Musik 1/1

Sebelumnya Selanjutnya
text

Agar Puisi Tak Menggigil dalam Sepi

Dian H.P. memusikalisasi sajak cinta Sitok Srengenge. Komposisinya menawan.

i

Di tengah hiruk-pikuk industri musik yang seragam. Di tengah dunia lirik musik pop kita yang penuh dengan kalimat cinta cengeng. Mendengar duet Christopher Abimanyu dan Lea Simanjuntak malam itu, tiba-tiba kita seperti dibawa ke ruang lain. Ruang yang menjangkau perasaan terdalam.

"Kau suara yang sayup kudengar saat mula selaput telinga tergetar, senandung kidung segugup degup jantung, membisikkan fajar sejenak setelah aku sadar, mengajar mengeja semesta cinta...."

Dengan teknik vokal seriosa, mereka melantunkan lagu yang liriknya diambil dari puisi Waktu karya Sitok Srengenge. Inilah pentas kolaborasi komposer Dian H.P. bersama Sitok Srengenge di Gedung Teater Salihara, Jakarta, pekan lalu. Dian mengaransemen 12 puisi teranyar Sitok. Semuanya dinyanyikan secara duet.


Pada Februari tahun ini Dian mengeluarkan album berjudul Komposisi Delapan Cinta. Di situ Dian bermain piano. Ubiet Raseuki menyanyi. Mereka menafsirkan puisi Sitok dan Nirwan Dewanto. Barang siapa menyaksikan, pentas mereka Februari itu pasti masih membekas. Aransemen Dian betul-betul menyentuh. Penampilan Ubiet mengesankan. Berbeda dengan penampilan Ubiet yang lain-lain yang cenderung "eksperimen" dan membuat penonton bekernyit, kekayaan vokal Ubiet di situ enak didengar, begitu membius penonton. Sukses ini rupanya memacu Dian untuk membuat art song lagi. "Ya, saya ketagihan," kata Dian. Dan kini secara khusus Dian berupaya menafsirkan lirik-lirik puisi cinta Sitok.

161820178845

Sitok dikenal banyak membuat sajak cinta yang permainan vokabuler dan alusinya kaya. Di situ ada perih, romantisisme, eros, kepasrahan, kekudusan. Kadang metaforanya samar-samar, kadang mengagetkan. Selarik puisinya, misalnya, berkalimat demikian: Aku cekung cangkang yang menginginkan kau menjadi kerang.

Dian mengakui tak mudah menafsirkan lirik-lirik puisi Sitok. Terlebih jumlah kata setiap bait puisi selalu berbeda, sementara umumnya tiap bait lirik lagu jumlah katanya sama. "Jumlah suku katanya berbeda, sehingga tak ada pengulangan bait. Ini tantangan yang menarik."

Tapi Dian agaknya tahu puisi Sitok sendiri sudah berbunyi. Tinggal bagaimana membangkitkannya dalam alunan. Tak semua berhasil, memang. Namun Dian malam itu bisa menghindarkan art song dari kesan membosankan. Dian berhasil menciptakan setiap puisi menjadi komposisi dengan karakter sendiri-sendiri.

Dengarkan puisi berjudul Api yang dibawakan Binu Sukaman dan Agus Wisman dengan sangat seriosa sekali. Atau puisi Tanah yang dinyanyikan duet Ira Batti dan Gideon Hallatu dengan gaya jazz. Betotan bas Doni Sundjoyo dan tiupan trompet Indra Dauna memperkuat rasa jazzy itu. "Lagu Tanah ini sebuah introduksi. Mungkin suatu saat saya akan menggarap art song dalam format jazz," ujar Dian.

Penampilan tak kalah unik saat lagu berjudul Bayang dibawakan dalam dua bahasa, Jawa oleh Sruti Respati dan bahasa Indonesia lewat suara indah Samsara. Klimaks malam itu adalah saat 22 penyanyi membawakan lagu Cinta. Bergantian, mereka melantunkannya dengan karakter masing-masing. Ada seriosa, jazz, hingga ala sinden.

Dian, walhasil, cukup berhasil melakukan perluasan interpretasi dan ekspresi atas sajak-sajak cinta Sitok yang sesungguhnya enak dinikmati sendiri di dalam kamar karena cenderung intim. Malam itu Christopher Abimanyu dan kawan-kawan menebarkan gairahnya: "... Singgahlah ke kata-kataku, agar puisi ini tak menggigil dalam sepi...."

Suryani Ika Sari


Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161820178845



Musik 1/1

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.