Kartun 1/1

Sebelumnya Selanjutnya
text

10 tahun Lalu

10 Juni 2001
Seorang Bima, Seorang Hamlet

SUKARNO tidak dimakamkan ”di antara bukit yang berombak, di bawah pohon rindang, di samping sebuah sungai dengan udara segar”. Tidak seperti yang diinginkannya. Permintaan terakhirnya untuk dikuburkan di halaman rumahnya di Batutulis, Bogor, ditolak. Kemungkinan bahwa makamnya akan menjadi tempat ziarah populer yang terlalu dekat dari Jakarta jelas merisaukan pemerintah baru. Soeharto hanya mengizinkan Sukarno dimakamkan di Blitar, Jawa Timur, di samping makam ibunya.

Bahkan jasadnya membuat gentar.

i

10 Juni 2001
Seorang Bima, Seorang Hamlet

SUKARNO tidak dimakamkan ”di antara bukit yang berombak, di bawah pohon rindang, di samping sebuah sungai dengan udara segar”. Tidak seperti yang diinginkannya. Permintaan terakhirnya untuk dikuburkan di halaman rumahnya di Batutulis, Bogor, ditolak. Kemungkinan bahwa makamnya akan menjadi tempat ziarah populer yang terlalu dekat dari Jakarta jelas merisaukan pemerintah baru. Soeharto hanya mengizinkan Sukarno dimakamkan di Blitar, Jawa Timur, di samping makam ibunya.

Bahkan jasadnya membuat gentar.

Dan kini, puluhan tahun sejak meninggalnya, nama serta wajah Sukarno tidak pernah benar-benar lumat terkubur. Kampanye puluhan tahun Orde Baru untuk membenamkannya justru hanya memperkuat kenangan orang akan kebesarannya, simpati pada epilog hidupnya yang tragis, serta maaf atas kekeliruannya di masa silam.

Sukarno tak pernah berhenti menjadi ikon revolusi nasional Indonesia yang paling menonjol. Di banyak rumah, fotonya, kendati dalam kertas yang sudah menguning di balik kaca pigura yang buram, tidak pernah diturunkan dari dinding meski pemerintah berganti-ganti. Di kaki lima, posternya masih tampak dipajang bersebelahan dengan gambar Madonna, Iwan Fals, dan Bob Marley—simbol dari zaman yang sama sekali lain.

Kiprah Sukarno tak lepas dari gemblengan Hadji Oemar Said Tjo­kroaminoto, yang tak lain bekas mertuanya sendiri. Bahkan gaya tulisan dan orasi Sukarno meniru Tjokro. Sosok Tjokro, pada masa itu, menjadi kiblat banyak orang. Semaoen, Musso, Alimin, dan Kartosoewirjo sempat berguru kepadanya. Tak mengherankan bila Tjokro, yang dijuluki ”Raja tanpa Mahkota”, menjadi ikon dan guru politik para pendiri bangsa di awal masa pergerakan.

15 Agustus 2005
Perjanjian damai antara Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka ditandatangani di Helsinki, Finlandia. Nota kesepahaman diteken oleh Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Hamid Awaluddin, Perdana Menteri GAM Malik Mahmud, dan bekas Presiden Finlandia Martti Ahtisaari, yang menjadi saksi sekaligus juru runding.


16 Agustus 1945
Sukarno dan Hatta diculik oleh sejumlah pemuda dan dibawa ke Rengasdengklok, Jawa Barat. Keduanya didesak segera memproklamasikan kemerdekaan Indo­nesia setelah Jepang menyerah kepada pasukan Sekutu dua hari sebelumnya.

161819520197

17 Agustus 1961
Monumen Nasional, yang lebih populer dengan sebutan Monas, resmi dibangun di area seluas 80 hektare di Lapangan Medan Merdeka, Jakarta Pusat. Friedrich Silaban dan R.M. Soedarsono terpilih menjadi arsitek proyek ini.

18 Agustus 1908
Armijn Pane lahir di Muara Sipongi, Sumatera Utara. Bersama Sutan Takdir Ali­sjahbana dan Tengku Amir Hamzah, ia menerbitkan majalah Pujangga Baru pada 1933.

19 Agustus 2007
Berlangsung di Pulau Rokko, Kobe, Jepang, petinju Indonesia, Chris John, berhasil mempertahankan gelar juara dunia kelas bulu WBA setelah mengalahkan Zaiki Takemoto lewat kemenangan TKO pada ronde ke-9.

20 Agustus 1821
Sultan Hamengku Buwono VI, yang bernama asli Raden Mas Mustojo, dilahirkan di Yogyakarta. Ia memerintah Kesultanan Yogyakarta pada 1855-1877.


Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161819520197



Kartun 1/1

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.