Hukum 1/2

Sebelumnya Selanjutnya
text

Ekstradisi
Umar Patek Akhirnya Pulang

Buron Umar Patek akhirnya bisa dipulangkan. Ia akan diadili dengan tuduhan melakukan pembunuhan dan kepemilikan senjata api, bukan terorisme.

i

Dering nada panggil Black­Berry milik Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Ansyaad Mbai terdengar keras. Ansyaad segera menyambarnya. Wajahnya terlihat serius. Di ujung sana, Rabu pagi pekan lalu, sang penelepon memberi kabar penting: misi sudah selesai. "Kapan berangkat? Oh, sudah tadi malam?" kata Ansyaad. Sejurus kemudian pembicaraan itu selesai. Wajah Ansyaad terlihat lega. "Dua tim dari Indonesia yang menjemput Umar," kata Ansyaad kepada Tempo, yang saat itu berada di ruang kerjanya di kantor BNPT di kawasan Menteng, Jakarta Pusat.

Umar yang dimaksudkan tiada lain Umar Patek, teroris kelas wahid yang mendekam di penjara Pakistan. Umar, nama aslinya Hisyam Ali Zein Bawazier, ditangkap di Lembah Orash, 150 kilometer dari Islamabad, akhir Januari silam. Lembah ini masuk kawasan Kota Abbotabad. Indonesia berkeinginan Umar dibawa ke Tanah Air. Dan sejak penangkapannya di Orash, pemerintah melakukan berbagai upaya agar Umar bisa diekstradisi ke Indonesia. Upaya yang kemudian membuahkan hasil.

Maka, Senin pekan lalu, tim pendahulu yang terdiri atas anggota Detasemen Khusus Antiteror dan Imigrasi berangkat ke Pakistan. Dua hari kemudian menyusul sebuah tim yang berjumlah sepuluh orang terdiri atas anggota BNPT, staf Kementerian Luar Negeri, dan Badan Intelijen Negara. "Mereka ini mengurus deportasi Umar Patek dan istrinya ke Indonesia," kata Ansyaad.


Operasi pemulangan Umar merupakan rangkaian panjang hasil diplomasi Indonesia di Pakistan. Umar memang tahanan istimewa. Indonesia meyakinkan Pakistan, buron itu mesti dibawa ke Indonesia. Di Tanah Air jejak Umar terlihat pada sejumlah aksi teror bom yang meledak di sejumlah tempat. Sejumlah dokumen memperlihatkan, Umar merupakan peracik bom yang kemudian diledakkan—lewat bom bunuh diri—di Sari Club dan Paddy’s Cafe, Kuta, Bali, 12 Oktober, sembilan tahun silam.

161819855921

Setelah tertangkap oleh unit intelijen Pakistan, Patek ditahan di penjara khusus kepolisian Pakistan. Senyampang dengan penahanannya kala itu, pemerintah Pakistan meminta Indonesia ikut melakukan identifikasi terhadap Umar. Indonesia lantas mengirim tim beranggota Detasemen Khusus dan BIN. Bersama staf kedutaan Pakistan, berbekal sampel DNA milik salah satu anggota keluarga Patek, dari 12 hingga 15 April, tim melakukan pencocokan. DNA dari Indonesia dibandingkan dengan milik Umar. Hasilnya oke. Pria berjanggut yang ditangkap dinas rahasia Pakistan itu seratus persen memang Umar Patek.

Menurut Ansyaad, semua pihak kooperatif atas keinginan Indonesia mengambil Umar. Sebelumnya, ada empat negara berkepentingan atas Umar. Selain Indonesia adalah Filipina, Amerika, dan Inggris. Dua terakhir ini karena warganya banyak menjadi korban bom Bali. Tapi belakangan sikap Amerika mengendur. Ansyaad menduga sikap Amerika ini disebabkan perubahan kebijakan pemerintah Amerika atas terorisme di bawah kepemimpinan Barack Obama. Kepada tim dari Indonesia yang menginterogasinya di penjara, menurut Ansyaad, Umar menyatakan kedatangannya ke Pakistan untuk melakukan jihad lebih besar daripada sekadar di Indonesia atau Filipina.

Sebelumnya, desakan memulangkan Umar juga muncul dari kalangan DPR. Ini, antara lain, disuarakan oleh anggota Komisi Pertahanan, Mahfudz Siddiq. Saat melakukan rapat dengar pendapat dengan Badan Intelijen Negara beberapa waktu lalu, Mahfudz mempertanyakan keseriusan pemerintah memulangkan Umar. "Bukan hanya sebagai buron, tapi juga karena statusnya sebagai warga negara," katanya. "Keterangannya juga diperlukan untuk mengungkap teror bom yang selama ini terjadi," ujarnya menambahkan.

l l l

Kamis pukul 07. 30 pekan lalu, pesawat yang membawa Umar Patek dari Pakistan mendarat di Bandara Halim Perdanakusuma. Begitu turun dari pesawat khusus itu, sebuah mobil langsung menjemput. Tak beberapa lama, rombongan yang membawa Umar melesat membelah kawasan Cawang yang padat. Umar langsung dibawa ke Markas Brigade Mobil Kelapa Dua, Depok. Ia dijebloskan ke tahanan yang terletak di belakang markas pasukan elite kepolisian itu. Menurut sumber Tempo, siang harinya Umar kemudian dibawa keluar. Ia dipertemukan dengan sejumlah pengacara yang akan menjadi pembelanya.

Kendati melakukan tindakan teror, Umar kelak tak akan diadili dengan Undang-Undang Terorisme. Ia akan dijerat dengan Undang-Undang Hukum Pidana. Ini karena saat ia melakukan kejahatannya, Undang-Undang Terorisme belum lahir. Salah satu pasal yang akan dibidikkan ke Umar adalah melakukan kejahatan pembunuhan dan pelanggaran atas Undang-Undang Darurat, yakni memiliki senjata api dan bahan peledak dengan tidak sah. Dengan kejahatan ini, ia bisa dihukum mati atau dipenjara seumur hidup.

Kendati kejahatan yang dilakukan Umar terjadi di sejumlah kota, Badan Nasional Penanggulangan Teror berharap pengadilan Umar dilakukan di Jakarta. Markas Besar Kepolisian mencatat, ada 23 teror bom di berbagai lokasi di Indonesia yang melibatkan Umar. Dengan beragamnya tempat kejadian ini, yang paling tepat, kata Ansyaad, Umar diadili di Jakarta. "Tapi semuanya memang tergantung Mahkamah Agung," katanya.

Umar memang tinggal menunggu hari untuk menuju pengadilan. Menurut Wakil Kepala Badan Reserse Kriminal Polri Inspektur Jenderal Bekto Soeprapto, pihaknya memiliki bukti lengkap perihal semua kejahatan yang dilakukan Umar.

Sandy Indra Pratama


Pelatih Perang dari Kamp Hudaibiyah

Umar Patek adalah pria dengan banyak nama. Ia, antara lain, dikenal sebagai Umar Kecil, Pak Taek, dan Zacky. Ketika berada di Afganistan pada 1991, sebagai rombongan pertama pelatihan kader Jamaah Islamiyah, namanya berubah menjadi Abu Syeikh. Umar dan kelompoknya berangkat ke Afganistan, bersama rombongan lain dari Malaysia, atas rekomendasi Abdullah Sungkar, pemimpin Jamaah Islamiyah Asia Tenggara, yang meninggal pada 1999.

Lahir dari pasangan Arab-Jawa, Ali Zein Bawazier-Fatimah, Umar menghabiskan masa kecil hingga dewasa di Pemalang, Jawa Tengah. Keluarga Bawazier tinggal di Jalan Semeru, Kelurahan Mulyoharjo. Di kampungnya, sulung tiga bersaudara ini selalu dikenal dengan nama Hisyam. Para tetangganya di Jalan Semeru mengenal Hisyam sebagai anak yang kalem, tak banyak bicara.

Medan perang Afganistan memang membuat Umar memiliki banyak keterampilan yang berkaitan dengan senjata dan bom. Di Kamp Hudaibiyah, Afganistan, markas para pejuang muslim, Umar kerap mendapat tugas mencampur bahan kimia untuk dijadikan peledak.

Menurut Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme Ansyaad Mbai, Umar Patek terlibat kasus bom Natal pada 2000 dan Bom Bali I pada 2002. Bahkan, dalam serangan bom di Pulau Dewata yang menyebabkan ratusan orang asing tewas itu, Umar adalah koordinator lapangan. Perannya itulah yang membuat ia menjadi buron paling dicari pemerintah Amerika Serikat dan Australia. Nyawanya dihargai satu juta dolar Amerika. "Soal bom, ia memang nomor wahid," ujar Ansyaad tentang pria 41 tahun ini.

Setelah melakukan aksi peledakan Bom Bali I, bersama kawan karibnya di Pemalang, Dulmatin, Umar kabur ke Filipina. Filipina bukan tempat asing bagi Umar. Setelah pusat pelatihan Jamaah Islamiyah di Afganistan bubar pada 1992, Umar, yang saat itu tinggal di Malaysia, pernah diminta terbang ke Filipina untuk menjadi pelatih perang bagi Jamaah Islamiyah di sana. Di negeri jiran ini, ia dilindungi kelompok Abu Sayyaf.

Umar Patek pernah dilaporkan tewas setelah terjadi bentrokan senjata antara pasukan pemerintah Filipina dan pasukan milisi Islam pada 14 September 2006 di Provinsi Sulu. Tapi laporan ini tak pernah menampilkan bukti, sampai kemudian ternyata ia masih lenggang kangkung di Pakistan.

Sandy


Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161819855921



Hukum 1/2

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.