Nasional 2/5

Sebelumnya Selanjutnya
text

Yang Menanti Kepulangan Nazar

Anak buah Nazaruddin menyebutkan keterlibatan politikus Senayan dalam pelbagai kasus suap. Menguatkan tuduhan sang mantan bendahara umum.

i

Di balik kain penutup muka, dua saksi penting itu mulai menyibak peran politikus Senayan. Merekalah Yulianis dan Oktarina Furi, dua anak buah Muhammad Nazaruddin. Dalam sidang perkara suap proyek wisma atlet SEA Games XXVI, di Jakarta, Rabu pekan lalu, keduanya membuka dugaan aliran duit ke anggota Fraksi Partai Demokrat, Angelina Sondakh, dan anggota Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, I Wayan Koster.

Menjawab pertanyaan hakim Hendra Yospin soal nama-nama anggota Dewan Perwakilan Rakyat yang sering berhubungan dengan Mindo Rosalina Manulang, terdakwa perkara itu, Yulianis mengatakan, "Ada yang tidak satu partai, yaitu Angelina Sondakh dan Wayan Koster." Dua politikus itu berkali-kali membantah pernah menerima duit dari proyek SEA Games.

Dalam sidang untuk terdakwa Mohammad el-Idris, Yulianis menyebutkan pernah "belanja" sejumlah duit ke Dewan. "Belanja" adalah bahasa Yulianis untuk menyebutkan pembayaran di muka kepada politikus Senayan guna memastikan proyek tetap dikontrol perusahaan Nazaruddin, Grup Permai.


Untuk "berbelanja", Rosa dan Angelina menggunakan istilah "apel Malang" dan "apel Washington". "Apel Malang" untuk menyebutkan duit rupiah, dan "apel Washington" istilah bagi dolar Amerika. "Kalau Bu Rosa perlu uang ke saya, dia bilang perlu apel Malang," kata Yulianis. "Pencairan yang rupiah dimulai Mei, sedangkan dolar pada April 2010 sampai September."

161819806268

Menurut Yulianis, "belanja" memang harus dilakukan lebih dulu untuk memperoleh "barang". "Yang dolar, Bapak (Nazaruddin) semua yang memerintahkan pencairan. Kalau yang rupiah, Bu Rosa," ia menerangkan. Dia menambahkan, duit dikeluarkan setelah dikonfirmasi ke Nazaruddin.

Sejumlah duit dicairkan ke Senayan di luar imbalan sukses lima persen setelah proyek berjalan. Yulianis menyebutkan duit mengalir ke DPR dan beberapa nama lain yang tak disebut oleh Rosa sejak April 2010 dalam beberapa termin. Duit bernilai US$ 1,1 juta, Rp 3 miliar, dan Rp 500 juta mengalir ke Wafid Muharam, terdakwa lain. Duit Rp 150 juta ke seseorang bernama Paulus, dan Rp 50 juta ke Wafid lagi. Lalu uang Rp 100 juta ke Dinas Pekerjaan Umum Sumatera Selatan, serta Rp 150 juta kepada seseorang bernama Wesler.

Pernyataan Yulianis di persidangan itu menguatkan tuduhan Nazaruddin. Dari pelariannya, mantan Bendahara Umum Partai Demokrat itu menuduh Angelina dan Koster memainkan anggaran proyek di Dewan. Menurut Nazaruddin, dana Rp 8 miliar diterima Koster. Oleh Koster, uang diserahkan kepada Angelina, untuk selanjutnya disampaikan kepada anggota Partai Demokrat yang lain, Mirwan Amir. Mirwan berkali-kali membantah tuduhan ini.

Dalam persidangan, Yulianis juga menyebut aliran dana ke Partai Demokrat. Besarnya antara lain US$ 400 ribu dan Rp 2 miliar. Tapi, menurut dia, uang itu telah dikembalikan ke kas perusahaannya. "Uang itu dikembalikan lagi sama partai. Ada tanda terimanya," kata Yulianis.

Kini, setelah Nazaruddin tertangkap di Cartagena, Kolombia, tuduhan kepada para bekas koleganya akan semakin gencar. "Tapi tergantung Komisi Pemberantasan Korupsi, ada tidak dukungan fakta dan datanya," ujar Sekretaris Dewan Kehormatan Partai Demokrat Amir Syamsuddin. Ia mengatakan kini saat yang tepat bagi Nazaruddin untuk membuktikan tuduhannya.

Fanny Febiana, Isma Savitri, Febriyan


Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161819806268



Nasional 2/5

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.