pemilih pemula yang sebelumnya sangat tak peduli politik. Beberapa hari menjelang pemilihan, ia pamit kepada Shu Shi pulang kampung untuk mencoblos. Yang paling mengagetkan sang kakak adalah alasan yang terlontar saat Emily ditanya mengapa tiba-tiba tertarik memilih. "Ia bilang sudah saatnya saya juga ikut bertanggung jawab," kata Shu Shi menirukan jawaban adiknya.

Soal tanggung jawab tersebut, analis politik asal Universitas Manajemen Singapura, Bridget Welsh, berpendapat, pergeseran partisipasi politik Malaysia disebabkan oleh adanya kesadaran kolektif anak-anak muda. "Pemilihan sekarang ini merupakan pemilu dengan tingkat partisipasi politik tertinggi dalam sejarah Malaysia. Angkanya mencapai 85 persen," ujarnya. "Itu karena gairah dan solidaritas anak muda."

Akhir dua pekan lalu, Adam Adli memang akhirnya dibebaskan dengan jaminan uang 5.000 ringgit. Namun Polisi Di Raja Malaysia kembali menangkap seorang pentolan aktivis mahasiswa, Safwan Anang. "Ini bukti perjuangan kami serius," kata Adam.

Sandy Indra Pratama


Ayah-Anak Berseberang Jalan

RONA wajah mantan Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad sedikit tercekat. Namun, lantaran pembawaannya yang superkalem, ia berhasil menyembunyikan perasaannya dalam-dalam saat disinggung Tempo, awal Mei lalu, ihwal salah seorang putrinya yang memilih tak sejalan dengannya dalam politik. "Ya, memang, dari tujuh anak saya, cuma satu yang memilih berbeda. Ia berada di kubu pembangkang. Tapi biar saja, itu pilihannya," ujar Mahathir, yang berbicara hati-hati sekali.

Mahathir mengatakan ia tak pernah berbicara sekecap pun soal politik di rumah. Maka wajar bila putrinya yang bernama Marina Mahathir itu memilih haluan berbeda. "Dalam urusan lain, kami akur saja. Ia tak pernah saya marahi karena menyokong gerakan BERSIH," katanya sembari tertawa.

Marina terang-terangan turun berdemo di jalanan pada gerakan BERSIH 3.0, April 2012. Ia berbaur dengan puluhan ribu demonstran. Kelakuan putri penguasa Malaysia selama 22 tahun itu jelas menghebohkan. "Kepemimpinan Najib lebih buruk dibanding ayah saya," ucapnya mengomentari Perdana Menteri Najib Razak.

Berbeda dengan Marina, Tamrin Gafar Baba, anak petinggi UMNO yang pernah menjabat wakil perdana menteri, Gafar Baba, membelot dari Barisan Nasional ke Partai Islam Se-Malaysia (PAS) pada awal 2012. Padahal ia sudah dua periode menjadi ahli parlemen dari kubu Barisan Nasional.

Klan Baba marah bukan buatan. Dalam sebuah siaran pers yang ditayangkan surat kabar propemerintah disebutkan Thamrin sebaiknya bertobat dan kembali ke Barisan Nasional. Thamrin cuek saja. Ia bahkan lebih sering tampil di panggung-panggung PAS.

Kabar terakhir pekan lalu, sebuah masalah membelitnya. Thamrin bersama petinggi Partai Keadilan Rakyat, Tian Chua, dan aktivis Asal Bukan UMNO, Haris, ditangkap polisi atas tuduhan penghasutan. Ancamannya 20 tahun penjara. Beberapa hari ditahan, trio pembangkang itu dibebaskan dengan uang jaminan masing-masing 5.000 ringgit. Namun, baru empat hari bebas, ia, Tian Chua, dan Haris kembali ke balik terali.

Marina dan Thamrin, kata Bridget Welsh, adalah fenomena unik yang ia pantau dengan saksama. "Penyeberangan semacam ini juga membawa angin perubahan. Ada harapan soal perlawanan," ujarnya. Terutama pembangkangan di kalangan anak muda.

Sandy Indra Pratama


Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=162406479448



Internasional 4/4

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.