Seni Rupa 2/2

Sebelumnya Selanjutnya
text

Batu Komroden

Pematung Komroden Haro bergulat dengan ide batu. Karya yang disajikan di Taman Budaya Yogyakarta semuanya bertolak dari bentuk-bentuk batu, yang kemudian dipiuhkannya ke citra lain.

i

Batu, apa pun keberadaan dan bentuknya, tetaplah mempunyai karakter yang liat. Butuh alat yang kuat, runcing, dan tajam untuk mengubah bentuknya. Setelah dibelah atau digerinda, batu tetaplah batu yang keras.

Seniman patung Komroden Haro bermain-main dengan karakter batu. Ia ingin membuat berbagai citra dari batu tanpa mengubah bentuk batu yang alamiah keras. Ia ingin menjerat sebuah batu dengan tali hingga membentuk kerutan-kerutan sealur tali. Ia bahkan ingin menjadikan benda mati yang kaku dan berkesan angkuh itu seperti malaikat yang tertidur.

Bagaimana bisa? Melalui pameran "Mencatat Batu" di Taman Budaya Yogyakarta, Komroden menyodorkan kepada kita berbagai bentuk citra batu yang dibuat dari kayu dan tanah liat yang dicor dengan resin, juga dari batu marmer betulan. Ada batu yang pada mulanya seolah-olah berbentuk lonjong bisa diiris-iris seperti sebongkah daging yang dalamnya merah segar. Kita seolah-olah diajak melihat itu daging, tapi itu juga batu.


Lihat karyanya yang berjudul Hanging,berupa batu bulat besar berdiameter satu meter. Warnanya yang hitam mengingatkan kita pada meteor. Namun permukaan batu hitam itu menjadi berpilin-pilin mengikuti alur tali panjang dan lebar yang mengikatnya dengan cara melingkar, saling bersimpangan ke berbagai arah. Batu dari resin itu tampak begitu empuk.

161819645093

Pun ada batu yang dibayangkan sebagai burger, seperti pada Burger Stone. Batu berbentuk elips tapi cembung itu dibelah horizontal pada permukaan atas menyerupai roti burger. Di tengahnya memang tidak diselipkan ham, tomat, selada, dan keju, melainkan puluhan patung manusia mungil yang berdiri di tepian sisi luar permukaan tersebut. Seolah-olah manusia-manusia itu mampu menyunggi beban tutup batu yang berat, yang besarnya 10 kali ukuran manusia mungil itu.

Tak kalah unik adalah Traveler, tiga batu berukuran kecil, sedang, dan besar yang dibentuk Komroden sebagai koper. Tas beroda untuk jalan-jalan itu punya batang kayu sebagai pendorongnya. Uniknya, batu dari resin itu mempunyai ritsleting yang terbuka, memperlihatkan batu-batu itu berongga, sehingga siap diisi pakaian, alat mandi, dan aneka perbekalan untuk perjalanan jauh.

Pada karya berjuluk Sleeping Stone, ia membuat bongkahan batu yang ditambahi huruf-huruf "Z" yang menempel pada permukaan atas batu. Ada pula sebongkah batu menyerupai kepala manusia tanpa mulut dan sepasang mata, tapi ada kuping yang seolah-olah menunjukkan batu itu bisa mendengar.

Ia juga menggantung bongkahan batu di langit-langit, tapi hampir setiap permukaannya bertonjolan keran-keran air. Karya ini lebih berhasil daripada karya lainnya yang menampilkan sumur dari batu bata yang berdiri di atas permukaan batu tebal.

l l l

Masa kecil Komroden bersama ayahnya di kampungnya di Baturaja, Sumatera Selatan, turut mempengaruhi fase kreatifnya. Ayahnya seorang petani sekaligus pedagang kelontong. Komroden ingat, ayahnya sering membuat mainan perahu dari kayu dengan model terbalik dari yang biasa dibuat di daerah itu. Bagian depan dibuat datar, sedangkan bagian buritan dibuat melengkung. Ayahnya juga menanggapi batu yang ada. Tulisan pada batu nisan tidak ia buat dengan memahatnya, melainkan dengan menggunakan potongan rotan kecil yang dibentuk abjad, lalu ditekan ke dalam nisan.

Energi kreatifnya terbebaskan tiap kali ayahnya pergi ke kota. Tak ada keharusan mengaji dengan teman-teman sebaya di surau, sehingga Komroden memilih bermain-main dengan kayu tanpa kenal waktu. Komroden kecil juga terbiasa menanggapi benda-benda lain di sekelilingnya, seperti batu dan botol plastik, untuk dijadikan obyek tiga dimensi. Bahkan kesukaannya pada tokoh film aksi di televisi diwujudkannya menjadi patung figur dari botol plastik.

Proses pembuatan 51 karya patung yang dipamerkan dalam pameran tunggal pertama kalinya itu berlangsung di studionya yang luas di Kampung Bayaran, Desa Taman Tirto, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul. "Komroden punya keberanian menambah elemen lain, seperti campuran batu dan resin, yang dihadirkan sebagai batu," kata Rain Rosadi, kurator pameran.

Karya-karyanya dibuat dengan diawali proses pembuatan sketsa. Hanya, sketsa yang dibuat terkadang tak semuanya rampung sesuai dengan rencana. Tak hanya itu. Dia bisa tiba-tiba mengubah idenya pada satu karya. Bahkan, saat proses eksekusi pun, jika prosesnya terlalu berisiko, terutama pada batu granit atau marmer, Komroden memilih menghentikannya dan berganti pada pembuatan karya lain. "Tak semua ide itu diperoleh dari perencanaan. Sering muncul saat proses eksekusi," katanya.

Komroden pun melibatkan orang-orang yang ahli membelah batu untuk eksekusinya. "Ada perlakuan khusus untuk membelah batu. Itu aku temukan pada tukang belah batu di kawasan Bukit Berjo, Kecamatan Godean, Kabupaten Sleman," katanya. Menurut lelaki 45 tahun ini, materi batu yang keras tidak mudah dipahat, dibelah, dan dibentuk menjadi karya seni. Namun, saat diketahui alur seratnya, batu akan mudah dieksplorasi.

Lihatlah karyanya yang berjudul Ritme. Karya ini terbuat dari batu granit. Pada badan batu ada roda-roda kecil yang seolah-olah bisa menjejakkan goresan-goresan menembus kekerasan batu. Ulah Komroden bermain-main dengan batu, membuat batu bisa berasosiasi ke mana-mana tanpa mengubah wujud batu, itulah yang menjadi daya tarik pamerannya.

Pito Agustin Rudiana


Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161819645093



Seni Rupa 2/2

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.