Internasional 2/3

Sebelumnya Selanjutnya
text

Api dari Kantong Kaum Miskin

Polisi Inggris dianggap bersikap rasial terhadap kelompok minoritas. Kantong kemiskinan di balik gemerlap London.

i

Toko Reeves Furniture di Reeve’s Corner, Distrik Croydon, selatan London, itu ludes dilalap api yang disulut para perusuh. Yang tersisa dari toko legendaris yang didirikan pada 1867 itu hanya puing dan jelaga. Morris Reeve, generasi kelima pemilik toko mebel itu, merasa ada sesuatu yang salah dalam masyarakat Inggris dewasa ini.

"Waktu saya kecil, jika ada anak nakal melempari toko dengan batu, polisi langsung bertindak," katanya kepada Tempo. "Sekarang, bahkan untuk menghadapi para remaja ini, polisi harus melindungi diri dengan tameng."

Reeve dan beberapa warga London lainnya merasa polisi tidak bisa mengatasi kerusuhan. Polisi Inggris, yang dalam tugas sehari-hari tidak menyandang senjata, menghadapi dilema besar dalam menghadapi perusuh.


Sebelum ini, Metropolitan Police dianggap salah ketika menembak mati seorang pemuda asal Brasil yang dikira tersangka teroris di sebuah stasiun kereta api bawah tanah London. Mereka juga dituduh menyalahgunakan wewenang ketika seorang pejalan kaki dihantam sampai mati oleh polisi yang menjaga pertemuan pemimpin negara-negara G-20.

161819539092

Beberapa polisi yang turun ke jalan mengatakan kepada Tempo, alasan di balik kerusuhan itu antara lain pemotongan anggaran belanja pemerintah. Pemotongan anggaran membuat kesenjangan ekonomi dan sosial melebar. Jumlah keluarga berantakan bertambah, angka pengangguran meningkat, begitu pula kejahatan.

Di balik gemerlap London, memang tersuruk beberapa kantong permu­kiman kaum papa. Selain dihuni warga "pribumi" (kulit putih Inggris), kawasan itu dipenuhi penduduk dari kelompok etnis minoritas. Sebagian baru belakangan berimigrasi ke Inggris, seperti orang-orang Vietnam dan kelompok-kelompok dari Afrika Barat. Ada pula imigran yang sudah lebih lama bermukim, seperti orang Pakistan, India, dan Afro-Karibia.

Angka kriminalitas di kawasan itu tergolong tinggi, baik kejahatan kecil maupun kejahatan berat yang melibatkan geng narkoba dan kejahatan bersenjata. Tottenham dan Hackney, tempat dimulainya kerusuhan, tercatat sebagai daerah dengan angka pengangguran dan kriminalitas tertinggi di London.

Di kawasan Tottenham bahkan tinggal kelompok etnis minoritas yang masih menggunakan bahasa ibu mereka, seperti bahasa Swahili, Bangladesh, atau Hindi. Di daerah itu pula bermula serangkaian bentrokan antara penduduk miskin dan polisi, yang dikenal sebagai kerusuhan Broadwater Farm, pada 1985.

Dalam insiden itu, seorang polisi tewas ditikam dan 60 lainnya terluka. Semua ini membuat hubungan masyarakat setempat dengan polisi tidak harmonis. Di Tottenham, ada rasa ketidakpuasan dan ketegangan antara polisi dan pemuda lokal, yang mayoritas berkulit hitam.

Kendati polisi sudah berusaha memperbaiki komunikasi dengan penduduk dan kelompok etnis minoritas, Darcus Howe, penulis Inggris, mengatakan polisi belum benar-benar berubah. Dalam wawancara dengan program Newsnight, Howe mengatakan cucunya yang berusia 15 tahun pernah dihentikan untuk diperiksa oleh polisi dengan cara yang merendahkan, hanya karena warna kulit yang berbeda. "Kami yang berkulit hitam selalu dipersekusi polisi," ujarnya.

Namun Billy Wibisono, Sekretaris Ketiga Informasi dan Sosial-Budaya di Kedutaan Besar Indonesia untuk Inggris, mengatakan tidak percaya kerusuhan ini ada hubungannya dengan kematian Duggan, rasialisme, atau diskriminasi. "Saya pikir penembakan Mark Duggan itu dimanfaatkan oleh pihak yang tidak bermoral, yang kemudian mengubahnya menjadi kegiatan murni penjarahan, vandalisme, dan perusakan harta benda," katanya.

Lenah Susianty (London), Yogita Lal


Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161819539092



Internasional 2/3

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.