Film 1/1

Sebelumnya Selanjutnya
text

Sekuel Penebusan Bay

Sekuel ketiga Transformers ini menyuguhkan pertarungan menegangkan antara Autobot dan Decepticon. Efek visual lebih memukau di format tiga dimensi.

i

Ketika Transformers: Revenge of the Fallen dirilis dua tahun lalu, para kritikus film langsung menghajarnya. Sasaran beraneka kritik pedas mereka adalah plot cerita yang lemah dan sutradara Michael Bay yang dianggap setengah hati menyajikan deretan adegan berkandungan special effect. Bay belakangan mengaku Transformers: Revenge of the Fallen film yang buruk.

Dalam film terbaru, Transformers: Dark of the Moon, Bay seolah-olah ingin menebus kesalahannya itu, terutama dalam hal penyajian aksi laga. Sekuel terakhir Transformers ini penuh aksi laga disertai banyak adegan ledakan yang memerlukan tingkat pengarahan special effect yang tinggi.

Dark of the Moon dimulai dengan adegan pembuka yang menjanjikan. Ceritanya, pada hari terakhir perang antara kaum Autobot dan Decepticon di Planet Cybertron, satu kapal battleship Autobot melarikan diri dari medan pertempuran. Namun kapal bernama Ark yang membawa kargo rahasia (Pillar) itu akhirnya jatuh di bulan. Benda asing di bulan itu terdeteksi NASA pada 1961. Apollo 11 kemudian diluncurkan untuk meneliti keberadaan pesawat alien itu. Inilah rahasia penting yang disembunyikan pemerintah Amerika mengenai misi pendaratan manusia pertama kali di bulan.


Film ini seolah ingin membuat semacam rekonstruksi sejarah tentang apa sebenarnya yang terjadi di balik keberhasilan dua astronaut Amerika, Neil Armstrong dan Buzz Aldrin, menjejakkan kaki mereka di bulan. Untuk lebih meyakinkan penonton dengan teori konspirasinya, film ini sengaja menghadirkan Aldrin sebagai cameo. Juga sejumlah footage, seperti pidato John F. Kennedy dan Richard Nixon, hingga presiden saat ini, Barack Obama.

161819914862

Namun janganlah terlalu memusatkan perhatian pada isu politik dan sejarahnya. Fokus film ini tetaplah perang antara kaum Autobot, yang bersekutu dengan manusia, dan kelompok Decepticon.

Diceritakan, 40 tahun kemudian, rahasia Ark di bulan diketahui Optimus Prime. Prime, yang bergegas ke bulan, tak hanya menemukan bagian mesin Ark yang disangka hilang dari pertempuran Cybertron. Dia juga menemukan mantan pemimpin Autobot, Sentinel Prime, beserta lima buah Pillar di reruntuhan Ark. Sentinel yang sekarat bisa dihidupkan dan dibawa ke bumi. Tanpa setahu Autobot, ada rencana jahat mengambil alih bumi untuk kepentingan Decepticon. Pertempuran pun tak bisa dihindari.

Tapi sensasi yang ditawarkan film ini tak bisa melampaui sensasi film pertamanya. Film ini sedikit menawarkan kejutan jika disaksikan dalam format dua dimensi. Efek visual baru bisa maksimal jika film ini disaksikan dalam format tiga dimensi.

Lewat layar tiga dimensi, aksi saling tembak dan baku hantam antara robot dan robot atau robot dan manusia menjadi sangat hidup. Dengan format ini, kita seolah-olah berada di tengah Kota Chicago, merasakan runtuhnya satu per satu gedung pencakar langit dilibas Megatron. Pecahan kaca, pijaran api, hingga tebaran debu dan asap dari kota bertebaran di hampir sepanjang film, juga bagian tubuh robot yang seolah-olah melayang ke arah kita.

Bintang utama film ini adalah para robot. Bukan Shia LaBeouf, Josh Duhamel, Tyrese Gibson, John Turturro, dan Ramón Rodríguez—yang kembali dipercaya berperan. Aksi laga robot mampu membuat penonton berdecak dan melupakan kelemahan yang kembali terulang: karakterisasi yang lemah, alur cerita yang mudah ditebak, serta alur emosi yang terabaikan.

Nunuy Nurhayati


Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161819914862



Film 1/1

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.