Laporan Khusus 16/24

Sebelumnya Selanjutnya
text

Auman Singa Pengadilan

Bicaranya yang lantang, tegas, tanpa tedeng aling-aling, dan meledak-ledak sering menggetarkan ruang persidangan.

i

YAP Thiam Hien biasanya datang ke pengadilan diantar sopir, mengendarai Peugeot biru. 'Mobil yang biasa, tidak mewah,' kata Utama Wijaya, 58 tahun, bekas asisten Yap. Tidak seperti pengacara sekarang yang memakai jas mahalatau bahkan kalung dan cincin emasYap hanya memakai kemeja lengan pendek putih, celana panjang abu-abu, dan sepatu kulit warna hitam. 'Boleh dibilang penampilannya konservatif, tidak glamor dan bermewah-mewah,' ujar pengacara Todung Mulya Lubis, yang mengaku menjadi murid Yap sejak 1970-an.

Satu-satunya barang mahal yang dipakainya adalah toga atau jubah hitam untuk persidangan. Ia membelinya khusus dari Belanda. Menurut dia, hanya toga dari Belanda yang tepat untuk bersidang. Dan, kalau sudah memakai toga itu, Yap akan berubah, seperti superhero yang baru berganti kostum. Ia tak takut membela kebenaran.

'Dia adalah singa pengadilan,' kata Todung. 'Saya ikut beberapa kali persidangan dia dan dia sangat to the point. Sangat keras."


Pengacara senior Adnan Buyung Nasution pernah merasakan auman sang singa. Itu terjadi pada 1970-an. Saat itu, Buyung membela Tancho, perusahaan kosmetik Jepang, yang menuduh seorang pengusaha Indonesia mencuri merek dagangnya. Yap berada di pihak seberang, membela pengusaha Indonesia.

162406242549

Dengan meledak-ledak dan suara lantang, Yap memberikan pembelaan. "Bicaranya tak bisa distop sekalipun sudah ditegur. Beliau ngeyel dan tidak menghiraukan teguran hakim selaku ketua sidang," tuturnya. "Kami semua yang hadir di persidangan tersebut geleng-geleng kepala."

Pertarungan Buyung melawan Yap dalam kasus Tancho berlangsung sekitar tiga tahun. Sepanjang itu pula Buyung kemudian mengenal lebih jauh watak Yap. "Di satu pihak, saya kagum kepada keberaniannya, tapi di lain pihak kadang menjengkelkan karena beliau suka ngeyel," katanya.

Kengeyelannya itu pernah menimbulkan masalah. Di awal kariernya sebagai pengacara, Yap pernah dianggap melanggar etika karena dituduh tidak menghormati rekan sesama pengacara. Itu terjadi saat Yap membela sejumlah pedagang Pasar Senen, Jakarta, yang hendak digusur oleh pemilik gedung.

Dalam persidangan, Yap muda meledak-ledak dan menyerang pengacara lawan yang sudah kondang. "Bagaimana bisa Anda membantu seorang kaya yang menentang orang-orang miskin?" ujarnya. Sang lawan naik pitam. Hampir saja kedua pengacara itu baku hantam di ruang sidang.

Setahu Utama, yang menjadi asisten sejak 1982 hingga Yap meninggal pada 25 April 1989, hampir di setiap persidangan Yap bersikap seperti itu. "Tapi, kalau tidak ada hal-hal yang dinilainya melanggar hukum, Pak Yap bersikap santun dan menyampaikan tanggapan dalam persidangan sambil duduk," katanya. "Pak Yap itu sangat menghormati pengadilan."

Menghormati pengadilan bukan berarti tidak bisa berkata tegas kepada hakim. "Tidak ada sedikit pun hambatan psikologis untuk berbicara dengan hakim dan jaksa," ujar Todung. "Dia sangat sopan terhadap hakim, tapi keras di saat yang sama."

Yap pernah melontarkan keberatan terhadap ketua majelis hakim dalam sebuah persidangan. Suaranya lantang dan nada bicaranya tegas. Sambil berdiri, Yap memprotes hakim anggota yang gencar mengajukan pertanyaan kepada terdakwa. Yap menilai tindakan hakim itu keliru karena telah berlaku seperti jaksa penuntut umum.

"Saudara Ketua Majelis! Tolong hakim anggota diingatkan! Hakim jangan mengejar-ngejar terdakwa. Ia berhak mendapat perlakuan praduga tanpa salah! Jangan pojokkan. Jangan ambil tugas jaksa."

Atas reaksi Yap itu, mendadak sontak anggota hakim tadi terdiam. "Pak Yap akan bereaksi cepat dan spontan kalau ada hal-hal yang dia nilai melanggar hukum atau ada yang tak beres pada jalannya persidangan. Biasanya Pak Yap akan spontan berdiri dan menyampaikan keberatannya dengan suara keras," ucap Utama.

Kadang letupan-letupan itu muncul juga di luar ruang sidang. Suatu hari Buyung pulang bersama Yap dari sebuah konferensi hak asasi manusia di luar negeri. Setiba di Jakarta, dia dan Yap antre di imigrasi bandar udara. Tiba-tiba ada seorang perwira berseragam militer langsung ke loket imi­grasi, menyalip antrean.

Melihat hal itu, mendadak sontak Yap berteriak-teriak sambil menuding-nuding sang perwira, yang didampingi beberapa pengawalnya. "Hai! Kamu kira kamu siapa? Kami semua sudah antre dari tadi, sekarang kamu nyalip seenaknya! Mundur ke belakang antrean!"

Suara Yap yang lantang juga bergema di kantor pengacara Yap di Gedung Speed—kini gedung Bank CIMB Niaga—di Jalan Gajah Mada 18, Jakarta Pusat. "Hampir setiap calon klien yang datang ke kantor kami selalu dimarah-marahi atau diceramahi dulu oleh Pak Yap," kata Utama. "Nada bicara Pak Yap yang keras membuat beberapa calon klien menangis."

Menurut Utama, sebetulnya Yap tengah menginterogasi calon kliennya guna memastikan perkaranya layak dibela. "Pak Yap ingin calon klien itu memberikan keterangan atas perkaranya sejelas-jelasnya. Pak Yap tidak ingin kliennya menutup-nutupi, apalagi berbohong," dia menjelaskan.

Sepanjang menjadi asisten Yap, tutur Utama, dia menangani sekitar 50 perkara pidana dan perdata. Biasanya yang sering kalah adalah kasus perdata. Sebab, perkara yang datang ke kantor pengacara Yap adalah kasus-kasus yang umumnya sudah ditolak oleh pengacara lain. "Hampir semua perkara yang datang ke kantor kami itu sudah stadium IV, sangat sulit bisa menang," ujarnya.

Meski kerap kalah, Yap tak pernah menggerutu atas putusan pengadilan. Setelah palu diketuk, dia akan keluar dari ruang sidang dan membuka toganya. "Mukanya biasa saja, tak menyiratkan kekecewaan," kata Utama.


Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=162406242549



Laporan Khusus 16/24

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.