Edisi 15 Agustus 2011

  • <font size=1 color=#FF9900>Wafat</font><br /><font face=arial size=3>Hembing Wijayakusuma</font>
    Album

    WafatHembing Wijayakusuma

    Ahli ilmu herbal ini meninggal pada Senin pekan lalu. Ayah tiga anak ini wafat pada usia 71 tahun di Rumah Sakit Medistra, Jakarta. Hembing dimakamkan pada Senin siang pekan lalu di pekuburan Pondok Rangon, Cibubur.

    Selama hidupnya, pria kelahiran Medan, 10 Maret 1940, ini dikenal aktif mengkampanyekan penggunaan tanaman obat asli Indonesia sebagai terapi kesehatan. Lulusan Chinese Medical Institute-Chinese Pharmacology and Acupuncture ini juga mendirikan klinik herbal, The Hembing Center, di Petamburan, Jakarta Pusat. Ketekunannya mempromosikan tanaman obat membuahkan sejumlah penghargaan, baik dari dalam maupun luar negeri.

  • Momen
    Nasional

    Momen

    Komite Etik Periksa Politikus Demokrat

    Sejumlah politikus Partai Demokrat bakal diperiksa Komite Etik Komisi Pemberantasan Korupsi. Mereka yang dipanggil antara lain Ketua Umum Demokrat Anas Urbaningrum, Wakil Sekretaris Jenderal Saan Mustopa, dan Ketua Komisi Hukum Dewan Perwakilan Rakyat Benny Kabur Harman. Menanggapi rencana pemeriksaan yang dijadwalkan pekan ini, Anas pada Jumat pekan lalu mengatakan siap datang.

    Anas dan kawan-kawan diperiksa dalam perkara dugaan pelanggaran kode etik para pemimpin KPK seperti dituduhkan tersangka korupsi proyek wisma atlet SEA Games, Muhammad Nazaruddin. Wakil Ketua KPK Chandra M. Hamzah dan Deputi Penindakan KPK Ade Rahardja dituduh bertemu dengan Anas akhir Juni lalu.

  • Yang Menanti Kepulangan Nazar
    Nasional

    Yang Menanti Kepulangan Nazar

    Anak buah Nazaruddin menyebutkan keterlibatan politikus Senayan dalam pelbagai kasus suap. Menguatkan tuduhan sang mantan bendahara umum.

  • Aneka Jalan Memulangkan Buron
    Nasional

    Aneka Jalan Memulangkan Buron

    Otoritas Kolombia memberi jalan mudah buat pemulangan Muhammad Nazaruddin ke Indonesia: deportasi. "Setelah semua persyaratan yang diminta pemerintah Kolombia dipenuhi," kata Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa di Jakarta, Kamis pekan lalu.

    Selain deportasi, sebetulnya ada beberapa jalan memulangkan mantan Bendahara Umum Partai Demokrat itu. Pertama, ekstradisi. Pilihan ini memakan waktu karena dilakukan setelah proses hukum. Meski kedua negara tak memiliki perjanjian ekstradisi, jalan ini bisa ditempuh, menurut Rachmat Budiman—Direktur Perjanjian Politik, Keamanan, dan Kewilayahan Kementerian Luar Negeri—berdasarkan hubungan baik dan jaminan resiprositas. Asas ini digunakan Indonesia, kata Rachmat, ketika memulangkan buron Rumania pada awal tahun ini.

  • Pelarian Lintas Benua
    Nasional

    Pelarian Lintas Benua

    Terletak di tepi Karibia yang lautnya hangat, dengan arsitektur abad ke-17 yang masih lestari, Cartagena de Indias adalah destinasi utama para turis bila melancong ke Kolombia. Tak perlu melalui Bogota bila hendak kemari. Sebab, di kota kelima terbesar di Kolombia ini, terdapat bandar udara internasional bernama Rafael Nunez.

    Di kota ini, pelarian Muhammad Nazaruddin berakhir. Tak terlacak jejaknya selama pelesiran ke Singapura-Vietnam-Kamboja, polisi Cartagena justru menangkapnya secara tak sengaja pada Sabtu malam dua pekan lalu waktu setempat atau Ahad siang waktu Indonesia. Nazaruddin, yang tudingan-tudingannya menghebohkan negeri ini, menyerah tanpa perlawanan.

  • Berakhir di Tepi Karibia
    Nasional

    Berakhir di Tepi Karibia

    Nazaruddin ditangkap di Kolombia setelah raib dengan jet sewaan. Agen FBI membantu perburuan bekas bandahara Partai Demokrat itu. Polisi melacak peran para pengatur pelarian.

  • <font face=arial size=2 color=brown>Takashi Shiraishi:</font><br />Tjokro Menciptakan Standar Pergerakan
    Laporan Utama

    Takashi Shiraishi:Tjokro Menciptakan Standar Pergerakan

    Berkunjung ke Perpustakaan Museum Nasional, Jakarta, Takashi Shiraishi menemukan artikel serial bertajuk "Islamisme dan Komunisme" di harian Medan Moeslimin. Tulisan Hadji Mohammad Misbach itu membuat Takashi penasaran terhadap pergerakan rakyat Indonesia pada awal abad ke-20.

    Selama lebih dari sepuluh tahun sejak Desember 1977, Takashi menggali dokumen pemerintah Hindia Belanda. Termasuk soal Sarekat Islam dan Oemar Said Tjokroaminoto. Temuan demi temuan dipakainya buat menyusun disertasi di Cornell University. Pakar Asia Tenggara yang pernah mengajar di Universitas Kyoto ini kemudian membukukan risetnya, yang dalam versi Indonesia berjudul Zaman Bergerak: Radikalisme Rakyat di Jawa 1912-1926.

  • Titian Bercabang Sang Herucokro
  • Bonnie Triyana*)

    Pangeran Aria Achmad Djajadinigrat dalam memoarnya mengenang Tjokroaminoto sebagai "een indrukwekkende persoonlijkheid, een geboren leider volksvergaderingen"—seorang pribadi yang mengesankan, pemimpin rapat umum yang berbakat. Takashi Shiraishi dalam bukunya, Zaman Bergerak: Radikalisme Rakyat di Jawa 1912-1926, menulis Tjokroaminoto sebagai tokoh sentral yang "dikaruniai suara bariton yang mantap sehingga dapat didengar ribuan pendengarnya tanpa pengeras suara". Sementara itu, Sukarno mengenang Tjokroaminoto sebagai "tokoh yang mempunyai daya cipta dan cita-cita tinggi, seorang pejuang yang mencintai tanah tumpah darahnya".

    Namun kenapa Tjokroaminoto, yang namanya sempat berkibar selama satu dekade lebih; sosok yang dipercaya rakyat Jawa sebagai personifikasi sang Herucokro atau Ratu Adil; tokoh yang oleh Indonesianis Ruth McVey disebut sebagai penggerak kesadaran massal rakyat Jawa untuk bergabung ke Sarekat Islam (SI) itu lambat-laun tenggelam seiring dengan perpecahan di tubuh SI?

  • Tjokroaminoto: Rumah Ideologi dan Dialog
  • Anhar Gonggong *)

    Hadji Oemar Said Tjokroaminoto adalah satu figur terpenting pada awal tampilnya gerakan membangun kesadaran menuju manusia bermartabat merdeka bernama Indonesia. Robert van Niel dalam bukunya, Munculnya Elit Modern Indonesia, menulis Tjokroaminoto dengan cepat meraih posisi pemimpin dalam Sarekat Islam.

    Ia pembicara yang menarik dan bersemangat. Simbol harapan bagi mereka yang tertekan dan jadi perantara menyuarakan kesusahan yang nyata dan yang dibayangkan. Ia dipandang banyak orang sebagai inkarnasi kebaikan dan kebahagiaan masa depan. Van Niel mencatat, pada 1914, Tjokroaminoto telah dianggap sebagai Ratu Adil, raja pembawa kebenaran yang akan memimpin jalan ke surga. Rakyat, terutama rakyat desa, berkerumun mendengarkan ia berbicara, memegang pakaiannya, dan mencium kakinya.

  • Jalan Zigzag antara Sekutu dan Seteru
    Laporan Utama

    Jalan Zigzag antara Sekutu dan Seteru

    Douwes Dekker, Rinkes, dan Idenburg adalah sebagian orang Belanda yang menyokong Tjokro mengembangkan Sarekat Islam. Politik zigzag antara kawan dan lawan.

  • Awalnya Murid, Lalu Penentang
    Laporan Utama

    Awalnya Murid, Lalu Penentang

    Rumah Oemar Said Tjokroaminoto di Surabaya jadi tempat diskusi anak-anak muda. Musso salah satu aktivis, tapi akhirnya ia menjadi provokator penyingkiran sang guru.

  • Dua Ratu Adil
    Laporan Utama

    Dua Ratu Adil

    Kartosoewirjo sempat jadi sekretaris pribadi Tjokroaminoto. Bisa mendirikan Negara Islam Indonesia berkat didikan dan pesona Tjokroaminoto.

  • Perjumpaan Tan
    Laporan Utama

    Perjumpaan Tan

    Tjokroaminoto dan Tan Malaka bertemu dalam perhelatan Central Sarekat Islam. Tan mengakui satu-satunya organisasi yang bisa disebut partai massa.

  • Anak Buruh Si Penyusup
    Laporan Utama

    Anak Buruh Si Penyusup

    Semaoen menanamkan ideologi komunis ke Sarekat Islam. Benih konflik dengan Tjokro.

  • Penghuni Belakang Rumah
    Laporan Utama

    Penghuni Belakang Rumah

    Tjokroaminoto memahami pentingnya rapat umum dan keberanian bicara buat menggalang massa. Di meja makan rumah Gang Peneleh, ilmu pergerakan modern itu ditularkan kepada Alimin, Musso, Sukarno, dan belakangan Kartosoewirjo.

  • Penunggang Kuda Bersorban Hitam
    Laporan Utama

    Penunggang Kuda Bersorban Hitam

    Haji Mahful pernah berjumpa dengan Tjokroaminoto. Sangar, berwibawa, dengan suara yang bisa membius pendengar.

  • Jejak Tjokro di Ahmadiyah
    Laporan Utama

    Jejak Tjokro di Ahmadiyah

    Tak ada dokumen tertulis, tapi diyakini dia banyak terinspirasi ajaran Ahmadiyah.

  • Sahabat Dekat Musuh Jauh
    Laporan Utama

    Sahabat Dekat Musuh Jauh

    Tjokroaminoto menyingkirkan lawan-lawan politiknya. Ambisius dan bertangan besi.

  • Mesiah dari Tanah Jawa
    Laporan Utama

    Mesiah dari Tanah Jawa

    Memimpin Sarekat Islam, Tjokroaminoto dikelilingi pengikut setia. Dianggap jelmaan Ratu Adil.

  • Hanoman Jagoan Pidato
    Laporan Utama

    Hanoman Jagoan Pidato

    Dari atas mimbar, Tjokroaminoto menyihir ribuan orang. Gaya orasinya ditiru Bung Karno.

  • Bergerak Lewat Oetoesan Hindia
    Laporan Utama

    Bergerak Lewat Oetoesan Hindia

    Tjokro rutin menuangkan ide di surat kabar. Gaya tulisannya ditiru Sukarno.

  • Pemberontak dari Bakur
    Laporan Utama

    Pemberontak dari Bakur

    Tjokro pernah hendak dibunuh mertuanya. Rela menanggalkan pekerjaan dan gelar ningratnya.

  • Menghadang Merah dari Tanah Sultan
    Laporan Utama

    Menghadang Merah dari Tanah Sultan

    Tjokro jarang makan di luar rumah meski semua jenis makanan dia suka. Tak sembarangan menerima tamu.

  • Jejak Langkah Sang Guru
    Laporan Utama

    Jejak Langkah Sang Guru

    Menentang feodalisme, Tjokroaminoto punya andil menempa para tokoh pergerakan nasional. Orasinya menggelegar, memberi inspirasi puluhan ribu orang. Tulisan-tulisannya mengisi halaman depan surat kabar Sarekat Islam. Ia dipercaya sebagai Ratu Adil kaum tertindas. Tapi ia juga bertangan besi menyingkirkan lawan politiknya.

  • Rontok Pamor Tergoda Gulden
    Laporan Utama

    Rontok Pamor Tergoda Gulden

    Kepemimpinan Sarekat Islam tak sunyi dari pertikaian dan saling serang. Sebagian dilakukan dengan memainkan isu uang.

  • Penyelamat Sarekat Pusat
    Laporan Utama

    Penyelamat Sarekat Pusat

    Tjokroaminoto sendirian menyusun anggaran Sarekat Islam dan memperjuangkan organisasi ini hingga ke tingkat nasional. Namanya lebih menjulang ketimbang pendiri.

  • Merebahkan Diri pada Islam Kiri
    Laporan Utama

    Merebahkan Diri pada Islam Kiri

    Provokasi Semaoen mengubah strategi Tjokroaminoto menjadi militan anti-Belanda. Ia pun menggalang Tentara Kandjeng Nabi Muhammad.

  • Bermula dari Perkumpulan Ronda
    Laporan Utama

    Bermula dari Perkumpulan Ronda

    Sarekat Islam lahir dari perkumpulan orang pribumi yang mengamankan Laweyan—daerah hunian para saudagar batik di Solo—dari pencurian. Tirto Adhi Soerjo mengemasnya menjadi organisasi modern.

  • Revolusi dari Laweyan
    Laporan Utama

    Revolusi dari Laweyan

    Benih perlawanan tumbuh di Sarekat Islam. Semula dibuat saudagar batik untuk bersaing dengan pedagang Cina, belakangan Sarekat berubah menjadi gerakan politik. Di tangan Tjokroaminoto, organisasi itu bertambah besar dan kuat.

  • Demam Tjokro di Proklamasi 72
    Laporan Utama

    Demam Tjokro di Proklamasi 72

    Dalam sebulan terakhir, sebagian besar awak Proklamasi 72 layaknya mahasiswa fakultas sejarah. Buku-buku berserakan di meja. Ada yang membaca sampai tertidur di sofa. Sebagian buku asli, yang lainnya fotokopi. Beraneka judul, buku-buku itu semua berkaitan dengan Oemar Said Tjokroaminoto, "bapak" para pendiri Republik.

    Banyak buku merupakan koleksi perpustakaan majalah Tempo. Sebagian dibeli baru. Tak sedikit merupakan hasil "perburuan" Philipus Parera, Kepala Biro Tempo di Yogyakarta, yang menyambangi perpustakaan Universitas Cokroaminoto di kota itu. "Karena tak boleh dipinjam lama, terpaksa kami minta difotokopi," katanya.

  • Induk Semang Para Pejuang
    Laporan Utama

    Induk Semang Para Pejuang

    Di usianya yang tak panjang, Oemar Said Tjokroaminoto meletakkan fondasi awal bangunan Republik. Meninggalkan kemapanan keluarga bangsawan, ia meretas jalan kesetaraan. Dialah “bapak” para tokoh pergerakan.

  • 10 tahun Lalu
    Kartun

    10 tahun Lalu

    10 Juni 2001
    Seorang Bima, Seorang Hamlet

    SUKARNO tidak dimakamkan ”di antara bukit yang berombak, di bawah pohon rindang, di samping sebuah sungai dengan udara segar”. Tidak seperti yang diinginkannya. Permintaan terakhirnya untuk dikuburkan di halaman rumahnya di Batutulis, Bogor, ditolak. Kemungkinan bahwa makamnya akan menjadi tempat ziarah populer yang terlalu dekat dari Jakarta jelas merisaukan pemerintah baru. Soeharto hanya mengizinkan Sukarno dimakamkan di Blitar, Jawa Timur, di samping makam ibunya.

    Bahkan jasadnya membuat gentar.

  • Momen
    Ekonomi dan Bisnis

    Momen

    Penerimaan Negara
    Pembayar Pajak Masih Minim

    Jumlah perusahaan dan warga negara yang membayar pajak ternyata masih rendah. Menteri Keuangan Agus Martowardojo mengungkapkan saat ini ada 22,6 juta badan usaha di Indonesia. Namun hanya dua persennya atau 500 ribu badan usaha yang membayar pajak.

    Kesadaran masyarakat membayar pajak juga masih sangat rendah. Dari 238 juta penduduk, jumlah angkatan kerja mencapai 118 juta orang. Sebanyak 40 persen angkatan kerja berpenghasilan di atas penghasilan tidak kena pajak. Artinya, masih ada 44-47 juta orang yang seharusnya membayar pajak. Ternyata hanya tujuh juta orang yang taat membayar kewajiban itu. "Ini sangat memprihatinkan," katanya di Jakarta, Rabu pekan lalu.

  • <font face=arial size=1 color=#FF9900>Kemitraan</font><br />Putus Mitra Petambak Udang  
    Ekonomi dan Bisnis

    KemitraanPutus Mitra Petambak Udang  

    Kisruh di area tambak udang Dipasena surut. Petani memutuskan hubungan kemitraan.

  • Investasi Menyimpang Si Penjamin Utang
    Ekonomi dan Bisnis

    Investasi Menyimpang Si Penjamin Utang

    Kisruh penyimpangan investasi PT Asuransi Kredit Indonesia memakan korban. Direksi lama dirombak dan sebagian bakal jadi tersangka kasus korupsi. Ada dugaan, pejabat Bapepam-LK membiarkan terjadinya penyimpangan investasi Askrindo.

  • <font face=arial size=1 color=#FF9900><B>Ekstradisi</B></font><br />Umar Patek Akhirnya Pulang
    Hukum

    EkstradisiUmar Patek Akhirnya Pulang

    Buron Umar Patek akhirnya bisa dipulangkan. Ia akan diadili dengan tuduhan melakukan pembunuhan dan kepemilikan senjata api, bukan terorisme.

  • Jejak Hitam Calon Pilihan
    Hukum

    Jejak Hitam Calon Pilihan

    Penelusuran rekam jejak menemukan sejumlah calon pemimpin KPK memiliki catatan kelam. Dari diduga menjadi mafia tanah sampai diberhentikan tidak hormat sebagai pegawai negeri.

  • TV Membajak Jupe
    Seni Rupa

    TV Membajak Jupe

    Sejumlah seniman melawan budaya televisi dengan menggunakan kamera video. Ada parodi, ada yang membikin siaran sendiri.

  • Batu Komroden
    Seni Rupa

    Batu Komroden

    Pematung Komroden Haro bergulat dengan ide batu. Karya yang disajikan di Taman Budaya Yogyakarta semuanya bertolak dari bentuk-bentuk batu, yang kemudian dipiuhkannya ke citra lain.

  • Publik Masih Percaya KPK
    Indikator

    Publik Masih Percaya KPK

    Lebih dari separuh pembaca situs tempointeraktif.com menilai keberadaan Komisi Pemberantasan Korupsi masih penting sebagai ujung tombak perang melawan korupsi di negeri ini. Hasil jajak pendapat di situs berita ini menunjukkan 56 persen pembaca percaya pada integritas dan kemampuan KPK.

    Lembaga pemberantas korupsi yang bermarkas di Kuningan, Jakarta Selatan, ini memang sedang jadi sorotan. Nyanyian Muhammad Nazaruddin, tersangka kasus suap proyek wisma atlet SEA Games yang juga bekas Bendahara Umum Partai Demokrat, merupakan pangkal soalnya. Dari tempat persembunyiannya, ia berkali-kali melontarkan tuduhan, mempertanyakan integritas penyidik dan pemimpin lembaga itu.

  • Surat Pembaca
    Surat

    Surat Pembaca

    Risi Foto Kekerasan

    Sebagai pembaca Tempo, saya merasa keberatan dengan pemuatan foto bernuansa kekerasan pada artikel "Laga Darah di Ilaga" di rubrik Nasional, majalah Tempo edisi lalu. Foto itu menampilkan sosok seseorang tergeletak di tanah dengan tiga tombak tertancap di punggungnya. Bagi saya, foto itu menunjukkan kesadistisan yang vulgar dan tak perlu ditayangkan.

    Kode etik jurnalistik telah mengatur dan membatasi pemuatan gambar yang menunjukkan kekerasan yang sadistis dan berlebihan. Pembatasan semacam itu perlu karena gambar kekerasan bukanlah obyek yang bisa dinikmati dan tidak boleh dianggap wajar. Jika media sekelas Tempo menampilkan foto kekerasan macam itu, saya khawatir pembaca—terutama yang di bawah umur—lama-kelamaan akan menilai kekerasan sebagai hal yang wajar.

  • Baik
    Catatan Pinggir

    Baik

    Tiga dewa yang lelah bertemu dengan Wong, penjual air, di tepi kota. Mereka sudah beberapa lama berada di bumi untuk menemukan seorang yang baik hati tapi tak kunjung dapat. Mereka sudah menurunkan firman kebaikan, namun yang mereka temui selama ini hanyalah kekejian, sifat tamak, culas, dan mementingkan-diri.

    Lakon Bertolt Brecht, Der gute Mensch von Sezuan, yang ditulis di masa buruk, 1938-1943, dimulai dengan pembuka yang mirip dongeng itu; dunia begitu gelap dan keras hingga realisme membutuhkan parabel. Tak berarti Brecht—waktu itu meninggalkan tanah airnya, Jerman, dan hidup di pengasingan menghindari kaum Nazi—hendak menyingkirkan kita dari hidup dan pelbagai tanda tanyanya. "Orang Baik dari Sezuan" memasukkan kita ke dalam pertanyaan yang bahkan bergema di Indonesia kini: masih adakah orang baik? Bagaimana ia bisa bertahan?

  • <font face=arial size=2 color=brown>Usman Hamid</font><br />Kaus Perjuangan
    Pokok dan Tokoh

    Usman HamidKaus Perjuangan

    Mantan Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) Usman Hamid kini punya kesibukan baru. Bersama tiga temannya yang tergabung dalam band The Black Stones, Usman membuka distro bernama The Working Class. "Nekat, modalnya cuma inovasi," katanya kepada Tempo pekan lalu.

    Demi bisnisnya, Usman harus berkeliling Pasar Cipadu, Cibinong, Bandung, hingga Bali. Dia membandingkan harga, model, desain, dan bahan kaus. Bermodal tabungan Rp 40 juta, dia menyewa tempat di Cibubur. "Saya membuat desain, dibantu kawan," kata Usman, yang kini menjadi Ketua Dewan Federasi Kontras.

  • <font face=arial size=2 color=brown>Hudson Prananjaya</font><br />Pesanan Kue Kering
    Pokok dan Tokoh

    Hudson PrananjayaPesanan Kue Kering

    Bau harum kue kering yang menerbitkan selera memenuhi ruangan apartemen mungil milik Hudson Prananjaya, 31 tahun. Tepung, mentega, cokelat, dan beragam peralatan memasak kue berserakan di dapurnya. Celemeknya kotor, tangannya belepotan tepung. "Aku sekarang jualan kue kering, lo," kata penyanyi yang ngetop dengan penampilan dua wajah Hudson/Jessica ini.

    Dia masih melayani tawaran menyanyi di Jakarta dan daerah. Tapi "jiwa"-nya masih seorang pencinta pastry. Di kota kelahirannya, Yogyakarta, Hudson pernah mengelola bisnis toko roti dan kue bersama ibunda tercinta. Setelah sukses di Ibu Kota, dia ingin kembali merintis bisnis pastry. "Saya belajar bikin kue dari almarhumah Mama," katanya. Sebut saja satu nama kue kering, Hudson hafal resepnya.

  • <font face=arial size=2 color=brown>Maia Estianty </font><br />Ilmu Tjokroaminoto
    Pokok dan Tokoh

    Maia Estianty Ilmu Tjokroaminoto

    Kendati masih terhitung cicit, tak banyak yang diketahui penyanyi Maia Estianty, 35 tahun, tentang H.O.S. Tjokroaminoto. Maia hanya mengenal sang buyut dari foto. Dia bahkan belum pernah mengunjungi makam eyang buyutnya itu. "Dulu pernah diajak bareng-bareng ke Yogya, tapi sepertinya tidak untuk mengunjungi makam Eyang," katanya.

    Maia cuma merasakan warisan sang buyut yang tertanam kuat di keluarganya: mementingkan nilai-nilai pendidikan. Ayah Maia, yang merupakan putra keenam dari putri H.O.S. Tjokroaminoto, pernah bercerita bahwa di rumah buyutnya itu tokoh-tokoh penting Indonesia pernah tinggal dan menuntut ilmu. "Menurut Ayah, gaya berpidato Bung Karno itu mirip dengan cara berorasi eyang saya," ujar Maia.

  • <font face=arial size=2 color=brown>Anjasmara</font><br />Puas Pajak
    Pokok dan Tokoh

    AnjasmaraPuas Pajak

    Memperoleh pengembalian pajak dirasakan Anjasmara Prasetya bak mendapat rezeki nomplok. "Saya sangat senang karena jumlah kelebihan pemotongan pajaknya cukup besar," kata aktor kelahiran Blitar, Jawa Timur, 13 November 1975, itu.

  • <font face=arial size=2 color=brown>Tuan Guru Haji Hasanain Juaini:</font><br />Jihad Terbesar Melawan Diri Sendiri
    Wawancara

    Tuan Guru Haji Hasanain Juaini:Jihad Terbesar Melawan Diri Sendiri

    Truk merah bertulisan "Madani Valley" itu meninggalkan area pembibitan tanaman milik Pondok Pesantren Nurul Haramain di Desa Lembuak, Kecamatan Narmada, sekitar sepuluh kilometer dari Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat. Di belakang kemudi, duduk Tuan Guru Haji Hasanain Juaini, 47 tahun, sang pemimpin pesantren.

    Siang itu, Hasanain membimbing sejumlah santri putri madrasah aliyah melakukan penghijauan. Mereka membawa ratusan bibit pohon untuk ditanam di hutan Lembah Suren Sesaot, sekitar lima belas kilometer dari lokasi pesantren. Tahun ini, dia menargetkan menyebar sejuta bibit pohon untuk penghijauan. Lantaran cuaca bagus, tahun lalu dia berhasil menyalurkan 1,6 juta bibit tanaman.

  • Pasar Bahasa
    Bahasa

    Pasar Bahasa

    Jajang Jahroni*

    Kalau kita sepakat bahwa bahasa adalah pasar dan masing-masing dari kita adalah penjual sekaligus pembeli, yang diperlukan adalah eksperimentasi. Kita harus mencari, menemukan, dan mencoba kata-kata baru untuk mengatasi berbagai persoalan kebahasaan kita, terutama dari serbuan kata-kata asing. Setelah itu, pasar akan menentukan apakah eksperimen kita diterima atau ditolak. Orang atau lembaga yang punya kuasa memang memiliki peluang yang besar dalam melakukan hal ini. Pakar bahasa Anton Moeliono sering membuat kata baru. Kata "pencakar langit", "jalan layang", "pasar swalayan", dan "nirlaba" adalah hasil temuannya. Polisi pun rajin membuat istilah baru untuk meringkas bahasa mereka, seperti "senpi" (senjata api), "lalin" (lalu lintas), "curanmor" (pencurian kendaraan bermotor), dan "narkoba" (narkotik dan obat berbahaya). Lalu apa yang bisa kita lakukan?

    Kalau kita menyadari bahwa kekuasaan tidak terpusat pada orang atau lembaga tertentu, tapi tersebar, kita tidak perlu menjadi Anton Moeliono untuk menciptakan kata. Kita punya kekuasaan betapapun kecilnya. Orang yang menggunakan kata "unduh" untuk "download" dan "unggah" untuk "upload" dan menuliskannya dalam jejaring Facebook adalah orang yang sadar akan kekuasaannya dan kreatif.

  • Momen
    Internasional

    Momen

    Israel
    Demonstrasi Masih Berlanjut

    Sedikitnya 250 ribu warga Israel kembali menggelar demonstrasi besar-besaran akhir pekan lalu. Mereka menentang kenaikan harga bahan kebutuhan pokok. Protes terbesar berlangsung di Tel Aviv. Penduduk tumpah-ruah memadati jalan-jalan kota. Di Yerusalem, 30 ribu orang melancarkan unjuk rasa. Aksi ini merupakan gelombang protes terbesar yang pernah terjadi di Israel dalam puluhan tahun terakhir.

    Pemerintah Israel berencana membentuk tim yang dikepalai pejabat selevel menteri. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mengatakan komite reformasi ekonomi akan dipimpin ahli ekonomi Israel lulusan Harvard, Manuel Trajtenberg. ”Dia akan berdialog dengan berbagai kalangan masyarakat,” kata Netanyahu, Ahad pekan lalu.

  • Api dari Kantong Kaum Miskin
    Internasional

    Api dari Kantong Kaum Miskin

    Polisi Inggris dianggap bersikap rasial terhadap kelompok minoritas. Kantong kemiskinan di balik gemerlap London.

  • Gonjang-ganjing London
    Internasional

    Gonjang-ganjing London

    Bermula dari protes akibat tewasnya seorang penduduk di tangan polisi. London dan kota-kota lain di Inggris dilanda kerusuhan.

  • Bila Air Susu Laksana Tuba
    Kesehatan

    Bila Air Susu Laksana Tuba

    Air susu ibu bisa juga menjadi racun bagi si bayi. Kelainan genetis ini perlu kewaspadaan dini karena taruhannya nyawa.

  • Arsitek Lima Sekawan
    Arsitektur

    Arsitek Lima Sekawan

    Geng Atap. Begitu lima sekawan ini menyebut perkumpulan mereka.

  • Menghargai Kubah Hijau Karya Maestro
    Arsitektur

    Menghargai Kubah Hijau Karya Maestro

    Arsitektur gedung MPR/DPR dan lanskap tempatnya berdiri merupakan karya para pelopor arsitektur Indonesia yang istimewa. Gedung kubah hijau dengan bentangan luas itu pun sudah menjadi tetenger sekaligus pusaka nasional. Penambahan gedung baru sebaiknya tetap santun dengan bangunan lama.

  • Sekuel Penebusan Bay
    Film

    Sekuel Penebusan Bay

    Sekuel ketiga Transformers ini menyuguhkan pertarungan menegangkan antara Autobot dan Decepticon. Efek visual lebih memukau di format tiga dimensi.

  • Agar Puisi Tak Menggigil dalam Sepi
    Musik

    Agar Puisi Tak Menggigil dalam Sepi

    Dian H.P. memusikalisasi sajak cinta Sitok Srengenge. Komposisinya menawan.

  • Pasar Global Panik: Apakah Kali Ini Beda
    Kolom

    Pasar Global Panik: Apakah Kali Ini Beda

    Raden Pardede*)

    Dalam waktu yang sangat singkat, hanya empat hari kerja, sejak 4 Agustus 2011, pasar saham global merosot US$ 8,1 triliun atau setara dengan 14,8 persen dari nilai pasar. Tak ada satu pun pasar saham yang tidak merosot, termasuk pasar saham Indonesia. Seiring dengan gejolak di pasar saham, pasar surat utang, pasar uang, pasar devisa, dan pasar komoditas juga bergolak. Panik terjadi di berbagai penjuru dunia. Akankah krisis keuangan global terulang seperti pada 2008?

    Para pembuat kebijakan di seluruh dunia mencoba menenangkan pasar dengan menyatakan siap mengambil tindakan cepat. Di Indonesia, Presiden bergegas melakukan rapat kabinet ekonomi terbatas Jumat dua pekan lalu. Seperti lazimnya, pembuat kebijakan tentu harus menenangkan pasar: fundamental perekonomian Indonesia kuat, kita sudah mempersiapkan diri, antara lain dengan adanya protokol penanganan krisis. Jadi tak perlu khawatir. Ternyata pasar tetap bergerak turun dan tidak peduli dengan pernyataan para pembuat kebijakan. Ketakutan dan kepanikan sudah bercampur-baur.

  • Ngetwit dengan Rasa Lokal
    Digital

    Ngetwit dengan Rasa Lokal

    Pemuda putus kuliah menciptakan Twitter client kaya fitur dan minim kapasitas data. Penggunanya sampai Belanda dan Nigeria.

  • Speak in English, Please!
    Pendidikan

    Speak in English, Please!

    Kelompok bermain dan taman kanak-kanak yang menggunakan pengantar bahasa Inggris menjamur di pelbagai kota. Diyakini sebagai masa paling efektif. Ongkosnya tak murah.

  • Kursi Sejuta Fantasi
    Etalase

    Kursi Sejuta Fantasi

    Menjelang Idul Fitri, banyak keluarga bersiap melengkapi perabot rumah untuk menyambut kunjungan halalbihalal kerabat dan handai tolan. Sejumlah kursi berdesain unik berikut ini bisa jadi pilihan. Selain nyaman, penam­pilannya yang kreatif bisa jadi bahan obrolan panjang.

    Question Mark

    Bentuk unik kursi ini bakal langsung membetot pandangan siapa pun. Desainnya memang persis bentuk tanda tanya. Meski ditopang besi berlapis krom, dijamin duduk di sini tetap terasa rileks. Kursi ini bisa berputar satu lingkaran penuh, dan otomatis kembali ke posisi semula. Dudukannya berlapis busa anti-api, yang nyaman dan padat.

  • Komputer Setipis Kertas
    Inovasi

    Komputer Setipis Kertas

    Bagi banyak orang, hidup tanpa komputer mungkin tak terbayangkan. Setiap hari, laptop, telepon pintar, sampai pemutar musik memang mempermudah hidup kita. Tapi alat-alat yang berat itu juga membikin sesak tas dan kantong celana. Alangkah nyaman bila semua perangkat canggih itu bisa diringkas atau dibuat mini.

    Mimpi itu sekarang jadi kenyataan. Pada Mei lalu, sejumlah pakar komputer dari Universitas Queen, Kingston, Kanada, merilis PaperPhone. Komputer pintar ini sangat tipis, tak ubahnya selembar kertas karton. Bahan pembungkusnya terbuat dari plastik film dengan teknologi E-Ink. Para insinyur di Kingston menyebutnya kertas elektronik. Terbungkus di dalamnya sejumlah perangkat keras, seperti memori dan jaringan elektrik yang memakai bahan super-elastis.

  • Catatan Pinggir

    Tiga dewa yang lelah bertemu dengan Wong, penjual air, di tepi kota. Mereka sudah beberapa lama berada di bumi untuk menemukan seorang yang baik hati tapi tak kunjung dapat. Mereka sudah menurunkan firman kebaikan, namun yang mereka temui selama ini hanyalah kekejian, sifat tamak, culas, dan mementingkan-diri.

    Lakon Bertolt Brecht, Der gute Mensch von Sezuan, yang ditulis di masa buruk, 1938-1943, dimulai dengan pembuka yang mirip dongeng itu; dunia begitu gelap dan keras hingga realisme membutuhkan parabel. Tak berarti Brecht—waktu itu meninggalkan tanah airnya, Jerman, dan hidup di pengasingan menghindari kaum Nazi—hendak menyingkirkan kita dari hidup dan pelbagai tanda tanyanya. "Orang Baik dari Sezuan" memasukkan kita ke dalam pertanyaan yang bahkan bergema di Indonesia kini: masih adakah orang baik? Bagaimana ia bisa bertahan?

    Enak Dibaca dan Perlu

    Berlangganan

    Dapatkan diskon 45% di setiap pembelian paket berlangganan TEMPO.

    Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

    4 artikel gratis setelah Register.