Wawancara 1/1

Sebelumnya Selanjutnya
text

Tuan Guru Haji Hasanain Juaini:
Jihad Terbesar Melawan Diri Sendiri

Truk merah bertulisan "Madani Valley" itu meninggalkan area pembibitan tanaman milik Pondok Pesantren Nurul Haramain di Desa Lembuak, Kecamatan Narmada, sekitar sepuluh kilometer dari Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat. Di belakang kemudi, duduk Tuan Guru Haji Hasanain Juaini, 47 tahun, sang pemimpin pesantren.

Siang itu, Hasanain membimbing sejumlah santri putri madrasah aliyah melakukan penghijauan. Mereka membawa ratusan bibit pohon untuk ditanam di hutan Lembah Suren Sesaot, sekitar lima belas kilometer dari lokasi pesantren. Tahun ini, dia menargetkan menyebar sejuta bibit pohon untuk penghijauan. Lantaran cuaca bagus, tahun lalu dia berhasil menyalurkan 1,6 juta bibit tanaman.

i
p>Truk merah bertulisan "Madani Valley" itu meninggalkan area pembibitan tanaman milik Pondok Pesantren Nurul Haramain di Desa Lembuak, Kecamatan Narmada, sekitar sepuluh kilometer dari Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat. Di belakang kemudi, duduk Tuan Guru Haji Hasanain Juaini, 47 tahun, sang pemimpin pesantren.

Siang itu, Hasanain membimbing sejumlah santri putri madrasah aliyah melakukan penghijauan. Mereka membawa ratusan bibit pohon untuk ditanam di hutan Lembah Suren Sesaot, sekitar lima belas kilometer dari lokasi pesantren. Tahun ini, dia menargetkan menyebar sejuta bibit pohon untuk penghijauan. Lantaran cuaca bagus, tahun lalu dia berhasil menyalurkan 1,6 juta bibit tanaman.

Tuan Guru—panggilan hormat seperti kiai di Jawa—Hasanain memang sosok ulet berpikiran maju. Di pesantren yang dihuni sekitar seribu santri dan santri putri itu, dia juga menyediakan fasilitas hotspot untuk akses Internet, bantuan dari Universitas Waseda, Jepang. Para santri memiliki komputer yang dirakit sendiri, untuk menghemat biaya.

Kendati berasal dari kampung, nama Hasanain kini sejajar dengan tokoh terkemuka, seperti Abdurrahman Wahid, Mochtar Lubis, Syafi’i Ma’arif, dan Pramoedya Ananta Toer. Dia memperoleh penghargaan Ramon Magsaysay, yang akan diserahkan pada 31 Agustus mendatang.


Ramon Magsaysay adalah Presiden Filipina (1953-1957) yang tewas dalam kecelakaan pesawat terbang di Cebu, 17 Maret 1957. Untuk mengenang jasa-jasanya, Yayasan Magsaysay memberi penghargaan tahunan kepada orang yang dianggap memiliki integritas dan idealisme serta gigih berjuang di tengah lingkungannya. Hasanain dipilih karena mengembangkan pendidikan pesantren berbasis kemasyarakatan. Sarjana hukum lulusan Universitas Mataram ini juga dinilai kreatif mempromosikan kesetaraan gender, kerukunan beragama, serta pelestarian lingkungan.

161819747277

Di bebaliq—bangunan terbuka seluas lapangan voli—di dalam kompleks pesantren, Hasanain menerima Supriyanto Khafid dan fotografer Dwianto Wibowo dari Tempo.

Anda bangga mendapat penghargaan Ramon Magsaysay?

Saya tidak pernah bermimpi dan tak pernah mencari penghargaan. Kami juga tidak pernah mencari biaya untuk meluncurkan program. Kalaupun ada bantuan, kami tak pernah menyiapkan dan membuat proposal sendiri. Kami tidak mengejar uang. Lebih baik uang mengejar kami.

Apa makna penghargaan itu bagi Anda?

Artinya, mereka menginginkan kami bekerja lebih keras. Kami tak boleh mengecewakan pemberinya. Saya ditelepon orang yang mengaku dari Filipina pada 25 Juli, tiga hari sebelum pengumuman. Waktu itu, saya dalam perjalanan di Kabupaten Lombok Timur. Karena peneleponnya menggunakan private number, saya tak mengangkat telepon. Setelah berulang kali panggilan telepon masuk, akhirnya saya jawab. Ia mengatakan saya mendapat Ramon Magsaysay Award. Saya jawab: "I’m not crazy. Thank you for mistaken." Saya tak sebanding dengan orang-orang yang pernah menerima penghargaan itu, seperti Gus Dur, Syafi’i Ma’arif, dan Pramoedya Ananta Toer.

Anda dianggap berhasil mengembangkan Pondok Pesantren Nurul Haramain, yang memberi tempat juga kepada santri putri....

Saya ingin ada perhatian lebih kepada perempuan. Metode belajarnya sama. Pondok Pesantren Nurul Haramain didirikan oleh orang tua saya, Juaini Muhtar, pada 1952. Sebelumnya pesantren khusus laki-laki.

Bagaimana Anda mulai terlibat?

Ayah saya sudah mendorong pendidikan serta membangun masjid di Kecamatan Narmada. Saya berpikir, dulu orang tua begitu, kok saya tidak. Jadi saya berusaha mengembangkan pesantren ini. Sekarang para santri datang dari berbagai daerah, seperti Sulawesi, Bali, dan Papua. Pondok pesantren putri, yang cikal bakalnya di Desa Lembuak Mekar Indah, akan dipindahkan menjadi satu lokasi dengan pesantren putra di Lembuak Kebon Sekolo.

Pesantren Nurul Haramain membuka peluang bagi perempuan untuk menimba ilmu....

Pesantren Nurul Haramain seperti membayar utang terhadap bentuk diskriminasi gender dalam kehidupan sosial karena tradisi. Misalnya, anak laki-laki akan didahulukan jika satu keluarga hanya memiliki biaya pendidikan untuk satu anak.

Apa pendapat Anda tentang konsep kesetaraan gender?

Sebetulnya pemahaman kesetaraan gender sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad. Menurut Nabi, laki-laki dan perempuan seperti terbelah. Perempuan belahan laki-laki, dan sebaliknya. Dalam konsep agama, posisinya setara. Masing-masing sebagai pakaian bagi yang lainnya. Sekarang perempuan mempunyai kebutuhan menguasai apa yang dulu dianggap tidak pantas, seperti karate, yang diajarkan di pesantren ini. Mereka harus dibekali ilmu melindungi diri.

Karya Anda dalam mengembangkan pluralisme menjadi salah satu dasar penghargaan Ramon Magsaysay. Bagaimana pendapat Anda?

Saya tak berpendapat karena sudah jelas. Ajaran Islam menerima perbedaan di dunia ini. Ada firman Allah, "Jangan kamu menghina tuhan-tuhan orang yang menyembah selain Allah. Kalau kamu lakukan, niscaya mereka akan menghina tuhanmu." Ayat itu bentuk pengakuan bahwa kita berbeda. Konsep dasarnya jelas, yakni ada perbedaan. Pertanyaannya bukan mengakui pluralisme atau tidak, melainkan bagaimana mendidik anak menanggapi dan menghadapi perbedaan.

Bagaimana Anda mengajarkan pluralisme di lingkungan pesantren yang biasanya homogen?

Kami mengajari santri menghadapi perbedaan dengan mendatangkan orang asing. Kami bekerja sama dengan sekolah-sekolah luar negeri yang lebih banyak nonmuslim. Mereka tinggal di sini, belajar bahasa Indonesia dan memasak. Kalau mereka bukan muslim, tidak perlu berjilbab, tapi tetap dianjurkan mengenakan pakaian sopan. Kami juga mengirim santri laki-laki dan perempuan ke Jepang, Australia, Amerika Serikat, serta Swiss untuk menambah pengalaman dan mengasah kemampuan berbahasa Inggris.

Sebagian pesantren melakukan pelatihan militer dan merakit bom, seperti terjadi di Bima. Apa pendapat Anda?

Kita harus kembali ke fungsi lembaga pendidikan. Pesantren, perguruan, serta lembaga pendidikan dengan sistem boarding school atau asrama memang tempat indoktrinasi. Kalau sudah mengajarkan latihan militer, merakit bom, dan menggunakan senjata, itu sudah keluar dari khittah. Pesantren adalah lembaga pendidikan agama dan moral, sehingga santri bisa berbakti kepada masyarakat.

Ada yang berpendapat, dengan pelatihan militer, umat Islam bisa berjuang dan siap menghadapi perang kapan saja....

Dalam saat tertentu, ketika kesepakatan ulama menyatakan telah datang masa darurat, pesantren bisa berubah fungsi menjadi tempat pertahanan. Sekarang kan tak ada kesepakatan umat, dan bangsa ini tidak dalam keadaan darurat. Kalau ada pondok pesantren yang tindakannya begitu, bisa dikatakan aneh, jadi sejenis anomali budaya. Peruntukan pondok pesantren normal pada masa normal adalah pendidikan agama dan pembangunan karakter serta akhlak.

Konsep jihad sering kali dipersempit, sehingga identik dengan memerangi Barat....

Saya tak paham. Jihad itu kerja keras, dan lillahita’ala. Kalau dirujukkan ke perang, menjadi pemerkosaan istilah. Begitu orang mendengar kata jihad, alam bawah sadarnya langsung mengacu pada perang. Padahal, dalam pemahaman Islam, segala yang membutuhkan kerja keras, itulah jihad. Dalam konsep Islam, jihad terbesar justru melawan diri sendiri. Bagaimana menyempurnakan akhlak, membersihkan niat, memupuk kasih sayang, serta melawan sifat iri, pelit, dan dengki. 

Apa pendapat Anda tentang sejumlah daerah yang membuat dan melaksanakan peraturan daerah bermotif syariat?

Ini termasuk ambivalensi negara. Kalau itu merupakan konsekuensi demokrasi, tidak boleh dipermasalahkan. Misalnya dunia juga marah kepada orang yang membatalkan kemenangan Front Keselamatan Islam (FIS) di Aljazair. Padahal ia menang melalui proses demokrasi. Namun kemenangannya tidak menyenangkan kita, sehingga dianggap tidak demokratis. Ini yang salah.

Sebagai Ketua Forum Komunikasi Umat Beragama Kabupaten Lombok Barat dan Nusa Tenggara Barat, bagaimana Anda menanamkan kerukunan hidup beragama?

Pertama, membuat peta konflik dan memilah mana kasus intra dan ekstra-agama. Tugas saya meliputi antar-umat beragama. Soal internal umat beragama urusan Majelis Ulama Indonesia, Parisadha Hindu Dharma, serta lembaga Kristen dan Katolik. Sekarang sedang digagas inventarisasi kegiatan agama yang tidak disukai agama lain supaya nanti bisa dikomunikasikan. Misalnya, orang Islam melakukan upacara nyongkolan, bagian dari tradisi Sasak, pada saat orang Hindu melaksanakan ibadat Nyepi. Harus dicari titik temu dan komprominya.

Apa penilaian Anda tentang kerukunan hidup umat beragama secara keseluruhan di Indonesia?

Saya kira terbaik di dunia. Perdana Menteri Italia pernah datang ke Indonesia dan menyebutnya sebagai model.

Bukankah masih ada kasus kekerasan yang mengatasnamakan agama, seperti kasus Ahmadiyah di Cikeusik dan Gereja Kristen Yasmin di Bogor?

Itu bagian dari cara menghadapi perbedaan yang tidak pernah diajarkan dan dididik. Kita tak pernah dilatih menghadapi perbedaan.

Apa pendapat Anda tentang kegiatan sweeping yang kerap dilakukan sejumlah organisasi Islam selama Ramadan?

Kalau itu, kita menyesalkan. Ilmu kita di bidang teknologi berlipat kali kecepatannya dibandingkan dengan ilmu di bidang sosial. Kita sangat rendah dalam berdemokrasi dan mengaplikasikan kebebasan. Penegakan keadilan juga tak mendukung. Jaksa dan hakim korup mungkin tidak berpikir tindakannya akan merembet ke mana-mana. Orang akhirnya melakukan cara tidak normal karena tidak mendapatkan haknya melalui jalan normal. Melapor ke polisi belum tentu ditanggapi, sehingga lebih baik digerebek. Ini bentuk ketidakmampuan masyarakat menggunakan haknya.

Apa yang membuat Nurul Haramain disebut sebagai pesantren berbasis kemasyarakatan?

Di sini diterapkan program santri muhibah. Santri diberi kesempatan berkunjung dan belajar di pondok pesantren lain. Program ini tujuannya merespons pertanyaan masyarakat tentang alumni pesantren yang, setelah pulang kampung, menghasilkan pribadi tak sama.

Apa yang membuat Anda memberi perhatian pada kegiatan pemeliharaan lingkungan?

Kami memiliki program konservasi guna menata dan melestarikan alam sekaligus beribadah. Selama ini kepedulian masyarakat terhadap lingkungan rendah, bahkan terkesan apatis. Gerakan pemerintah lebih cinta pohon harus dimulai dari warga. Ibadah kepada Allah dasarnya alam lingkungan yang lestari. Belajar, mengaji, dan menanam pohon sebagai satu kesatuan. Di Sumbawa, kami menanam bibit jati lokal dan jati emas. Di Sekotong, Lombok Barat, kami menanam bibit gamelina dan jati putih. Di Nusa Penida, Karang Asem, dan Singaraja, kami menanam pohon randu alas.

Apakah pemerintah pusat dan daerah ikut membantu program pemeliharaan lingkungan ini?

Dukungan pemerintah masih kurang. Gerakan sejuta pohon tidak tepat secara nasional. Gerakan sejuta pohon seharusnya di tingkat kabupaten.

Mengapa Anda mau mencurahkan waktu dan tenaga untuk kegiatan kemasyarakatan?

Saya tersiksa tak bisa tidur kalau tidak mengerjakan apa yang muncul dalam inspirasi.

Tuan Guru Haji Hasanain Juaini Tempat dan tanggal lahir: Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat, 17 Agustus 1964 Pendidikan: Pascasarjana Fakultas Hukum Universitas Mataram (2006) l Sarjana Fakultas Hukum Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab Jakarta (1995) l Sekolah Menengah Atas Kulliyatul Mu’allimin Al-Islamiyah Gontor, Jawa Timur (1984) Karier: Pendiri dan Direktur Pondok Pesantren Nurul Haramain Narmada, 1996-sekarang l Ketua Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Lombok Barat, 2003-2008 l Ketua Forum Untuk Kerukunan Umat Beragama Kabupaten Lombok Barat, 2007-sekarang l Anggota Forum Kerja Sama Pengembangan Pesantren Asrama 2007-sekarang l Anggota Pusat Pengembangan Madrasah (Madrasah Development Center) Provinsi Nusa Tenggara Barat, 2007-sekarang Penghargaan: Ramon Magsaysay Award 2011 l Medali Ashoka International untuk Social Entrepreneur 2003


Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161819747277



Wawancara 1/1

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.