Bahasa 1/1

Sebelumnya Selanjutnya
text

Pasar Bahasa

Jajang Jahroni*

Kalau kita sepakat bahwa bahasa adalah pasar dan masing-masing dari kita adalah penjual sekaligus pembeli, yang diperlukan adalah eksperimentasi. Kita harus mencari, menemukan, dan mencoba kata-kata baru untuk mengatasi berbagai persoalan kebahasaan kita, terutama dari serbuan kata-kata asing. Setelah itu, pasar akan menentukan apakah eksperimen kita diterima atau ditolak. Orang atau lembaga yang punya kuasa memang memiliki peluang yang besar dalam melakukan hal ini. Pakar bahasa Anton Moeliono sering membuat kata baru. Kata "pencakar langit", "jalan layang", "pasar swalayan", dan "nirlaba" adalah hasil temuannya. Polisi pun rajin membuat istilah baru untuk meringkas bahasa mereka, seperti "senpi" (senjata api), "lalin" (lalu lintas), "curanmor" (pencurian kendaraan bermotor), dan "narkoba" (narkotik dan obat berbahaya). Lalu apa yang bisa kita lakukan?

Kalau kita menyadari bahwa kekuasaan tidak terpusat pada orang atau lembaga tertentu, tapi tersebar, kita tidak perlu menjadi Anton Moeliono untuk menciptakan kata. Kita punya kekuasaan betapapun kecilnya. Orang yang menggunakan kata "unduh" untuk "download" dan "unggah" untuk "upload" dan menuliskannya dalam jejaring Facebook adalah orang yang sadar akan kekuasaannya dan kreatif.

i

Jajang Jahroni*

Kalau kita sepakat bahwa bahasa adalah pasar dan masing-masing dari kita adalah penjual sekaligus pembeli, yang diperlukan adalah eksperimentasi. Kita harus mencari, menemukan, dan mencoba kata-kata baru untuk mengatasi berbagai persoalan kebahasaan kita, terutama dari serbuan kata-kata asing. Setelah itu, pasar akan menentukan apakah eksperimen kita diterima atau ditolak. Orang atau lembaga yang punya kuasa memang memiliki peluang yang besar dalam melakukan hal ini. Pakar bahasa Anton Moeliono sering membuat kata baru. Kata "pencakar langit", "jalan layang", "pasar swalayan", dan "nirlaba" adalah hasil temuannya. Polisi pun rajin membuat istilah baru untuk meringkas bahasa mereka, seperti "senpi" (senjata api), "lalin" (lalu lintas), "curanmor" (pencurian kendaraan bermotor), dan "narkoba" (narkotik dan obat berbahaya). Lalu apa yang bisa kita lakukan?

Kalau kita menyadari bahwa kekuasaan tidak terpusat pada orang atau lembaga tertentu, tapi tersebar, kita tidak perlu menjadi Anton Moeliono untuk menciptakan kata. Kita punya kekuasaan betapapun kecilnya. Orang yang menggunakan kata "unduh" untuk "download" dan "unggah" untuk "upload" dan menuliskannya dalam jejaring Facebook adalah orang yang sadar akan kekuasaannya dan kreatif.


Dewasa ini semakin banyak orang prihatin dengan serbuan kata-kata asing. Untuk mengatasi hal ini, mereka memperluas makna kata. Barang lama disulap jadi barang baru. Bagi saya, perluasan kata "bobol" atau "membobol", yang pada mulanya bermakna "menjebol atau merusak dinding atau tembok secara paksa", menjadi "mengeluarkan uang dalam jumlah besar secara tidak sah" (sebagai salah satu bentuk korupsi) merupakan upaya cerdas. Kita membutuhkan kata itu, juga kata lain seperti "mengemplang", "menggelontorkan", "menggelapkan", dan "menilap". Pada sisi lain, penyingkatan kata untuk mengungkapkan konsep yang baru, seperti "cekal" yang merupakan kependekan dari "cegah" dan "tangkal" yang berarti pelarangan seseorang untuk bepergian ke luar negeri, adalah bentuk eksperimentasi bahasa yang cerdas.

162038438558

Pada mulanya bahasa dipaksakan, atau lebih tepatnya ditawarkan. Ada proses penawaran yang terus-menerus agar sebuah kata bisa diterima. Teori bahwa bahasa adalah kesepakatan tidak sepenuhnya benar. Dengan media, orang bisa melontarkan bahasa dari ruang sunyi. Kemajuan media memungkinkan semuanya. Lagi pula tidak mungkin terjadi kesepakatan tanpa adanya kreasi orang per orang, yang—karena memiliki kekuasaan—kreasinya diterima oleh orang banyak dan kemudian dianggap sebagai "kesepakatan". Dengan kata lain, ada unsur "pemaksaan" yang menyebabkan sebuah kata dengan muatan makna tertentu terlontar ke tengah pemakai bahasa.

Dengan argumen ini, saya ingin mengatakan kita sebagai pengguna bahasa Indonesia, baik laki-laki maupun perempuan, orang desa maupun kota, muda maupun tua, pakar maupun orang awam, memiliki kemampuan untuk menciptakan bahasanya sendiri dan pada gilirannya saling memberi. Orang desa memiliki kekayaan kosakata yang berhubungan dengan tanah. Ketika masyarakat mulai beradab, kata "humus" yang berarti bunga tanah atau tanah yang subur, yang dalam bahasa Arab disebut "rabwah", diambil dan digunakan untuk mengungkapkan konsep pendidikan atau tarbiyah. Pendidikan, dengan demikian, adalah proses penanaman nilai-nilai dan itu hanya bisa dilakukan di atas lahan yang subur.

Demikian juga dengan kata "syari’ah". Kata ini, yang maknanya banyak diperdebatkan, pada mulanya bermakna "jalan menuju mata air". Ketika Islam datang, kata ini dipakai untuk mengungkapkan berbagai aturan agar orang damai dan selamat. Idenya adalah "syari’ah" dan "air" merupakan hal mendasar bagi kehidupan manusia.

Pola yang sama terjadi dalam bahasa Indonesia. Kata "pembuahan" sudah lama digunakan untuk "proses percampuran sel jantan dan betina". Kata "buah", "kembang", dan "bunga" sebenarnya bisa digunakan untuk istilah ekonomi, yang selama ini masih bergantung pada kata-kata Inggris. Ada kesamaan ide antara kata-kata ini dan ekonomi, yaitu "menghasilkan". Kita bisa mengatakan "pembuah" untuk "investor" dan "pembuahan" untuk "investasi". Kita sudah lama menggunakan "pengembang" untuk "developer" dan "bunga" untuk "interest". Memang kita kelabakan pada kata "divestment" yang diindonesiakan menjadi "divestasi", yang berarti "pelepasan saham". Bahasa kita tidak atau belum punya sistem untuk mempositifkan atau menegatifkan sebuah kata. Di sinilah kreativitas kita sebagai "pedagang" diperlukan. Mungkin kita bisa menggunakan kata "erag" untuk divestasi. "Erag" atau "érég" dalam bahasa Sunda berarti menggetarkan batang pohon untuk menjatuhkan buahnya.

Perkembangan bahasa dengan demikian tidak hanya ditentukan oleh kelompok tertentu, tapi melibatkan semua komponen masyarakat. Perlu diingat, Badan Bahasa hanyalah mencatat apa yang ada di masyarakat dan, karena dicatat, apa yang ada itu sering dianggap sebagai patokan. Di sinilah salah paham dimulai, yaitu ketika orang yang bereksperimen dianggap tidak taat aturan dan mempertentangkan bahasa formal dan informal. Adalah keliru bila dalam diskusi kita selalu mengembalikan masalah kepada Kamus Besar Bahasa Indonesia. Bahasa adalah sebuah diskursus yang tidak saja tertulis dalam kamus dan buku, tapi juga bersemayam dalam pikiran dan perasaan masyarakat sebagai pemiliknya, lengkap dengan ingatan, sejarah, dan cita-citanya.

*) Mahasiswa S-3 Jurusan Antropologi Boston University, Amerika Serikat


Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=162038438558



Bahasa 1/1

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.