Pendidikan 1/1

Sebelumnya Selanjutnya
text

Speak in English, Please!

Kelompok bermain dan taman kanak-kanak yang menggunakan pengantar bahasa Inggris menjamur di pelbagai kota. Diyakini sebagai masa paling efektif. Ongkosnya tak murah.

i

Brilliant Safaraz Syahputra belum genap berusia tiga tahun. Tak tampak kesulitan dia mengikuti instruksi yang disampaikan gurunya dalam bahasa Inggris. Sesekali dia juga berceloteh dalam bahasa asing itu.

"Brilliant, get your bag. And sit down, please!" kata Irma Yulianti, Kepala Sekolah Little Elephant, Bandar Lampung, pekan lalu. Sudah tiga minggu Brilliant bergabung dengan kelas The Explorers di kelompok bermain itu. Kelas ini untuk anak berusia dua hingga empat tahun. Mereka masuk tiga kali dalam sepekan dari pukul 08.00 hingga 10.00.

Segala hal di kelompok bermain itu hampir tak ada yang "berbau" lokal. Di perpustakaan kecil mereka, berderet buku cerita berbahasa Inggris. Pernak-pernik hiasan di dinding pun menggunakan bahasa negeri Kate Middleton. Anak-anak kecil itu bernyanyi, berhitung, dan mengenal warna juga dalam bahasa Inggris. Dari kelas Busy Bodies (umur 1-2 tahun) hingga Challenger (4-6 tahun), ada 57 anak yang belajar di Little Elephant.


"Saya memang mencari kelompok bermain yang pengajarnya bisa melafalkan bahasa Inggris dengan benar," kata Lusiana, 28 tahun, orang tua Brilliant. Dia mengatakan sudah berkeliling Bandar Lampung mencari kelompok bermain berbahasa Inggris. Selama beberapa tahun, Lusiana dan keluarganya memang sempat tinggal di Singapura. Sehari-hari keluarga ini biasa bercakap dalam bahasa Inggris.

161820105329

Jika diajari sejak dini, anak akan lebih mudah belajar saat memasuki bangku sekolah dasar, menengah pertama, hingga perguruan tinggi. Lancar berbahasa Inggris, kata Lusiana, merupakan modal penting bagi masa depan anaknya nanti.

Luke Savianti bahkan memasukkan anaknya ke Sekolah Bina Widya di Solo, Jawa Tengah, yang menggunakan tiga bahasa: Indonesia, Inggris, dan Mandarin. Menurut Luke, belajar bahasa asing sejak kecil akan jauh lebih mudah ketimbang memulainya ketika sudah sekolah menengah. "Pengalaman saya seperti itu," katanya.

Dia mengaku tak risau putrinya ketinggalan dalam penguasaan bahasa Indonesia. Sebab, sesekali bahasa Indonesia masih dipakai di kelas. Dia juga optimistis, selepas dari kelompok bermain dan taman kanak-kanak di Bina Widya, anaknya masih bisa ikut bersaing masuk sekolah umum.

Di Little Elephant memang tak setiap saat digunakan bahasa Inggris. Sesekali, untuk memudahkan si kecil memahami, perintah disampaikan dalam bahasa Indonesia. Untuk kelas umur satu hingga empat tahun, menurut Irma Yulianti, porsi bahasa Inggris baru separuhnya. "Kalau di kindergarten, delapan puluh persen sudah berbahasa Inggris," kata Irma. Pada tingkat kelompok bermain di Bina Widya, anak-anak kecil ini juga baru diperkenalkan dengan bahasa Inggris dan Mandarin. Kepala Sekolah Bina Widya, Liu Mei Jin, mengatakan, "Tahapnya baru mendengarkan saja." Setelah masuk taman kanak-kanak, barulah mereka dilatih bercakap bahasa Inggris ataupun Mandarin.

Kelompok bermain dan taman kanak-kanak berbahasa Inggris itu tak lagi melulu ada di metropolitan, seperti Jakarta dan Surabaya. Semangat mengajarkan bahasa asing sejak umur sangat belia ini sudah merasuk ke daerah-daerah. Sebagian kelompok bermain, seperti Tumble Tots, Tutor Time, dan Kinderland, berafiliasi dengan sekolah di luar negeri. Tapi tak sedikit pula, seperti Little Elephant, yang didirikan guru-guru lokal.

Tentu saja, sekolah bermain seperti itu tidak murah. Untuk masuk ke Little Elephant, orang tua harus menyetor Rp 3 juta. Setiap bulan mereka juga masih harus membayar iuran Rp 250 ribu hingga Rp 450 ribu, sesuai dengan kelas si kecil.

l l l

Bahasa Inggris dan bahasa asing lainnya, menurut ungkapan yang selalu diulang-ulang, merupakan jendela menuju peradaban dunia. Persoalannya, apakah bahasa asing kedua, ketiga, dan seterusnya ini perlu diajarkan sejak anak masih sedemikian belia.

Direktur Pembinaan Pendidikan Anak Usia Dini Erman Syamsuddin mengatakan Kementerian Pendidikan Nasional sebenarnya tak menganjurkan bahasa asing diperkenalkan atau diajarkan di kelompok bermain atau taman kanak-kanak. "Kecuali bagi sekolah yang berafiliasi internasional," kata Erman pekan lalu. Tanggung jawab dinas pendidikan di daerahlah pengaturan soal kelompok bermain dua atau tiga bahasa ini. "Kami malah menganjurkan kelompok bermain dan taman kanak-kanak menggunakan bahasa ibu."

Menurut Erman, materi di kelompok bermain dan taman kanak-kanak bertujuan menopang pertumbuhan fisik dan perkembangan mental anak-anak. "Intinya bermain dan harus menyenangkan. Tak boleh ada pemaksaan," katanya. Pengajaran membaca, menulis, dan berhitung juga tak disarankan. Fokus pemerintah sekarang adalah memperluas akses pendidikan anak usia dini sembari menjaga kualitas.

Berdasar kesepakatan antarnegara berkembang di Dakar, Senegal, pada 2000, partisipasi anak dalam pendidikan usia dini minimum 75 persen pada 2015. "Tahun lalu baru 56,1 persen," kata Erman. Mulai 2011, Kementerian Pendidikan Nasional menganggarkan bantuan operasional pendidikan bagi sekolah usia dini. "Tapi baru 750 ribu anak dari total 8,8 juta anak yang menerima."

Walaupun pemerintah tak menganjurkan pengenalan bahasa asing sejak usia dini, Yulia Ayriza, psikolog pendidikan dari Universitas Negeri Yogyakarta, mengatakan pada usia sangat belia inilah masa terbaik mereka mulai belajar bahasa asing. Dosen linguistik di Universitas Sumatera Utara, Gustianingsih, sependapat soal pengenalan multibahasa bagi si kecil. Tak jadi masalah apakah si kecil seorang jenius atau kecerdasannya standar saja. Inteligensia, menurut dia, tak selalu berhubungan dengan kemampuan penyerapan bahasa.

Di negara maju, seperti Amerika Serikat, bahasa kedua juga sudah diperkenalkan sejak usia dini. Azure Warrenfeltz, 4 tahun, sudah fasih berbahasa Inggris, Jepang, dan Spanyol. Bocah dari Jacksonville, Florida, ini juga paham beberapa kosakata dalam bahasa Italia, Jerman, Prancis, dan Arab. "Aku lebih pintar daripada ayahku. Dia hanya bisa bilang muchas gracias," Azure, seperti dikutip USA Today, mengatakan dengan bangga.

Ketika anak berumur hingga lima tahun, kemampuan pendengaran dan menirukan bahasa berada pada kondisi sangat prima. Otak kiri dan kanan belum terbelah sempurna. Tak jadi soal apakah mereka belajar bahasa kedua atau bahasa ketiga sekaligus. Perlahan, mereka akan memilah-milah sendiri masing-masing bahasa. Jadi tak usah terlalu risau, kata Yulia. Bahasa ibu tak akan hilang hanya karena anak-anak ini belajar pelbagai bahasa asing.

Sapto Pradityo, Nurochman Arrazie (Bandar Lampung), Ahmad Rafiq (Solo)


Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161820105329



Pendidikan 1/1

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.