Internasional 3/3

Sebelumnya Selanjutnya
text

Gonjang-ganjing London

Bermula dari protes akibat tewasnya seorang penduduk di tangan polisi. London dan kota-kota lain di Inggris dilanda kerusuhan.

i

Shop already looted, nothing left. Toko sudah dijarah, tak ada yang tersisa! Kalimat dramatis itu ditulis di atas karton yang direkatkan di pecahan kaca yang masih menempel di pintu sebuah toko di London, Inggris. Sepekan lalu, pintu dan jendela bertambal papan serta reruntuhan gedung bekas dilahap api menjadi pemandangan di berbagai distrik di London yang dilanda kerusuhan. Malapetaka itu diawali tewasnya Mark Duggan, yang ditembak polisi di kawasan Tottenham, London Utara, Kamis dua pekan lalu. Pria 29 tahun itu diduga menyandang senjata api ilegal. Dua hari kemudian, sekelompok pemuda yang menganggap polisi menyalahgunakan kekuasaan menggelar unjuk rasa damai.

Aksi protes segera berubah menjadi huru-hara di kawasan markas tim sepak bola Tottenham Hotspur ini. Massa tidak hanya menyerang polisi, tapi juga merusak dan menjarah toko-toko di High Street atau kawasan komersial Tottenham. Mereka juga membakari gedung dan kendaraan di jalan.

"Polisi tidak menghormati kami, jadi kami merasa sah-sah saja menyerang mereka," kata banyak peserta kerusuhan yang berasal dari kelompok etnis minoritas. Mereka menuduh polisi London selama ini selalu bersikap rasial dan menjadikan penduduk kulit hitam sebagai sasaran.


Masyarakat London umumnya menganggap polisi bertindak terlalu lambat dan tidak sepenuh hati menangani kerusuhan. Akibatnya, huru-hara menjalar ke wilayah lain di London selama tiga hari berturut-turut.

161819775412

"Saya langsung menelepon polisi ketika orang mulai berdatangan, tapi polisi tidak segera datang," kata Zakir Wahab. "Ketika mereka tiba, sudah terlambat." Wahab pemilik toko di Peckham, Southwark, pinggiran tenggara London, yang menjadi korban penjarahan.

Setelah tiga hari kerusuhan tak reda, bahkan menyebar ke semakin banyak wilayah di London, barulah kepolisian wilayah London, Metropolitan Po­lice, melipatgandakan petugasnya di lapangan. Tak kurang dari 16 ribu polisi diturunkan—lima kali lipat dari jumlah polisi yang biasa beroperasi di jalan-jalan di ibu kota Inggris itu. Semua cuti liburan musim panas polisi dibatalkan.

Wali Kota London Boris Johnson dan Perdana Menteri Inggris David Cameron, yang sedang berlibur, memutuskan segera pulang ke London. Parlemen Inggris, yang seharusnya reses sampai Oktober, menggelar rapat darurat.

Toh, keonaran telanjur berjangkit. Pemuda dan remaja kota-kota lain di Inggris, seperti Birmingham, Manchester, Liverpool, Bristol, dan Nottingham, melakukan aksi copycat. Seperti halnya di London, mereka menyerang polisi, merusak toko, bank, dan pusat belanja, serta menjarah. Di Birmingham, tiga orang tewas dalam kerusuhan. Banyak penduduk yang berusaha melindungi kawasannya bentrok dengan perusuh.

Pada awalnya, polisi hanya berusaha membarikade daerah yang diserang, tanpa berusaha menghentikan aksi perusakan. Warga yang tinggal di daerah yang menjadi sasaran pun geram. "Polisi kelihatannya hanya berdiri dan tidak berdaya menghentikan perusuh," kata Anatoly Spherkovitch, penduduk Peckham Utara, kepada Tempo.

"Banyak keluhan bahwa polisi tidak cukup tegas," ujar Iwan Junianto, warga Indonesia yang bekerja di London. "Ada pula pembicaraan agar polisi diizinkan menggunakan peluru karet atau semprotan air untuk mengatasi kerusuhan." David Cameron menyatakan akan bersikap tegas memerangi pembuat onar. Dalam rapat darurat Operasi Kobra, diputuskan bahwa polisi bisa menggunakan meriam air dan tongkat pemukul jika diperlukan untuk membubarkan mereka yang mencoba melakukan kekerasan.

Penangkapan pun terus dilakukan. Hingga pekan lalu, lebih dari seribu perusuh dan penjarah ditangkap. Sel-sel tahanan di London penuh sesak, bahkan ada tahanan yang dititipkan di kota lain. Pengadilan cepat digelar. Ratusan perusuh yang ditangkap pekan lalu telah mulai disidangkan, termasuk bocah 11 tahun. "Jika Anda merasa cukup umur untuk ikut dalam kerusuhan, artinya Anda juga cukup umur untuk dihukum," kata David Cameron.

l l l

"Jika kamu ingin mendapat uang, kami akan beraksi di London Timur malam ini. Ya… malam ini!" Pesan pendek itu beredar di jaringan Messenger yang dikutip The Guardian. Pesan semacam itu juga muncul di berbagai media sosial, seperti Facebook. "Seperti versi elektronik kata-kata," ujar Aditya Pradana, warga negara Indonesia di London.

"Yang memulai kerusuhan di ujung jalan rumah kami adalah para remaja," kata Allison Fitzgerald, yang tinggal di Choumert Road, sekitar 20 meter dari tempat kerusuhan di kawasan Peckham. Mereka membakar sebuah toko pakaian dalam, kemudian menjarah sepertiga toko yang ada di sana. "Mereka mengambil minuman beralkohol, pakaian, telepon seluler, dan lain-lain," ujarnya. Mereka kemudian membakar sebuah bus.

Kematian Mark Duggan dinilai tak lagi menjadi alasan Inggris gonjang-ganjing. "Penjarahan oportunistis adalah satu hal, tapi keberanian menyerang toko-toko dan berkonfrontasi dengan polisi adalah gejala alienasi yang dalam terhadap polisi, pemerintah, dan bisnis besar," kata seorang dosen Universitas London yang tak bersedia disebut namanya kepada Tempo.

Ken Livingstone, yang menjadi Wali Kota London pada 2000-2008, dalam wawancara dengan program News Night di saluran televisi BBC 2 mengatakan para pemuda menjadi perusuh karena merasa tak punya masa depan yang jelas. "Banyak dari mereka tidak bersekolah dan tidak punya pekerjaan," ujarnya. Huru-hara memang bermula di daerah yang dikategorikan kantong kemiskinan, seperti Tottenham, Hackney, dan Peckham. Kemudian menyebar ke daerah yang penduduknya hidup berkecukupan, seperti Clapham dan Ealing.

Pemotongan anggaran secara besar-besaran yang dilakukan pemerintah koalisi Partai Konservatif dan Liberal Demokrat dianggap ikut bertanggung jawab memicu kerusuhan. Kebijakan itu berdampak langsung kepada para penduduk di kantong-kantong kemiskinan. Akibatnya, para remaja menyalurkan rasa frustrasi mereka dengan merusak dan menjarah.

"Di Tottenham, pemotongan anggaran belanja daerah mencapai lebih dari sembilan persen, sehingga pemerintah daerah harus menutup pusat-pusat kegiatan untuk pemuda dan remaja," kata Livingstone. Akibatnya, sangat mudah menghasut remaja yang tidak tahu harus berbuat apa selama libur panjang musim panas.

Kepolisian London menyarankan orang tua meminta anak-anak mereka tidak keluar dari rumah jika tak perlu pada saat kerusuhan bergejolak. Kepolisian Manchester malah lebih tegas: para orang tua harus melapor kepada polisi dan bertanya kepada anak-anak jika mereka pulang membawa barang-barang yang bukan milik mereka.

l l l

Sejumlah penduduk serempak turun ke jalan begitu kerusuhan reda di London. Mereka bergotong-royong menyingkirkan sampah dan sisa puing akibat kerusuhan. Warga di Lewisham, London Selatan, berbondong-bondong membawa sapu dan tempat sampah untuk membersihkan daerah mereka.

Di Peckham, penduduk memasang stiker atau catatan berisi ucapan dukungan kepada kawasan Peckham, yang ditempelkan di papan penyekat pintu dan jendela toko yang pecah. Di Hackney, daerah yang bertetangga dengan Tottenham, diadakan acara doa bersama oleh berbagai kelompok masyarakat.

"Inilah wajah London yang sesungguhnya," kata Boris Johnson. "Aman dan damai, bukan kekerasan seperti yang kita lihat beberapa hari terakhir ini." London, kata Johnson, tetap merupakan kota teraman di Eropa, yang siap menjadi tuan rumah Olimpiade tahun depan.

Lenah Susianty (London), Yogita Lal


Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161819775412



Internasional 3/3

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.