Nasional 5/5

Sebelumnya Selanjutnya
text

Berakhir di Tepi Karibia

Nazaruddin ditangkap di Kolombia setelah raib dengan jet sewaan. Agen FBI membantu perburuan bekas bandahara Partai Demokrat itu. Polisi melacak peran para pengatur pelarian.

i

Piala Dunia usia 20 di Kolombia memasuki babak 16 besar, pekan lalu. Negara seperti Spanyol, Mesir, Australia, dan tuan rumah lolos ke babak itu. Muhammad Nazaruddin memilih Bogota, satu dari delapan kota tempat pertandingan, untuk menyaksikan laga perdelapan final. Tuan rumah menghadapi Kosta Rika pada babak ini.

Sabtu malam dua pekan lalu, mantan Bendahara Umum Partai Demokrat itu bersiap terbang dari Bandara Internasional Rafael Nunez, Cartegena. Ia beberapa hari tinggal di kota tepian lautan Karibia itu. Belum sempat naik pesawat, dua petugas imigrasi menahan langkahnya. Mereka meminta anggota Komisi Energi Dewan Perwakilan Rakyat ini menunjukkan identitas.

Nazaruddin dicurigai karena menenteng paspor yang fotonya berbeda, menggunakan nama Syarifuddin. Komputer petugas imigrasi pun menyala merah, menandakan identitas sang politikus muda cocok dengan daftar buruan Interpol. "Nazaruddin menunjukkan paspor Indonesia dengan nama dan foto yang berbeda," kata kepala polisi yudisial Kolombia, Jenderal Carlos Mena, seperti dikutip kantor berita Associated Press.


Malam itu pukul 02.15 dini hari waktu Kolombia, Ahad pagi WIB, Nazaruddin digiring ke kantor polisi. Duta Besar Indonesia untuk Kolombia, Michael Manufandu, yang mendapat kabar dari petugas Interpol, langsung terbang dari Bogota. Ahad siang, Michael bertemu Nazaruddin. "Dia mengaku datang ke Cartegena sejak empat hari lalu untuk sembunyi," ujarnya.

161819714854

Menurut Michael, Nazaruddin meminta agar tidak ditinggal sendirian. Tersangka perkara suap pembangunan Wisma Atlet Sea Games XXVI di Palembang ini menitipkan tas tangan hitam, antara lain berisi telepon seluler. Sekitar pukul 23.00 waktu Kolombia, Nazaruddin diterbangkan ke Bogota dan ditahan. Hanya dua malam, kejaksaan lalu menyerahkan Nazar ke imigrasi. Pada Kamis malam waktu setempat, ia diterbangkan ke Jakarta dengan Gulfstream, pesawat carter bertarif Rp 4 miliar yang disewa pemerintah Indonesia.

Sampai beberapa jam sebelumnya, Nazaruddin masih berusaha protes kepada para penjemputnya—petugas kepolisian, Komisi Pemberantasan Korupsi, dan Kementerian Luar Negeri. Ia berteriak agar diberi kesempatan didampingi pengacaranya. Permintaan itu ditolak.

Meski ada pelanggaran imigrasi, pemerintah Kolombia memilih mendeportasi Nazaruddin untuk diadili karena sejumlah tindak pidana korupsi. "Kolombia sudah sering menangani kasus seperti ini, jadi tahu cara menghadapinya," kata Minister Counselor KBRI di Bogota, Made Subagia.

Upaya Nazar memperoleh suaka politik juga gagal. Pemerintah Kolombia tak ingin direpotkan dengan urusan kriminal yang dikhawatirkan mengganggu hubungan kedua negara. Keinginan Nazaruddin agar diperiksa di Bogota juga ditolak. Bahkan ia tak diberi kesempatan bertemu O.C. Kaligis, pengacaranya yang telah terbang ke negara di Amerika Selatan itu.

Melalui Kaligis, Nazaruddin juga berusaha menyewa pengacara lokal dari kantor De La Espriella di Bogota. Pengacara Abelardo De La Espriella bahkan sudah berhasil mendapatkan surat kuasa. Ditulis dalam bahasa Spanyol dan diteken Nazaruddin plus cap jempolnya, surat itu tak berguna. Hanya selang beberapa jam setelah surat dibuat, pada pukul 17.15, Nazaruddin dipulangkan.

Di Tanah Air, penangkapan menjadi kabar indah bagi pemerintah. Pada Senin subuh, Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Djoko Suyanto melapor ke Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Sore harinya, Djoko menggelar jumpa pers di Istana Negara, mengumumkan penangkapan. Djoko menegaskan, tas tangan warna hitam yang dititipkan Nazaruddin telah disegel dan tidak boleh dibuka siapa pun.

Seorang pejabat Istana mengatakan, tertangkapnya Nazaruddin melepaskan beban berat Kepala Kepolisian Jenderal Timur Pradopo dan Kepala Badan Intelijen Negara Sutanto. Sebab, Yudhoyono secara rutin meminta laporan pengejaran lelaki kelahiran Simalungun, Sumatera Utara, 32 tahun silam itu. "Istilahnya, dua pejabat itu kena setrap gara-gara Nazaruddin," kata seorang sumber Tempo.

l l l

Sejak kabur ke Singapura sehari sebelum dicegah ke luar negeri oleh Komisi Pemberantasan Korupsi, Nazaruddin meninggalkan jejak di mana-mana. Ketika menelepon Tempo, ia menggunakan nomor Kamboja. Ia pun kabarnya sempat melawat ke Malaysia.

Para perwira kepolisian mengatakan, keberadaan Nazaruddin dideteksi Interpol ketika masih berada di Republik Dominika. Di negara berpenduduk sepuluh juta itu, ia sempat melakukan komunikasi lewat Skype–yang kemudian ditayangkan televisi. "Tim pemburu dari Markas Besar Polri langsung terbang ke Argentina," kata seorang perwira. "Sebab diduga Nazaruddin akan menyeberang ke sana."

Dua pekan setelah pemerintah Singapura mengumumkan Nazaruddin tak lagi berada di negara itu, alat penyadap kepolisian mendeteksi sinyal teleponnya di daerah Tanjung Balai Karimun, Kepulauan Riau. Tapi polisi tidak memastikan, apakah Nazaruddin berada di wilayah Singapura atau Indonesia, karena Tanjung Balai merupakan daerah perbatasan kedua negara.

Interpol di Markas Besar Kepolisian, dalam situsnya, menyebut telah mendapat informasi dari Interpol Kolombia mengenai keberadaan Nazaruddin pada 5 Agustus. Setelah berkoordinasi dan melengkapi beberapa persyaratan yang diperlukan, dua hari kemudian baru dilakukan penangkapan.

Komisi Pemberantasan Korupsi juga mengendus keberadaan Nazaruddin di Kolombia. Penyidik di kantor itu mendapat kabar posisi buronnya tiga hari sebelum penangkapan. Untuk keperluan pengejaran, komisi antirasuah ini memperoleh bantuan penyidik Biro Penyelidik Federal alias FBI, yang berkantor di kawasan Kuningan, sejak beberapa pekan sebelumnya.

Juru bicara KPK Johan Budi S.P. menolak berkomentar tentang keterlibatan FBI. Dia membenarkan keberadaan Nazaruddin di Kolombia sudah diketahui tiga hari sebelum penangkapan. Ia mengatakan, informasi penggunaan paspor palsu diterima tim gabungan Interpol, KPK, dan Mabes Polri.

Kepala Divisi Humas Mabes Polri Irjen Anton Bachrul Alam mengatakan, sebelum ditangkap, Nazaruddin sempat singgah di enam negara, yaitu Singapura, Malaysia, Vietnam, Kamboja, Spanyol, dan Dominika. Menurut dia, keberadaan Nazaruddin mudah dilacak karena sering melakukan komunikasi via BlackBerry Messenger dengan sejumlah orang dan wartawan di Indonesia. "Sehingga pergerakannya mudah diikuti," katanya.

Setelah menerima perintah dari Presiden Yudhoyono untuk menangkap Nazaruddin, bulan lalu, Jenderal Timur Pradopo membentuk tim yang terdiri dari tujuh orang. Dipimpin Direktur V Tindak Pidana Tertentu Badan Reserse Kriminal Brigadir Jenderal Anas Yusuf, tim dibagi menjadi tiga: tim pemantau, tim negosiasi, dan tim pemburu.

Luasnya jangkauan pelarian sang buron membuat polisi curiga: ada yang mengatur dari Tanah Air. Apalagi polisi sempat menyadap komunikasi seseorang dengan Nazaruddin, membahas pelarian. Menolak menyebutkan identitas lengkapnya, seorang perwira tinggi kepolisian mengatakan, orang itu berdomisili di Bogor, Jawa Barat.

l l l

Tertangkapnya Nazaruddin menjadi kabar buruk bagi Syarifuddin. Lelaki 28 tahun ini dijemput anggota Kepolisian Daerah Sumatera Utara di Jalan Alfalah, Medan, Selasa pekan lalu. "Dia ditangkap untuk diperiksa dalam kaitan penggunaan paspor miliknya oleh orang lain," kata Kepala Unit Vice Control Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Sumatera Utara, Komisaris Saptono.

Syarifuddin adalah saudara sepupu Nazaruddin. "Ibu mereka kakak beradik," kata Zulkifli A.R., pengacara yang mendampingi Syarifuddin ketika diperiksa polisi. Zulkifli mengatakan, kliennya sering bertemu Nazaruddin di Jakarta. "Setiap Lebaran pasti berjumpa. Tapi itu hanya silaturahmi biasa."

Di Medan, Syarifuddin bermukim di rumah pamannya, Muhammad Yunus Rasyid, di Jalan Garu I, Selamat 271, Medan. Di rumah mewah berlantai dua dengan bangunan gaya Timur Tengah itu, dia menyelesaikan kuliahnya sembari bekerja membantu sang paman.

Yunus Rasyid, mantan politikus Partai Persatuan Pembangunan dan Wakil Ketua DPRD Medan 1999-2009, cukup disegani di Medan. Namun karier politiknya redup setelah gagal dalam pemilu legislatif pada 2009. Berkat lobi Nazaruddin, kemenakan yang sudah menjadi petinggi partai biru, Yunus hijrah ke Demokrat. Sekarang dia menjabat Wakil Sekretaris Dewan Pimpinan Daerah Demokrat Sumatera Utara.

Bagaimana paspor Syarifuddin bisa ada di tangan Nazaruddin? Menteri Hukum dan HAM Patrialis Akbar menyebutkan, ada orang yang mengirimkan paspor itu ke Nazaruddin di luar negeri. Namun Syarifuddin membantah. Dia mengatakan paspornya hilang setelah digunakan pada 27 Juni lalu sepulang dari Singapura.

Kantor Imigrasi Kelas I Polonia Medan yang menerbitkan paspor Syarifuddin pada 2008 mencatat, Syarifuddin hanya dua kali menggunakan paspornya sepanjang tahun ini. Pertama pada 22 Mei ke Penang, Malaysia, untuk berobat. Kedua, ke Singapura pada 18-27 Juni.

Sampai Rabu pekan lalu, posisi Syarifuddin masih aman. "Dia tak ditahan karena tidak cukup bukti," kata Kapolda Sumatera Utara, Inspektur Jenderal Wisjnu Amat Sastro. Tapi Kepala Bidang Polda Sumatera Utara Komisaris Besar Raden Heru Prakoso memastikan, pengusutan keterlibatan Syarifuddin belum dihentikan. Dia mengatakan, polisi juga menyelidiki kemungkinan peran Yunus Rasyid. "Karena Syarifuddin mengaku paspornya hilang di rumah sang paman," katanya.

l l l

Sesampai di Jakarta, Nazaruddin tidak akan punya banyak waktu istirahat. Dia ditunggu untuk pemeriksaan segudang perkara korupsi yang dituduhkan kepadanya. Selain sebagai tersangka perkara suap pembangunan wisma atlet, dia juga menjadi saksi atas sejumlah perkara korupsi di sejumlah kementerian. Komisi Pemberantasan Korupsi menyatakan, ratusan perusahaan yang berhubungan dengannya diduga merugikan negara ratusan miliar rupiah.

KPK meminta agar diberi kesempatan pertama untuk memeriksa Nazaruddin. "Meski ada kasus di kepolisian dan kejaksaan, Nazaruddin buron KPK," kata Johan Budi. "Kami ingin menjadi yang pertama memeriksa Nazaruddin."

Meski dibelit setumpuk masalah, Nazaruddin bukannya tidak menyimpan senjata pamungkas. Seorang perwira polisi mengatakan, Nazaruddin menitipkan setumpuk bukti kepada kuasa hukumnya di Singapura. Menurut dia, bahkan Kaligis tidak memiliki akses ke dokumen rahasia itu. Meski telah ditangkap, serangan dari Nazaruddin kepada bekas koleganya boleh jadi masih akan berlanjut.

Setri Yasra, Anton Septian, Pingit Aria (Jakarta), Sahat Simatupang (Medan), Tomi Aryanto (Bogota)


Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161819714854



Nasional 5/5

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.