Digital 1/1

Sebelumnya Selanjutnya
text

Ngetwit dengan Rasa Lokal

Pemuda putus kuliah menciptakan Twitter client kaya fitur dan minim kapasitas data. Penggunanya sampai Belanda dan Nigeria.

i

Mana yang lebih hot, @bepe20 atau @ndorokakung?" Di bawah pertanyaan itu terpampang foto close-up penyerang tim nasional, Bambang Pamungkas, bersanding dengan gambar kartun bloger Ndoro Kakung alias Wicaksono. Mirip Facemash, aplikasi bikinan Mark Zuckerberg delapan tahun lalu yang membanding-bandingkan foto mahasiswa Harvard dan berkembang jadi situs sosial termasyhur sejagat, Facebook.

Tiruan Facemash—yang sudah "almarhum"—itu bisa dinikmati di Twitter. Caranya dengan ngetwit lewat Tuitwit, Twitter client satu-satunya buatan Indonesia.

Twitter client ini muncul dari kegelisahan seorang anak kos bernama Judotens Maulid Budiarto. Pulsa telepon seluler Nokia Prism-nya cepat ludes karena dia doyan twitteran. Kebetulan, mahasiswa komunikasi Universitas Padjadjaran, Bandung, ini menguasai sistem pengkodean PHP karena sering nyambi sebagai pembuat web. Hanya dalam hitungan pekan, lajang 23 tahun ini menelurkan m.tuitwit.com pada Oktober 2009.


Keunggulan utama Tuitwit: minim kapasitas data. Tanpa menampilkan gambar, besar satu halaman tak lebih dari empat kilobita. Bandingkan dengan satu halaman Twitter.com yang lebih dari 33 kilobita; versi kompresannya, m.twitter.com, pun masih di atas lima kilobita. "Bikin hemat pulsa," ujar Judo tentang aplikasinya kepada Tempo awal pekan lalu.

161819650097

Banjir penggemar, hampir 100 ribu, mengakibatkan server gratisan yang ditumpangi Tuitwit kelebihan muatan dan hang. Setelah hilir-mudik gagal mencari sponsor untuk menyewa server, Judo beralih ke App Engine, server yang juga sonder biaya tapi lebih yahud. Karena server itu tak berbasis PHP, dia kudu berpusing-pusing belajar bahasa pemrograman lain, Phyton. Bukunya lebih dari 500 halaman berbahasa Inggris.

Selama dua pekan dia hampir tak pernah keluar dari kamar kosnya di Jatinangor, Sumedang, Jawa Barat. Baca, lalu terapkan di komputer Pentium 4 rakitan yang tersambung dengan jaringan Telkom Speedy 24 jam. Begitu terus berulang-ulang.

Pada awal 2010, Tuitwit menunggangi server berkuota satu gigabita per hari itu. Untuk menambah kapasitas, Judo mengakali dengan menggunakan sepuluh akun bergantian, sehingga setara dengan sepuluh kilobita. Itu pun masih memiliki cacat. Saban pukul 12.00-13.00, server down akibat masifnya kunjungan.

Pada Agustus 2010, Judo mendapat bantuan dari Saling Silang, perusahaan pengembangan teknologi informasi, untuk menyewa server berbayar. Awalnya menggunakan Google App Engine versi berbayar. Tapi, karena biayanya mencapai Rp 40 juta per bulan, kemudian beralih ke server yang lebih murah.

Menurut pendiri Saling Silang, Enda Nasution, sebagian besar pengguna Internet mobile alias dari telepon seluler masih mengandalkan ponsel konvensional, bukan smartphone. "Dan pasar terbesarnya adalah anak muda, yang jadi sasaran Tuitwit," katanya. Pada Juni lalu, dia meningkatkan kerja sama dengan akuisisi Twitter client kelahiran Jatinangor itu. Baik Enda maupun Judo enggan menyebut nilainya.

Pada akhir Juli, Tuitwit dirilis ulang. Karena berada di bawah kepemilikan baru, penggunanya kudu log-in dari akun salingsilang.com untuk bisa mengakses fitur lengkapnya. Sedikit merepotkan, memang. Tapi terbayar setelah menikmati sederet fasilitas di dalamnya.

"Fiturnya lengkap banget," ujar Rahmayanti Akmar, 26 tahun. Karyawati perusahaan teknologi informasi ini menemukan fasilitas mute—menghilangkan tweet dari orang yang tak diinginkan tanpa harus unfollow-sudah ada di Tuitwit sejak awal 2010, beberapa bulan lebih cepat daripada Ubersocial. Menggunakan Nokia E63, Rahmayanti sudah menjajal berbagai Twitter client, seperti Tweetie dari Australia dan Dabr dari Inggris. Tuitwit tetap jadi pilihan sejak satu setengah tahun lalu.

Ada lebih dari 30 fitur yang membuat Twitter client ini berbeda dengan yang lain. Misalnya Tuitsakiyah, berisi jadwal imsak, buka puasa, dan waktu salat di tempat pengguna. Fitur lain membuat kita tahu teman-teman yang tak mem-follow back. Bagi sebagian orang, ini penting. "Begitu tahu ada teman yang enggak follow back, ya, aku unfollow juga dia," kata Ayu Pramuditha, 23 tahun.

Selain bisa menyiarkan tweet dengan emoticon—lambang wajah yang menyiratkan ekspresi—ada fitur yang menyulap kita jadi alay karbitan. Misalnya, dengan mengetik "aku suka dia", nongol "4k03 s03K4 d14".

Menurut Judo, fitur-fitur itu berasal dari perilaku tweeps Indonesia. "Saya cuma mengakomodasi," katanya. Dia menyebutnya Twitter dengan rasa lokal. Hasilnya, Tuitwit bertengger di posisi kedelapan aplikasi Twitter yang paling banyak digunakan di Indonesia, di bawah Ubersocial, Twitter for BlackBerry, dan TweetDeck. Total penggunanya lebih dari 500 ribu, dengan pageview harian 1,5 juta. Hanya dengan cerita dari mulut ke mulut, penggunanya tersebar sampai Belanda dan Nigeria.

Tak aneh, penciptanya pun kebanjiran rezeki. Dari akuisisi dan kerja di Saling Silang di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, sebuah Honda Jazz RS gres berwarna silver dengan pelat nomor berbuntut TWT setia menemani Judo. Simpanan berupa deposito pun menggembung. Namun, bagi Judo, yang kuliah, kebahagiaan datang dari mengerjakan sesuatu yang dia cintai. "Tidak pernah berasa kerja. Setiap hari saya seperti sedang main-main saja," ujarnya.

Reza M.


Reporter Administrator - profile - https://majalah.tempo.co/profile/administrator?administrator=161819650097



Digital 1/1

Sebelumnya Selanjutnya

Anda memiliki 1 free artikel untuk minggu ini. Dapatkan

4 artikel gratis setelah Register.