Arsitektur 1/2

Sebelumnya Selanjutnya
text

Arsitek Lima Sekawan

Geng Atap. Begitu lima sekawan ini menyebut perkumpulan mereka.

i

Semua bermula dari kegiatan pameran mahasiswa Indonesia di Jurusan Arsitektur Universitas Delf, Belanda, pada awal 1950-an. Pameran itu mendapat perhatian teman-teman pelajar. Sejak itu, Han Awal, Sujudi, Bianpoen, Mustafa Pamuntjak, dan Soewondo selalu berdiskusi untuk mencari unsur-unsur arsitektur tradisional Indonesia yang bisa masuk ke gaya modern.

Nama "atap" mereka pilih karena arsitektur Indonesia memiliki keistimewaan pada naungan. "Bentuk atapnya beragam," kata Han, 80 tahun. Ia masih ingat sosok yang menonjol ketika itu, Sujudi. Pria kelahiran Rembang, Jawa Tengah, 27 Desember 1928, itu memiliki karisma dan pribadi yang santun. Kepribadian ini juga tertuang pada tugas-tugas perancangannya. Sujudi bisa membuat gambar kerja menggunakan tinta putih di atas kertas putih abu-abu dengan halus. "Ia terinspirasi lukisan balerina Degas," ujarnya.

Kegiatan belajar kelima orang calon arsitek itu sempat terganggu ketika terjadi ketegangan Indonesia-Belanda pada 1956. Mereka pun tersebar di Jerman. Namun persahabatan kelompok masih berlanjut. Geng Atap pernah melakukan perjalanan dengan mobil dari Jerman ke Skandinavia. Mereka melihat karya-karya arsitektur di wilayah utara Eropa.

Han Awal dan Sujudi masuk satu kampus yang sama, Technische Universitat, Berlin. Pembicaraan mengenai arsitektur tradisional pun berlanjut. "Ia berbicara tentang pendapa dan teras-teras sawah," kata Han. Semua itu, menurut dia, merupakan pengaruh lingkungan Sujudi ketika di Solo.

Meskipun lebih muda sekitar dua tahun daripada Sujudi, Han lulus dan kembali ke Indonesia lebih dulu, pada 1960. Setahun kemudian Sujudi pulang dan beberapa dari Geng Atap masuk ke biro arsitek Estetika. Sujudi semakin menonjol ketika berhasil menang dalam sayembara membangun tempat penyelenggaraan pertemuan politik berskala internasional bagi negara Asia dan Afrika, Conference of the New Emerging Forces (Conefo) pada 1964.

Toh, Sujudi tetap santun meskipun disebut-sebut sebagai pengganti maestro arsitek Indonesia, Friedrich Silaban. Presiden Sukarno ketika itu tertarik dengan gaya Sujudi karena ada ciri-ciri kearifan lokal yang bisa dimengerti. "Karyanya simpel tapi cantik," kata Han.

Sujudi, menurut Wakil Ketua Ikatan Arsitek Indonesia Bambang Eryudhawan, hadir pada detik terakhir masa pemerintahan Sukarno. Proyek ­Conefo membuat acuan baru dalam dunia arsitektur modern Indonesia. "Sebuah genre yang melanjutkan semangat Silaban dengan massa besar," katanya. Arsitektur menjadi alat menumbuhkan rasa percaya diri bangsa Indonesia. Karena itu, bangunan yang hadir pun mencari semangat yang universal, dapat diterima bangsa lain, tapi tetap berakar pada kearifan lokal.

Masa transformasi dari tradisional ke modern, kata Yudha, tidak mudah. Struktur bangunan, pembagian ruang, dan cara membangun tetap modern. Terkadang unsur Indonesia pilihannya hanya pada dekorasi bangunan, seperti yang terjadi di Hotel Indonesia.

Sujudi juga sangat intens berbicara tentang mikro dan makrokosmos. Arsitektur, menurut arsitek yang wafat pada 17 Juni 1981 itu, merupakan perwujudan sebuah skala kecil pada kosmos besar atau dunia. Jadi filosofi membangun bukan sekadar menyusun dinding dan meletakkan atap.

Meskipun Sujudi meninggal paling awal dibandingkan dengan anggota Geng Atap lain, Han mengaku pengaruh Sujudi sangat besar pada dunia arsitektur lokal. Ciri khasnya mengangkat beton yang seolah-olah terlempar dari tanah ketika itu merupakan pekerjaan sulit. "Pelaksanaannya harus lurus semua dan rapi," kata Han.

Anggota Geng Atap yang tersisa sekarang berkarier di dunia masing-masing. Han Awal dan Pamuntjak masih berkarya di bidang arsitektur. Sedangkan Bianpoen dan Soewondo menjadi akademisi.

ST


Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161819566391



Arsitektur 1/2

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.