Kolom 1/1

Sebelumnya Selanjutnya
text

Pasar Global Panik: Apakah Kali Ini Beda

Raden Pardede*)

Dalam waktu yang sangat singkat, hanya empat hari kerja, sejak 4 Agustus 2011, pasar saham global merosot US$ 8,1 triliun atau setara dengan 14,8 persen dari nilai pasar. Tak ada satu pun pasar saham yang tidak merosot, termasuk pasar saham Indonesia. Seiring dengan gejolak di pasar saham, pasar surat utang, pasar uang, pasar devisa, dan pasar komoditas juga bergolak. Panik terjadi di berbagai penjuru dunia. Akankah krisis keuangan global terulang seperti pada 2008?

Para pembuat kebijakan di seluruh dunia mencoba menenangkan pasar dengan menyatakan siap mengambil tindakan cepat. Di Indonesia, Presiden bergegas melakukan rapat kabinet ekonomi terbatas Jumat dua pekan lalu. Seperti lazimnya, pembuat kebijakan tentu harus menenangkan pasar: fundamental perekonomian Indonesia kuat, kita sudah mempersiapkan diri, antara lain dengan adanya protokol penanganan krisis. Jadi tak perlu khawatir. Ternyata pasar tetap bergerak turun dan tidak peduli dengan pernyataan para pembuat kebijakan. Ketakutan dan kepanikan sudah bercampur-baur.

i

Raden Pardede*)

Dalam waktu yang sangat singkat, hanya empat hari kerja, sejak 4 Agustus 2011, pasar saham global merosot US$ 8,1 triliun atau setara dengan 14,8 persen dari nilai pasar. Tak ada satu pun pasar saham yang tidak merosot, termasuk pasar saham Indonesia. Seiring dengan gejolak di pasar saham, pasar surat utang, pasar uang, pasar devisa, dan pasar komoditas juga bergolak. Panik terjadi di berbagai penjuru dunia. Akankah krisis keuangan global terulang seperti pada 2008?

Para pembuat kebijakan di seluruh dunia mencoba menenangkan pasar dengan menyatakan siap mengambil tindakan cepat. Di Indonesia, Presiden bergegas melakukan rapat kabinet ekonomi terbatas Jumat dua pekan lalu. Seperti lazimnya, pembuat kebijakan tentu harus menenangkan pasar: fundamental perekonomian Indonesia kuat, kita sudah mempersiapkan diri, antara lain dengan adanya protokol penanganan krisis. Jadi tak perlu khawatir. Ternyata pasar tetap bergerak turun dan tidak peduli dengan pernyataan para pembuat kebijakan. Ketakutan dan kepanikan sudah bercampur-baur.

Mengapa hal ini terjadi?


Reaksi pasar yang sangat panik ini bukan tanpa alasan, dan jelas bukan spekulasi dari berbagai rumor pasar. Kali ini alasannya sangat fundamental dan dipicu oleh penyelesaian persoalan utama di negara maju.

161820082012

Pertama, pemulihan perekonomian di Amerika ternyata jauh lebih lemah dari perkiraan para analis. Hal ini baru diketahui dari data yang dikeluarkan Biro Statistik Ekonomi AS pada 3 Agustus 2011. Semua kebijakan pemerintah selama ini, stimulus fiskal dan moneter, tidak memadai untuk memulihkan perekonomian AS. Implikasi lebih lanjut adalah pertumbuhan perekonomian global akan lebih lambat dari perkiraan semula.

Kedua, kurangnya sense of urgency dari para politikus dan pemimpin di AS dalam pengambilan keputusan penentuan batas atas utang dan pemotongan pengeluaran pemerintah AS. Ternyata para politikus di mana-mana sama: kurang memikirkan kepentingan masyarakat luas dan hanya memikirkan kepentingan sendiri. Sementara itu, arah kebijakan fiskal yang mereka setujui sama sekali tidak jelas kaitannya dengan usaha pemulihan ekonomi. Masyarakat dan pelaku pasar kecewa serta kehilangan kepercayaan kepada para pembuat kebijakan.

Ketiga, Standard &Poor’s menurunkan peringkat negara AS dari AAA menjadi AA+. Penurunan peringkat ini memperjelas keyakinan dari para pelaku ekonomi dan masyarakat bahwa kekuatan perekonomian AS sudah melemah dan arah kebijakan pemulihan pun tidak pasti. Inilah pertama kalinya Amerika mengalami penurunan peringkat dari AAA sejak adanya lembaga pemeringkat tersebut pada awal abad ke-20.

Keempat, adanya kekhawatiran para investor bahwa Italia dan mungkin Spanyol juga akan mengalami persoalan pembayaran utang. Suku bunga utang kedua negara melonjak signifikan di pasar surat utang. Kekhawatiran ini sudah berlangsung cukup lama, dimulai krisis utang Yunani, Irlandia, dan Portugal. Pelaku pasar menunggu dengan cemas apakah negara dengan ekonomi yang lebih besar, seperti Italia dan Spanyol, dapat melakukan konsolidasi fiskal dan memperjuangkannya di parlemen masing-masing. Pelaku pasar ragu akan keseriusan politikus di Eropa untuk menangani persoalan. Sedangkan fasilitas dana stabilisasi Eropa yang ada sudah tidak memadai untuk menalangi pembayaran utang negara sebesar Italia atau Spanyol. Beberapa bank besar di Prancis, Jerman, dan Inggris terancam kolaps jika Italia tidak mampu membayar utang.

Kelima, biaya jaminan sosial dan kesehatan di negara maju sudah sangat membebani bujet pemerintah dalam beberapa tahun terakhir. Pangsanya sangat signifikan dan terus naik setiap tahun, sementara penduduk makin menua. Tanpa reformasi sistem jaminan sosial, banyak negara maju akan bangkrut.

Keenam, kemampuan fiskal negara maju untuk mendorong pemulihan ekonomi sudah hilang karena tingkat utang yang sudah sangat tinggi. Hal ini sangat berbeda dengan resesi pada 2008-2009, di mana seluruh dunia secara bersama-sama memberikan stimulus fiskal. Kali ini kebijakan itu tidak mungkin lagi. Satu-satunya yang bisa dilakukan adalah kebijakan moneter, yaitu menurunkan suku bunga—kalau masih mungkin—memberikan komitmen bahwa dalam beberapa tahun ke depan tidak menaikkan suku bunga acuan (dilakukan AS minggu ini), atau melakukan pembelian surat utang sehingga likuiditas bertambah di pasar.

Indonesia tentu bersyukur perekonomian dalam keadaan baik. Sumber permasalahan bukan dari dalam negeri. Namun kita tidak boleh merasa puas karena masih banyak pekerjaan rumah dan berbagai tantangan harus diantisipasi. Penularan krisis dapat terjadi cepat, bahkan negara dengan fundamental ekonomi yang baik tidak kebal terhadap terpaan krisis. Jadi bersiaplah.

Apa dampak dari persoalan fundamental ekonomi negara maju tersebut?

Dari diskusi tersebut jelas reaksi pasar kali ini punya dasar yang kuat. Karena itu, dampaknya tidak sementara, tapi berdampak jangka menengah dan panjang.

Dalam jangka pendek, pasar saham, surat utang, dan mata uang masih akan bergejolak. Para pengelola aset yang selama ini memegang dolar AS sudah mulai memindahkannya ke mata uang lain yang lebih aman (safe-haven), seperti mata uang Swiss, Kanada, Norwegia, Selandia Baru, Australia, dan Singapura. Emas pun menjadi pilihan utama untuk berlindung.

Panik dan ketakutan mengakibatkan likuiditas pasar mengering di beberapa tempat. Hal ini menjadi alasan bank sentral AS, bank sentral Eropa, dan di seluruh dunia bersiap memompa likuiditas ke pasar jika diperlukan.

Yang tidak kalah menarik dan lucu adalah para pemegang surat utang AS dan aset dalam dolar AS, yaitu bank-bank sentral yang mempunyai cadangan devisa besar dalam dolar (terutama negara-negara Asia) beserta para fund manager bersama-sama mendukung surat utang AS. Meskipun sebetulnya persoalan AS dan negara maju lainnya kali ini beda, mereka tidak mungkin menjual aset mereka secara besar-besaran karena akan menurunkan harga aset dan merugikan mereka. Inilah penjelasannya kenapa bunga surat utang AS untuk sementara waktu masih tetap turun dan bukan naik.

Dalam jangka menengah dan panjang, hampir pasti kekuatan ekonomi AS, Eropa, dan negara maju lain sedang dalam masa penurunan. Dari enam alasan persoalan fundamental di atas, masa keemasan mereka sudah terlewati beberapa tahun belakangan ini. Karena itu, semua yang memegang aset dalam dolar AS, termasuk bank sentral, akan mengurangi portofolio secara bertahap. Mereka akan mencari bentuk investasi baru dalam mata uang lain. Dolar AS yang selama ini menjadi tempat menabung yang aman (safe-haven) sudah berakhir.

Kekuatan ekonomi dunia sedang bergeser menuju ke negara berkembang, yang dimotori Cina, India, Brasil, bahkan mungkin Indonesia. Dalam hal ini, kemungkinan arus modal masuk ke Indonesia bisa terjadi dalam jumlah yang masif. Potensi ini akan bisa sangat menguntungkan, tapi bisa menjadi persoalan besar manakala daya serap perekonomian kita terhadap arus modal masuk tersebut terbatas.

Pencarian titik keseimbangan baru akan berlangsung lama, 5-10 tahun. Selama masa ini, diversifikasi dan pengurangan aset dalam dolar AS akan terus berlangsung. Transaksi neraca pembayaran dunia akan mencari titik keseimbangan baru. Pada masa ini, gejolak pasar bisa terjadi sewaktu-waktu.

Bagaimana perusahaan dan rumah tangga mempersiapkan diri?

Jangan panik. Pahami bahwa sekarang adalah masa transisi ke arah keseimbangan perekonomian dunia yang baru.

Kurangi exposure dalam dolar AS ataupun euro secara bertahap. Diversifikasi portofolio ke berbagai mata uang dan aset—jangan lupa rupiah—dengan mempertimbangkan kebutuhan transaksi dan tingkat keamanan. Hindari penggunaan dolar AS sebagai perantara transaksi perdagangan, dengan menggunakan mata uang negara asal. Siapkan kebutuhan kas yang memadai dalam beberapa bulan ke depan.

Bagaimana dengan pemerintah?

Berharap yang terbaik, tapi persiapkan yang terburuk. Keberadaan kerangka hukum Jaring Pengaman Sistem Keuangan sangat mendesak supaya pembuat keputusan punya kekuatan hukum untuk mengambil tindakan yang diperlukan. Para politikus di parlemen kiranya dapat melihat kepentingan yang lebih luas, sehingga mempercepat pembuatan undang-undang ini.

Protokol penanganan krisis siap diaktifkan dan latihan penanganan krisis dilakukan secara berkala. Pencadangan likuiditas untuk antisipasi ancaman krisis baik oleh BI ataupun oleh pemerintah harus selalu dilakukan. Langkah yang diambil dan komunikasi publik dilakukan secara terkoordinasi dan direncanakan dengan baik, bukan sewaktu-waktu, di mana-mana, dan oleh semua orang. Sistem jaring pengaman sosial selalu siap diaktifkan untuk mengurangi beban masyarakat bawah di kala terjadi gejolak ekonomi yang berkepanjangan.

Yang tidak kalah penting, daya serap dan kapasitas ekonomi harus segera diperbaiki, termasuk perbaikan sektor infrastruktur keras dan lunak serta penguatan sektor keuangan. Manakala arus modal masuk dalam jumlah besar, kita mampu menyerap menjadi investasi produktif tanpa mengalami persoalan ”overheating dan bubble”.

Kali ini beda, dan menjadi peringatan buat kita.

Para pemangku kepentingan di negeri ini, termasuk para politikus dan masyarakat luas, dapat belajar dari berbagai kesalahan yang dilakukan negara maju. Apa yang ditanam, itulah yang akan dituai. Disiplin fiskal dan alokasi bujet yang efisien dan produktif harus dilanjutkan. Sistem jaminan sosial dan kesehatan harus dirancang dengan baik, dengan memperhitungkan beban lintas generasi, sehingga pada saat terjadi perubahan demografi dan penduduk kita mulai menua, kita tidak menuai badai.

*) Pendiri CReco Research Institute


Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161820082012



Kolom 1/1

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.